Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hambatan komunikasi pasangan perkawinan antar budaya suku Pakistan – suku Melayu Pramisdi Winanto Saputro
JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS Vol 3 No 1 (2023): pendidikan dan pengajaran
Publisher : Universitas Tangerang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interracial marriages in Indonesia often cause many problems and communication barriers, the provisions relating to marriage are regulated by the state. Marriage between Malays and Pakistanis is the theme of this thesis. In the existing laws and regulations in Indonesia, marriage is clearly regulated, especially in mixed marriages of different nationalities. But marriage here is more about barriers and also the communication process in married life. The research theory here draws more on theories of behavior and cross-cultural communication. This is due to the existence of two or more legal systems used. Differences in the legal basis used and differences in interpreting the law are the main problems and communication barriers in mixed marriages. Departing from these problems, the author is interested in conducting research, with three problem formulations, namely (1) How do communication barriers from mixed marriages affect the life process ; (2) What are the research methods and data collected in this research; (3) What is the conclusion about communication barriers. The conclusion of this research is the resolution of communication barriers that arise from cross-cultural marriages between Malays and Pakistanis within the institution of marriage. Including the ins and outs of the differences between the two, and how to deal with communication barriers in marriage, even though there are several obstacles, there are always solutions and make the marriage relationship harmonious until now.
PERAN SENTRAL GURU DI SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MINAT LITERASI SISWA Hafirah Tazkia Nissa; Rizqi Nur Rachmawati; Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Sonya Trikandi; Vicky Hidantikarnillah; Hasnah Setiani; Indra Rasyid Julianto
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 2 No. 4 (2025): Jurnal Pesastra Edisi November 2025
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v2i4.132

Abstract

Peran guru dalam meningkatkan minat literasi siswa menjadi aspek fundamental dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berorientasi pada penguatan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman, analisis, dan penerapan informasi dalam konteks kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran sentral guru dalam menumbuhkan budaya literasi di sekolah melalui pendekatan pembelajaran yang terarah bagi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang berfokus pada upaya memahami dan menafsirkan fenomena sosial melalui pengumpulan data naratif serta analisis deskriptif. Guru memiliki peran strategis sebagai fasilitator, motivator, perancang strategi, serta teladan dalam membentuk kebiasaan literasi yang berkelanjutan. Guru tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis membaca dan menulis, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar literatif melalui kegiatan seperti membaca bersama, menulis reflektif, serta diskusi berbasis teks. Selain itu, guru turut mengembangkan media pembelajaran inovatif, termasuk pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses dan partisipasi siswa dalam kegiatan literasi. Kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua terbukti menjadi faktor penting dalam menumbuhkan budaya literasi yang kuat. Dengan profesionalisme dan dedikasi guru, sekolah dapat melahirkan generasi pembelajar yang melek literasi, cerdas, dan adaptif terhadap tantangan global.
PERAN BAHASA DAERAH DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA INDONESIA: PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK Elva Meilani Sagita; Pramudita Arjuna Aryo Penangsang; Rifa’atussalwa Hayati; Pramisdi Winanto Saputro
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2524

Abstract

Keberagaman bahasa daerah merupakan kekuatan kebudayaan Indonesia, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan akibat dominasi bahasa nasional, bahasa global, urbanisasi, media digital, dan perubahan pilihan bahasa generasi muda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran bahasa daerah dalam pembentukan identitas budaya Indonesia dari perspektif sosiolinguistik, khususnya pada fungsi bahasa sebagai penanda identitas, media pewarisan nilai budaya, penguat solidaritas sosial, dan arena negosiasi identitas dalam masyarakat multibahasa. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka. Sumber data berupa artikel jurnal, buku teori sosiolinguistik, dan dokumen kebahasaan yang relevan; unit analisisnya adalah gagasan, temuan, dan konsep tentang bahasa daerah, identitas, pergeseran bahasa, pemertahanan bahasa, alih kode, dan ideologi bahasa. Instrumen penelitian berupa lembar telaah dokumen dan kartu data, sedangkan analisis dilakukan melalui reduksi data, pengodean tematik, sintesis konseptual, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa daerah berperan sebagai penanda keanggotaan etnis, media transmisi nilai budaya dalam keluarga, penguat kohesi sosial dalam komunitas, simbol legitimasi dalam praktik adat dan ritual, serta strategi komunikasi dalam masyarakat multibahasa melalui alih kode dan campur kode. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sumber daya simbolik dan modal sosial yang membentuk identitas budaya Indonesia. Kontribusi penelitian terletak pada penyusunan sintesis sosiolinguistik yang menempatkan pelestarian bahasa daerah sebagai persoalan ilmiah tentang identitas, ranah penggunaan bahasa, transmisi antargenerasi, dan kebijakan kebahasaan berbasis komunitas
REPRESENTASI SISTEM RELIGI DALAM LEKSIKON SESAJI DAN MAKANAN TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA TENGAH: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Hugo Dimas Ohsyahiba; Angel Vionika Saharani; Rifa’atussalwa Hayati; Pramisdi Winanto Saputro
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2527

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya leksikon budaya sebagai media yang merepresentasikan sistem nilai, kepercayaan, dan pandangan hidup masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Jawa Tengah, leksikon yang berkaitan dengan sesaji dan makanan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai penanda benda atau praktik ritual, tetapi juga memuat makna religius dan kosmologis yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menafsirkan representasi sistem religi dalam leksikon sesaji dan makanan tradisional masyarakat Jawa Tengah melalui pendekatan etnolinguistik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa dokumen tertulis, artikel ilmiah, dan literatur yang relevan. Data penelitian berupa leksikon budaya, seperti sesaji, tumpeng, ayam ingkung, jenang sengkolo, pala pendem, kembang setaman, air suci, selametan, dan sangkan paraning dumadi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, teknik simak, dan teknik catat, sedangkan analisis data dilakukan melalui identifikasi leksikon, analisis makna leksikal, dan analisis makna kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon sesaji dan makanan tradisional merepresentasikan sistem religi masyarakat Jawa Tengah melalui nilai harmoni manusia dengan Tuhan, keseimbangan dengan alam, penghormatan terhadap tatanan sosial, penyucian diri, keselamatan, serta kesadaran mengenai asal dan tujuan hidup. Kesimpulannya, leksikon budaya dalam tradisi ritual Jawa Tengah tidak hanya menjadi unsur bahasa, tetapi juga menjadi arsip simbolik yang menyimpan pengetahuan religius masyarakat. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan kajian etnolinguistik dengan menegaskan bahwa bahasa dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami relasi antara budaya, sistem kepercayaan, dan pandangan kosmologis masyarakat.