Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Voice of HAMI

KAJIAN METODE KONTEKSTUAL PAULUS “MENJADI SEPERTI” MENURUT I KORINTUS 9:19-23 SEBAGAI IMPLEMENTASI KARAKTER MISIONARIS Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris; Loisoklay, Pulela Dewi
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 2 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v6i2.97

Abstract

Evangelism has transcended ethnic and linguistic boundaries. The evangelistic movement has become very widespread, reaching neglected areas. Although there are studies that have discussed cross-cultural evangelism methods, the researcher found that there has not been a comprehensive discussion of the contextual methods used by Paul relating to the character of missionaries. That is why this research article discusses Paul's contextual method of "being like" in 1 Corinthians 9:19-23, as an implementation of character for missionaries in cross-cultural evangelism. Paul used the contextual approach to achieve two main goals, namely: "that I may win as many as possible" (1 Corinthians 9:19b) and "that I may share in the gospel that is preached" (1 Corinthians 9:23b). Thus this article finds that there are five character-shaping factors for missionaries, namely: first, being a servant; second, living in obedience; third, daring to pay the price; fourth, adhering to the principles of truth; and fifth, being able to adjust. This research can be a reference for academics and every cross-cultural evangelism movement in mission service. Penginjilan telah melampaui batas-batas suku kaum dan bahasa. Gerakan penginjilan menjadi sangat meluas mencapai wilayah-wilayah terabaikan. Sekalipun terdapat penelitian yang telah membahas tentang metode penginjilan lintas budaya, namun peneliti menemukan belum terdapat pembahasan yang komprehensif mengenai metode kontekstual yang digunakan Paulus yang berkaitan dengan karakter bagi para misionaris. Itulah sebabnya penelitian artikel ini membahas motode kontekstual Paulus “menjadi seperti” dalam 1 Korintus 9:19-23, sebagai implementasi karakter bagi para misionaris dalam penginjilan lintas budaya. Paulus menggunakan pendekatan kontekstual untuk mencapai dua tujuan utama yaitu: "supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1 Korintus 9:19b) dan "supaya aku mendapat bagian di dalam Injil yang diberitakan" (1 Korintus 9:23b). Dengan demikian artikel ini menemukan, ada lima faktor yang membentuk karakter, bagi para misionaris yaitu: pertama, menjadi hamba; kedua, hidup dalam ketaatan; ketiga, berani membayar harga; keempat, berpegang kepada prinsip kebenaran; dan kelima, mampu menyesuaikan diri. Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi akademisi dan setiap kegerakan penginjilan lintas budaya dalam pelayanan misi.
STUDI TEMATIK TERHADAP MAKNA KATA “MENYESAL” DALAM KITAB AYUB.42:6 kiamani, andris; Acay, Elen; Wulansari, Elok Kartika; Gosal, Youla Martje; Ticoalu, Priskilla Grace
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 1 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v6i1.95

Abstract

Kata “menyesal” pada umumnya sering dikaitkan dengan perasaan kecewa karena situasi atau peristiwa yang tidak menyenangkan yang terjadi karena telah berbuat kesalahan, dosa, dan sebagainya. Di dalam kitab Ayub 42:6 juga menuliskan bahwa Ayub menyesal. Beberapa penelitian sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai kata “menyesal” yang lebih menitikberatkan pada aplikasi atau tindakan Ayub dari penyesalan itu sendiri, yang memberi kesan bahwa penyesalan Ayub berkonotasi pada kesalahan Ayub sehingga ia harus bertobat. Penulisan ini bertujuan untuk menemukan arti yang sesungguhnya dari kata “menyesal” yang terdapat dalam kitab Ayub 42:6. Dengan menggunakan metode penulisan tematik, penulis berusaha mengkaji makna sesungguhnya dari kata “menyesal” yang dimaksud dalam Ayub 42:6 dengan menyelidiki makna kata tersebut yang ditinjau dari konteks narasi kitab Ayub sesuai dengan maksud penulisan kitab itu sendiri. Penulis menemukan bahwa kata “menyesal” ini disebabkan oleh ketidakpahaman Ayub akan Allah, yang mengandung pengertian bahwa Ayub “berubah pikiran” (karena cara pandang Ayub yang berubah tentang Allah) setelah ia mendengarkan penjelasan Tuhan secara langsung, yang membuat Ayub berserah diri kepada Allah yang berdaulat dan berkuasa.