Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Keberadaan Panca Aksara, Dasa Aksara Dalam Aksara Bali Persepektif Antropologi Budaya Sukayasa, I Komang
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.389

Abstract

Penelitian ini menganalisis keberadaan Panca Aksara dan Dasa Aksara dalam Aksara Bali dari perspektif antropologi budaya. Panca Aksara (a, i, u, e, o) dan Dasa Aksara (ka, ca, ta, pa, ya, wa, sha, sa, ha, nga) merupakan huruf-huruf dasar yang membentuk sistem tulisan bahasa Bali. Dalam konteks antropologi budaya, aksara Bali tidak hanya dianggap sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol-simbol yang mengandung makna kultural dan spiritual yang dalam dalam kehidupan masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi budaya untuk menjelaskan bagaimana Panca Aksara dan Dasa Aksara tercermin dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Bali, termasuk dalam simbolisme, mitologi, praktik keagamaan, dan tradisi kebudayaan. Analisis ini juga melibatkan konsep-konsep seperti identitas budaya, ritual, dan pengetahuan lokal untuk memahami peran serta makna dari aksara-aksara ini dalam konteks budaya masyarakat Bali.
Penguatan Literasi Aksara Bali dengan PAKSALI di BSVLC Jatiyasa, I Wayan; Apriani, Ni Wayan; Aryani, Ni Komang; Brahmandika, Pande Gede; Sukayasa, I Komang; Paramanandani, Ni Kadek Ayu; Gatriyani, Ni Putu
Prioritas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 02 (2024): EDISI SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35447/prioritas.v6i02.939

Abstract

Pengaruh globalisasi, kurangnya perhatian dalam kurikulum sekolah, terbatasnya penggunaan aksara Bali dalam komunikasi sehari-hari, serta minimnya media pembelajaran yang menarik dan efektif berdampak buruk bagi pengembangan literasi aksara Bali di kalangan generasi muda, khususnya anak-anak di Bali Sibetan Volunteer & Learning Center (BSVLC), Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Penerapan media inovatif PAKSALI (Papan Aksara Bali) dijadikan solusi untuk masalah tersebut. Asistensi mengajar dengan PAKSALI bertujuan untuk menguatkan literasi aksara Bali anak-anak BSVLC sebanyak 20 orang. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat secara kolaboratif antara dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Bali, STKIP Agama Hindu Amlapura. Kegiatan dilaksanakan selama sehari pada hari Minggu, 5 Mei 2024, melalui 3 tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan (pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup), dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dengan PAKSALI dapat menguatkan literasi aksara Bali pada anak BSVLC, pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan; sedangkan respon anak-anak sangat positi; serta diharapkan kegiatan yang sama dapat untuk memberikan kontribusi nyata dalam menjaga dan melestarikan aksara Bali.
PENYULUHAN SANITASI DENGAN PENDEKATAN PERSONAL-HUMANISTIK DI DESA ADAT POH, KARANGASEM Juliantari, Ni Kadek; Rahayuni, I Gusti Ayu Adi; Sukayasa, I Komang; Suwendra, I Kadek Agus; Swantara, I Gede Adi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.67061

Abstract

The main problems faced by rural communities in remote villages are inadequate sanitation and limited access to health services, which are quite distant and located in extreme terrain, such as in Desa Adat Poh, Karangasem, situated on the slopes of Mount Agung. In addition, community awareness regarding the importance of family health remains low. Many residents still neglect family health issues. Therefore, the aim of this community service program is to educate residents through sanitation outreach using a personal–humanistic approach. The method used is personal counseling. The stages carried out include: (1) identifying the needs of the partners, (2) conducting outreach and education, (3) implementing assistance and empowerment, and (4) participatory evaluation. As a result, 20 households were provided with sanitation equipment packages and four truckloads of clean water for residents who do not have their own cubang (rainwater storage tanks). Through the personal–humanistic approach, activities were conducted via home visits, providing socio-emotional engagement to residents/partners to raise their awareness of the importance of health and clean sanitation in maintaining family resilience. Alongside outreach and education, demonstrations were also conducted to help residents understand the issues in a real-life context. Thus, it can be concluded that this socio-emotional approach can be an effective strategy for conducting personal outreach in areas where partner communities are dispersed or households are far apart, and for addressing sensitive outreach topics such as sanitation issues.Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat desa terpencil adalah sanitasi yang kurang memadai dan akses ke pelayanan kesehatan yang cukup jauh, dengan medan yang ekstrim seperti yang ada di Desa Adat Poh, Karangasem yang berada di lereng Gunung Agung. Di samping itu, kesadaran masyarakat terkait pentingnya kesehatan keluarga juga masih rendah. Banyak di antara warga di sana masih abai terkait kesehatan keluarga ini. Oleh karena itu, tujuan pengabdian ini adalah untuk mengedukasi warga melalui penyuluhan sanitasi dengan pendekatan personal-humanistik. Metode yang digunakan adalah metode penyuluhan secara personal. Tahapan yang dilakukan, yakni (1) identifikasi kebutuhan mitra, (2) pelaksanaan penyuluhan dan edukasi, (3) pelaksanaan pendampingan dan pemberdayaan, (4) evaluasi partisipatif. Hasilnya adalah 20 KK diberikan masing-masing paket kelengkapan sanitasi dan 4 truk air bersih untuk warga yang tidak memiliki cubang (tempat penampung air hujan) secara mandiri. Melalui pendekatan personal-humanistik dilakukan dari rumah ke rumah (home visit), warga/mitra warga diberikan sentuhan sosioemosional, sehingga dapat menggugah kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan sanitasi yang bersih dalam menjaga ketahanan keluarga. Sambil melakukan penyuluhan dan edukasi, diberikan pula percontohan, sehingga warga lebih bisa memahami dalam konteks yang nyata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan sosio emosional ini dapat menjadi strategi efektif dalam melakukan penyuluhan  secara personal untuk wilayah mitra yang tersebar atau lokasi rumah berjauhan dan untuk topik-topik penyuluhan yang privasi, seperti terkait masalah sanitasi.