Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pewarisan Iman dari Ibu: Peran Ibu dalam Membangun Fondasi Iman Anak menurut 2 Timotius 1:3-8 Raulina; Kristopel Cordiyas Domini Aritonang
Jurnal PKM Setiadharma Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal PkM Setiadharma
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/jps.v7i1.733

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di STT HKBP Pematangsiantar merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pengetahuan teologis dengan pelayanan sosial. Program ini mengangkat tema "Pewarisan Iman dari Ibu (2 Timotius 1:3-8)" untuk menegaskan peran strategis ibu sebagai pewaris iman autentik dalam keluarga Kristen. Metode pelaksanaan mencakup pembinaan rohani, diskusi kelompok terstruktur, dan pendampingan mahasiswa sebagai fasilitator di HKBP Jati Karya, Resort Tandam Distrik XXIII Binjai Langkat. Evaluasi dampak dilakukan melalui pendekatan kualitatif-reflektif dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis naratif terhadap pengalaman spiritual peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kesadaran kaum ibu terhadap tanggung jawab spiritual mereka dalam mendidik anak, penguatan praktik devosi keluarga melalui peningkatan frekuensi ibadah bersama, dan transformasi pemahaman teologis tentang pewarisan iman dari sekadar ritual menjadi keteladanan hidup. Analisis eksegesis 2 Timotius 1:3-8 mengonfirmasi model pewarisan iman lintas-generasi melalui figur Lois dan Eunike sebagai paradigma pembinaan iman kontekstual. Program ini berkontribusi pada pengembangan teologi praktis dengan menghasilkan model pembinaan berbasis narasi alkitabiah yang relevan bagi konteks jemaat kontemporer, sekaligus memberikan mahasiswa pengalaman pedagogis dalam pelayanan berbasis riset. Studi ini memperkuat komitmen STT HKBP Pematangsiantar dalam membina keluarga Kristen melalui pendekatan integratif antara refleksi teologis, praksis pelayanan, dan evaluasi akademis.
Persahabatan Dengan Dunia sebagai Krisis Loyalitas Iman dan Relevansinya bagi Gereja Kontemporer: Yakobus 4:1–10 Agung Simangunsong; Raulina Raulina
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.808

Abstract

James 4:1–10 focuses on the theme of friendship with the world as a form of hostility toward God through a historical-critical interpretation. James emphasizes faith in concrete practice through deeds within the life of the Christian community. This study highlights conflict rooted in hēdonē (lust), contrasted with loyalty and the priority of faith in the early Christian community and related to the present social context. The method used is qualitative, based on literature study with historical-critical analysis of the social, cultural, and theological background of the text. The findings show that conflict and communal unfaithfulness stem from desires that do not prioritize God in life. The term moichalides as a metaphor for “spiritual adultery” (James 4:4) refers to the Old Testament prophetic tradition describing the breakdown of the covenant relationship due to worldly orientation. James affirms that this issue is not merely ethical, but a theological crisis of loyalty that affects both vertical and horizontal relationships. Therefore, this text remains relevant in a contemporary context marked by materialism and individualism, emphasizing that Christian faith must be active, ethical, and oriented toward the restoration of relationships with God and others. AbstrakYakobus 4:1–10 berfokus pada tema persahabatan dengan dunia sebagai bentuk permusuhan kepada Allah melalui tafsiran historis-kritis. Yakobus menekankan iman dalam praktik nyata melalui perbuatan dan kehidupan komunitas Kristen. Penelitian ini menyoroti konflik yang berakar pada hawa nafsu (hēdonē), diperhadapkan dengan loyalitas dan prioritas iman dalam komunitas Kristen mula-mula serta dikaitkan dengan konteks sosial masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur dengan analisis historis-kritis terhadap latar sosial, budaya, dan teologi teks. Kajian menunjukkan bahwa konflik dan ketidaksetiaan komunitas bersumber dari hawa nafsu yang tidak memprioritaskan Allah. Istilah moichalides sebagai metafora “perzinahan rohani” (Yak. 4:4) merujuk pada tradisi profetik Perjanjian Lama tentang rusaknya relasi perjanjian akibat orientasi duniawi.Yakobus menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar etika, melainkan krisis loyalitas teologis yang berdampak pada relasi vertikal dan horizontal. Karena itu, teks ini relevan bagi konteks kini yang ditandai materialisme dan individualisme serta menegaskan bahwa iman Kristen harus aktif, etis, dan berorientasi pada pemulihan relasi dengan Allah dan sesama.