Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

KONSEP SELF REWARD DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN TEMATIK) Ula, Syaukul; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i1.5177

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupan secara berkelanjutan yang menyebabkan sebagian percaya pada agama hanya untuk hubungan dengan Tuhannya. Mereka menganggap perilaku dalam tatanan kehidupan seperti cara berpakaian, perilaku, berbicara dan lainnya, bukan menjadi urusan agama lagi. Dengan modernitas, mereka merasa lebih tahu mengenai diri pribadinya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai agama, lebih khususnya pemahaman terhadap Al-Qur’an sangatlah penting, mengingat Al-Qur’an telah memberikan amanat kepada manusia dengan berbagai tuntunan supaya dijadikan solusi dalam mengelola berbagai persoalan baik dari sisi perilaku, moral ataupun sosial. Disisi lain terdapat berbagai fenomena perkembangan zaman yang memunculkan berbagai istilah baru, salah satunya self reward yaitu memberikan apresiasi terhadap diri sendiri tetapi dalam pengaplikasiannya banyak yang melenceng, sehingga tidak dapat membedakan self reward dan nafsu. Maka perlu adanya penelitian ini untuk memaparkan dan menjelaskan bagaimana konsep self reward yang baik sesuai tuntunan Al-Qur’an. Dengan menjawab persoalan tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan penelitian kepustakaan (Library Research). Dalam penelitian ini terdapat dua sumber data yang digunakan untuk memecahkan persoalan, meliputi data primer dan data sekunder. Sedangkan dalam metode penafsirannya menggunakan metode tematik, yaitu mengumpulkan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan self reward, kemudian dijelaskan sehingga diperoleh kesimpulan menyeluruh mengenai masalah tersebut menurut sudut pandang Al-Qur’an. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu, self reward merupakan bentuk apresiasi diri atau pemberian hadiah terhadap diri sendiri setelah mencapai tujuan tertentu. Sedangkan cara pengaplikasian self reward dalam Al-Qur’an yaitu: self reward harus seimbang atau sesuai proporsinya maka dilarang untuk memiliki perilaku yang berlebihan seperti dalam hal pakaian, makanan, dan membelanjakan harta, melakukan self reward dengan cara me time yang sesuai dengan nilai-nilai agama yaitu dengan muhasabah diri, dan melakukan self reward untuk menghargai nikmat yang telah Allah berikan yaitu dengan bersyukur. Maka berdasarkan hasil penelitian yng dipaparkan dapat diambil kesimpulan, bahwa seseorang yang melakukan self reward sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dapat membawa pengaruh positif pada dirinya, lebih bijaksana dalam menentukan perilaku untuk memberikan apresiasi terhadap dirinya. Kata Kunci: Self reward, Al-Qur’an, Kajian Tematik
MEMBENTUK HARDNESS PERSONALITY MELALUI KISAH NABI AYYUB: (Penafsiran Q.S Shad 41-44 dalam Al – Qur’an) Wardah, Rif’atul; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5364

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi konsep hardbess personality dan penerapannya melalui kisah Nabi Ayyub dalam Q.S Shad 41–44. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan kualitatif, dengan pendekatan berbasis pustaka. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter hardness personality merupakan sifat mental dan fisik yang dapat dikembangkan untuk mengatasi tekanan hidup. Karakter hardness personality dalam kisah Nabi Ayyub antara lain menguatkan keimanan, memupuk kesabaran, mencari hikmah, keakraban dengan keluarga, pertumbuhan spiritual yang positif, dan belajar dari kisah – kisah inspiratif. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hardness personality membuat orang lebih tangguh terhadap tantangan, mengurangi stress, meningkatkan respons kekebalan tubuh, dan membantu pengambilan keputusan. Keyword: Hardness Personality, Kisah Nabi Ayyub, dan Ujian.
OVERTHINKING DALAM AL-QUR’AN: (Analisis Deskriptif Q.S Al-Hujurat Ayat 12) Mahfudzoh, Lailatul; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5365

Abstract

ABSTRAK Adanya penelitian dengan tema tersebut karena masyarakat sekarang yang menganggap adanya sebuah overthinking sebagai hal yang lumrah. Dengan kenyataan bahwasannya segala hal yang berlebihan tidaklah bisa disebut dengan perbuatan yang baik. Dengan begitu dengan adanya Al-Qur’an yang seharusnyaa dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk menjalani kehidupan. Didalamnya tercakup segala pembahasan dari aspek kehidupan, baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat. Dengan zaman yang sekarang muncullah istilah-istilah baru, salah satunya overthinking yaitu berfikir terhadap sesuatu dengan cara yang berlebihan, tentang sesuatu yang belum terjadi ataupun yang tidak akan terjadi. Kata overthinking ini pun bisa disebut adanya kekhawatiran tentang masa yang akan datang. Dengan adanya overthinking itu, akan muncul dampak yang terjadi setelahnya seperti memiliki tuduhan atau prasangka terhadap orang lain dan bahkan bisa memiliki prasangka terhadap takdir tuhan. Maka perlu munculnya penelitian ini untuk memaparkan bagaimana overthinking dalam Al-Qur’an dan solusi untuk mengatasinya. Dengan menjawab persoalan tersebut penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode kajian pustaka (Library Research). Dalam penelitian ini dicantumkan dua sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Sedangkan dalam metode penafsirannya menggunakan metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat dari berbagai aspek seperti menguraikan ayat satu ke ayat berikutnya, surah demi surah sesuai dengan urutan pada lembar Al-Qur’an . Kemudian dijelaskan sehingga dapat memperoleh kesimpulan secara menyeluruh tentang overthinking dala Al-Qur’an dan solusinya. Adapun hasil dari penelitian ini overthinking adalah berfikir dengan cara yang berlebihan. Kebanyakan dari seseorang pasti pernah mengalami hal tersebut, hal tersebut harus segera diatasi, jika tidak akan menimbulkan dampak pada dirinya sendiri dan hubungan sosial. Pembahasan overthinking ini pada Al-Qur’an terdapat di Q.S Al-Hujurat ayat 12, memberi larangan untuk memiliki prasangka atau tuduhan yang tidak berdasar. Dalam penelitian ini penulis juga mencantumkan solusi untuk menangani overthinking salah satunya yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah. Kata Kunci : Overthinking, Al-Qur’an , Tahlili
REKONSTRUKSI PEMAHAMAN MANFAAT KHAMAR SETELAH DIHARAMKAN DALAM AL-QURAN : (Analisis Term “manfaat khamar”Dalam Al-Quran) Mufid Kholilullah; Wiwin Ainis Rahtih; Amir Mahmud; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v7i1.5630

Abstract

Al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi manusia, diturunkan untuk merespon dan sekaligus menjadi solusi terhadap problematika yang terjadi di tengah-tengah kehidupan. Salah satu problematika yang merajalela dalam masyarakat Arab saat itu adalah minum khamar. Sejarah mencatat bahwa mabuk-mabukan yang terjadi di masyarakat Arab merupakan sebuah penyakit kronis. Artinya fenomena tersebut telah terjadi sejak jauh sebelum datangnya Islam sampai memasuki periode Madinah. Maka sangat wajar apabila khamar diharamkan secara berangsur-angsur sebab melihat kondisi masyarakat pada saat itu yang sangat gemar terhadap mabuk-mabukan, bahkan sampai empat kali turun ayat yang menjelaskan tentang khamar. Ketika khamar sudah diharamkan lalu muncul sebuah pemahaman bahwa khamar tetap bermanfaat termasuk dapat digunakan untuk obat. Hal ini menimbulkan polemik di kalangan para ulama bahkan sampai merambah kepada sebagian masyarakat awam. Ditambah lagi ada sebagaian orang yang tidak tahu akan perbedaan antara khamar dan alkohol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa khamar bukanlah alkohol meskipun khamar itu sendiri mengandung alkohol, dan berdasarkan fakta historis belum ditemukan suatu penyakit bisa disembuhkan dengan khamar akan tetapi ada beberapa kasus pengobatan yang ditunjang dengan alkohol.
Pandangan Al-Qur’an Terhadap Persepsi Istilah Hari Sial Masyarakat Desa. Mojorejo Kec. Pungging Kab. Mojokerto Mokhammad Saifuddin Azzuhri; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/a1aagn80

Abstract

This study explores the beliefs of the people of Mojorejo Village, Pungging District, Mojokerto Regency towards the concept of "unlucky days" from an Islamic perspective. Although this belief has persisted since the time of ignorance, Islam emphasizes that there is no day that inherently brings bad luck or good fortune, because everything that happens is part of the destiny of Allah SWT. By using the approach of analyzing the text of the Qur'an and interpretation, this study aims to provide a more rational and spiritual understanding, and encourage people to abandon beliefs that are not in accordance with Islamic teachings. This study analyzes the beliefs of the people of Mojorejo Village, Pungging District, Mojokerto Regency towards the concept of "unlucky days," especially in the month of Suro, and evaluates this belief from an Islamic perspective. Although this belief is strong and has been passed down from generation to generation, Islam rejects the concept of "unlucky days" and teaches that everything that happens is part of the destiny of Allah SWT. This study uses a sociological and phenomenological approach to understand how the perception of unlucky days is formed in a social and cultural context. The results show that this belief is contrary to Islamic teachings and needs to be replaced with a more rational and spiritual understanding. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kepercayaan masyarakat Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto terhadap konsep "hari sial" dalam perspektif Islam. Meskipun kepercayaan ini masih bertahan sejak zaman jahiliyah, Islam menegaskan bahwa tidak ada hari yang secara inheren membawa kesialan atau keberuntungan, karena segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Dengan menggunakan pendekatan analisis teks Al-Qur'an dan tafsir, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih rasional dan spiritual, serta mendorong masyarakat meninggalkan kepercayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Penelitian ini menganalisis kepercayaan masyarakat Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto terhadap konsep "hari sial," terutama di bulan Suro, serta mengevaluasi keyakinan ini dari perspektif Islam. Meskipun kepercayaan ini kuat dan diwariskan turun-temurun, Islam menolak konsep "hari sial" dan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dan fenomenologis untuk memahami bagaimana persepsi hari sial terbentuk dalam konteks sosial dan kultural. Hasilnya menunjukkan bahwa keyakinan ini bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu digantikan dengan pemahaman yang lebih rasional dan spiritual.
Telaah Tematik Tentang Kriteria Hidup Baik Dalam Al-Qur’an Naf’an Salim; Wiwin Ainis Rohtih; Amir Mahmud; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/52hc3w52

Abstract

This research article aims to determine the criteria for a good life according to the Qur'an, examine the interpretation of related verses, and analyze the correlation between these criteria and the concept of a good life from an Islamic perspective. The type of research used is library research, namely a data collection method carried out by searching various literature sources such as books, scientific journals, tafsir books, and other relevant references related to the research theme. The data obtained is then analyzed systematically to produce a complete understanding. In the interpretation process, this study uses the maudhu'i (thematic) interpretation method, namely a method that focuses on a particular theme, then collects all verses of the Qur'an related to that theme for a comprehensive study. With this method, the concept of the criteria for a good life can be understood in a more focused and contextual manner. The results of the study show that in general the criteria for a good life are often understood as worldly things, such as abundant wealth, a decent place to live, and physical health. However, based on the interpretation of QS. According to verse 97 of An-Nahl, the criteria for a good life in the Qur'an are summarized in three main aspects: well-being, contentment (qana'ah), and happiness. Well-being is not only interpreted in material terms but also encompasses peace of mind. Contentment is a pillar that fosters gratitude and inner satisfaction. From these two aspects, true happiness is born, encompassing both worldly and afterlife, culminating in eternal bliss in God's paradise. Thus, the concept of a good life in the Qur'an is holistic, balanced, and oriented not only toward worldly aspects but also toward spiritual and hereafter aspects. Abstrak Artikel penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria hidup baik menurut Al-Qur’an, menelaah penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengannya, serta menganalisis korelasi antara kriteria tersebut dengan konsep kehidupan yang baik dalam perspektif Islam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penelusuran berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, kitab tafsir, dan referensi relevan lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara sistematis untuk menghasilkan pemahaman yang utuh. Dalam proses penafsiran, penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu’i (tematik), yaitu metode yang berfokus pada satu tema tertentu, kemudian menghimpun seluruh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut untuk dikaji secara menyeluruh. Dengan metode ini, konsep kriteria hidup baik dapat dipahami secara lebih terarah dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kriteria hidup baik sering dipahami sebagai hal yang bersifat duniawi, seperti harta yang melimpah, tempat tinggal yang layak, dan kesehatan jasmani. Namun, berdasarkan penafsiran QS. An-Nahl ayat 97, kriteria hidup baik dalam Al-Qur’an terhimpun dalam tiga aspek utama, yaitu kesejahteraan, rasa cukup (qana’ah), dan kebahagiaan. Kesejahteraan tidak hanya dimaknai secara material, tetapi juga mencakup ketenangan jiwa. Sikap qana’ah menjadi penopang yang melahirkan rasa syukur dan kepuasan batin. Dari kedua aspek tersebut, lahirlah kebahagiaan sejati yang mencakup kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, dengan puncaknya adalah kebahagiaan abadi di surga Allah. Dengan demikian, konsep hidup baik dalam Al-Qur’an bersifat holistik, seimbang, dan tidak hanya berorientasi pada aspek duniawi, tetapi juga spiritual dan ukhrawi.
LARANGAN MENGUMBAR AIB DALAM AL-QUR’AN (Kajian Tafsir Tahlili) Muslikhah; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rothih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasi, Dakwah dan Al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/sw3dvh07

Abstract

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh beberapa fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarakat sekarang, yang mana seluruh kegiatan bias kita lakukan dengan cara yang sangat canggih, perkembangan zaman digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan lagi oleh manusia.tentunya hal inu juga akan berdampak positif dan negatif. Hal demikian ini  merusak tatanan tujuan manusia diciptakan. Dengan semakin canggihnya perkembangan tersebut membawa dampak penyebaran aib orang semakin cepat, baik didunia nyata maupun sosial. Peneliti melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang curhat pengumbaran aib di media sosial dan dampak curhat (pengumbaran aib) di media sosial untuk menghasilkan kajian dinamis kritis membangun argumen yang responsif terhadap problem pengumbaran aib, dapat merelevansi dengan konteks masyarakat kekinian. Penetian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), data dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari: 1) data primer yaitu Tafsir al-Munir, 2) data sekunder berupa Al-Qur’an  dan terjemahnya, kitab Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Azhar dan buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan al-Qur’an  dan pembahasannya. Teknis pengumpulan data yang digunakan oleh penulis membutuhkan dokumentasi berupa catatan, lampiran, dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan judul. Selanjutnya menggunakan langkah-langkah maudhu’i dan yang paling utama yaitu mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang dibahas, terjemah dan tafsiran dari para mufasir, dan diambil dari buku, artikel maupun jurnal yang terkait. Dari penafsiran tafsir al-munir menjelaskan bahwa semua perilaku mengumbar aib, dapat diketahui bahwa perilaku mengumbar aib sangat dianjurkan untuk dihindari agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penafsiran dalam tafsir tahlili menyebutkan bahwa melarang untuk menampakkan perbuatan ataupun menceritakan sesuatu yang berkaiatan dengan perbuatan maksiat boleh jadi apa yang diceritakan atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya berakibat buruk kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri misalnya dampaknya kepada orang lain yaitu boleh jadi orang yang mendengarkan cerita orang tersebut melakukan hal yang serupa terhadap apa yang telah dilakukan. Dampak negatif mengumbar aib pertama yaitu yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kemudian yang kedua mengumbar aib menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga menimbulkan sikap atau perbuatan yang sombong dengan membanggakan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan.Kata kunci : Anak, Tafsir ibnu katsir.AbstractThe research in this thesis is based on several phenomena that often occur among today's society, where we can carry out all activities in a very sophisticated way, the development of the digital era continues to move quickly and cannot be stopped by humans. Of course this will also have an impact positive and negative. This kind of thing destroys the order for which humans were created. With increasingly sophisticated developments, this has the impact of spreading people's disgrace more quickly, both in the real world and in society. The researcher looked at how the verses of the Qur'an talk about sharing shame on social media and the impact of sharing shame on social media to produce a critical dynamic study to build arguments that are responsive to the problem of showing shame, and can be relevant to the context of contemporary society. This research is library research, the data in this research comes from library materials consisting of: 1) primary data, namely Tafsir al-Munir, 2) secondary data in the form of the Al-Qur'an and its translation, the book Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, and Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Azhar and books related to the science of the Koran and its discussions. The data collection technique used by the author requires documentation in the form of notes, attachments and several documents related to the title. Next, we use maudhu'i steps and the most important thing is the verses of the Koran that are discussed, translations and interpretations from commentators, and taken from related books, articles and journals. From the interpretation of Al-Munir's tafsir, which explains that all behavior that indulges in disgrace, it can be seen that it is highly recommended that behavior that indulges in disgrace be avoided so that things do not happen that can harm oneself and others. The interpretation in the tafsir tahlili states that it is forbidden to show actions or tell something that is related to immoral acts, it may be that what is said or actions that have been done previously have a bad impact on other people or even on oneself, for example the impact on other people, that is, it may be the person who listens. the story of the person doing something similar to what was done. The first negative impact of indulging in disgrace is that it has a bad impact on oneself. Then the second person indulges in disgrace and tells it because he wants to brag about his immoral deeds, giving rise to arrogant attitudes or actions by bragging about the actions he has committed.
Problems of Hasad from the Perspective of the Qur'an (Review of Maqashidi Interpretation) Muhammad Chasan; Nyoko Adi Kuswoyo; Wiwin Ainis Rohti
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.2227

Abstract

Envy (Hasad) is a psychological illness with significant psychological, moral, and social impacts. It is a spiritual disease that can lead to various forms of evil, such as slander, ridicule, humiliation, and persecution. This study examines the problematics of hasad from the perspective of the Qur'an using the Tafsir Maqashidi approach, a method of interpretation that emphasizes the objectives and wisdom (maqashid) behind Islamic teachings. The Qur'an highlights the roots, manifestations, and impacts of hasad, while also providing spiritual guidance for overcoming and preventing it. The central issues addressed in this research are: What forms of problematics arise from hasad in life according to the Qur'anic perspective? How does the concept of Maqashid Asy-Syari'ah in Qur'anic verses about hasad relate to the issues caused by it? The objectives of this research are to identify and analyze the various forms of problematics caused by hasad in daily life based on the Qur'anic perspective. Furthermore, the study aims to explain the concept of Maqashid Asy-Syari'ah in Qur'anic verses related to hasad and how this concept provides solutions to the issues arising from it. Additionally, the research seeks to reveal the relevance of the Qur'anic teachings in addressing the negative impacts of hasad, both at the individual and social levels.
The Concept of Tazkiyah Al-Nafs in the Qur'an and its Implications for Human Moral-Spiritual Growth (Hermenutical Study by Fazlur Rahman) Siti Mukarromatussa’diyyah; Nyoko Adi Kuswoyo; Miftara Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 9 No. 2 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v9i2.3380

Abstract

This study examines the concept of tazkiyah al-nafs in the Qur’an and its implications for human moral and spiritual development. In response to contemporary moral and spiritual crises, this research aims to provide a contextual understanding of soul purification as a foundation for ethical character building. This study employs a qualitative approach through library research, analyzing Qur’anic verses using Fazlur Rahman’s hermeneutical framework, particularly the double movement method, which involves examining the historical context of revelation and deriving universal moral principles applicable to modern life. The findings reveal that tazkiyah al-nafs is not merely a process of spiritual purification but also a transformative framework that shapes self-control, ethical awareness, and moral responsibility in both individual and social contexts. Furthermore, the study highlights that the values embedded in tazkiyah al-nafs such as honesty, self-discipline, and social responsibility remain highly relevant in addressing contemporary ethical challenges. Therefore, this concept serves as a significant ethical and spiritual foundation for fostering a morally conscious and spiritually aware society.