Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KONSEP SELF REWARD DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN TEMATIK) Ula, Syaukul; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i1.5177

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupan secara berkelanjutan yang menyebabkan sebagian percaya pada agama hanya untuk hubungan dengan Tuhannya. Mereka menganggap perilaku dalam tatanan kehidupan seperti cara berpakaian, perilaku, berbicara dan lainnya, bukan menjadi urusan agama lagi. Dengan modernitas, mereka merasa lebih tahu mengenai diri pribadinya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai agama, lebih khususnya pemahaman terhadap Al-Qur’an sangatlah penting, mengingat Al-Qur’an telah memberikan amanat kepada manusia dengan berbagai tuntunan supaya dijadikan solusi dalam mengelola berbagai persoalan baik dari sisi perilaku, moral ataupun sosial. Disisi lain terdapat berbagai fenomena perkembangan zaman yang memunculkan berbagai istilah baru, salah satunya self reward yaitu memberikan apresiasi terhadap diri sendiri tetapi dalam pengaplikasiannya banyak yang melenceng, sehingga tidak dapat membedakan self reward dan nafsu. Maka perlu adanya penelitian ini untuk memaparkan dan menjelaskan bagaimana konsep self reward yang baik sesuai tuntunan Al-Qur’an. Dengan menjawab persoalan tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan penelitian kepustakaan (Library Research). Dalam penelitian ini terdapat dua sumber data yang digunakan untuk memecahkan persoalan, meliputi data primer dan data sekunder. Sedangkan dalam metode penafsirannya menggunakan metode tematik, yaitu mengumpulkan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan self reward, kemudian dijelaskan sehingga diperoleh kesimpulan menyeluruh mengenai masalah tersebut menurut sudut pandang Al-Qur’an. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu, self reward merupakan bentuk apresiasi diri atau pemberian hadiah terhadap diri sendiri setelah mencapai tujuan tertentu. Sedangkan cara pengaplikasian self reward dalam Al-Qur’an yaitu: self reward harus seimbang atau sesuai proporsinya maka dilarang untuk memiliki perilaku yang berlebihan seperti dalam hal pakaian, makanan, dan membelanjakan harta, melakukan self reward dengan cara me time yang sesuai dengan nilai-nilai agama yaitu dengan muhasabah diri, dan melakukan self reward untuk menghargai nikmat yang telah Allah berikan yaitu dengan bersyukur. Maka berdasarkan hasil penelitian yng dipaparkan dapat diambil kesimpulan, bahwa seseorang yang melakukan self reward sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dapat membawa pengaruh positif pada dirinya, lebih bijaksana dalam menentukan perilaku untuk memberikan apresiasi terhadap dirinya. Kata Kunci: Self reward, Al-Qur’an, Kajian Tematik
MEMBENTUK HARDNESS PERSONALITY MELALUI KISAH NABI AYYUB: (Penafsiran Q.S Shad 41-44 dalam Al – Qur’an) Wardah, Rif’atul; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5364

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi konsep hardbess personality dan penerapannya melalui kisah Nabi Ayyub dalam Q.S Shad 41–44. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan kualitatif, dengan pendekatan berbasis pustaka. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter hardness personality merupakan sifat mental dan fisik yang dapat dikembangkan untuk mengatasi tekanan hidup. Karakter hardness personality dalam kisah Nabi Ayyub antara lain menguatkan keimanan, memupuk kesabaran, mencari hikmah, keakraban dengan keluarga, pertumbuhan spiritual yang positif, dan belajar dari kisah – kisah inspiratif. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hardness personality membuat orang lebih tangguh terhadap tantangan, mengurangi stress, meningkatkan respons kekebalan tubuh, dan membantu pengambilan keputusan. Keyword: Hardness Personality, Kisah Nabi Ayyub, dan Ujian.
OVERTHINKING DALAM AL-QUR’AN: (Analisis Deskriptif Q.S Al-Hujurat Ayat 12) Mahfudzoh, Lailatul; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5365

Abstract

ABSTRAK Adanya penelitian dengan tema tersebut karena masyarakat sekarang yang menganggap adanya sebuah overthinking sebagai hal yang lumrah. Dengan kenyataan bahwasannya segala hal yang berlebihan tidaklah bisa disebut dengan perbuatan yang baik. Dengan begitu dengan adanya Al-Qur’an yang seharusnyaa dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk menjalani kehidupan. Didalamnya tercakup segala pembahasan dari aspek kehidupan, baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat. Dengan zaman yang sekarang muncullah istilah-istilah baru, salah satunya overthinking yaitu berfikir terhadap sesuatu dengan cara yang berlebihan, tentang sesuatu yang belum terjadi ataupun yang tidak akan terjadi. Kata overthinking ini pun bisa disebut adanya kekhawatiran tentang masa yang akan datang. Dengan adanya overthinking itu, akan muncul dampak yang terjadi setelahnya seperti memiliki tuduhan atau prasangka terhadap orang lain dan bahkan bisa memiliki prasangka terhadap takdir tuhan. Maka perlu munculnya penelitian ini untuk memaparkan bagaimana overthinking dalam Al-Qur’an dan solusi untuk mengatasinya. Dengan menjawab persoalan tersebut penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode kajian pustaka (Library Research). Dalam penelitian ini dicantumkan dua sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Sedangkan dalam metode penafsirannya menggunakan metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat dari berbagai aspek seperti menguraikan ayat satu ke ayat berikutnya, surah demi surah sesuai dengan urutan pada lembar Al-Qur’an . Kemudian dijelaskan sehingga dapat memperoleh kesimpulan secara menyeluruh tentang overthinking dala Al-Qur’an dan solusinya. Adapun hasil dari penelitian ini overthinking adalah berfikir dengan cara yang berlebihan. Kebanyakan dari seseorang pasti pernah mengalami hal tersebut, hal tersebut harus segera diatasi, jika tidak akan menimbulkan dampak pada dirinya sendiri dan hubungan sosial. Pembahasan overthinking ini pada Al-Qur’an terdapat di Q.S Al-Hujurat ayat 12, memberi larangan untuk memiliki prasangka atau tuduhan yang tidak berdasar. Dalam penelitian ini penulis juga mencantumkan solusi untuk menangani overthinking salah satunya yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah. Kata Kunci : Overthinking, Al-Qur’an , Tahlili
REKONSTRUKSI PEMAHAMAN MANFAAT KHAMAR SETELAH DIHARAMKAN DALAM AL-QURAN : (Analisis Term “manfaat khamar”Dalam Al-Quran) Mufid Kholilullah; Wiwin Ainis Rahtih; Amir Mahmud; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v7i1.5630

Abstract

Al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi manusia, diturunkan untuk merespon dan sekaligus menjadi solusi terhadap problematika yang terjadi di tengah-tengah kehidupan. Salah satu problematika yang merajalela dalam masyarakat Arab saat itu adalah minum khamar. Sejarah mencatat bahwa mabuk-mabukan yang terjadi di masyarakat Arab merupakan sebuah penyakit kronis. Artinya fenomena tersebut telah terjadi sejak jauh sebelum datangnya Islam sampai memasuki periode Madinah. Maka sangat wajar apabila khamar diharamkan secara berangsur-angsur sebab melihat kondisi masyarakat pada saat itu yang sangat gemar terhadap mabuk-mabukan, bahkan sampai empat kali turun ayat yang menjelaskan tentang khamar. Ketika khamar sudah diharamkan lalu muncul sebuah pemahaman bahwa khamar tetap bermanfaat termasuk dapat digunakan untuk obat. Hal ini menimbulkan polemik di kalangan para ulama bahkan sampai merambah kepada sebagian masyarakat awam. Ditambah lagi ada sebagaian orang yang tidak tahu akan perbedaan antara khamar dan alkohol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa khamar bukanlah alkohol meskipun khamar itu sendiri mengandung alkohol, dan berdasarkan fakta historis belum ditemukan suatu penyakit bisa disembuhkan dengan khamar akan tetapi ada beberapa kasus pengobatan yang ditunjang dengan alkohol.
Problems of Hasad from the Perspective of the Qur'an (Review of Maqashidi Interpretation) Muhammad Chasan; Nyoko Adi Kuswoyo; Wiwin Ainis Rohti
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.2227

Abstract

Envy (Hasad) is a psychological illness with significant psychological, moral, and social impacts. It is a spiritual disease that can lead to various forms of evil, such as slander, ridicule, humiliation, and persecution. This study examines the problematics of hasad from the perspective of the Qur'an using the Tafsir Maqashidi approach, a method of interpretation that emphasizes the objectives and wisdom (maqashid) behind Islamic teachings. The Qur'an highlights the roots, manifestations, and impacts of hasad, while also providing spiritual guidance for overcoming and preventing it. The central issues addressed in this research are: What forms of problematics arise from hasad in life according to the Qur'anic perspective? How does the concept of Maqashid Asy-Syari'ah in Qur'anic verses about hasad relate to the issues caused by it? The objectives of this research are to identify and analyze the various forms of problematics caused by hasad in daily life based on the Qur'anic perspective. Furthermore, the study aims to explain the concept of Maqashid Asy-Syari'ah in Qur'anic verses related to hasad and how this concept provides solutions to the issues arising from it. Additionally, the research seeks to reveal the relevance of the Qur'anic teachings in addressing the negative impacts of hasad, both at the individual and social levels.