Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

An Integrative Model of Local Wisdom-Based Learning at Pesantren: A Comparative Study of Islamic Educational Institutions in Indonesia Syahrudin; Susanto, Roni; Ummah, Wardatul; Musyafa’, A’ang Yusril; Isa, Khairunesa
Cendekia: Kependidikan dan Kemasyarakatan Vol 23 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/cendekia.v23i2.12097

Abstract

This study aims to investigate an integrative innovation model to bridge the weak integration of local wisdom curriculum in Islamic boarding school education. This study used a qualitative method with an ethnographic approach. This research was conducted in five Islamic boarding schools: Walisongo Islamic boarding school in Lampung, Al-Kayyis Islamic boarding school in Banten, Al-Mahalli Islamic boarding school in Yogyakarta, Al-Hasan Islamic boarding school in Ponorogo, and Darul Hikam Bendo Islamic boarding school in Kediri. The forms of local wisdom in Islamic boarding schools include gotong royong, piil pesegiri, agrarian culture, social ethics, and digital creativity. Data analysis employed the Folk Development Analysis (FDA), which involved identifying elements of local wisdom, internalization processes, and interpretations. The results of the study show that those five Islamic boarding schools have succeeded in integrating local wisdom values ​​through three main pillars: (1) strengthening local values ​​through the Islamic boarding school curriculum, (2) a socially based contextual approach in the culture of students, and (3) methodological innovations that are in accordance with developments in the digital era. The form of implication of the integration of these values ​​is the formation of a strong, relevant, and adaptive character of students in preserving local wisdom.
Operationalising Islamic Moderation in Digital Communication: Ethical Pathways to Counter Social Polarisation in Indonesia Suhantoro, Suhantoro; Syahrudin, Syahrudin; Susanto, Roni; Lailatul Qomariyah, Darul
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 8 No. 2 (2025): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social polarization in Indonesia's digital age is increasingly shaped by the fragmentation of micro-identities and the algorithmic dynamics of social media platforms. However, existing studies tend to emphasize technological or political factors while underexploring the ethical-religious dimensions that can counter such polarization. In particular, the role of moderate Islamic values ​​as a normative and communicative framework for digital interactions remains under-theorized and under-examined empirically. To address this gap, this study investigates how Islamic principles of moderation (wasatiyyah) can be operationalized in digital communication practices to reduce polarization and strengthen social cohesion. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth structured interviews with 18 participants, including Islamic religious leaders, sociologists, and active social media users, selected based on their engagement with online religious and social discourse. These interviews were complemented by a systematic content analysis of 120 social media posts and discussions across major platforms, which were analyzed using thematic coding to identify patterns of ethical expression, interaction styles, and conflict framing. The findings demonstrate three analytical contributions. First, the digital articulation of Islamic values ​​such as ukhuwah (social solidarity), adab (ethical behavior), and tawasuth (politeness) serves as a counter-discursive mechanism that disrupts polarizing narratives by reframing disagreements in moral and relational terms, rather than identity-based antagonisms. Second, these values ​​shape inclusive communication practices such as dialogical engagement, self-restraint in judgment, and recognition of differences that reduce symbolic exclusion and soften ideological boundaries in online interactions. Third, the integration of moderate Islamic ethics with digital modernity produces a form of moral resilience that enhances social cohesion by balancing religious norms with the participatory logic of digital media
INOVASI DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI PESANTREN MELALUI PROGRAM INKUBASI BISNIS: STUDI KASUS USAHA PERIKANAN BUMPES ULUL ALBAB YOGYAKARTA Syahrudin, Syahrudin; Isa , Khairunesa; Susanto, Roni
Journal of Islamic Science Community Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/isc.v4i2.1191

Abstract

Penelitian ini memberikan analisis mendalam mengenai transformasi ekonomi pesantren melalui penerapan Program Inkubasi Bisnis pada unit usaha perikanan BUM Pesantren (BUMPes) Ulul Albab Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum program diterapkan, usaha perikanan pesantren menghadapi berbagai tantangan struktural, seperti tingginya biaya pakan, ketergantungan pada bibit dari pihak luar, lemahnya tata kelola manajerial, tidak adanya pencatatan keuangan, serta rendahnya literasi kewirausahaan di kalangan santri. Setelah program inkubasi dijalankan, terjadi transformasi signifikan pada tiga aspek utama: (1) Teknis – diversifikasi komoditas (lele, gurame, patin) serta inovasi pakan berbasis sumber daya lokal seperti azolla, daun pepaya, batang pisang, dan pelet fermentasi mandiri; (2) Kelembagaan – pembentukan koperasi santri sebagai pusat sirkulasi ekonomi yang menerapkan sistem keuangan transparan dan mekanisme reinvestasi keuntungan; (3) Sosial-kultural – munculnya etos spiritualpreneur, yaitu integrasi antara nilai spiritual pesantren, kemandirian ekonomi, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model inkubasi bisnis tidak hanya meningkatkan kinerja ekonomi pesantren, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi Islam yang mandiri, berkelanjutan, dan berbasis nilai. Model ini memiliki potensi untuk direplikasi di pesantren lain dengan syarat adanya adaptasi terhadap potensi lokal, dukungan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor.
Inovasi Dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren Melalui Program Inkubasi Bisnis: Studi Kasus Usaha Perikanan Bumpes Ulul Albab Yogyakarta Syahrudin, Syahrudin; Isa, Khairunesa; Susanto, Roni
Bale Pengabdian: Journal Of Community Service (BPJCS) Vol. 1 No. 1 (2025): Bale Pengabdian: Journal Of Community Service (BPJCS)
Publisher : At Taawun Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65798/bpjcs.v1i1.26

Abstract

Penelitian ini memberikan analisis mendalam mengenai transformasi ekonomi pesantren melalui penerapan Program Inkubasi Bisnis pada unit usaha perikanan BUM Pesantren (BUMPes) Ulul Albab Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum program diterapkan, usaha perikanan pesantren menghadapi berbagai tantangan struktural, seperti tingginya biaya pakan, ketergantungan pada bibit dari pihak luar, lemahnya tata kelola manajerial, tidak adanya pencatatan keuangan, serta rendahnya literasi kewirausahaan di kalangan santri. Setelah program inkubasi dijalankan, terjadi transformasi signifikan pada tiga aspek utama: (1) Teknis-diversifikasi komoditas (lele, gurame, patin) serta inovasi pakan berbasis sumber daya lokal seperti azolla, daun pepaya, batang pisang, dan pelet fermentasi mandiri; (2) Kelembagaan – pembentukan koperasi santri sebagai pusat sirkulasi ekonomi yang menerapkan sistem keuangan transparan dan mekanisme reinvestasi keuntungan; (3) Sosial-kultural-munculnya etos spiritualpreneur, yaitu integrasi antara nilai spiritual pesantren, kemandirian ekonomi, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model inkubasi bisnis tidak hanya meningkatkan kinerja ekonomi pesantren, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi Islam yang mandiri, berkelanjutan, dan berbasis nilai. Model ini memiliki potensi untuk direplikasi di pesantren lain dengan syarat adanya adaptasi terhadap potensi lokal, dukungan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor.