Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Representation of Masculinity in the Poetry Anthology "Barista tanpa Nama" by Agus Noor Ulya, Chafit; Rubiyanto, Bhian Cahya W.; Putri, Ulfa Rizqi; Noreewec, Andreas
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v9i2.25873

Abstract

Gender equality has been an intriguing topic, particularly in the modern era. Modernization has given new meaning to the relational dynamics between men and women, leading to changes in the concept of masculinity. In this regard, the present research discussed the representation of masculinity in the poetry anthology “Barista tanpa Nama” by Agus Noor. This study employed a qualitative descriptive method to identify the aspects of masculinity in poetry, referring to Janet Saltzman Chafetz's theory. Seven characteristics of masculinity were examined in this study: (1) physical, (2) functional, (3) sexual, (4) emotional, (5) intellectual, (6) interpersonal, and (7) other personal traits. Based on the research findings, it was observed that the anthology “Barista tanpa Nama” by Agus Noor encompassed six out of the seven characteristics. Among these six, the sexual aspect emerged as the most dominant feature. However, it did not primarily focus on men driven by sexual desires but reflected those who prioritize care, attention to women, and genuine expressions of love without expectations. Thus, the representation of masculinity in the poetry anthology “Barista tanpa Nama” could be seen as a manifestation of a man's care, affection, and patience towards women.
Pragmatic PRAGMATIC ANALYSIS OF THE POLITENESS STRATEGIES USED IN THE DIRECTIVE SPEECH ACTS IN PAPUA NEW GUINEA’S NATIONAL PARLIAMENT SITTING SESSION ON MAY 30TH 2024 Noreewec, Andreas
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i2.6082

Abstract

Abstract This study presents a pragmatic analysis of the politeness strategies employed in directive speech acts during the Papua New Guinea National Parliament sitting session on May 30th, 2024. Utilizing Brown and Levinson's politeness theory as the analytical framework, the research examines how members of parliament navigate face-threatening acts through linguistic strategies to maintain social harmony and achieve political goals. Data for the study were collected from the official parliamentary transcripts, focusing on instances of directives such as requests, commands, and suggestions. The analysis reveals a predominance of negative politeness strategies, reflecting a high sensitivity to hierarchical structures and the desire to mitigate imposition. Additionally, the study identifies contextual factors, such as the socio-political environment and cultural norms, influencing the choice of politeness strategies. The findings contribute to a deeper understanding of the intersection between language, power, and culture in parliamentary discourse, offering insights into the pragmatic dynamics of political communication in Papua New Guinea. This research underscores the importance of context in the pragmatic realization of politeness and highlights the role of language in shaping political interactions within legislative settings. Keywords: Politeness strategies, Directive speech acts, Papua New Guinea National Parliament
Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dan Game-Based Learning dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SMP Surakarta Ulya, Chafit; Suwandi, Sarwiji; Wardhani, Nugraheni Eko; Wulansari, Keken; Noreewec, Andreas
Anufa Ikaprobsi Vol 2 No 2 (2024): Desember
Publisher : Ikaprobsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63629/anufa.v2i2.102

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran berbasis game dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Surakarta untuk menggambarkan bagaimana guru memanfaatkan kedua teknologi ini dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan guru dan siswa. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa, meskipun guru menyadari pentingnya teknologi, pengetahuan yang terbatas, dan sumber daya menghambat penerapan maksimalnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun guru mengakui pentingnya teknologi, pemahaman dan akses mereka ke sumber daya tetap terbatas, menghambat integrasi penuhnya. Studi ini menggarisbawahi potensi teknologi untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Namun, implementasinya masih terbatas, menekankan perlunya pelatihan guru lebih lanjut dan peningkatan infrastruktur untuk memfasilitasi integrasi teknologi dalam pendidikan bahasa Indonesia. Temuan penelitian ini menawarkan wawasan berharga, menginformasikan pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih mudah beradaptasi yang selaras dengan kemajuan teknologi global di sektor pendidikan.
Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Konten dengan Pendekatan CRT Pada Materi Teks Puisi di SMP Mufidah, Afi; Rakhmawati, Ani; Ulya, Chafit; Noreewec, Andreas
Anufa Ikaprobsi Vol 3 No 1 (2025): Juni
Publisher : Ikaprobsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63629/anufa.v3i1.98

Abstract

Pembelajaran teks puisi di SMP masih dihadapkan pada tantangan rendahnya keterlibatan siswa akibat pendekatan yang seragam dan kurang kontekstual terhadap latar belakang budaya serta profil belajar mereka. Padahal, teks puisi sebagai bagian dari pembelajaran sastra memerlukan sensitivitas terhadap pengalaman personal dan nilai-nilai kultural siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penerapan pembelajaran berdiferensiasi konten yang dipadukan dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam materi teks puisi di SMP Negeri 12 Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan guru dan siswa, observasi kelas, serta analisis dokumentasi berupa hasil tugas dan refleksi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi diferensiasi konten dan pendekatan CRT secara signifikan meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkaya interpretasi makna puisi, serta memperkuat koneksi personal siswa dengan materi ajar. Siswa merasa lebih dihargai ketika puisi yang dipelajari relevan dengan pengalaman budaya mereka, sementara guru merasa terbantu dalam merespons kebutuhan belajar yang beragam tanpa mengorbankan tujuan kurikuler. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap konteks kultural dan kebutuhan individu siswa tidak hanya meningkatkan efektivitas belajar, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan ruang belajar yang inklusif, reflektif, dan memberdayakan. Oleh karena itu, strategi ini layak untuk diadopsi secara luas sebagai model pembelajaran puisi yang adaptif dalam kerangka Kurikulum Merdeka.