Penelitian ini membahas penggunaan sarkasme sebagai gaya bahasa sindiran dalam konten kanal YouTube Tekotok karya Beto dan Bilal. Sarkasme dalam media digital semakin berkembang sebagai bentuk komunikasi yang tidak hanya berfungsi untuk menghibur, tetapi juga menyampaikan kritik sosial secara kreatif. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis tuturan dalam beberapa video Tekotok untuk mengidentifikasi jenis sarkasme, strategi bahasa, serta fungsi sosial yang muncul dalam dialog. Data dikumpulkan melalui teknik tonton, transkrip, dan catat dengan fokus pada segmen video yang memuat unsur ironi, hiperbola, metafora, dan bentuk pertentangan makna lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa sarkasme dalam kanal Tekotok muncul melalui penggunaan diksi sehari-hari, humor situasional, dan hiperbola ekstrem seperti “kolam renang dari beras” atau “AC monnya ada 10”. Sarkasme berfungsi sebagai media kritik terhadap perilaku konsumtif, kemiskinan, ketimpangan sosial, dan pola pikir tidak logis yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini memperlihatkan bahwa humor sarkastik menjadi strategi efektif untuk menyisipkan pesan moral tanpa menimbulkan pertentangan, sejalan dengan teori gaya bahasa Keraf (1971) serta temuan penelitian sebelumnya mengenai sarkasme di media digital. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa sarkasme dalam kanal Tekotok bukan sekadar hiburan, melainkan alat refleksi sosial yang mampu membangun kesadaran kritis penonton melalui tawa dan sindiran.