Indonesia sebagai Negara agraris memiliki penduduk yang mayoritas bekerja sebagai petani namun, kondisi petani masih sangat rentan karena latar belakang pendidikan yang rendah, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi serta konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian mengurangi luas lahan. Dalam kondisi normal saja keadaan petani sudah cukup memprihatinkan, lalu bagaimana keadaan petani pasca bencana, mengingat Indonesia menjadi salah satu Negara yang paling rentan terkena bencana. Karena itu peneliti ingin mengungkap kondisi sosial ekonomi keluarga petani di salah satu desa yakni Desa Siparmahan pasca bencana. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi keluarga petani dan juga mengetahui strategi bertahan hidup yang dilakukan keluarga petani pasca bencana banjir bandang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskrtiptif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan Keadaan petani yang semula miskin ditambah lagi karena tekanan dari bencana banjir bandang membuat keluarga petani semakin miskin. Hal ini ditandai dengan pendapatan yang berkurang drastis, kualitas sandang dan pangan yang menurun, habisnya tabungan untuk modal bertahan hidup, adanya gangguan kesehatan seperti rasa trauma mendalam dan terganggunya interaksi masyarakat desa. Sedangkan strategi yang dilakukan oleh keluarga petani pasca bencana banjir bandang adalah dengan berhemat dan mengurangi konsumsi nasi, memanfaatkan jaringan seperti bantuan keluarga dan pemerintah, serta strategi swadaya yakni bekerja keras memperbaiki lahan pertanian yang rusak dan juga membuka lahan baru.