Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pelatihan Penataan Ruang Terbuka Hijau Desa Oping Kecamatan Seram Utara Barat Kabupaten Maluku Tengah Komul, Yulianus Dominggus; Selanno, Frenly Marvi
Kapas: Kumpulan Artikel Pengabdian Masyarakat Vol 2, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/ks.v2i3.2543

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat terkait Pelatihan Ruang Terbuka Hijau di Desa Oping Kecamatan Seram Utara Barat pada tanggal 31 mei – 3 Juni 2023 bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman serta praktek yang nyata kepada masyarakat tentang penataan wilayah pemukiman yang berdampak bagi kelestarian lingkungan dalam pencegahan terhadap polusi dan perubahan iklim. Kegiatan dilaksanakan dengan menggunakan metode survei, perencanaan kegiatan, sosialisasi dan pelatihan dan dilanjutkan dengan penanaman pohon disepanjang ruas jalan dengan pemilihan jenis pohon yang tepat. Sebanyak 95% peserta pelatihan mampu memahami dan menerapkan ilmu yang diperoleh dari proses pelatihan guna pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di wilayah permukiman, terutama terkait penataan jalur tanaman pelindung untuk mengatasi dampak sinar matahari dan polusi debu kendaraan bermotor yang memberikan manfaat yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Oping. Dengan memberikan pola pembinaan yang tepat dan berguna menjadi indikator upaya mitigasi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim tingkat desa yang yang berdampak secara luas.
Pemberdayaan Pemuda Gereja Melalui Pelatihan Pertanian Hortikultura di Wanasa Desa Tehoru Kabupaten Maluku Tengah Komul, Yulianus Dominggus; Selanno, Frenly Marvi; Tetelay, Febian Filiph
Kapas: Kumpulan Artikel Pengabdian Masyarakat Vol 2, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/ks.v2i2.2032

Abstract

Wanasa merupakan bagian dari Rukun Tetangga (RT) Desa Tehoru yang terletak di Kecamatan Tehoru Kabupaten Maluku Tengah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tanaman pangan jenis hortikultura dinilai sangat menjanjikan untuk dibudidayakan di Wanasa, tanah yang subur dan kondisi topografi serta cuaca dan iklim yang cocok untuk dikembangkan dan tentunya dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat. Di balik peluang tersebut, sebenarnya masih ada kekurangan. Kebudayaan suatu masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada alam tanpa harus berusaha berproduksi. Kendala lain yang dialami adalah sumber daya manusia dan alat pendukung yang belum dimiliki oleh seluruh masyarakat Wanasa terutama para pemuda sehingga menyebabkan Wanasa masih dalam keadaan tertinggal jauh dari kemajuan dan kesejahteraan. Pengabdian Kepada Masyarakat dengan topik “Sosialisasi dan “Pelatihan Menanam Hortikultura” dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober - 23 Tahun 2022 bagi masyarakat Wanasa khususnya pemuda yang diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang bercocok tanam di lahan milik keluarga atau kelompok dengan sistematika teknik dan tahapan yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan hasil panen yang melimpah dan berkualitas tentunya kebutuhan pokok sembako dapat terpenuhi, selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui usaha yang berkelanjutan.
Pemberdayaan Pemuda Gereja Melalui Pelatihan Pertanian Hortikultura di Wanasa Desa Tehoru Kabupaten Maluku Tengah Komul, Yulianus Dominggus; Selanno, Frenly Marvi; Tetelay, Febian Filiph
Kapas: Kumpulan Artikel Pengabdian Masyarakat Vol 2, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/ks.v2i2.2032

Abstract

Wanasa merupakan bagian dari Rukun Tetangga (RT) Desa Tehoru yang terletak di Kecamatan Tehoru Kabupaten Maluku Tengah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tanaman pangan jenis hortikultura dinilai sangat menjanjikan untuk dibudidayakan di Wanasa, tanah yang subur dan kondisi topografi serta cuaca dan iklim yang cocok untuk dikembangkan dan tentunya dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat. Di balik peluang tersebut, sebenarnya masih ada kekurangan. Kebudayaan suatu masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada alam tanpa harus berusaha berproduksi. Kendala lain yang dialami adalah sumber daya manusia dan alat pendukung yang belum dimiliki oleh seluruh masyarakat Wanasa terutama para pemuda sehingga menyebabkan Wanasa masih dalam keadaan tertinggal jauh dari kemajuan dan kesejahteraan. Pengabdian Kepada Masyarakat dengan topik “Sosialisasi dan “Pelatihan Menanam Hortikultura” dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober - 23 Tahun 2022 bagi masyarakat Wanasa khususnya pemuda yang diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang bercocok tanam di lahan milik keluarga atau kelompok dengan sistematika teknik dan tahapan yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan hasil panen yang melimpah dan berkualitas tentunya kebutuhan pokok sembako dapat terpenuhi, selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui usaha yang berkelanjutan.
Estimasi Biomasa Karbon Serasah dan Tanah pada Hutan Negeri Soya Kota Ambon Yulianus Dominggus Komul; Jopie Christian Hitipeuw
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Kehutanan Papuasia
Publisher : Fakultas Kehutanan UNIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46703/jurnalpapuasia.Vol8.Iss2.352

Abstract

Perubahan jumlah karbon tersimpan pada suatu kawasan hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kerapatan vegetasi, struktur dan komposisi tegakan, diameter pohon, jenis pohon, laju dekomposisi serasah, nekromasa, dan tumbuhan bawah serta eksitensi tanah (struktur dan tekstur) dalam proses penyerapan. Informasi mengenai jumlah karbon tersimpan (carbon stock) pada kurun waktu tertentu pada kawasan hutan menjadi sangat penting untuk diketahui. Dengan mengukur dapat diketahui berapa hasil perolehan cadangan karbon yang terserap dari kesatuan vegetasi yang dimiliki dan dapat diketahui pula jumlah kandungan bahan karbon yang terkandung. Penelitian di laksanakan pada September 2015. Lokasi penelitian yaitu Hutan Negeri Soya Kota Ambon. Pengukuran dan pengambilan sampel serasah dan tanah dilapangan dilakukan dengan mengacu pada metode pengukuran lapangan untuk penaksiran cadangan karbon hutan oleh Badan Standarisasi Nasional, SNI 2774 Tahun 2011. Hasil penelitian menunjukan kandungan biomassa karbon serasah pada strata hutan primer berkisar antara 0,7459 ton/ha –1.36803 ton/ha dengan rata-rata kandungan biomasa karbon serasah berada pada 1,0209 ton/ha. Sedangkan strata hutan sekunder, kandungan biomassa karbon serasah yang diperoleh berkisar antara 0,2253 ton/ha – 0,7188 ton/ha dengan rata-rata berada pada 0,4150 ton/ha. Untuk kadungan karbon tanah, untuk hutan primer berkisar antara 5166,35–5796,65 ton/ha dengan rata-rata adalah 5463,76 ton/ha, sedangkan untuk hutan sekunder berkisar antara 5347,61–6436,31 ton/ha dengan rata-rata 6026,63 ton/ha.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI HUTAN MANGROVE DI NEGERI HATUSUA KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Rante, Queen Athalia Deborah; Sahupala, Andjela; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 3 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.3.2024.185-204

Abstract

The aim of this research is to determine the structure and composition of mangrove forests in Hatusua State, Kairatu District, West Seram Regency. And vegetation analysis was carried out by collecting data on the type, number, diameter and height of trees. In this research, the path method was used by carrying out a 100% inventory. The measuring plot area for the vegetation growth level of Seedlings, Saplings and Trees is 20 m x 20 m, a total of 46 plots for a total area of ​​1.84 ha. The research results show that the mangrove forests in Hatusua State can be divided into two from inundation, namely the middle zone and the distal zone, where in this mangrove forest there is no proximal zone because there are no mangroves that face the sea. The stratification of Hatusua State's mangrove forests is simpler than that of mainland natural forests. Mangrove trees in Hatusua Country can reach a tree height of 15 – 25 meters, which are dominated by Rhizophora apiculata, Heritiera littoralis, Parmentiera cereifera, and Intsia bijuga. The Hatusua State mangrove forest diversity index value of 1.37 seedlings, 2.30 saplings and 1.36 trees is categorized as medium because the value 1 <H' < 3.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI HUTAN MANGROVE DI NEGERI HATUSUA KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Rante, Queen Athalia Deborah; Sahupala, Andjela; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 3 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.3.2024.185-204

Abstract

The aim of this research is to determine the structure and composition of mangrove forests in Hatusua State, Kairatu District, West Seram Regency. And vegetation analysis was carried out by collecting data on the type, number, diameter and height of trees. In this research, the path method was used by carrying out a 100% inventory. The measuring plot area for the vegetation growth level of Seedlings, Saplings and Trees is 20 m x 20 m, a total of 46 plots for a total area of ​​1.84 ha. The research results show that the mangrove forests in Hatusua State can be divided into two from inundation, namely the middle zone and the distal zone, where in this mangrove forest there is no proximal zone because there are no mangroves that face the sea. The stratification of Hatusua State's mangrove forests is simpler than that of mainland natural forests. Mangrove trees in Hatusua Country can reach a tree height of 15 – 25 meters, which are dominated by Rhizophora apiculata, Heritiera littoralis, Parmentiera cereifera, and Intsia bijuga. The Hatusua State mangrove forest diversity index value of 1.37 seedlings, 2.30 saplings and 1.36 trees is categorized as medium because the value 1 <H' < 3.
PENGARUH NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU (Aquilaria malaccensis) DI PERSEMAIAN JURUSAN KEHUTANAN, FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PATTIMURA. Hayani, Hayani; Sahupala, Andjela; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 4 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.4.2024.387-404

Abstract

Agarwood (Aquilaria malaccensis) is a non-timber forest product commodity that has a high selling value. Indonesia is the largest agarwood producer in the world. By the end of 1990, Indonesia could produce more than 600 tons of agarwood annually.  The research was carried out in the nursery of the Forestry Department, Faculty of Agriculture, Patimura University. This research was carried out from February to May 2024 to determine the effect of shade on the growth of gaharu seedlings (Aquilaria malaccensis). The percentage of shade supports the growth of (Aquilaria malaccensis). The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, namely no shade, 50% shade, 65% shade, and 75% shade. The research results show that gaharu seeds are a semi-tolerant type, or a type of gaharu tree that can grow in open and shaded areas.
PENGARUH NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU (Aquilaria malaccensis) DI PERSEMAIAN JURUSAN KEHUTANAN, FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PATTIMURA. Hayani, Hayani; Sahupala, Andjela; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 4 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.4.2024.387-404

Abstract

Agarwood (Aquilaria malaccensis) is a non-timber forest product commodity that has a high selling value. Indonesia is the largest agarwood producer in the world. By the end of 1990, Indonesia could produce more than 600 tons of agarwood annually.  The research was carried out in the nursery of the Forestry Department, Faculty of Agriculture, Patimura University. This research was carried out from February to May 2024 to determine the effect of shade on the growth of gaharu seedlings (Aquilaria malaccensis). The percentage of shade supports the growth of (Aquilaria malaccensis). The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, namely no shade, 50% shade, 65% shade, and 75% shade. The research results show that gaharu seeds are a semi-tolerant type, or a type of gaharu tree that can grow in open and shaded areas.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI HUTAN ALAM NEGERI AMAHUSU KECAMATAN NUSANIWE KOTA AMBON Sapardi, Colin; Irwanto, Irwanto; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 8 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.8.2024.766-783

Abstract

This study aims to determine the structure and composition of the natural forest vegetation of Negeri Amahusu, Nusaniwe District, Ambon City. The sampling method used in this study is a combination of the grid line method and the path method to study the composition and structure of vegetation at the research location. In this study, 5 (five) observation paths were made, each path consisting of 5 plots with a size of 20 x 20 m for the tree level so that the observation path measures 20 x 100 m. While the sample plots for the pole level were made 10 x 10 m, the sapling level 5 x 5 m, and the seedling level 2 x 2 m. The results of the study showed that the Amahusu natural forest consists of 4 Stratifications (Strata A, B, D, and E) dominated by stratum B, where the height of stratum A trees ranges from 20-25 m while stratum B ranges from 8-19 m with dominant species including: Durian (Durio zibethinus), Canary (Canarium commune), and Linggua (Pterocarpus indicus). The composition of Amahusu forest species at the seedling level consists of 18 species, 20 species of saplings, 15 species of poles and 15 species of trees. The species diversity index is included in the medium category with an H' value at the seedling level of 1.148, saplings 1.174, poles 1.018 and trees 1.072.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI HUTAN ALAM NEGERI AMAHUSU KECAMATAN NUSANIWE KOTA AMBON Sapardi, Colin; Irwanto, Irwanto; Komul, Yulianus
MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 8 (2024): MARSEGU : Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : PT. BARRINGTONIA ASIATICA LESTARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69840/marsegu/1.8.2024.766-783

Abstract

This study aims to determine the structure and composition of the natural forest vegetation of Negeri Amahusu, Nusaniwe District, Ambon City. The sampling method used in this study is a combination of the grid line method and the path method to study the composition and structure of vegetation at the research location. In this study, 5 (five) observation paths were made, each path consisting of 5 plots with a size of 20 x 20 m for the tree level so that the observation path measures 20 x 100 m. While the sample plots for the pole level were made 10 x 10 m, the sapling level 5 x 5 m, and the seedling level 2 x 2 m. The results of the study showed that the Amahusu natural forest consists of 4 Stratifications (Strata A, B, D, and E) dominated by stratum B, where the height of stratum A trees ranges from 20-25 m while stratum B ranges from 8-19 m with dominant species including: Durian (Durio zibethinus), Canary (Canarium commune), and Linggua (Pterocarpus indicus). The composition of Amahusu forest species at the seedling level consists of 18 species, 20 species of saplings, 15 species of poles and 15 species of trees. The species diversity index is included in the medium category with an H' value at the seedling level of 1.148, saplings 1.174, poles 1.018 and trees 1.072.