Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ENVIRONMENTAL PROBLEM-BASED LEARNING BOOTS SKILLS IN RIVER PROBLEM SOLVING AND ECOLOGICAL AWARENESS Kholifah, Evalia Nurul; Putra, Alfyananda Kurnia; Yembuu, Batchuluun
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 15, No 4 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v15i4.25866

Abstract

Abstrak: Peningkatan permasalahan sungai semakin kompleks memerlukan pembelajaran kontekstual yang dapat mengaitkan pembelajaran pada isu-isu lingkungan nyata dan relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah dan kesadaran ekologis diri siswa melalui Environmental-Oriented Problem-Based Learning (EoPBL) berdasarkan indikator variabel dan jenis kelamin siswa. Jenis penelitian quasi experimental melibatkan siswa kelas X3 dan X5 di SMA Islam Kepanjen, Kabupaten Malang, Indonesia. Pengumpulan data menggunakan tes dan kuesioner untuk menilai kemampuan pemecahan masalah dan kesadaran ekologis diri. Hasil penelitian bahwa uji non parametrik Mann-Whitney U menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kemampuan pemecahan masalah (sig. (2-tailed) = 0.000 < 0.05) dan kesadaran ekologis diri (sig. (2-tailed) = 0.002 < 0.05) antara kelas eksperimen dan kontrol. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah (sig. (2-tailed) = p > 0.05) dan kesadaran ekologis diri (sig. (2-tailed) = p > 0.05) berdasarkan jenis kelamin pada kelompok eksperimen dan kelas kontrol. Implementasi model EoPBL memberikan perbedaan signifikan kemampuan pemecahan masalah dan kesadaran ekologis siswa kelas eksperimen, nilai rata-rata indikator variabel 90.16 dan 79.14 lebih tinggi dibandingkan siswa kelas kontrol 68.45 dan 70.92 yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Perbedaan jenis kelamin siswa mempengaruhi tidak adanya perbedaan signifikan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan.Abstract:  Increasingly complex river problems require contextual learning that can link learning to real and relevant environmental issues. This study aims to determine the differences in problem solving skills and ecological self-awareness of students through Environmental-Oriented Problem-Based Learning (EoPBL) based on variable indicators and student gender. The quasi-experimental study involved students from classes X-3 and X-5 at Kepanjen Islamic High School in Malang Regency, Indonesia. Data were collected using tests and questionnaires to assess problem-solving and self-ecological awareness abilities. The results showed that the Mann-Whitney U non-parametric test showed a significant difference in problem solving ability (sig. (2-tailed) = 0.000 < 0.05) and self-ecological awareness (sig. (2-tailed) = 0.002 < 0.05) between the experimental and control classes. However, there were no significant differences in problem-solving abilities (sig. (2-tailed) = p > 0.05) and self-ecological awareness (sig. (2-tailed) = p > 0.05) based on gender within the experimental and control classes. The implementation of the EoPBL model provides a significant difference in the problem solving ability and ecological awareness of experimental class students, the average value of variable indicators 90.16 and 79.14 is higher than the control class students 68.45 and 70.92 who use conventional learning models. The difference in student gender affects the absence of significant differences between male students and female students.
Inovasi Merdeka Belajar: Pelatihan Penerapan Microlearning dan Microcontent untuk Pembelajaran Geografi Berdiferensiasi Putra, Alfyananda Kurnia; Khalidy, Diky Al; Handoyo, Budi; Soekamto, Hadi; Kristanti, Queentasya Vanti Dian; Kholifah, Evalia Nurul; Putri, Denok Pangestudika Arum; Ayu, Yasmin Fajar Putri
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 7 No 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v7i1.6978

Abstract

The development of technology has led to a transformation in the field of learning into a smart learning environment. However, the unpreparedness of institutions, such as facilities and infrastructure, as well as the lack of digital pedagogy among teachers, such as low technology literacy, a lack of creativity, and confidence in implementing digital-based learning, poses significant challenges. The solution to these problems involves conducting training and utilizing microlearning and microcontent for differentiated learning within the independent curriculum through workshop activities. The method of community service involves the active participation of partners, namely the Geography Teachers' Association of Batu City, in workshop activities. The purpose of this community service is to train in the application of microlearning and microcontent in differentiated Geography learning within the Independent Curriculum. In its evaluation, the workshop activities have had a positive impact on the participants, received support from various parties, and there is follow-up to ensure that the activities are carried out continuously.
Improving the competence of Geography teachers through training in Mobile-RPG development based on serious games Putra, Alfyananda Kurnia; Septiana, Wahyu Dwi; Khalidy, Diky Al; Sahrina, Alfi; Arinta, Dicky; Wahyuningtyas, Neni; Habibah, Khoirul; Kholifah, Evalia Nurul
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v7i2.21417

Abstract

Based on the analysis of the situation, problems, and needs of MGMP Geography in Malang City, teachers experience obstacles in developing and using technology-based, innovative learning media, namely mobile role-playing games based on serious games. The purpose of community service activities is to provide training in the development of mobile role-playing game learning media based on serious games, which are games designed for specific educational goals, rather than just entertainment, and are formatted as mobile role-playing games (RPGs). This activity also aims to measure the resulting improvement in the teachers' competence. This community service activity employed a participatory training approach, structured into four phases: assessment, preparation, implementation, and evaluation, utilizing a combination of online and offline methods. The subjects in this activity were 50 teachers from MGMP Geography, Malang City. The Wilcoxon test revealed that implementing service activities had a positive impact on improving teachers' competence. In addition, the suggestion from this activity is that similar activities are needed as a form of sustainability for real efforts to improve teacher competence and the quality of geography learning.[Berdasarkan analisis situasi, permasalahan, dan kebutuhan terhadap MGMP Geografi Kota Malang, guru mengalami kendala dalam mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran inovatif berbasis teknologi. yaitu mobile role-playing game berbasis serious game, yaitu permainan yang di desain untuk pendidikan, bukan hanya untuk bersenang-senang, dalam format role-playing game (RPG). Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu memberikan pelatihan pengembangan media pembelajaran mobile role-playing game berbasis serious game dan mengukur tingkat kompetensi guru. Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif yang terdiri dari empat tahapan, yaitu asesmen, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan kombinasi daring dan luring. Subjek dalam kegiatan ini adalah MGMP Geografi Kota Malang sebanyak 50 guru. Berdasarkan uji Wilcoxson menunjukkan implementasi kegiatan pengabdian berdampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru. Selain itu, saran dari kegiatan ini yaitu diperlukan kegiatan serupa sebagai bentuk keberlanjutan terhadap usaha nyata dalam meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran Geografi.]