Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Formulasi Sediaan Krim Tabir Surya Ekstrak Etanolik Daun Leunca (Solanum Nigrum L.) Dan Uji Sun Protection Factor (SPF) Vicko Suswidiantoro; Dila Cindy Reptiana; Haikal Nur Islam; Hazballah Asy Syifa; Miftah Khoirun Nissa; Audya Zahra; Eva Nurul Baity; Wulan Cahya Indah; Wina Safutri; Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi; Iga Mayola Pisacha
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1873

Abstract

Human skin is a very important organ because it is located on the outside of the body and functions to receive external stimuli such as touch, pain, and other influences. One cause of damage is ultraviolet (UV) rays. Leunca leaves (Solanum nigrum L.) have high antioxidant activity, which is associated with their flavonoid content, especially quercetin and kaempferol. The purpose of this study was to determine the characteristics of sunscreen cream preparations from ethanolic extract of leunca leaves (Solanum nigrum L.) and to determine the concentration of ethanolic extract of leunca leaves (Solanum nigrum L.) in cream preparations that provide good sunscreen potential based on the Sun Protection Factor (SPF) value. The method used was experimental in making sunscreen cream preparations with concentrations F1 (0.05%), F2 (0.10%), F3 (0.20%) and F4 (0.30%). Physical quality tests, organoleptic tests, homogeneity tests, Ph tests, spreadability tests, and adhesion tests were carried out. protection power test, viscosity test, cream type test and SPF value test. In the four formulations meet the physical quality test requirements that distinguish them are in the Sun Protection Factor (SPF) value. The best is in formulation 4, which is 2.19, which is included in the minimum protection
Formulasi Krim Sunscreen Kombinasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Dan Kulit Jeruk Manis (Citrus x aurantium L.) Dengan Uji Sun Protection Factor Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi; Afi Sania Rosanti; Iga Mayola Pisacha; Catur Ari Wibowo; Miftah Khoiru Nissa; Dandi Firmansyah; Riska Ananda
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2423

Abstract

Paparan radiasi ultraviolet berlebih dapat menyebabkan berbagai masalah kulit seperti eritema, sehingga diperlukan tabir surya alami yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi krim tabir surya kombinasi ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) dan kulit jeruk manis (Citrus x aurantium L.) yang mengandung senyawa bioaktif sebagai antioksidan dan pelindung UV. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi, yaitu perendaman simplisia dalam etanol 96% selama 3 hari pada suhu ruang dengan pengadukan sesekali. Tiga formula krim (F1, F2, F3) dikembangkan dengan variasi konsentrasi ekstrak kombinasi. Evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe krim, dan nilai Sun Protection Factor (SPF) secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa semua formula stabil secara fisik dan memenuhi persyaratan sediaan topikal. Nilai SPF tertinggi terdapat pada formula 1 sebesar 48,8 proteksi ultra, formula 2 sebesar 24,2, dan formula 3 sebesar 22,3. Dapat disimpulkan bahwa formula 1 dengan konsentrasi ekstrak tertinggi daun kelor 3% dan kulit jeruk manis 7% merupakan formula paling efektif dalam memberikan perlindungan terhadap sinar UV, dan kombinasi ekstrak daun kelor serta kulit jeruk manis memiliki potensi besar sebagai bahan aktif alami dalam formulasi krim tabir surya.
Formulation And Physical Evaluation Of Lip Cream Using A Combination Of Beetroot Extract (Beta Vulgaris L.) And Strawberry Fruit (Fragraria Vesca L.) As Natural Colorants Vanesa Dwi Cahyani; Annajim Daskar; Iga Mayola Pisacha; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2617

Abstract

The use of cosmetics, including lip cream, has become an essential part of people's lives, especially in Indonesia, as a means to enhance appearance, maintain cleanliness, and provide protection for the body. The study purpose was: : To determine the formulation of a lip cream formulation combining beetroot extract (Beta vulgaris L.) and strawberry fruit (Fragaria vesca L.) as natural colorants in lipsticks available in the Metro regional market using an experimental method. Materials and methods. Quantitative analysis was conducted through pH testing, physical evaluation of the lip cream formulation, and hedonic testing. Results: Out of ten panelists, Formula II scored the highest in most parameters compared to Formula I. Meanwhile, the lip cream formulation combining beetroot extract and strawberry extract can be used as a natural colorant capable of producing attractive and stable colors and is well-received organoleptically. Conclusions. It can be concluded that the best formula is Formula II with a balanced concentration of beetroot and strawberry extracts, and that the concentration in FII produces an optimal formulation in terms of sensory and physical properties. These findings are expected to serve as an initial reference for future researchers to utilize beetroot and strawberries in the formulation of other products such as eyeshadow and lipstick.
Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Batam Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung Tahun 2025 Andika Wahyu Saputra; Wina Safutri; Iga Mayola Pisacha; Vicko Suswidiantoro
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3615

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien. Kepuasan pasien menjadi faktor krusial bagi keberlangsungan apotek, karena pelayanan yang memuaskan mendorong konsumen untuk kembali dan menjadi pelanggan tetap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung terhadap pelayanan di Apotek Batam Sukoharjo berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangible, reliability, empathy, assurance, dan responsiveness. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling, sedangkan jumlah sampel ditentukan melalui perhitungan Lemeshow. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengunjung berada pada kategori sangat tinggi pada semua dimensi. Dimensi reliability memperoleh nilai tertinggi sebesar 96,75%, diikuti tangible 96,70%, assurance 92,10%, empathy 91,58%, dan responsiveness 90,80%. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelayanan apotek secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan baik, terutama dalam hal keandalan petugas dan kondisi fisik apotek. Namun, aspek empathy dan responsiveness meskipun masih dalam kategori sangat puas, menunjukkan nilai relatif lebih rendah sehingga perlu menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Apotek Batam Sukoharjo telah mampu memberikan pelayanan yang profesional, cepat, dan ramah, serta menjamin ketersediaan obat yang memadai, namun tetap diperlukan peningkatan pada kualitas komunikasi interpersonal dan kecepatan pelayanan guna memperkuat kepuasan konsumen.  
Pengaruh Konseling Terhadap Pemahaman Pengobatan Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Pringsewu Yurike Elanda; Iga Mayola Pisacha; Wina Safutri; Nanggroe Logawan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3681

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Kepatuhan dan pemahaman pasien terhadap pengobatan memegang peranan penting dalam keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling terhadap pemahaman pengobatan pasien tuberkulosis di Puskesmas Pringsewu. Desain penelitian menggunakan pra-eksperimental dengan rancangan one group pre–post test design. Sampel penelitian berjumlah 51 pasien TB yang memenuhi kriteria inklusi, diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner untuk mengukur tingkat pemahaman sebelum dan sesudah pemberian konseling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pemahaman sebelum konseling adalah 5,59 (SD = 1,682) dan meningkat menjadi 6,91 (SD = 0,920) setelah konseling, dengan selisih mean 1,32. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai p = 0,000 (< 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan konseling terhadap peningkatan pemahaman pengobatan pasien TB. Kesimpulannya, pemberian konseling efektif meningkatkan pemahaman pasien mengenai pengobatan TB di Puskesmas Pringsewu. Disarankan tenaga kesehatan rutin memberikan konseling yang komprehensif guna mendukung keberhasilan terapi.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN WARGA DESA TANJUNG AGUNG DALAM MEMANFAATKAN KULIT KAKAO SEBAGAI ANTIDIABETES Iga Mayola Pisacha; Dewi Damayanti Abdul Karim; Wina Safutri; Diah Kartika Putri; Iqfan Adi Rismawan; Doni Faizal; Etik Purwanti
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.40245

Abstract

Kulit kakao memiliki peran penting dalam mencegah diabetes, berfungsi sebagai pengobatan herbal yang membantu proses penurunan diabetes. Namun, di Kabupaten Pesawaran, masyarakat menghadapi tantangan dalam akses terhadap obat berkualitas dan kurangnya kemampuan mengolah tumbuhan pertanian lokal sebagai alternatif pengobatan dan penghasilan. Observasi menunjukkan banyak warga Desa Tanjung Agung kesulitan mendapatkan pengobatan efektif, dengan keterbatasan dana dan masalah dalam rantai pasokan obat. Kurangnya metode pembelajaran yang variatif membuat masyarakat kurang mengenal dan menghargai tanaman tradisional sebagai alternatif pengobatan, padahal warga memiliki kelompok tani kakao yang sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Tanpa intervensi yang tepat, pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan herbal menjadi sangat terbatas, berpotensi mengakibatkan hilangnya warisan budaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang diabetes dan manfaat teh kulit buah kakao dengan menggunakan metode ceramah dan pelatihan. Kegiatan ini meliputi pelatihan pembuatan dan pengecekan kesehatan. Dengan harapan dapat mengatasi permasalahan utama yang diidentifikasi termasuk rendahnya pengetahuan tentang diabetes dan manfaat kulit kakao. Antusias warga begitu besar terhadap adanya kegiatan tersebut, parameter kesuksesan program diukur dari peningkatan pengetahuan peserta saat pretest dan posttest. Hasil analisis data diperoleh terjadinya peningkatan pengetahuan warga dari 49,40% menjadi 87,80%. Dengan adanya kegiatan ini, harapannya masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengobatan tradisional, sehingga dapat mengembangkan identitas dan kebanggaan terhadap budaya lokal yang melimpah.
Analisis Kadar Pemanis Buatan Natrium Siklamat Pada Jamu Suplemen Kesehatan Dan Jamu Sediaan Sirup Yang Beredar Di Kabupaten Pringsewu Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Iga Mayola Pisacha; Vicko Suswidiantoro; Eva Nursoleha; ⁠Sulistia Surya; Meilia Wulandari; Warda Johrotul Jannah
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12712

Abstract

Jamu merupakan produk obat bahan alam yang banyak dikonsumsi masyarakat, termasuk dalam bentuk suplemen kesehatan dan sediaan sirup. Pada proses pembuatannya, produk jamu dapat ditambahkan pemanis buatan, salah satunya natrium siklamat, untuk meningkatkan cita rasa. Penggunaan natrium siklamat yang melebihi batas maksimum dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, sehingga perlu dilakukan pengawasan terhadap kandungannya pada produk yang beredar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan menentukan kadar natrium siklamat pada jamu suplemen kesehatan dan jamu sediaan sirup yang beredar di Kabupaten Pringsewu menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian menggunakan metode observasional dengan analisis kualitatif dan kuantitatif serta teknik purposive sampling. Sebanyak 17 sampel terdiri atas 10 sampel jamu suplemen kesehatan dan 7 sampel jamu sediaan sirup dianalisis secara kualitatif menggunakan metode pengendapan dengan pereaksi HCl 10%, BaCl₂ 10%, dan NaNO₂ 10%, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 311 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 17 sampel yang diuji terdapat 5 sampel positif mengandung natrium siklamat, yaitu tiga sampel jamu suplemen kesehatan (SK3, SK7, dan SK9) serta dua sampel jamu sediaan sirup (SS1 dan SS3). Kadar natrium siklamat pada jamu suplemen kesehatan berturut-turut sebesar 21,88 mg/kg, 67,104 mg/kg, dan 47,512 mg/kg, sedangkan pada jamu sediaan sirup sebesar 29,328 mg/kg dan 21,064 mg/kg. Seluruh kadar natrium siklamat yang diperoleh masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, yaitu sebesar 1.250 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian sampel jamu suplemen kesehatan dan jamu sediaan sirup yang beredar di Kabupaten Pringsewu mengandung natrium siklamat, namun seluruh sampel yang positif masih memenuhi persyaratan keamanan karena kadar natrium siklamat tidak melebihi batas maksimum yang ditetapkan.
STUDI ETNOMEDISIN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT MASYARAKAT DI DESA WONOSARI KECAMATAN GADING REJO KABUPATEN PRINGSEWU Mellisa Haryani; Wina Safutri; Iga Mayola Pisacha; Diah kartika putri
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12769

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan seperti Kabupaten Pringsewu, masih menjadi pilihan utama dalam pelayanan kesehatan mandiri oleh karena kekayaan hayati dan warisan pengetahuan turun-temurun, meskipun di tengah kemajuan pengobatan modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tumbuhan berkhasiat obat masyarakat di Desa Wonosari Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap 19 informan yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan 32 jenis tumbuhan dan tumbuhan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah jahe (11 informan), kunyit (10 informan), dan serai (9 informan). Terdapat 7 bagian tanaman yang digunakan di antaranya umbi (5 informan), kulit (3 informan), bunga (2 informan), buah (5 informan), batang (3 informan), akar (2 informan), dengan bagian yang paling banyak digunakan adalah daun (11 informan). Terdapat 5 cara pengolahan di antaranya diseduh (3 informan), diparut (1 informan), digeprek (1 informan), diblender (2 informan), dengan pengolahan utama yang paling banyak digunakan yaitu direbus (14 informan). Jenis penyakit yang biasa diobati yaitu hipertensi (6 informan), masuk angin (5 informan), kolestrol & lambung (4 informan). Kesimpulan yang dapat diambil bahwa terdapat 33 jenis tumbuhan dan digunakan dalam pengobatan 25 jenis penyakit di Desa Wonosari.
Studi Etnomedisin Tumbuhan Berkhasiat Obat pada Masyarakat di Desa Wonosari, Kabupaten Pringsewu Wina Safutri; Iga Mayola Pisacha; Diah Kartika Putri; Mellisa Haryani
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.13069

Abstract

Pendahuluan: Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan, masih menjadi pilihan utama dalam pelayanan kesehatan mandiri. Hal ini didorong oleh kekayaan hayati dan warisan pengetahuan turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan, bagian yang digunakan, cara pengolahan, serta jenis penyakit yang diobati oleh masyarakat di Desa Wonosari, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap 19 informan yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 12. Hasil: Penelitian mengidentifikasi 32 jenis tumbuhan obat. Tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah jahe (11 informan), kunyit (10 informan), dan serai (9 informan). Bagian tumbuhan yang paling dominan digunakan adalah daun (11 informan), dan metode pengolahan yang paling umum adalah perebusan (14 informan). Jenis penyakit yang paling banyak diobati adalah hipertensi (6 informan) dan masuk angin (5 informan). Kesimpulan: Terdapat 32 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Wonosari untuk mengobati 24 jenis penyakit, dengan daun sebagai bagian utama dan perebusan sebagai metode pengolahan dominan. Pengetahuan ini perlu dilestarikan dan dikaji lebih lanjut secara ilmiah.