Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Gambaran Informasi dan Tindakan Petugas Kesehatan Terhadap Kepatuhan Berobat Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Wilayah Kabupaten Banjar Kesty Aprini; Nurlely Nurlely; Nani Kartinah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8021

Abstract

Petugas kesehatan mempunyai pengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan terhadap pasien TB yang akan berpengaruh terhadap kepatuhan berobat.  Tujuan penelitian ini menentukan persentase petugas kesehatan kategori baik, cukup, kurang dalam memberikan informasi dan tindakan terhadap pasien tuberkulosisdi Kabupaten Banjar. Penelitian ini dilakukan terhadap 97 petugas kesehatan dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Subjek pada penelitian ini yaitu tim program TB (Dokter, Perawat, Petugas lab) dan Apoteker/AA. Penilaian dilakukan terhadap karakteristik petugas, informasi dan tindakan yang diberikan petugas kesehatan terhadap kepatuhan berobat pasien TB yaitu dikategorikan baik, cukup dan kurang. Hasil penelitian pada karakteristik petugas kesehatan yaitu jenis kelamin perempuan sebanyak 68 orang, kategori umur >30 tahun sebanyak 57 orang, pendidikan terakhir yang paling banyak yaitu D3 sebanyak 47 orang, masa jabatan sebagai petugas TB (perawat) yang paling banyak yaitu selama <5 tahun sebanyak 20 orang. Informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan terhadap kepatuhan berobat pasien TB dalam kategori baik yaitu 61 (62,88%)  petugas kesehatan dan tindakan petugas TB sebanyak 47 (48,46%) petugas kesehatan. Oleh karena itu petugas kesehatan perlu memperhatikan lagi terkait kinerja pelayanan kesehatan agar informasi dan tindakan terhadap kepatuhan berobat pasien TB jauh lebih baik Health workers have an influence on the quality of health services, including health services for TB patients which will affect treatment compliance. The purpose of this study was to determine percentage of health workers in good, sufficient, and inadequate categories in providing information and action on tuberculosis patients in Banjar District. This research was conducted on 97 health workers with a cross sectional approach using a questionnaire. The subjects in this study were TB team programs which consist of Doctors, Nurses, Lab Officers and Pharmacists/Pharmacist assistant. An assessment was made of  staff characteristics, information and actions given by health workers to TB patient treatment was categorized as good, sufficient and lacking. Thye result of this study characteristics on health workers are female sex which were  68 people, age categories>30 years as many as 57 people, the most recent education is D3 which were 47 people, while the longest term as TB officers (nurses) was for less than 5 years which were 20 people. Information provided by health workers on TB patient compliance in the good category was 61 (62.88%) health workers and the actions of TB workers were 47 (48.46%) health workers. Therefore, it is necessary to pay more attention to the performance of health services so that information and actions on TB patient compliance more better Keywords: TB Health care workers, Tuberculosis, Information, Action
Faktor Risiko Yang Berpengaruh Pada Kejadian Tuberkulosis dengan Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) di RSUD Ulin Banjarmasin Aulia Mashidayanti; Nurlely Nurlely; Nani Kartinah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.7928

Abstract

MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis) adalah salah satu jenis TB yang resisten dengan OAT (Obat Anti Tuberculosis) dengan resisten terhadap 2 obat anti tuberculosis yang paling ampuh yaitu rifampisin dan isoniazid. Obat rifampisin dan isoniazid sudah tidak efektif dalam membunuh kuman mycobacterium tuberkulosis dikarenakan kuman yang sudah resisten terhadap obat tersebut. MDR-TB merupakan suatu permasalahan yang menjadi hambatan utama dunia dalam pemberantasan TB. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko apa saja yang dapat berpengaruh pada kejadian tuberkulosis dengan multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) di RSUD Ulin Banjarmasin dengan variabel yang ditinjau adalah pengetahuan, motivasi dan keteraturan minum obat. Metode penelitian dengaan rancangan Cross Sectional dengan metode pengambilan dengan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dengan diagnosis tuberkulosis multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) dan pasien TB Non MDR yang digunakan sebagai pembanding yang dipilih secara acak. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko yang terbukti berpengaruh pada kejadian TB-MDR adalah keteraturan minum obat (p-value< 0,05). Oleh karena itu, untuk mengurangi potensi bertambahnya penderita TB-MDR, maka perlu diperhatikan lagi keteraturan minum obat penderita, memastikan agar penderita benar-benar rutin dan teratur dalam minum obat.  MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis) is one of tuberculosis characterized by resistant to anti-TB drug (Anti Tuberculosis Drug). An MDR-TB event is a resistance event to 2 of the most effective anti-TB drugs which are rifampicin and isoniazid. Rifampicin and isoniazid are no longer effective in killing Mycobacterium tuberculosis bacteria due to its resistant to the drug. The purpose of this study is to identify any risk factors that can affect the incidence of tuberculosis with multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) in RSUD Ulin Banjarmasin. The variables in this study were knowledge, motivation and regularity of taking drugs. The research method was a cross sectional design using questionnaire to the patients. The population in this study was all patients with a diagnosis of multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) and non-MDR TB patients who used as a comparison which were selected randomly. The results of this study indicate that the risk factor that has been shown to influence the incidence of MDR-TB was the regularity of taking medication (p-value <0.05). Therefore, to reduce the potential of MDR-TB sufferers to increase, it is necessary to pay attention to taking drug regularity of patient, ensuring that the patient is really routine and taking medication regularly.Keywords: RSUD Ulin Banjarmasin, MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis), Tuberculosis
Perbandingan Aktivitas Analgetik Infusa dan Ekstrak Etanol Umbi Akar Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) Khoerul Anwar; Muhammad Riswandi; Nurlely Nurlely
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7349

Abstract

ABSTRAK Umbi akar tawas ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) secara empiris digunakan untuk mengurangi nyeri. Masyarakat menggunakannya dengan cara meminum air seduhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas analgetik dari infusa dan ekstrak etanol umbi akar A. Rubiginosa. Uji analgetik dilakukan menggunakan metode geliat (Writhing test) dengan pembanding parasetamol. Tiga puluh ekor mencit dibagi 6 kelompok masing-masing 5 ekor per kelompok. Kelompok I kontrol positif (parasetamol 65,25 mg/kgBB), kelompok II kontrol negatif (Na-CMC), kelompok III infusa A. rubiginosa 25 ml/kgBB, dan kelompok IV ekstrak etanol A. rubuginosa 500 mg/kgBB. Sesudah diberi perlakuan secara per oral sesuai kelompoknya, 30 menit kemudian diinduksi dengan asam asetat secara intraperitoneal. Jumlah geliat dihitung setiap 5 menit setelah pemberian larutan asam asetat 1% dengan selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan persen proteksi pemberian parasetamol 65,25 mg/kgBB, infusa A. rubiginosa 65,25 mg/kgBB dan ekstrak etanol A. rubiginosa 500 mg/kgBB secara berurutan adalah 76,04; 87,41 dan 63,77%. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa infusa umbi akar A. rubiginosa memiliki aktivitas analgetik yang kuat. Kata kunci: Ampelocissus rubiginosa Lauterb., analgetik, infusa, ekstrak etanol  ABSTRACT Tuberous root of tawas ut (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) empirically used to reduce pain. People use it by drinking boiled water of A. rubiginosa coarse powder. This study aims to determine the comparison of analgesic activity of infusion and ethanol extract of A. rubiginosa tuberous root. Analgesic test was performed using a stretching method (Writhing test) with paracetamol as comparison. Thirty mice were divided into 6 groups of 5 individuals per group. Group I was positive control (paracetamol 65.25 mg / kgBW), negative control group II (Na-CMC), group III A. rubiginosa infusion 25 ml / kgBW, and group IV ethanol extract A. rubiginosa 500 mg / kgBW. After being treated orally according to the group, 30 minutes later induced with acetate acid intraperitoneally. The amount of stretching was calculated every 5 minutes after giving 1% acetic acid solution for 1 hour. The results showed percent protection of paracetamol 65.25 mg / kgBB, A. rubiginosa infusion 65.25 mg / kgBB and ethanol extract A. rubiginosa 500 mg / kgBB was 76.04; 87.41 and 63.77% respectively. From the research it can be concluded that A. rubiginosa root tuber infusion has a strong analgesic activity. Keyword: Ampelocissus rubiginosa Lauterb., analgetic, infusa, ethanol extract
Uji Karakteristik Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) dengan Variasi Karbopol dan HPMC Nurlely Nurlely; Aulia Rahmah; Prima Happy Ratnapuri; Valentina Meta Srikartika; Khoerul Anwar
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9346

Abstract

Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L) mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, antrakuinon, glikosida dan terpenoid yang secara empiris digunakan sebagai obat luka. Gel merupakan sediaan farmasi yang lebih mudah diaplikasikan secara topical, tidak berminyak dan mudah untuk dibersihkan untuk menyembuhkan luka yang menggunakan gelling agent HPMC dan Karbopol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi HPMC dan karbopol terhadap karakteristik fisik sediaan gel ekstrak etanol daun kirinyuh (C. odorata). Sediaan gel dibuat dengan menggunakan ekstrak etanol daun kirinyuh 0,5% dan gelling agent HPMC dan karbopol dengan variasi konsentrasi dalam 3 formula serta bahan tambahan gel lainnya. Perbandingan HPMC dan karbopol untuk formula 1,2 dan 3 berturut-turut adalah : 70%:30% ; 50%:50% dan 30%:70%. Setelah itu dilakukan uji karakteristik fisik yaitu organoleptis, homegenitas, daya sebar, daya lengket, viskositas dan pH untuk ketiga formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan gel pada ketiga formula adalah berwarna hijau olive, berbau khas, konsistensi kental hingga sangat kental, homogen, daya sebar : 5,8-8,6 cm, daya lekat; 2,19-6,76 detik, viskositas: 3600-18000 cps dan pH: 5,1 – 5,88. Pada formula 1 dihasilkan daya sebar dan daya lekat yang belum memenuhi persyaratan sediaan gel yang baik sedangkan formula 2 dan 3 telah memenuhi semua persyaratan pada hasil uji karakteristik fisik sediaan gel. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa HPMC dan Karbopol memberikan pengaruh terhadap karakteristik sediaan gel ekstrak etanol daun kirinyuh (C. odorata). Kata Kunci: Kirinyuh, Gel, Karakteristik Fisik         Kirinyuh leaves (Chromolaena odorata L) containing alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, anthraquinone, glicoside and terpenoid possess an activity as wound healing empirically. Gel is one of pharmaceutical preparations containing HPMC and Carbopol as gelling agents. It is also cosmetically acceptable, tends to be drying easily, and can be easily removed from the skin. This research aimed to determine the effect of gel of ethanol extract of Kirinyuh leaves (C. odorata) contained various concentrations of gelling agent of HPMC and Carbopol in 3 formulas. Gel was formulated with 0.5% ethanol extract of Kirinyuh leaves (C. odorata) and used variation concentration of gelling agent of HPMC and Carbopol in formula 1, 2 and 3 of 70%:30% ; 50%:50% and 30%:70% respectively. Physical characteristics of gel included organoleptic, homogeneity, spreadability, adhesion, viscosity and pH value were analysed for all formulas. All prepared gels were acceptable in organoleptic tests, homogeneity test, speadibility : 5,8-8,6 cm, adhesion: 2. 19-6.76 sec, viscosity: 3600-18000 cps and pH: 5.1 – 5.88. Spreadibility and adhesion in Formula 1 did not meet al..l of the requirements for good gel formulations while Formula 2 and 3 have met al..l of the requirements. Therefore, it can be concluded that HPMC and Carbopol possess an effect on the physical characteristics of gel of ethanol extract of kirinyuh leaves (C. odorata)
Efektivitas Ekstrak Etanol Kulit Batang Pakan Banyu (Croton argyratus Blume) terhadap Kualitas dan Kuantitas Spermatozoa sebagai Antifertilitas Nurlely Nurlely; Anika Iktishad Aslama; Noor Cahaya; Valentina Meta Srikartika
Jurnal Pharmascience Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i1.11397

Abstract

Kulit batang pakan banyu (Croton argyratus Blume) secara empiris digunakan sebagai obat kontrasepsi tradisional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh ekstrak etanol kulit batang pakan banyu terhadap perubahan kualitas dan kuantitas spermatozoa pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. Desain penelitian ini menggunakan rancangan post test only control group design. Kulit batang pakan banyu dimaserasi menggunakan etanol 70%. Pada bagian kulit batang terdapat zat aktif steroid, saponin, tanin, dan alkaloid. Uji pengaruh gambaran mikroskopik terhadap kualitas dan kuantitas spermatozoa menggunakan dua puluh ekor tikus jantan dengan 4 kelompok perlakuan yang diberi perlakuan secara oral selama 15 hari yaitu Kontrol negatif (Na CMC 0,5%), dan kelompok perlakuan (ekstrak dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 500 mg/kgBB). Setelah 15 hari hewan uji dinekropsi untuk mengamati jumlah spermatozoa menggunakan improved neubauer hemositometer, motilitas spermatozoa, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa menggunakan eosin negrosin sebagai pewarna. One way ANOVA digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB memberikan perbedaan bermakna terhadap kelompok kontrol negatif (p < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB memberikan pengaruh terhadap perubahan motilitas, abnormalitas, viabilitas, dan jumlah spermatozoa. Kata Kunci: Pakan Banyu, Kontrasepsi Pria, Spermatozoa  Stem Bark of pakan banyu (Croton argyratus Blume) empirically is used as a traditional contraception method. This study aimed to evaluate the effect of the ethanol extract of the pakan banyu stem bark to change in the quality and quantity of spermatozoa in albino male rats (Rattus norvegicus). This research is an experimental research with posttest only control group design. Pakan Banyu stem bark was macerated using 70% ethanol. The extract contained the active substances such as steroids, saponins, tannins, and alkaloids. This study used twenty male rats which were divided into 4 groups: negative control (CMC Na 0,5%), and treatment groups (extract dose of 100, 200 and 500 mg/kg body weight). The treatment was orally administered for 15 days.  After 15 days, the testis was isolated  to observe the number of spermatozoa using improved Neubauer hemocytometer, motility, viability and sperm abnormalities using eosin nigrosin. Quantitative data were analyzed using one-way ANOVA. The results showed that dose of 100, 200, and 500 mg/kg body weight possessed a significant difference to the negative control group (p <0.05). Thus, it can be conclude that  ethanol extract of Pakan Banyu stem bark (C. argyratus Blume) possesses an effect in changing of motility, abnormality, viability, and number of spermatozoa.
Profil Glukosa Darah Tikus Putih Setelah Pemberian Ekstrak Minyak Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus) Sebagai Alternatif Antidiabetes Hidayaturrahmah Hidayaturrahmah; Heri Budi Santoso; Nurlely Nurlely
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i2.5775

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak minyak ikan patin dan dosis ekstrak minyak ikan patin yang tepat untuk menurunkan kadar glukosa darah pada tikus jantan kondisi hiperglikemia. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan pada 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 1. Kontrol normal, 2. Kontrol positif, 3. Kontrol negative, 4. Kelompok A (Ekstrak minyak ikan patin A), 5. Kelompok B (Ekstrak minyak ikan patin B) dan 6. Kelompok C (Ekstrak minyak ikan patin C). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak minyak ikan patin (EMIP) berpengaruh terhadap profil glukosa darah tikus putih. Dosis yang dapat menurunkan kadar glukosa darahpaling tinggi pada tikus putih adalah 72,8 mg/kg BB Kata kunci : diabetes melitus, ikan patin, minyak