Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implikasi Kebijakan Desentralisasi Dan Otonomi Daerah Terhadap Kualitas Pelayanan Pendidikan Di Indonesia Indah, Sentia; Frinaldi, Aldri; Hendranaldi, Hendranaldi; Magriasti, Lince
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.16922

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengetahui terkait Implikasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah terhadap kualitas pelayanan pendidikan di Indonesia. Penulisan artikel ini dengan menggunakan metode literature review. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya dapat dikatakan implikasi dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia terhadap kualitas pelayanan pendidikan yang diberikan masih dinilai kurang. Hal ini dikarenakan dari berbagai temuan yang memperlihatkan masih sulitnya akses terhadap pelayanan pendidikan dan kualitas pendidikan yang masih rendah terutama di daerah perbatasan seperti perbatasan Kalimatan, Provinsi Papua, Papua Barat, dls seperti masih banyaknya fasilitas pendidikan yang kurang, akses sekolah yang jauh dari pemukiman warga, kurangnya tenaga pengajar, dls. Kata kunci : Desentralisasi, Otonomi Daerah, Pelayanan Pendidikan, Pelayanan Publik
Peran Kerapatan Adat Nagari dalam Perencanaan dan Pengawasan Pemerintahan Nagari pada Era Otonomi Daerah di Sumatera Barat El Habyb, Fhariz; Frinaldi, Aldri; Magriasti, Lince; Hendranaldi, Hendranaldi
PUBLICNESS: Journal of Public Administration Studies Vol. 4 No. 3 (2025): PUBLICNESS: Journal of Public Administration Studies
Publisher : Policy, Law and Political Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/publicness.v4i3.298

Abstract

This study analyzes the participation of indigenous communities in the implementation of regional autonomy in West Sumatra, particularly through the institutional role of the Nagari Customary Council (KAN). Regional autonomy in Indonesia, since the enactment of Law No. 22 of 1999 to Law No. 23 of 2014, has opened up space for nagari as a customary law community to contribute to regional development. This study uses a qualitative approach through literature review to examine the dimensions of indigenous peoples' participation in the planning, implementation, and supervision of nagari administration. The results of the study show that KAN plays a significant role in drafting nagari regulations, supervising the government, and channeling community aspirations. However, this participation is not yet optimal due to limited access to information, minimal involvement of customary institutions in the public policy process, and the dominance of local governments in the implementation of autonomy. Considering the limitations of literature studies, this research emphasizes the importance of strengthening the capacity of indigenous institutions, increasing the transparency of nagari governance, and multiparty collaboration as strategies to strengthen indigenous peoples' participation in the implementation of democratic and sustainable regional autonomy.
THE DEVELOPMENT AND LIMITATIONS OF DECENTRALIZATION IN INDONESIA WHEN LAW NUMBER 5 OF 1974 CONCERNING THE PRINCIPLES OF GOVERNMENT IN THE REGIONS CAME INTO FORCE: PERKEMBANGAN DAN BATASAN DESENTRALISASI DI INDONESIA PADA SAAT UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH BERLAKU Edward, Aurelia Valentin; Akbar, Wahyu Saputra; Marantika, Jerry; Frinaldi, Aldi; Hendranaldi, Hendranaldi; Magriasti, Lince
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 8 No 2 (2024): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v8i2.4718

Abstract

Artikel ini mengulas perkembangan desentralisasi pada masa orde lama khususnya setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 telah mengatur bagaimana pola hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah di daerah. Namun, sebagaimana terwujud dalam praktiknya, Undang-Undang tersebut tampaknya lebih disusun dalam kerangka sentralisasi ketimbang merupakan sebuah landasan bagi terlaksananya desentralisasi. Artikel ini mengulas terkait perkembangan dan batasan dari desentralisasi pada masa berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 dengan pendekatan metode studi literasi dari berbagai sumber bacaan terkait.
DESENTRALISASI SEBAGAI ILUSI POLITIK: KRITIK TERHADAP IMPLEMENTASI TEORI OTONOMI DI ERA PARLEMENTER (1950–1959) Habibani, Rhaysya Admmi; Frinaldi, Aldri; Hendranaldi, Hendranaldi; Magriasti, Lince
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.7998

Abstract

The Parliamentary Democracy era (1950–1959) is often viewed as an experimental phase in the implementation of regional autonomy in Indonesia. However, historical reality reveals a stark gap between legal formalities and political practices on the ground. This study aims to critique the implementation of decentralization policies during this period to uncover the extent to which the concept of regional autonomy was truly realized or merely served as an instrument to legitimize central government power. Using qualitative research methods with a historical approach and public policy analysis, this study examines various legal documents, government archives, and relevant literature to examine the dynamics of central-regional relations. The research findings indicate that decentralization during that period was largely symbolic, or pseudo-decentralization. The implementation of autonomy was hampered by structural factors such as the legacy of a centralized colonial bureaucracy, high regional fiscal dependence, and national political instability, which encouraged the central government to use the rhetoric of autonomy as a strategy to mitigate potential disintegration. The main conclusion confirms that decentralization during the parliamentary era was merely a political illusion that served to maintain central hegemony rather than to substantively empower regions. This historical reflection serves as a crucial warning for contemporary governance, preventing decentralization policies from becoming trapped in administrative formalities without a fair and real division of power. ABSTRAKEra Demokrasi Parlementer (1950–1959) sering dipandang sebagai fase eksperimental dalam penerapan otonomi daerah di Indonesia, namun realitas sejarah menunjukkan adanya kesenjangan tajam antara formalitas hukum dan praktik politik di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi implementasi kebijakan desentralisasi pada periode tersebut guna mengungkap sejauh mana konsep otonomi daerah benar-benar direalisasikan atau sekadar menjadi instrumen legitimasi kekuasaan pemerintah pusat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis dan analisis kebijakan publik, studi ini menelaah berbagai dokumen hukum, arsip pemerintah, dan literatur relevan untuk membedah dinamika hubungan pusat dan daerah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi pada masa itu lebih bersifat simbolik atau pseudo-decentralization. Implementasi otonomi terhambat oleh faktor struktural seperti warisan birokrasi kolonial yang sentralistik, ketergantungan fiskal daerah yang tinggi, serta instabilitas politik nasional yang mendorong pusat menggunakan retorika otonomi sebagai strategi meredam potensi disintegrasi. Simpulan utama menegaskan bahwa desentralisasi di era parlementer hanyalah ilusi politik yang berfungsi menjaga hegemoni pusat alih-alih memberdayakan daerah secara substantif. Refleksi historis ini menjadi peringatan krusial bagi tata kelola pemerintahan kontemporer agar kebijakan desentralisasi tidak kembali terjebak pada formalitas administratif tanpa pembagian kekuasaan yang adil dan nyata.