Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Sedimen di Perairan Pantai Kupa-Kupa Kabupaten Halmahera Utara Fendjalang, Sophia N.M.; Krisye, Krisye; Rupilu, Krisostomus
Journal of Coastal and Deep Sea Vol 1 No 1 (2023): Journal of Coastal and Deep Sea
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jcds.v1i1.11196

Abstract

Logam berat memiliki sifat yang mudah mengikat dan mengendap di dasar perairan kemudian terakumulasi dalam sedimen. Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat non esensial yang sering ditemukan di perairan dan bersifat toksik. Perairan Pantai Kupa-Kupa yang berada di Kecamatan Tobelo Selatan Kabupaten Halmahera Utara merupakan salah satu daerah pesisir yang memiliki tekanan lingkungan cukup besar akibat aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisa konsentrasi timbal pada sedimen di perairan Pantai Kupa Kupa. Penentuan titik sampling menggunakan metode Purposive sampling berdasarkan pertimbangan tertentu oleh peneliti, dimana lokasi penelitian dibagi menjadi 5 stasiun. Sampel sedimen yang digunakan untuk analisa diambil dengan menggunakan sediment core kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik. Sampel sedimen dipreparasi sebelum dianalisis di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Alat Kesehatan Provinsi Maluku. Konsentrasi logam berat timbal di perairan Pantai Kupa-Kupa yang terdapat pada sedimen berikisar antara 3,81 mg/kg sampai 10,05 mg/kg, dimana menurut PP No. 22 Tahun 2021 konsentrasi ini termasuk dalam kategori aman.
Persentase Tutupan Terumbu Karang di Perairan Pantai Luari Kecamatan Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara Rupilu, Krisostomus; Fendjalang, Sophia N.M.; Sabon, Yulius R.; Krisye, Krisye
Journal of Coastal and Deep Sea Vol 1 No 2 (2023): Journal of Coastal and Deep Sea
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jcds.v1i2.11719

Abstract

Pantai Luari selain sebagai tempat wisata, pantai ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan bahkan pernah menjadi lokasi penangkapan dengan menggunakan bom ikan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui persentase tutupan terumbu karang berdasarkan tipe pertumbuhan pada ekosistem terum karang yang terdapat di Pantai Luari, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini di lakukan pada bulan April-Juni 2023 di perairan Pantai Luari. Pengambilan data terumbu karang menggunakan LIT (Line Intercept Transect). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 8 tipe bentuk pertumbuhan (lifeform) di lokasi penelitian diantaranya adalah Acropora brancing (ACB), Acropora submassive (ACS), Coral massive (CM), Soft coral (SC), Coral mushroom (CMR), Coral submassive (CS), Coral milleopora (CME) dan Coral foliose (CF). Persentase tutupan karang di perairan Pantai Luari masuk dalam kategori baik dengan nilai rata-rata sebesar 56%.
Asosisasi Inter-Spesies Lamun di Perairan Pulau Maginti Sulawesi Tenggara Pasanea, Krisye; Lokollo, Frijona F.; Rahman, Rahman; Supusepa, Junita; Kalay, Degen E.; Hulopi, Mahriyana
Journal of Coastal and Deep Sea Vol 2 No 1 (2024): Journal of Coastal and Deep Sea
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jcds.v2i1.13562

Abstract

Asosiasi inter-spesies merupakan kemampuan suatu spesies dalam hal bergabung atau memiliki keeratan atau tidak diantara spesies-spesies tersebut. Penelitian terkait asosiasi inter-spesies pada lamun masih sedikit dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui jenis asosiasi antar spesies lamun di Perairan Pulau Maginti. Pengambilan data lamun dengan menggunakan metode transek garis. Pengamatan lamun menggunakan frame kuadrat dengan ukuran 50 cm x 50 cm. Pengukuran asosiasi dua jenis menggunakan tabel kontingensi 2x2. Asosiasi inter-spesies lamun di perairan Pulau Maginti bersifat positif dan negatif. Asosisasi positif terbesar yaitu pada pasangan spesies Halodule uninervis dan Halophila minor dengan nilai 0,264 serta Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii dengan nilai 0,410. Sedangkan asosiasi negatif terbesar yaitu pada pasangan spesies Enhalus acoroides dan Halophila minor dengan nilai -0,642 serta Enhalus acoroides dan Halodule uninervis dengan nilai -0,730.
Litter Production of Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii in the seagrass ecosystem of Tanjung Tiram, Inner Ambon Bay Krisye Pasanea; Junita Supusepa; Amelia Putri
Nekton Vol 5 No 2 (2025): Nekton
Publisher : Politeknik Negeri Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/nekton.v5i2.1074

Abstract

Seagrasses are important primary producers that support marine life. The litter, or fallen leaves, of seagrasses plays a vital role as a source of nutrients in coastal ecosystems. One of the seagrass ecosystems found in Inner Ambon Bay is located in Tanjung Tiram. Studies on litter production have been extensively conducted in mangrove ecosystems; however, in the Maluku region, only one such study has been reported, and no research on seagrass litter production has yet been documented. Litter production serves as an important indicator for assessing coastal ecosystem functioning and blue carbon stocks. Therefore, this study aimed to analyze the litter production of two seagrass species, Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii, in the Tanjung Tiram waters of Inner Ambon Bay. The research was conducted from July to August 2025 in the Tanjung Tiram seagrass ecosystem, Ambon City. Litter production was measured using the cage method, constructed from a 3 mm mesh nylon net with dimensions of 0.5 × 0.5 m. Prior to cage installation, the substrate was cleared of existing litter material and benthic organisms, and seagrass density was subsequently estimated. The study period lasted for 3 × 24 hours, with floating and sunken litter collected every 24 hours. The collected litter was oven-dried and weighed to determine dry biomass. Results showed that both E. acoroides and T. hemprichii produced higher amounts of sunken litter (0.0082 g dry weight/shoot/day and 0.0063 g dry weight/shoot/day, respectively) compared to floating litter (0.0062 g dry weight/shoot/day and 0.0028 g dry weight/shoot/day, respectively). The total litter production of E. acoroides (0.0144 g dry weight/shoot/day) was higher than that of T. hemprichii (0.0091 g dry weight/shoot/day).
Seagrass Community in the Coastal Waters of Hitalawa Beach, Negeri Oma, Indonesia Gilvano Siahaya; Frijona Fabiola Lokollo; Imanuel Villian Trayanta Soukotta; Frederick Rijoly; Krisye Pasanea
Nekton Vol 6 No 1 (2026): Nekton
Publisher : Politeknik Negeri Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/nekton.v6i1.1097

Abstract

The limited data and information on seagrass ecosystems in Negeri Oma provided the basis for this study. The lack of previous studies offers an opportunity to examine the ecological potential of seagrass more comprehensively and to contribute to the conservation and sustainable management of coastal resources. This study aimed to analyze the species composition and description of seagrass, density and relative density, as well as frequency of occurrence and relative frequency of seagrass species in the coastal waters of Hitalawa Beach, Negeri Oma. The study employed a line transect–quadrat method, consisting of six transects with a total of 30 quadrats. Six seagrass species were recorded, namely Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Syringodium isoetifolium, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, and Thalassia hemprichii. The overall seagrass density reached 89.55 shoots/m², placing the seagrass condition at Hitalawa Beach in scale category 3, namely moderately dense, with a density range of 75–125 shoots/m². The highest frequency of occurrence was recorded for T. hemprichii, which was found in most of the observation plots. Water temperature and salinity across the six transects ranged from 31.2–32.5°C and 27.7–31‰, respectively. The findings indicate that the coastal waters of Hitalawa Beach support a relatively diverse seagrass community with moderately dense seagrass conditions. This study provides updated baseline information on the condition of seagrass beds in the area and may support future coastal resource conservation and management efforts.
PENINGKATAN LITERASI PENCEMARAN PADA EKOSISTEM PESISIR PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 7 AMBON Sophia Fendjalang; Krisye Pasanea; Endang Jamal; Ruku R Borut
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 5 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i5.3948

Abstract

The dynamics of urban development and coastal community activities have precipitated a progressive escalation of environmental pressures, manifested through aquatic pollution originating from the direct discharge of domestic and industrial effluents into water bodies, solid waste accumulation, riverine runoff, and the increasing volume of plastic waste alongside heavy metal contaminants such as mercury and lead. Environmental literacy among senior high school students plays a significant role in shaping conceptual understanding, attitudes, and behavioral responses toward pollution-related issues, particularly in coastal regions. Community Service Activities (PKM) grounded in environmental education constitute one of the strategic approaches for enhancing students' comprehension of coastal ecosystem pollution literacy, especially among eleventh-grade students of SMA Negeri 7, who are at a critical stage of cognitive development in constructing ecological awareness. The PKM activity was conducted on Friday, March 6, 2026, from 08:00 WIT until completion, held in the teachers' meeting room of SMA Negeri 7, Ambon. The target participants of this PKM activity were eleventh-grade students, totaling 60 individuals. The activity comprised three sequential phases, commencing with preparation, followed by implementation, and concluding with activity evaluation. The findings of this activity indicate that the environmental literacy of students at SMA Negeri 7 Ambon demonstrated notable improvement regarding coastal ecosystem pollution, accompanied by a heightened awareness to preserve and conserve the environment, as evidenced by their active engagement in discussions and satisfactory post-test outcomes. Furthermore, this activity fostered productive synergy between higher education institutions and senior high schools in cultivating students' intellectual capacities, who represent the future generation of the nation.
Edukasi Interaktif Terumbu Karang Bagi Siswa SMP Kristen Rehoboth, Kota Ambon Sara Haumahu; Muhammad F Barcinta; Junita Supusepa; Krisye Pasanea; Rahman Rahman
Open Community Service Journal Vol. 5 No. 1 (2026): Open Community Service Journal
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ocsj.v5i1.174

Abstract

Latar Belakang: Kondisi terumbu karang di Pulau Ambon yang mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, sehingga diperlukan edukasi lingkungan sejak usia sekolah.Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berjudul “Edukasi Interaktif Ekosistem Terumbu Karang bagi Siswa SMP Kristen Rehoboth Kota Ambon” bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang.Metode: Sasaran kegiatan adalah siswa kelas VIII SMP Kristen Rehoboth Kota Ambon sebanyak 21 orang dan satu orang guru pendamping. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukasi interaktif yang meliputi pemutaran film dokumenter, penyampaian materi dengan bahasa sederhana, diskusi, dan permainan edukatif. Materi yang diberikan mencakup pengertian ekosistem terumbu karang, fungsi dan manfaatnya bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir, serta berbagai aktivitas manusia yang dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa.Hasil: Hasil kegiatan menunjukan adanya peningkatan pemahaman siswa yang signifikan pada seluruh indikator pembelajaran. Nilai post-test lebih tinggi (95,24%) dibandingkan pre-test (26,19%), yang menunjukkan bahwa metode edukasi interaktif dan media pembelajaran yang digunakan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Secara keseluruhan, kegiatan PkM ini efektif dalam menumbuhkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang dan dapat menjadi dasar pelaksanaan edukasi lingkungan secara berkelanjutan di wilayah pesisir Kota Ambon.