Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS BTA (BAKTERI TAHAN ASAM) TEHADAP NILAI CT VALUE PADA PEMERIKSAAN TCM (TES CEPAT MOLEKULER) Titi Purnama; Efrianto; Muh Sainal Abidin; Amirah
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.3

Abstract

Pemeriksaan Gold satandar untuk menegakkan diagnosis Tuberculosis adalah pemeriksaan media kultur sedangkan pemeriksaan BTA masih banyak digunakan pada beberapa faskes untuk penunjang. untuk pemeriksaan TCM lebih cepat dan spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan BTA, namun pemeriksaan ini sangat terbatas di berbagai faskes dan rumah sakit. Jika nilai Ct value tinggi kemungkinan besar jumlah bakteri banyak. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA dan TCM terhadap bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif observasional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien suspek Tuberculosis sebanyak 20 orang dengan menggunakan metode total sampling dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi yaitu 20 sampel. Hasil penelitian dari 20 sampel pada pemeriksaan TCM dan BTA dari 20 sampel didapatkan hasil 14 (70 %) positif TCM, sedangkan 3+ BTA terdapat 8 (40 %), 1+ terdapat 6 (30 %) sampel, negatif TCM 6 (30 %) sampel, dan Negatif BTA 6 (30 %) sampel. Hasil dari uji anova berdasarkan nilai Ct Value skala medium, low, fery low dan negatif pada TCM dan BTA diperoleh nilai p Value 0,000 yang menunjukan adanya perbedaan metode tersebut. Pemeriksaan TCM baik untuk mendeteksi awal gejala pasien Tb sedangkan BTA baik untuk mendeteksi awal gejala dan pementauan pengobatan
ANALISIS PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA DI PUSKESMAS KOTA KENDARI Titi Purnama; Rahmawati; Wa Ode Gustiani Purnamasari; Sulwiyadin
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.10

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan endemik di daerah tropis temasuk di Indonesia dan memiliki angka kematian yang cukup tinggi serta dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa . Di Sulawesi Tenggara, presentase eliminasi malaria pada tahun 2021 baru mencapai angka 71%. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan dalam penanggulangan malaria adalah kesalahan diagnosis malaria dalam pemeriksaan mikroskopis. Pemantapan mutu internal adalah kegiatan kontrol atau pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan di laboratorium secara rutin untuk mencegah atau mengurangi kejadian error / penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat. Untuk itu demi menjaga kualitas mutu penegakkan hasil diagnosis malaria tersebut perlu dilakukan kontrol penerapan pemantapan mutu internal pemeriksaan mikroskopis malaria yang rutin dilakukan agar terhindar dari adanya kesalahan penegakkan diagnosis tersebut yang nantinya dapat membantu dalam program nasional eliminasi malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pemantapan mutu internal pemeriksaan mikroskopis malaria di Puskesmas Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif bersifat deskriftip, dengan rancangan pendekatan penelitian observasional. Sampel penelitian ini adalah petugas laboratorium di Puskesmas Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Populasi penelitian ini berjumlah 48 orang, menggunakan Teknik penarikan sampel Simple Random Sampling dengan jumlah sampel 28 orang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil bahwa presentase penerapan pemantapan mutu internal pemeriksaan mikroskopis malaria di Puskesmas Kota Kendari belum optimal dilaksanakan hanya sebesar 74.4% dan tidak dilaksanakan oleh 25.59% tenaga laboratorium puskesmas lainnnya. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pemantapan mutu internal pemeriksaan mikroskopis malaria di Puskesmas Kota Kendari berada dalam kategori tidak baik. Diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh petugas laboratorium puskesmas di Kota Kendari dalam pelaksanaan kegiatan pemantapan mutu internal laboratorium, serta koordinasi yang baik dengan pemangku kebijakan dalam hal pengawasan kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium serta peningkatan sumber daya manusia tenaga laboratorium mengenai pelatihan dan penyegaran rutin mengenai teknis pemeriksaan sesuai kompetensi petugas laboratorium.
ANALISIS KADAR CYSTATIN C SEBAGAI PENANDA AWAL KERUSAKAN GINJAL PADA PASIEN PENYINTAS COVID-19 Amirah; Gilbreth Pamean; Arlitha Deka Yana; Kasmuddin Darmo; Ka’ba Paharu; Titi Purnama
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.7

Abstract

COVID-19(Corona Virus Disease-19) sebabkan oleh SARS-COV2, pertama kali muncul di Wuhan, Cina pada Desember 2019 dan pada Maret 2020, dinyatakan sebagai pandemi, virus ini menyebabkan penyakit pernapasan ringan hingga sedang, selain saluran pernapasan virus COVID-19 juga menyerang berbagai organ tubuh seperti jantung, hati, dan ginjal. Hampir sepertiga pasien COVID-19 berkemungkinan untuk menderita Acute Kidney injury (AKI). Kelompok pasien yang telah melewati masa isolasi dan perawatan disebut sebagai penyintas COVID-19. Untuk mendeteksi apakah terjadi gangguan pada ginjal seseorang dapat dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal. Biasanya kreatinin hanya dapat mendeteksi kerusakan ketika ginjal sudah mengalami kerusakan lebih dari 50%, oleh karena itu pada penelitian ini gunakan parameter baru yang lebih meyakinkan dari kreatinin yaitu Cystatin C. penelitian ini bertujuan mengetahui kadar Cystatin C pada pasien penyintas COVID-19. Jenis penelitian observasi laboratorium dengan desain penelitian cross sectional study. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 21 orang pasien penyintas COVID-19 yang diperiksa dengan menggunakan metode pemeriksaan ELISA. Hasil penelitian menunjukan dari 21 sampel, 17 di antaranya memiliki kadar Cystatin C yang normal sedangkan 4 lainnya mengalami peningkatan kadar Cystatin C.
DETEKSI MUTASI GEN TMPRSS 6 MENGGUNAKAN METODE T-ARMS PCR PADA KASUS STUNTING DENGAN KADAR HEMOGLOBIN RENDAH DI PUSKEMAS BENU-BENUA Titi Purnama; Nada Fitra Nur Auliyah
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 1 (2024): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.08.01.05...

Abstract

Standar angka kasus stunting nasional menurut SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) tahun 2021 hanya mencapai 24,4 %. Sulawesi Tenggara termasuk dalam salah satu dari 12 provinsi dengan prevalensi angka kasus stunting tertinggi di Indonesia, dan menduduki posisi kelima tingkat nasional dengan kasus mencapai 30,2 %. Stunting merupakan indikator terjadinya malnutrisi akibat kurangnya asupan zat gizi. Salah satu asupan zat gizi yang diperlukan adalah zat besi. Oleh karena itu, anak yang mengalami stunting beresiko akan mengalami anemia. Anemia disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya diakibatkan oleh mutasi gen. Mutasi pada gen TMPRSS 6 merupakan inidikator seseorang mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi mutasi gen TMPRSS 6 pada kasus stunting anak dengan kadar hemoglobin rendah di Puskesmas Benu – Benua. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian case control study. Populasi dalam penelitian ini balita dengan kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Benu – Benua dengan jumlah sampel sebanyak 9 responden dideteksi secara molecular menggunakan metode T-ARMS PCR.Hasil penelitian ini menunjukkan seluruh responden mengalami penurunan kadar hemoglobin (<12 gr/dl) dan hasil PCR menunjukkan mutasi gen TMPRSS 6 yang membawa genotip CT terdapat pada sampel 1, 2, 6, 7, 8, 9, dan pada sampel 10 sebagai kontrol, ditandai dengan terbentuknya pita berukuran 331 bp, 225 bp, dan 151 bp. Mutasi gen TMPRSS 6 yang membawa genotip TT terdapat pada sampel 4 ditandai dengan terbentuknya pita berukuran 331 bp, dan 151 bp, sedangkan sampel 3 dan 5 menunjukkan pola genotip yang tidak jelas karena hanya menghasilkan pita berukuran 151bp
ANALISIS KADAR KREATININ PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS YANG TERDIAGNOSIS LEBIH DARI 5 TAHUN DI RSUD dr.H.L.M.BAHARUDDIN,M.KesKABUPATEN MUNA Titi Purnama; Vivi Fithriani Hasan; Wa Ode Gustiani P
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 2 (2024): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikimia akibat kelainan sekresi insulin, Kondisi resistensi pada penderita Diabetes Melitus yang terdiangnosisi 5 tahun menyebabkan komplikasi kronis seperti nefripati diabetik. Penyakit ini telah menjadi penyebab utama kedua penyakit ginjal dan salah satu komplikasih diabetes yang paling umum berbahaya. Kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal, seperti kosentrasi plasma dalam waktu 24 jam. Kadar kreatinin serum yang lebih besar dari nilai normal menujukkan satu gangguan fungsi ginjal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kadar Kreatinin pada penderita Diabetes Mellitus yang telah terdiagnosis diatas limah tahun dan mengonsumsi obat tidak teratur di RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes Kabupaten Muna.  Jenis penelitian  ini  adalah Deskriptif. Sebanyak 32 sampel. Penelitian ini di laksanakan di laboratorium RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes Kabupaten Muna. Hasil penelitian didapatkan kadar Kreatinin yang dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Tinggi, Rendah dan Normal. Kadar kreatinin yang tinggi didapatkan 18 sampel (56,3%), kadar kreatinin rendah didapatkan 5 sampel (28,1%) dan kadar kreatinin Normal didapatkan 9 sampel (15,6%). Kadar kreatinin serum yang tinggi lebih didominasi pada kelompok usia 61 – 70 Tahun  9 sampel (50%), kadar kreatinin yang rendah dijumpai pada umur 41 – 50 Tahun diperoleh 3 sampel (9.4%) dan kadar kreatinin normal 51 – 60 tahun diperoleh 6 sanpel (66,6%).  Jenis kelamin lebih banyak dijumpai pada penderita diabetes mellitus yaitu jenis kelamin  laki – laki 10 sampel (55,6%) dan kadar kreatinin serum yang rendah didominasi pada perempuan 8 sampel (66,7%) penderita diabetes mellitus. Diperoleh hasil yang tinggi pada penderita dengan lama menderita 5 – 10 tahun didapatkan 10 sampel  (62,5%) dan hasil yang rendah pada penderita dengan lama menderita 16 – 20 tahun dan >20 tahun didapatkan 3 sampel (13%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pasien diabetes mellitus  yang terdiangnosis diatas 5 tahun di RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes Kabupaten Muna, yang  lama menderita memiliki kadar kadar kreatinin yang tinggi, Saran penelitian, diharapkan pada peneliti untuk mengembangkan dan meneliti lebih lanjut mengenai hal – hal yang berkaitan dengan Diabetes Mellitus yang terdiangnosis diatas 5 tahun dikarenakan banyak komplikasih yang disebabkan oleh  Diabetes Mellitus yang terdiangnosis diatas 5 tahun.
ANALISIS KADAR G-GT (GAMMA-GLUTAMYL TRANSFERASE) TERHADAP MASYARAKAT YANG MENGKONSUMSI MIRAS TRADISIONAL (KAMEKO) DI DESA LABONE KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA Wa Ode Gustiani Purnamasari; Mulani Ramsi; Titi Purnama
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 2 (2024): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

Kameko salah satu jenis minuman tradisional yang disajikan dalam kebudayaan adat suku Muna. Kameko disajikan pada acara kaghoghoniwi dan tradisi pada acara adat di masyarakat Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Kebiasaan mengonsumsi minuman alkohol dapat menyebabkan terjadinya Gangguan Mental Organik (GMO), pembengkakan otak, dapat merusak saraf. Selain itu dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati diantaranya perlemakan hati (fatty liver), hepatitis alkoholik (alcoholic hepatitis) dan sirosis (cirrhosis). Salah satu metode pemeriksaan gangguan fungsi hati adalah pemeriksaan kadar G-GT (gamma-glutamyl transferase). Kadar G-GT (gamma-glutamyl transferase) serum ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya asupan alkohol. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kadar G-GT terhadap masyarakat yang mengkonsumsi miras tradisional (kameko) di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Jenis penelitian ini adalah deskriptif sebanyak 34 sampel. Penelitian ini dilaksanakan di Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Tehnik pengambilan sampel purposive sample , setiap responden memenuhi kriteria inklusi dipilih sampai jumlah terpenuhi. Sampel menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian didapatkan kadar G-GT yang mengkonsumsi Kameko ≤ 10 tahun dengan hasil normal sebanyak 11 sampel (64,7 %) dan yang abnormal sebanyak 6 sampel (35,3%). Sedangkan kadar G-GT yang mengkonsumsi Kameko ≥ 10 tahun dengan hasil abnormal sebanyak 17 sampel (100%). Kesimpulan, terdapat peningkatan kadar G-GT masyarakat yang mengkonsumsi Kameko ≥ 10 tahun sebanyak 100%. Saran penelitian, Bagi masyarakat di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna diharapkan mengurangi mengkonsumsi minuman miras tradisional (kameko). Untuk peneliti yang selanjutnya agar menambahkan hubungan kadar pemeriksaan G-GT terhadap beberapa faktor pemeriksaan G-GT yaitu usia, jenis kelamin, frekuensi minum perhari dan perokok.
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN KADAR KOLESTEROL TOTALPADA PASIEN HIPERTENSI DI RSADDR.R. ISMOYO KENDARI Asfani Yuhadi; Tamara Renzylia Balita Ayu; Titi Purnama
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 2 (2024): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah di Indonesia maupun di negara lain. Salah satu faktor resiko yang menyebabkan angka kesakitan penyakit hipertensi adalah kadar kolesterol total yang tinggi,Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar kolesterol total dengan derajat hipertensi pada pasien di klinik indika tebet. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah semua pasien yang datang dan memeriksakan diri ke RSAD DR.R. Ismoyo Kendari. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain crossn sectional study, dimana peneliti ingin mengetahui hubungan Antara pola makan dan kadar kolesterol total pada hipertensi analisis metode enzimatik. Besar sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 44 responden. Teknik pengambilan sampel dengan Accidental sampling sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah analisis hubungan antara variabel independen dengan dependen digunakan Chi Square .Penelitian ini dilakukan di RSAD DR.R. Ismoyo Kendari. Berdasarkan Hasil yang diperoleh Dari 44 responden, 65,9% menunjukkan kadar kolesterol tidak normal dengan distribusi 18,2% pada prehipertensi, 43,2% pada derajat 1 hipertensi, dan 4,5% pada derajat 2 hipertensi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol dengan derajat hipertensi (p = 0,037), meskipun hubungan tersebut tergolong lemah (koefisien phi = 0,361). Sementara itu, 27,3% responden memiliki pola makan baik dan 72,7% pola makan kurang baik, namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara pola makan dan derajat hipertensi (p = 0,672), dengan koefisien phi menunjukkan hubungan sangat lemah (0,133). Maka dapat Disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol dengan derajat hiperten tetapi, Tidak Ada hubungan yang signifikan antara pola makan dengan derajat hipertens. Diharapkan bagi Rumah Sakit dapat memberikan edukasi pada pasien hipertensi tentang metode efektif untuk mengelola dan mencegah peningkatan kasus hipertensi dan dislipidemia sehingga bagi masyarakat yang sudah terdiagnosis hipertensi atau memiliki kadar kolesterol tinggi, disarankan untuk memperbaiki pola makan dengan mengurangi lemak jenuh dan meningkatkan konsumsi makanan berserat.
HUBUNGAN HBA1C ( hemoglobin terglikosilasi) DENGAN KADAR KOLESTEROL PADA IBU HAMIL TRIMESTER KEDUA Amirah; Yudistira; Arlitha Deka Yana; Titi Purnama; Ka’ba Paharu; Desyani Ariza
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 9 No. 1 (2025): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/medilab.v9i1.1226

Abstract

Secara fisiologis kehamilan normal dapat digambarkan sebagai kondisi "resistensi insulin yang progresif". perubahan metabolisme karbohidrat dan lemak pada ibu hamil merupakan sebagai mekanisme fisiologis yang diperlukan untuk menyediakan bahan bakar metabolik dan nutrisi bagi janin, akan tetapi resiko terjadi peningkatan kadar kolesterol total, dan glukosa darah yang tidak terkontrol selama kehamilan dapat berpotensi menimbulkan komplikasi, baik bagi ibu maupun janin. Ibu hamil dapat mengalami perubahan hormon dan metabolisme tubuh pada trimeter kedua sehingga mempengaruhi profil lipid dan mengakibatkan resistensi insulin yang akan meningkatkan risiko diabetes gestasional, serta mempengaruhi kadar HBA1C ( hemoglobin terglikosilasi). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan HBA1C dengan kolesterol pada Ibu hamil trimester kedua. Metode penelitian menggunakan deskriptif observasi laboratorik. Sampel penelitian terdiri dari 32 ibu hamil trimester kedua yang diperiksa kadar HBA1C dan kolesterol. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 22 (68,7 %) ibu hamil memiliki kadar HBA1C normal dan 10 (43.3 %) ibu hamil memiliki kadar HBA1C di atas nilai rujukan. Dan pada pemeriksaan kolesetrol diperoleh 9 (28,1%) ibu hamil memiliki kadar kolesterol normal dan 23 (71,8%) meningkat dari nilai rujukan, beradasarkan uji korelasi korelasi pearson HBA1C dengan Kolesterol ibu hamil trimester kedua nilai p : 0,241(p>0.05) yang menunjukkan bahwa korelasi kedua variabel tidak bermakna, artinya pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan anatar kadar HBA1c dengan kolesterol
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KADAR HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) DAN KADAR LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) PADA PERSONIL KEPOLISIAN RESOR (POLRES) KOTA KENDARI Titi Purnama; Wa Ode Gustiani P; Masir
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 9 No. 1 (2025): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/medilab.v9i1.1227

Abstract

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah berada di atas batas normal yaitu ≥130/90 mmHg. Terdapat berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya hipertensi, di antaranya adalah usia, faktor genetik, suku, jenis kelamin, obesitas, faktor lingkungan, stres, serta pola makan seperti konsumsi natrium berlebih, meminum alkohol, perilaku merokok, dan konsumsi kolesterol yang membuat profil lipid menjadi tinggi. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kadar high density lipoprotein (HDL) dan kadar low density lipoprotein (LDL) pada Personil Kepolisian Resor (POLRES) Kota Kendari. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross selectional. Populasi dari penelitian ini berjumlah 23 orang. Teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan pasien hipertensi yang berjumlah 22 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Analisisi data yang digunakan uji normalitas dari distribusi data menggunakan Shapiro-Wilk. yang dilanjutkan dengan uji statistik Pearson’s correlation, jika hasilnya berdistribusi tidak normal maka dilanjutkan ke uji korelasi spearman. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Hati Mulia Kendari. Berdasarkan umur responden didapatkan responden paling banyak adalah pada kelompok usia lansia (46-65) yaitu 13 orang dengan presentase 59%. Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki yaitu 22 orang dengan presentase 100%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan hipertensi dengan kadar high density lipoprotein (HDL).yaitu (p=0,014 <0,005) sedangkan ada hubungan hipertensi dengan kadar low density lipoprotein (LDL) yaitu (p=0,047 <0,005). Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan hipertensi dengan kadar high density lipoprotein (HDL) dan kadar low density lipoprotein (LDL) pada Personil Kepolisian Resor (POLRES) Kota Kendari. Saran dalam penelitian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai riwayat penyakit dan gaya hidup yang dapat mempengaruhi kadar LDL dan HDL pada pasien hipertensi.