Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PERAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN TANAMAN PANGAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.488

Abstract

Tanaman pangan mencakup tujuh komoditas unggulan meliputi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kcang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar (Dirjen TPKP, 2010). Hasil produksi pertanian termasuk produksi tanaman pangan cepat mengalami kerusakan (pherisable) dan bersifat musiman, maka perlu upaya untuk meningkatkan umur simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya dengan dilakukan pengolahan. Pengolahan hasil tanaman pangan diselenggarakan dengan menerapkan prinsip-prinsip GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Tugas pembinaan pengolahan dan pemasaran menjadi tanggungjawab Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Tugas pengawasan oleh Lembaga Pengawas Mutu dan Keamanan Pangan yang disebut Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah. Kebijakan tentang Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan telah terbentuk yakni Permentan No. 58/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian, ditindaklanjuti Permentan No. 381/Kpts/Ot.140/10/ 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan dan Permentan No.35/Permentan/OT.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan serta Permentan No 44/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian Asal Tumbuhan. Semua regulasi teknis diatas merupakan Persyaratan Dasar Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP, yang harus diterapkan secara benar dan maksimal.
MEMPELAJARI BERBAGAI SUHU AWAL PEREBUSAN TERHADAP KEHILANGAN PROTEIN DAGING SAPI BAGIAN HAS DALAM Sari, Dian Novita; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.639

Abstract

Mempelajari Berbagai Suhu Awal Perebusan terhadap Kehilangan Protein Daging Sapi Bagian Has Dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu awal perebusan yang mampu memperkecil kehilangan protein dan sifat indrawi daging, dan untuk optimalisasi perebusan. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara non fakorial dengan faktor perlakuan dengan faktor perlakuan berbagai suhu awal perebusan daging sapi yang terdiri dari empat faktor perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah untuk analisis kimia dilakukan analisis kadar protein pada daging mentah dan daging sapi bagian has dalam yang sudah direbus. Analisis fisik dilakukan uji residu pada air rebusan dan susut daging setelah perebusan pada daging sapi bagian has dalam. Sedangkan uji organoleptik meliputi warna, aroma dan penampakan total dengan menggunakan uji hedonik. Perlakuan suhu awal perebusan daging berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kehilangan kadar protein, residu air rebusan, susut volume dan susut berat daging sapi has dalam rebus. Kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) dengan nilai rata-rata 14,54%, Kehilangan Kadar Protein tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 22,08% Residu air rebusan tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 1,38%. Susut volume tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 65,461%. Susut berat tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 48,696%. Uji organoleptik terhadap warna, aroma dan penampakan total pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) mempunyai tingkat kesukaan tertinggi terhadap warna, aroma dan penampakan total daging sapi dibanding perlakuan D1, D2, D3, Untuk mendapatkan daging sapi rebus yang baik penulis menyarankan sebaiknya menggunakan perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C).
PEMANFAATAN PATI GANYONG SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG TAPIOKA PADA PEMBUATAN PEMPEK IKAN GABUS (Channa striata) Muchsiri, Mukhtarudin; Sylviana, Sylviana; Martensyah, Rendi
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 10, No 1 (2021): Edible : Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v10i1.3641

Abstract

Umbi ganyong merupakan salah satu bahan pangan yang dapat diolah menjadi tepung pati ganyong dan berpotensi sebagai substitusi tepung tapioka dalam pembuatan pempek ikan gabus karena memiliki karakteristik yang hampir sama. Selain itu, tepung pati ganyong  dapat dijadikan bahan baku pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi rasio pati ganyong yang dapat digunakan sebagai substitusi tepung tapioka , serta pengaruhnya terhadap sifat kimia, fisik dan sensori  pempek ikan gabus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non Faktorial dan diulang sebanyak 4 kali. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar protein, kekenyalan dan uji organoleptik. Kadar air, kadar protein dan tingkat kekenyalan tertinggi terdapat pada perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),  dengan nilai rata-rata secara berturut –turut yaitu 59.29 %, 8.48 %, dan 410.15 gF. Kadar air,kadar protein dan tingkat kekenyalan terendah terdapat pada perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%), dengan nilai rata-rata secara berturut–turut yaitu 51.13 %, 7.77 % dan 280.30 gF. Tingkat kesukaan terhadap aroma, rasa dan warna pempek ikan gabus dengan perbandingan tepung pati ganyong dan tapioka pada skala 1-5  mendapat skor tertinggi yang terdapat pada perlakuan G5 (Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),, masing-masing dengan skor 3.39, 3.38 dan 4.04. Sementara itu, skor terendah baik dari segi aroma, rasa dan warna pempek ikan gabus adalah perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),, masing-masing dengan skor 2.78, 2.52 dan 2.96. 
MEMPELAJARI FORTIFIKASI KALSIUM TEPUNG TULANG IKAN TENGGIRI TERHADAP SUSU KEDELAI Setiawan, Agung; Muchsiri, Mukhtarudin; Alhannasir, Alhannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2015): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v4i1.474

Abstract

Mempelajari Fortifikasi kalsium tepung tulang ikan tenggiri terhadap susu kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi penggunaan tepung tulang ikan tenggiri terhadap susu kedelai yang terbaik menurut tingkat kesukaan dan kandungan gizi. Penelitian ini telah dilaksakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan Balai Riset dan Standarisai Industri Palembang (BARISTAND Industri Palembang) pada bulan Mei sampai bulan September 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan persentase tepung tulang ikan tenggiri yang terdiri dari lima faktor perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali ulangan.Adapun parameter yang di amati untuk analisis kalsium, sedangkan untuk uji organoleptik menggunakan Uji Hedonik meliputi aroma, warna, dan rasa. Nilai tertinggi kadar kalsium terdapat pada perlakuan A4 dengan nilai 11,2 % sedangkan untuk nilai terendah terdapat pada perlakuan A0 dengan nilai 0,05 %. Hasil organoleptik menggunakan uji hedonik terhadap aroma, rasa dan warna. Untuk aroma, rasa, dan warna berpengaruh nyata maka dilakukan uji conover. Perlakuan A1 (5% Tulang Ikan tenggiri dan 95 % susu kedelai) dari hasil analisis kimia dan uji organoleptik A1 merupakan perlakuan yang terbaik.
STUDI PERBANDINGAN TEPUNG BERAS DAN TEPUNG TAPIOKA PADA PEMBUATAN KERIPIK KULIT SINGKONG Wahyuni, Indah Fitri; Dasir, Dasir; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.489

Abstract

This research aims to study the ratio of rice flour and tapioca flour in the manufacture of leather cassava chips produced. This research has been conducted in the laboratory of the Faculty of the University of Muhammadiyah Palembang Pertanin in January to March 2012. This research used Randomized Block Design (RBD) are arranged in a non-factorial combinations of five treatment and repeated five times, with each factor treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%), T2 (rice flour 80 % and 20% starch), T3 (70% rice flour and tapioca flour 30%), T4 (60% rice flour and tapioca flour 40%) and treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%). Parameters observed in this study, to include the chemical analysis of water content and carbohydrate content. organoleptic tests include flavor and color to the test level of preference and level of crispness to the test ranking. While the physical analysis of volume shrinkage. The results showed that the highest water content contained in the treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%) with an average value of 3.438% and the lowest water content at T1 treatment (90% rice flour and tapioca flour 10%) with a mean value average 2.160%. Comparison of the type of flour used can affect carbohydrate content of cassava chips on the skin. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the highest carbohydrate content than other treatments. Treatment T2 has the highest level of preference for flavor chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. T2 treatment is treatment with an optimal ratio of flour. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of preference for color chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. Because rice flour has a higher protein content than starch. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of crispness in the skin of cassava chips than treatment T3, T1, T4 and T5. Rice flour is used can affect the crispness of the skin cassava chips. Comparison of the type of flour used can affect the volume shrinkage in the skin of cassava chips. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the lowest shrinkage volume compared to other treatments.
MEMPELAJARI PENGARUH PERBANDINGAN BUAH PEPAYA DAN KELOPAK ROSELA SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SAUS “CASELA” Putra, Adhe Dharma; Muchsiri, Mukhtarudin; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.485

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela sebagai bahan baku pembuatan saus “casela”. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara non faktorial terdiri dari enam tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak empat kali. Dengan masing-masing perlakuan adalah R0 (100% buah pepaya dan 0% kelopak rosela), R1 (90% buah pepaya dan 10% kelopak rosela), R2 (80% buah pepaya dan 20% kelopak rosela), R3 (70% buah pepaya dan 30% kelopak rosela), R4 (60% buah pepaya dan 40% kelopak rosela) dan R5 (50% buah pepaya dan 50% kelopak rosela). Parameter yang diamati terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air dan kadar vitamin C, uji fisik yaitu tingkat kekentalan. Sedangkan uji organoleptik terdiri dari rasa, warna, dan aroma. Hasil penelitian, bahwa perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar vitamin C dan tingkat kekentalan. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela berpengaruh nyata terhadap rasa, warna, dan aroma saus “casela”. Perlakuan R2 menghasilkan saus “casela” terbaik dengan kadar air (60,109%), kadar vitamin C (12,135mg/100g), tingkat kekentalan (15,30cPs), rasa (3,95), warna (4,14) dan aroma (3,69) dengan kriteria agak disukai sampai disukai oleh panelis.
PENGARUH FORMULASI TEPUNG BATANG, DAUN DAN BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia speciosa Horan) TERHADAP KARAKTERISTIK DAN DAYA SIMPAN CUKO PEMPEK Fitriansyah, Idil; Muchsiri, Mukhtarudin; Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 6, No 1 (2017): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v6i1.626

Abstract

This research method is an experiment using a randomized block design (RAK) nonfactorial. Factors treatment which starch formulation stems, leaves and flowers kecombrang (F) and which consists of four (4) formulation of treatment and repeated 4 (four) times. Each treatment is F1 (Formulation Flour Trunk 1%: Leaves 2%: Interest 3%), F2 (Formulation Flour Trunk 2%: Leaves 3%: Interest 1%) F3 (Formulation Flour Trunk 3%: Leaves 1%: flowers 2%) F4 (Formulation Flour Trunk 2%: leaves 2%: 2% interest). The parameters observed in this study, for chemical analysis includes total acid and pH levels prior to storage on day 0 and after storage at day 12, while the organoleptic tests include color, flavor and aroma in cuko pempek prior to storage on day 0 and after storage at day 12 as well as physical observations done visually by looking at the signs of froth and viscosity changes during storage cuko pempek with intervals of 3 days until day 12. The results showed that the powder formulations influence stems, leaves and flowers kecombrang the characteristics and storability cuko pempek very significant effect on total acid before storage at day 0 and after storage on the 12th day, a very significant effect on the pH cuko pempek before storage at day 0 and after storage at day 12. The results of organoleptic test showed that the powder formulations influence stems, leaves and flowers kecombrang significantly affect aroma before storage at day 0 and after storage on the 12th day. No real effect on the taste cuko pempek prior to storage on day 0 and significantly affect flavor cuko pempek after storage on the 12th day and no real effect on the color cuko pempek before storage at day 0 and after storage at day 12. The test results storability by visual observation of the presence or absence of foaming and viscosity changes in cuko pempek during storage of 12 days all treatments showed no foam and no change of viscosity on cuko pempek generated during storage day 0 to day 12.
PENYELENGGARAAN KBK PADA MAN 1 SURAKARTA Mukhtarudin Mukhtarudin
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 12, No 1 (2007): Analisa : Jurnal Pengkajian Masalah Sosial Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/analisa.v12i1.1017

Abstract

Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Surakarta terdiri atas jurusan umum dan jurusan keagamaan. jurusan umum terdiri atas jurusan IPA, jurusan IPS dan jurusan Bahasa, sedang jurusan keagamaan adalah jurusan Ilmu Agama Islam. Madrasah ini masih menggunakan 2 model kurikulum. Kurikulum 1994 masih diterapkan pada kelas III jurusan umum dan jurusan Ilmu Agama Islam, sedangkan kurikulum 2004 diterapkan pada kelas X dan kelas XI jurusan umum dan keagamaan. Sebagian guru telah mengikui penetaran atau semacamnya tentang KBK. Mereka pada umumnya telah membuat program tahunan, semesteran dan mudol secara tertulis. Program tersebut telah diterapkan dalam proses pembelajaran KBK. Namun demikian, mereka masih mengalami kendala, yakni belum terbiasa menggunakan metode diskusi atau praktek lapangan. hal ini dikarenakan keterbatasan sarana dan dana yang tersedia.
EFEKTIVITAS ANTIMIKROBA BUBUK BIJI KEPAYANG (PANGIUM EDULE REINW.) SEBAGAI PENGAWET ALAMI CUKO PEMPEK Mukhtarudin Muchsiri; Suyatno Suyatno; Alhanannasir Alhanannasir; Sri Agustini; Yando Agus Kurniawan
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 32, No 2 (2021): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28959/jdpi.v32i2.7428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan antimikroba bubuk biji kepayang sebagai pengawet alami cuko pempek untuk  meningkatkan umur simpan hingga 12 hari penyimpanan. Metode yang digunakan yaitu RAK non faktorial dengan enam taraf perlakuan yaitu penambahan bubuk biji kepayang 0% (B0), 1% (B1), 2% (B2), 3% (B3), 4% (B4), dan 5% (B5) dengan 3 replikasi. Parameter yang diamati yaitu total asam, pH, Total Plate Count (TPC), uji organoleptik aroma dan rasa. Total asam cuko pempek tertinggi sebelum penyimpanan adalah B5 yaitu 0,604%, diikuti oleh B4, B3, B2 B1 dan B0 secara berurutan yaitu 0,602 %, 0,600 %, 0,599%, 0,598 % dan 0,596 %. Setelah 12 hari penyimpanan, total asam tertinggi terdapat pada B0 yaitu 1,427 sedangkan total asam terendah pada B3 yaitu 0,805 %. Sebelum penyimpanan, nilai pH terendah terdapat pada B5 yaitu 4,80 dan pH tertinggi terdapat pada B0 yaitu 4,92. Setelah 12 hari penyimpanan, pH terendah terdapat pada B0 yaitu 3,10  dan tertinggi pada B3 yaitu 4,63. TPC tertinggi terdapat pada B0 yaitu 2,6 x 102 CFU/mL setelah 12 hari penyimpanan sedangkan TPC terendah terdapat pada B3 yaitu 9,0 x 10 CFU/mL. Setelah 12 hari penyimpanan aroma dan rasa cuko perlakuan B3 paling disukai oleh panelis dengan skor 4,05 dan 4,25. Aroma dan rasa paling tidak disukai panelis terdapat pada B0 dengan skor yang sama yaitu 2,45. Penambahan bubuk biji kepayang 3% (B3) pada cuko pempek efektif menghambat pertumbuhan mikroba kontaminan selama 12 hari penyimpanan dan paling disukai oleh panelis dari segi aroma dan rasa.
APLIKASI LABU KUNING SEBAGAI SUBSTITUSI ZAT WARNA KUNING PADA PEMBUATAN KEMPLANG Alhanannasir Alhanannasir; Asep Dodo Murtado; Mukhtarudin Muchsiri; Fajar Rudi; Sri Agustini
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 32, No 1 (2021): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28959/jdpi.v32i1.6896

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan labu kuning sebagai substitusi pewarna kuning terhadap sifat fisika kemplang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non Faktorial dengan Formulasi labu kuning dan tepung tapioka sebagai perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Sifat fisika yang diamati meliputi diameter pori, kadar air, aktivitas air dan warna (lightness, redness, yellowness, hue, dan chroma). Hasil penelitian menunjukkan formulasi labu kuning dan tepung tapioka berpengaruh nyata terhadap  diameter pori, kadar air, aktivitas air, dan warna (lightness, redness, yellowness, hue, dan chroma) kemplang. Penambahan labu kuning pada pembuatan kemplang menyebabkan penurunan diameter pori, kadar air dan, aktivitas air, namun meningkatkan warna (derajat kemerahan, derajat kekuningan, chroma dan hue) kemplang. Diameter pori, kadar air dan aktivitas air tertinggi didapat pada perlakukan kontrol (F0) dan terendah terdapat pada perlakuan formulasi 20% labu kuning (F4). Sifat fisika kemplang formulasi labu kuning berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (F0). Sifat fisika kemplang formulasi F3 berbeda tidak nyata dengan formulasi F4, namun demikian formulasi labu kuning 15 % (F3) memberikan sifat fisika terbaik. Formulasi labu kuning dan tapioka berhasil memberikan warna kuning pada kemplang dengan rerata nilai chroma berkisar 46,64-50,31 dan nilai hue 93,36-94,05. Kata kunci : Kemplang, formulasi, labu kuning, tepung tapioka.
Co-Authors A.D. Murtado Abid Djazuli Abid Djazuli, Abid Ade Vera Yani Adriansyah, Novales Afriyatna, Sisvaberti agung setiawan Agus Wijaya Agus Wijaya Ahmad Ghiffari Ahmad Nawawi Alamsarie, Sukmane Alhanannasir Alhanannasir Alhannasir, Alhannasir Ambiyah, Rizal Andi Febriansa Antoni Antoni Asep Dodo Murtado Asep Dodo Murtado Asvic Helida Basuni Hamzah Basuni Hamzah Dasir Dasir Dasir, Dasir Dian Novita Sari, Dian Novita Dian Sulistyani Dina Badriah Edi Gunawan Erni Hawayanti Fajar Rudi Fitriansyah, Idil Fuadah, Dr. Luk Luk Idealistuti Idealistuti Idealistuti Idealistuti, Idealistuti Iin Siti Aminah, Iin Siti Kiki Rizki Amelia Kurniatullah, Ridho Lucyana Lucyana, Lucyana Martensyah, Rendi Marwani Muhamad Sidik Muhammad Ilham Mukhlis Mukhtarudin, Kuntafie Al Haq Murtado, A.D. Mustopa Marli Batubara Neni Marlina Nia Fitria Nia Fitria Nico Syahputra Sebayang Novi Apriani Noviyadi Nurhayati Damiri Oka Maris Prayoga, Randi Puri Pratami Ardina Ningrum Puspitasari, Meika Putra, Adhe Dharma Raden Pamudji Rahidin H Anang Rahim, Supli Rika Henda Safitri, Rika Henda Rika Puspita Sari MZ Rika Puspita Sari MZ Riki Andriansyah, Riki Rindit Pambayun Rindit Pambayun Rosmiah Rosmiah, Rosmiah Rusmila Sari MZ, Rika Puspita satria perdana, Deni Shalshabilla, Alysha Titania Sri Agustini Sri Agustini Sri Agustini Supli Effendi Rahim Supli Rahim Supli, Ahmad Affandi Supli, Nur Aslamiah Sutarmo Iskandar Suyatno Suyatno Suyatno Suyatno Suyatno Suyatno Suyatno Suyatno Sylviana, Sylviana Tertiarto Wahyudi Tusadiah, Halimah Wahyono, Lilik Wahyuni, Indah Fitri Windi Windi Yando Agus Kurniawan Yani, Ade Vera