Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Sense of Belonging dengan Loyalitas Suporter Brigata Curva Sud: Studi pada Komunitas Suporter PSS Sleman Asshodiq, Muhamad Vito; Andhita Dyorita Khoiryasdien; Mustaqim Setyo Arianto
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sense of belonging dengan loyalitas suporter Brigata Curva Sud (BCS) PSS Sleman. Fenomena loyalitas tinggi suporter BCS menjadi dasar penelitian ini, di mana rasa memiliki terhadap komunitas dan tim berperan penting dalam membentuk keterikatan dan solidaritas kelompok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian berjumlah 150 anggota BCS yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,919 untuk sense of belonging dan 0,911 untuk loyalitas, menandakan instrumen memiliki reliabilitas tinggi. Uji normalitas menghasilkan nilai signifikansi 0,200 (p > 0,05) dan uji linearitas menghasilkan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai r = 0,602 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang menandakan terdapat hubungan positif dan signifikan antara sense of belonging dan loyalitas suporter Brigata Curva Sud. Kata Kunci: sense of belonging; loyalitas; suporter; Brigata Curva Sud
Hubungan Antara Keterlibatan Ayah dan Regulasi Emosi Pada Generasi Z di Yogyakarta Afika Chintya Kerta; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.14312

Abstract

Generasi Z seringkali dikenal dengan generasi digital yang tumbuh dan berkembang serta ketergantungan dengan teknologi. Sebagai generasi digital, Generasi Z tidak hanya bergantung pada teknologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga menghadapi tantangan dalam regulasi emosi akibat paparan konten digital yang intensif. Peran orang tua sebagai pengasuh utama sangat diperlukan bagi para remaja khususnya peran ayah yang sangat berpengaruh terhadap regulasi emosi anak. Namun, masih sedikit studi yang mengkaji hubungan ketiga variabel ini secara komprehensif, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh regulasi emosi dan keterampilan sosial terhadap keterlibatan peran ayah. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Jumlah sampel dalam penelitian adalah 98 sampel. Instrumen penelitian berupa skala regulasi emosi dan skala keterlibatan ayah yang disebarkan secara daring menggunakan Google Form. Hasil uji korelasi Spearman dengan nilai r = 0,163 dan p = 0,067 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Mayoritas responden berada pada kategori peran ayah rendah, yaitu sebesar 66,67%, sementara kemampuan regulasi emosi responden cenderung berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan peran ayah tidak berpengaruh langsung terhadap kemampuan regulasi emosi remaja dalam penelitian ini, sehingga faktor-faktor lain di luar peran ayah tampaknya memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam membentuk kemampuan regulasi emosi pada remaja Generasi Z
Peran Kecerdasan Emosional sebagai Mediator Hubungan antara Self-awareness dan Kesehatan Mental pada Remaja di Sleman Hidayati, Fitria Nurul; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kecerdasan emosional berfungsi sebagai variabel mediator dalam menjembatani hubungan antara self-awareness dan kesehatan mental pada remaja di Kapanewon Sleman. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada remaja serta pentingnya kemampuan pengelolaan emosi dalam mencegah tekanan psikologis. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif non-eksperimental melalui desain korelasional serta melibatkan 100 responden berusia 15–18 tahun yang diperoleh dengan menerapkan teknik random cluster sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kesehatan mental, self-awareness, dan kecerdasan emosional. Analisis data menggunakan uji mediasi melalui SmartPLS 4.1.1.4. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa self-awareness memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kecerdasan emosional dan kesehatan mental. Kecerdasan emosional juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental. Selain itu, kecerdasan emosional berfungsi sebagai mediator yang signifikan dalam menjembatani hubungan antara self-awareness dan kesehatan mental. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kesadaran diri yang disertai penguatan kecerdasan emosional akan memberikan dampak lebih optimal terhadap kesehatan mental remaja.
Loneliness dan Kecemasan Sosial sebagai Prediktor Nomophobia pada Gen-Z Pengguna Media Sosial Aktif di Yogyakarta Istiqomah, Lilien; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13992

Abstract

Nomophobia merupakan bentuk kecemasan ketika individu tidak dapat mengakses smartphone. Fenomena ini meningkat pada Generasi Z yang sangat intens menggunakan media sosial. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan loneliness dan kecemasan sosial terhadap nomophobia pada Gen-Z pengguna media sosial aktif di Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 415 responden Gen-Z berusia 14–29 tahun yang menggunakan media sosial lebih dari lima jam per hari. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa loneliness dan kecemasan sosial secara simultan berhubungan signifikan dengan nomophobia (F = 27,319; p < 0,001). Secara parsial, loneliness berhubungan signifikan dengan nomophobia (r = 0,177; p < 0,001), demikian pula kecemasan sosial (r = 0,295; p < 0,001). Nilai R² sebesar 0,117 mengindikasikan bahwa kedua variabel memberikan kontribusi sebesar 11,7% terhadap nomophobia. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi loneliness dan kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami nomophobia. Penelitian ini memberikan implikasi pada pengembangan intervensi kesehatan mental dan literasi digital pada Gen-Z.
Harga Diri Pada Perempuan Pelaku Seks Bebas Di Yogyakarta Iskandar Alam, Nurhaliza; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.14278

Abstract

Fenomena seks bebas pada perempuan muda masih menjadi isu yang sarat stigma dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Yogyakarta yang menjunjung tinggi nilai moral dan budaya Timur. Perempuan yang terlibat dalam perilaku seksual pranikah kerap menghadapi tekanan sosial, rasa bersalah, serta konflik batin yang berpotensi memengaruhi harga diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan harga diri pada perempuan pelaku seks bebas di Yogyakarta serta memahami pengalaman subjektif yang memengaruhi pembentukan dan pemulihan harga diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah satu orang perempuan berusia 18–25 tahun yang merupakan mahasiswa di Yogyakarta dan pernah melakukan seks pranikah, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan aspek harga diri menurut Coopersmith, yaitu power, significance, virtue, dan competence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami penurunan harga diri yang ditandai dengan rasa bersalah, kecemasan, dan penilaian negatif terhadap diri, terutama akibat stigma sosial dan konflik nilai moral. Namun, terdapat upaya pemulihan harga diri melalui penerimaan diri, dukungan sosial, dan pendekatan religius. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemahaman empatik dan dukungan lingkungan dalam membantu pemulihan harga diri perempuan pelaku seks bebas.