Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Stimulasi Nervus Vagus sebagai Terapi Adjuvan pada Anak Epilepsi Resisten Obat : Literature Review Jonathan Rivaldo Gultom; Roro Rukmi Windi Perdani; Septia Eva Lusina; Intanri Kurniati
Jurnal Anestesi Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Anestesi: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/anestesi.v3i1.1633

Abstract

Drug-resistant epilepsy is the failure to administer two or more anti-epileptic drugs to an epileptic child which becomes a challenge in its management. Failure of this therapy can result in a decrease in the child's quality of life, such as decreased cognitive function, personality disorders and sleep quality. This can also have a negative impact on the parents who care for them. Vagus nerve stimulation is a device attached to the child's left chest and neck that can stimulate the vagus nerve. This literature review provides a comprehensive overview of vagus nerve stimulation in the treatment of drug-resistant epilepsy, including a discussion of indications, techniques for use, and scientific evidence for the efficacy of vagus nerve stimulation. We reviewed and analyzed the current scientific evidence to assess the effectiveness of vagus nerve stimulation in the treatment of drug-resistant epilepsy.
Tatalaksana Non-Farmakologis pada Dysmenorrhea Primer: Literature Review Ananda, Amallia; Ratna Dewi Puspita Sari; Septia Eva Lusina; Winda Trijayanthi Utama
Medula Vol 15 No 1 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v15i1.1559

Abstract

Dysmenorrhea is pain or cramps felt in the lower abdomen before or during menstruation. Dysmenorrhea is one of the most common problems experienced by adolescents and adult women. Dysmenorrhea is often accompanied by other symptoms such as dizziness, fatigue, sweating, back pain, headache, nausea, vomiting, and diarrhea. There are 2 types of dysmenorrhea, namely primary dysmenorrhea and secondary dysmenorrhea. Dysmenorrhea has a negative impact on women's quality of life. Pharmacological management has side effects of treatment, so there is a need for safer and more effective non-pharmacological management to reduce the intensity of dysmenorrhea pain. Non-pharmacological therapy consists of various non-invasive or minimally invasive treatments. This study uses a literature observation method or literature review, where the main sources of scientific articles come from national and international journals. The articles used in this study were articles published within a period of 5 years, namely 2020-2025 through the electronic databases PubMed and Google Scholar which were selected based on exclusion criteria and inclusion criteria. The purpose of this literature review is to determine non-pharmacological management of dysmenorrhea. The results of the literature review found 21 articles showing that there are several non-pharmacological therapies that are safe and effective in reducing the intensity of pain felt by dysmenorrhea sufferers such as Transcutaneous electrical Nerve Stimulation (TENS), music therapy, acupuncture, acupressure, warm compresses, exercise or aerobic exercise, and aromatherapy.
EDUKASI KESEHATAN MENGENAI PENYAKIT HIPERTENSI DAN PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH PADA MASYARAKAT DI PERUMAHAN DESA HAJIMENA KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Septia Eva Lusina; Ambarwati, Yuli; Bahri, Syaiful; Susianti, Susianti; Apriliana, Ety; Septiani, Linda; Ratna, Maya Ganda
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3633

Abstract

Salah satu masalah kesehatan kronik dengan prevalensi yang terus meningkat secara global dan menjadi satu dari sepuluh penyebab mortalitas di Asia adalah hipertensi. Data dari WHO menyebutkan diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di seluruh dunia menderita hipertensi, sebagian besar tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kebanyakan orang dengan hipertensi tidak merasakan gejala apa pun. Hipertensi cenderung tinggi pada pendidikan rendah yang memiliki pengetahuan kurang. Salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan dan kesadaran penderita hipertensi adalah kurangnya pemberian edukasi kesehatan. Selain itu permasalahan yang sering terjadi di masyarakat diantaranya adalah tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi dikarenakan tidak adanya keluhan atau gejala berat yang dialami sehingga tidak dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Oleh karena itu, dalam rangka upaya berperan dalam deteksi awal penyakit hipertensi dan menjalankan salah satu tridharma perguruan tinggi berupa pengabdian kepada masyarakat, pada kegiatan kali ini dosen Universitas Lampung mengadakan kegiatan pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan tekanan darah dan edukasi kesehatan mengenai penyakit hipertensi pada masyarakat di Perumahan Desa Hajimena Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 27 April 2025 yang diikuti sebanyak 45 orang masyarakat yang diperiksa. Kegiatan ini dibantu oleh masyarakat sekitar dan juga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Kata kunci: hipertensi, pemeriksaan kesehatan, tekanan darah, edukasi
Mekanisme Kerusakan Hepar Akibat Induksi Aloksan pada Model Tikus Diabetes: Suatu Tinjauan Literatur Reimma Emily Rachman; Waluyo Rudiyanto; Septia Eva Lusina; Susianti
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.139

Abstract

Aloksan merupakan agen diabetogenik yang banyak digunakan untuk meniru kondisi diabetes melitus tipe 1 pada hewan percobaan melalui induksi stres oksidatif dan destruksi sel β pankreas. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kerusakan hepar pada model tikus diabetes yang diinduksi aloksan, dengan fokus pada perubahan biokimia, stres oksidatif, inflamasi, dan gambaran histopatologi. Penelusuran literatur dilakukan secara terstruktur melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda pada publikasi tahun 2019–2025, dan diperoleh 17 artikel yang dianalisis secara naratif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa induksi aloksan, terutama pada dosis 120–150 mg/kg berat badan secara intraperitoneal, secara konsisten menimbulkan disfungsi hepatoseluler yang ditandai oleh peningkatan enzim hepar dan penurunan kapasitas sintesis protein. Kerusakan ini dimediasi oleh ketidakseimbangan redoks dengan peningkatan stres oksidatif, penurunan sistem antioksidan endogen, serta aktivasi jalur inflamasi yang berkontribusi terhadap degenerasi dan nekrosis hepatosit. Beberapa studi melaporkan bahwa agen fitoterapi dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi mampu memperbaiki parameter biokimia dan struktur histologis hepar. Secara keseluruhan, kerusakan hepar pada model diabetes aloksan merupakan hasil interaksi kompleks antara hiperglikemia, stres oksidatif, dan inflamasi hepatik, sehingga modulasi jalur tersebut berpotensi menjadi strategi protektif yang rasional.
Hubungan Nilai Cystatin C pada Pasien Gangguan Fungsi Ginjal: Kajian Literatur Jonathan Farrel Panggabean; Evi Kurniawaty; Septia Eva Lusina; Soraya Rahmanisa
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.143

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan nilai cystatin C dengan gangguan fungsi ginjal berdasarkan bukti ilmiah terkini. Cystatin C merupakan biomarker filtrasi glomerulus yang dinilai lebih sensitif dan stabil dibandingkan kreatinin. Metode penelitian menggunakan literature review sistematis dengan kata kunci “cystatin C” dan “kidney function”, yang ditelusuri melalui Google Scholar dan Scopus. Dari hasil pencarian, diperoleh 119 artikel, kemudian diseleksi menggunakan kriteria inklusi tahun publikasi ≥2020, artikel berbahasa Inggris, dan akses terbuka. Proses seleksi mengacu pada diagram PRISMA dan menghasilkan tujuh artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan kadar cystatin C konsisten berkaitan dengan penurunan fungsi filtrasi ginjal dan mampu mendeteksi gangguan lebih dini dibandingkan kreatinin. Cystatin C juga memberikan estimasi eGFR yang lebih akurat, stabil, serta responsif terhadap perubahan klinis. Kajian ini menyimpulkan bahwa nilai cystatin C memiliki hubungan yang kuat dan bermakna dengan gangguan fungsi ginjal, sehingga layak dipertimbangkan sebagai biomarker utama dalam evaluasi fungsi ginjal.
Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Kaku Mayat: Septia Eva Lusina, Amanda Febby Febrina, Muhammad Fauzan Iqbal, Nabila Aulia Safitri Septia Eva Lusina; Amanda Febby Febrina; Nabila Aulia Safitri; Muhammad Fauzan Iqbal
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp190-197

Abstract

Perkiraan waktu kematian merupakan salah satu aspek penting dalam investigasi forensik untuk membantu rekonstruksi peristiwa kematian. Berbagai perubahan pascakematian dapat digunakan dalam perkiraan waktu kematian, salah satunya adalah kaku mayat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji metode perkiraan waktu kematian berdasarkan karakteristik kaku mayat serta faktor-faktor yang memengaruhi kemunculan dan hilangnya fenomena tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah berupa buku teks kedokteran forensik, artikel penelitian, dan publikasi akademik yang membahas kaku mayat sebagai indikator perkiraan waktu kematian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaku mayat terjadi akibat habisnya adenosin trifosfat (ATP) pada jaringan otot setelah kematian sehingga terbentuk ikatan permanen antara aktin dan miosin. Kaku mayat umumnya mulai muncul dalam 1–2 jam setelah kematian, berkembang sempurna dalam 6–12 jam, bertahan selama 12–24 jam, kemudian menghilang secara bertahap dalam 24–36 jam akibat proses autolisis dan pembusukan. Kemunculan dan hilangnya kaku mayat mengikuti pola kraniokaudal yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperkirakan waktu kematian. Namun, akurasi metode ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu lingkungan, usia, status gizi, aktivitas fisik sebelum kematian, serta penyebab kematian. Dengan demikian, penilaian kaku mayat sebaiknya dikombinasikan dengan tanda-tanda pascakematian lainnya untuk memperoleh perkiraan waktu kematian yang lebih akurat.
Analisis Forensik terhadap Tahapan Pembusukan sebagai Indikator Post-Mortem Interval: Tinjauan Pustaka Zahra Dewi Hasna Difa; Anggela; Septia Eva Lusina
Medula Vol 16 No 4 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i4.1816

Abstract

Decomposition is a complex biological process that occurs after death as a result of the interaction between autolysis, microbial activity, and environmental influences. In forensic medicine, the analysis of decomposition stages plays an important role in estimating the post-mortem interval (PMI), particularly in cases of unnatural death and advanced body decomposition. Open wounds and traumatic injuries are known to accelerate decomposition due to increased microbial exposure and insect activity within body tissues. This literature review aims to discuss the physiological and morphological mechanisms of decomposition, factors affecting the rate of body degradation, and recent advances in modern approaches for PMI estimation. The study was conducted using a literature review method through article searches in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases using the keywords “forensic”, “decomposition”, “medicolegal”, “thanatology”, and “post-mortem interval”. The included literature consisted of national and international articles published between 2020 and 2025, along with several major forensic medicine textbooks. The review demonstrated that decomposition begins with the failure of cellular homeostasis, leading to tissue autolysis followed by putrefaction caused by microbial activity. The rate of decomposition is influenced by several factors, including environmental temperature, humidity, body location, insect activity, body mass, and the presence of open wounds. Multidisciplinary approaches integrating morphological observation, histopathology, forensic entomology, thanatomicrobiome analysis, and molecular biomarkers have been shown to improve the accuracy of PMI estimation compared to the use of a single method. Therefore, understanding the stages of decomposition and the factors influencing them is essential in supporting medical and criminal investigations as well as improving the accuracy of post-mortem interval interpretation.