Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemberian Edukasi Mengenai Penggunaan KB Sebagai Upaya Mengatur Jarak Kehamilan yang Sehat pada Pasangan Usia Subur Wardati, Jumadiah; Marbun, Meyana; Friani, Sri Rahma; Herawati, Noni; Handayani, Putri; Yolanda, Yolanda
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2025): Edisi Januari
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jpmik.v6i1.6400

Abstract

Ledakan penduduk dapat terus meningkat akibat penambahan angka kehamilan. Bahkan beberapa keluarga mengalami kesulitan dalam mengontrol kelahiran. Keluarga berencana merupakan suatu cara yang memungkinkan seseorang untuk mencapai jumlah anak yang diinginkan dan menentukan jarak kehamilan, dimana hal ini dapat dicapai melalui penggunaan metode kontrasepsi. Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan yang berada dalam rentang usia dimana wanita mampu untuk hamil dan melahirkan, umumnya antara 15 hingga 49 tahun. Sedangkan program keluarga berencana (KB) adalah suatu upaya untuk membantu pasangan dalam menentukan jumlah anak yang diinginkan dari jarak kelahiran. Pada umumnya PUS  harus mengikuti program KB karena sebagian besar aktivitasnya dilakukan di rumah. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah  untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dan mengatur jarak kehamilan sehingga dapat mengurangi ledakan penduduk akibat penambahan angka kehamilan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para peserta mengenai cara penggunaan kontrasepsi yang baik dan benar. Selain itu, peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk memilih metode kontrasepsi yang cocok dan sesuai dengan kondisi mereka. Pendekatan yang dilakukan yaitu metode partisipatif dengan melakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat untuk mendapat perizinan dan dukungan dalam memberikan edukasi kepada sasaran kegiatan yaitu Pasangan Usia Subur (PUS).  Kegiatan ini juga meliputi pemberian edukasi berupa penyuluhan yang menggunakan media seperti video edukasi dan poster. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan antusiasme yang tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan.
Relationship between hematocrit values in tuberculosis (TB) sufferers who received anti-tuberculosis drug treatment at the Pematangsiantar Raya Community Health Center Herawati, Noni
Science Midwifery Vol 12 No 1 (2024): April: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i1.1513

Abstract

Tuberculosisis a direct infectious disease caused by germs Microbacterium Tuberculosis. Transmission occurs when TB patients cough or sneeze, germs are spread in the air in the form of droplet nuclei. The use of OAT in TB sufferers based on the duration of OAT consumption can cause a decrease in hematocrit values ​​due to side effects of the drug, namely anemia and thrombocytopenia. The method used in this research is descriptive. This study aims to determine the description of hematocrit values ​​in TB sufferers who received OAT treatment at the Pematangsiantar Raya Community Health Center. The sample for this research was 30 people taken randomlypurposive sampling. The results of the study showed that the results of the examination that received OAT treatment at the end of the second month were 24 people (80%), of which the results of the examination showed that the hematocrit value was low as many as 15 people (62.5%), and normal as many as 9 people (37.5%) shows a low hematocrit value. In the examination of patients who received treatment at the end of the sixth month, 6 people (20%) showed examination results with low hematocrit values, 6 people (100%). The low hematocrit value found in TB sufferers at the end of the second and sixth months of treatment is due to the side effects of the OAT consumed, age, gender and the body's immunity in fighting bacteria that attack blood cells, resulting in a decrease in the hematocrit value. It can be concluded that of the 30 TB sufferers who received OAT treatment at the end of the second and sixth months, the number of sufferers with low hematocrit values ​​was greater than those with normal hematocrit values.
Identifikasi Basil Tahan Asam (BTA) Pada Sputum Penderita Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Efarina Etaham Pematang Siantar Pada Bulan Januari–Juni 2025 Nadapd, Putri Yolanda Clarissa; Hutauruk, Deswidya S.; Herawati, Noni
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v5i1.1415

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang penyebabnya berasal dari Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar dari individu yang telah terinfeksi melalui droplet. Salah satu metode utama untuk mendeteksi keberadaan bakteri tersebut adalah melalui pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA), mengingat bakteri ini mampu bertahan di lingkungan asam. Penelitian berikut bertujuan mengetahui keberadaan BTA pada dahak (sputum) penderita TB di RS Etaham Pematang Siantar. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan total 30 sampel sputum menggunakan teknik pewarnaan Ziehl Neelsen. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 14 sampel dinyatakan +1, sementara 10 sampel dinyatakan +2, dan sebanyak 6 sampel dinyatakan +3. Kesimpulan yang didapat, +1 jauh lebih banyak dibanding +2 maupun +3, dimana +1 dinyatakan hampir setengah dari 30 sampel tersebut dan +2 juga tidak kalah banyaknya. Diharapkan penelitian ini dapat mendorong pasien untuk rutin melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan dan menjalani pola hidup bersih serta menggunakan masker guna mencegah penularan