Kepiting bakau memiliki potensi sebagai komoditas perikanan utama yang dapat mendukung mata pencaharian para nelayan. Namun, tingginya permintaan pasar dapat mendorong nelayan untuk mengeksploitasi sumber daya ini secara berlebihan, yang mengakibatkan penurunan volume tangkapan dan penurunan rata-rata ukuran kepiting yang tertangkap. Kelimpahan kepiting bakau sangat bergantung pada kesehatan hutan mangrove, dan setiap degradasi habitat ini dapat mempengaruhi populasi kepiting secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan kelimpahan kepiting bakau dan menganalisis rasio jantan dan betina kepiting. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2024 dengan menggunakan metode purposive sampling. Observasi dimulai dengan menetapkan plot berukuran 100x20 meter, di mana kepiting ditangkap menggunakan perangkap yang disebut rakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stasiun Satu memiliki kelimpahan kepiting tertinggi, dengan 18 individu teridentifikasi. Stasiun Dua memiliki kelimpahan sebanyak 4 individu, dan Stasiun Tiga memiliki 3 individu. Rasio kepiting jantan dan betina di Stasiun Satu adalah 67% jantan dan 33% betina, sedangkan di Stasiun Dua rasio jantan terhadap betina adalah 75% dan 25%, dan di Stasiun Tiga rasio jantan terhadap betina adalah 67% dan 33%. Lebar kerapas berkisar antara 12,63 cm hingga 13,89 cm, dengan bobot kepiting bervariasi antara 344,33 gram dan 405,32 gram.