Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Klinis Dispepsia pada Pasien Kolelitiasis: Studi Literatur Gultom, Dea Debora Romauli; Ramadhian, Muhammad Ricky; Lusina, Septia Eva; Darwis, Iswandi
Medula Vol 14 No 9 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i9.1377

Abstract

Cholelithiasis, also known as gallstones, is a health problem that has been increasing in prevalence worldwide. Some patients with cholelithiasis experience dyspepsia, a condition that causes discomfort in the upper digestive tract. This study aims to analyze the clinical relationship between cholelithiasis and dyspepsia based on a literature review. The articles used in this study were collected from scientific sources such as PubMed, Google Scholar, and Science Direct. A descriptive analysis was conducted to identify the prevalence, risk factors, and mechanisms linking cholelithiasis with dyspepsia. The results show that most patients with cholelithiasis and dyspepsia are female. The most frequently reported symptoms are abdominal pain (100%), nausea (69%), and vomiting (27%). Eating fatty foods can make these symptoms worse. While many patients feel better after having cholecystectomy, about 30% still experience dyspepsia even after surgery. This connection may be due to issues with gastrointestinal motility disorders, bile reflux, and other multifactorial causes. However, the relationship between cholelithiasis and dyspepsia remains a subject of debate, requiring further research to uncover its mechanisms and develop more effective diagnostic and therapeutic strategies.
Case Report : Suspected Sexual Intercourse Involving A 9 Years Old Child: Septia Eva Lusina, Putu Ika Widyasari, Haikal Nirfandi, M Nabil Sulthoni Eralsyah, Rangga Sakti Budi Putra, Sulthan Alam Yasyfa, Syafira Alifia Audiani Widyasari, Putu Ika; Lusina, Septia Eva
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp81-86

Abstract

Sexual intercourse involving a child is a serious issue that can have detrimental effects on the physical, psychological, and social well-being of victims. One of the commonly used forensic evaluation methods is the examination of the genitalia to assess indications of penetration. However, this examination has limitations, as not all cases of suspected sexual intercourse leave clear physical signs. This case report discusses the forensic examination of a 9-year-old girl suspected of experiencing sexual intercourse. The examination results revealed abrasions and tear on the genitalia. Based on these findings, genital examination can serve as part of forensic evidence in proving cases of sexual violence. A more comprehensive approach, including a thorough clinical examination and forensic interview, is essential to ensure the accuracy of diagnoses in a case of suspected sexual intercourse involving a child. Keywords: suspected sexual intercourse involving a child, genitalia, forensic, visum et repertum
Pelatihan Kader Malaria Pada Populasi Khusus Sebagai Langkah Nyata Menuju Eliminasi Malaria Di Kawasan Wisata Pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan Suharmanto, Suharmanto; Hadibrata, Exsa; Larasati, Ratri M.; Yuningrum, Hesti; Lusina, Septia Eva; Yunianto, Andi Eka; Daulay, Suryani A.; Happy, Terza A; Ulandari, Atri Sri; Febriani, Wiwi; Firdaus, Purna; Ulya, M. Ridho
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 8 No. 2 (2023): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v8i2.3237

Abstract

Prevalensi penyakit malaria masih tinggi di dunia. Penyakit ini merupakan golongan penyakit menular. Penyakit ini memerlukan biaya yang tinggi dalam perawatan dan pengobatannya karena malaria dapat komorbiditas danmortalitas, atau bisa kronik, yang menunjukkan kalau malaria sangat berpengaruh terhadap kesehatan penderita. Pengabdian kepada masyarakat desa binaan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melaluipelatihan kader malaria pada populasi khusus sebagai langkah nyata menuju eliminasi malaria di Kawasan Wisata Pesisir  Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan pengabdian iniadalah meningkatnya pengetahuan, pemahaman, sikap, praktik, meningkatkan literasi tentang pengobatan dan pencegahan malaria, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria, mencegah adanya kejadian luarbiasa (KLB) malaria serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pesisir. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemberian materi dan diskusi. Khalayak sasaran yang cukup strategis dalam kegiatan ini adalah 20 kader kesehatan. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup materi tentang upaya skrining dan pencegahan malaria. Diskusi dilakukan setelah pemberian materi selesai dilaksanakan. Peserta bertanya tentang materi yang belum dipahami tentang upaya skrining dan pencegahan malaria. Penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pemahaman tentang upaya skrining dan pencegahan malaria pada kader kesehatan di Desa Kunjir.Kata kunci:  eliminasi malaria, kader, pelatihan  
LANSIA SEHAT DAN MANDIRI: EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN SENAM KEBUGARAN DI UPTD PSLU TRESNA WERDHA NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Septiani, Linda; Kusumaningtyas, Intan; Happy, Terza Aflika; Mulya, Ireniza Pradevi; Idris, Mohamad; Andrifianie, Femmy; Rosa, Emantis; Setyaningrum, Endah; Lusina, Septia Eva
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3616

Abstract

Peningkatan jumlah lansia merupakan tantangan global dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Di Indonesia, tren ini terus meningkat setiap tahun, sehingga diperlukan strategi intervensi terpadu untuk menjaga kesehatan fisik dan mental serta meningkatkan kualitas hidup lansia. Salah satu aspek penting namun sering terabaikan dalam pelayanan kesehatan lansia adalah kesehatan reproduksi termasuk perubahan akibat menopause pada wanita dan andropause pada pria, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan emosional. Di sisi lain, rendahnya aktivitas fisik pada lansia juga memperbesar risiko penyakit degeneratif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang kesehatan reproduksi serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya senam kebugaran dalam menjaga kualitas hidup. Kegiatan dilaksanakan di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar, Kabupaten Lampung Selatan, melalui dua pendekatan utama, yaitu edukasi interaktif tentang kesehatan reproduksi dan pelatihan senam bugar lansia. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta observasi langsung terhadap keterlibatan peserta dalam kegiatan senam. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman lansia mengenai kesehatan reproduksi sebesar 80% serta partisipasi aktif dalam kegiatan fisik senam kebugaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa edukasi yang dikombinasikan dengan latihan fisik sederhana dapat menjadi strategi efektif dalam mewujudkan lansia yang sehat dan mandiri. Kata kunci: lansia, kesehatan reproduksi, senam kebugaran, menopause, andropause
Karakteristik Pasien Kanker Nasofaring di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2023-2024 Islami, Andi Rassya Daffa; Lusina, Septia Eva; Wibawa, Fatah Satya; Windarti, Indri
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1073

Abstract

Pendahuluan: Kanker Nasofaring (KNF) merupakan neoplasma yang umum di Asia Tenggara dan erat kaitannya dengan infeksi Epstein–Barr virus (EBV). Secara global terdapat sekitar 120.434 kasus, dengan Asia sebagai penyumbang terbesar mencapai 100.298 kasus. Variasi angka kejadian antarwilayah menunjukkan peran faktor lingkungan dan genetik dalam perkembangan penyakit ini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional dan analisis univariat ini menggunakan metode total sampling dari 85 rekam medis pasien di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek yang terkonfirmasi histopatologi KNF, pada periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Hasil: Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah usia dewasa (19–59 tahun) (84,7%) , berjenis kelamin laki-laki (69,2%), dan memiliki tipe histopatologi tidak berkeratin tidak berdiferensiasi (tipe IIb) paling dominan (77,6%). Pasien banyak terdiagnosis pada stadium lanjut, dengan persentase tertinggi pada stadium IVA (21,2%). Metastasis Kelenjar Getah Bening (KGB) tercatat pada 17,6% pasien. Pembahasan: Dominasi pasien laki-laki kemungkinan dipengaruhi faktor biologis, paparan lingkungan, dan kebiasaan hidup berisiko. Tipe histopatologi tidak berkeratin terutama yang tidak berdiferensiasi mencerminkan pola wilayah endemik Asia dan berkaitan dengan infeksi Epstein–Barr virus. Mayoritas kasus terdiagnosis pada stadium lanjut akibat gejala yang tidak spesifik. Simpulan: Pasien didominasi oleh laki-laki dewasa, dengan tipe karsinoma tidak berkeratin tidak berdiferensiasi tipe IIb, dan terdiagnosis pada stadium lanjut
Perbandingan Uji Daya Hambat Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Ekstrak Buah Lada Hitam (Piper nigrum) terhadap Jamur Malassezia furfur in vitro Baradatu, Mirza Sultan; Soleha, Tri Umiana; Lusina, Septia Eva; Apriliana, Ety
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1089

Abstract

Pendahuluan: Infeksi Malassezia furfur yang umum di Indonesia memerlukan alternatif pengobatan alami karena efek samping dan kasus resistensi pengobatan antijamur. Penelitian ini bertujuan membandingkan potensi antijamur ekstrak etanol 96% biji kopi robusta (Coffea canephora) dan lada hitam (Piper nigrum) yang merupakan komoditas lokal Provinsi Lampung dalam menghambat pertumbuhan Malassezia furfur secara in vitro. Metode: Studi eksperimental Post-test Only Control Group Design ini menguji ekstrak hasil maserasi etanol 96% menggunakan metode difusi sumuran pada media SDA. Perlakuan meliputi lima konsentrasi (100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%), kontrol positif (Terbinafine), dan kontrol negatif (Akuades). Diameter zona hambat yang terbentuk diukur dan dianalisis secara statistik. Hasil: Ekstrak kopi robusta konsentrasi 100%; 50%; 25%; 12,5%; 6,25% menghasilkan zona hambat berturut-turut 13,39 mm; 11,25 mm; 5,72 mm; 1,99 mm dan 0 mm. Sedangkan ekstrak lada hitam menghasilkan 7,75 mm; 6,94 mm; 1,60 mm; dan 0 mm pada konsentrasi 12,5% dan 6,25%. Kontrol positif (Terbinafine) sebesar 23,32 mm dan kontrol negatif 0 mm. Pembahasan: Ekstrak kopi robusta lebih unggul karena kandungan asam klorogenat dan kafeinnya mampu melisiskan sel jamur Malassezia furfur dan berdifusi baik. Berbeda dengan lada hitam, senyawa piperin yang bersifat lipofilik memiliki keterbatasan difusi pada media uji, sehingga zona hambatnya terbatas. Simpulan: Ekstrak etanol 96% biji kopi robusta memiliki daya hambat yang lebih besar dan signifikan dibandingkan ekstrak buah lada hitam dalam menghambat pertumbuhan jamur Malassezia furfur.
Luka Cakar dalam Kedokteran Forensik: Tinjauan Pustaka Naratif Lusina, Septia Eva; Dava, Mochamad Fauzan; Maharani, Mentari Putri; Sutardi, Muhammad Abdul Ghoni; Ghani, Muhammad Akmal
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka lecet gores adalah luka linier superfisial akibat gaya geser pada kulit, umumnya disebabkan oleh kuku, dan memiliki signifikansi penting dalam praktik kedokteran forensik meskipun tampak ringan secara klini. Tinjauan pustaka naratif ini bertujuan untuk membahas definisi, mekanisme terjadinya, karakteristik morfologi, lokasi anatomi, serta signifikansi forensik luka cakar berdasarkan literatur terkini. Penulisan ini merupakan studi kepustakaan (narrative literature review) yang bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif karakteristik, mekanisme, serta signifikansi mediko-legal luka cakar (scratch abrasions) dalam praktik kedokteran forensik Secara morfologis, luka cakar tampak sebagai goresan linier atau kurvilinear dangkal, dapat muncul tunggal atau berkelompok, dan sering tersusun sejajar sesuai arah gaya. Pola dan distribusinya memberikan petunjuk penting dalam rekonstruksi kejadian, terutama pada kasus kekerasan interpersonal seperti strangulasi dan kekerasan seksual, di mana luka cakar dapat berperan sebagai luka perlawanan atau bukti kontak agresif. Penentuan usia luka abrasi dilakukan melalui korelasi temuan makroskopik dan histopatologik, namun akurasinya dipengaruhi oleh variasi biologis individu, komorbiditas, dan faktor lingkungan. Oleh karena itu, interpretasi luka cakar harus dilakukan secara hati-hati dan terintegrasi dengan data klinis serta konteks forensik kasus.