Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang Adimas Buyar Alif; Irmawati Irmawati; Apdiyani Toalu; Rahmawati Azis
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.934

Abstract

Hypertension is a major public health problem worldwide that can lead to severe and life-threatening complications such as stroke, heart disease, kidney failure, and other cardiovascular disorders if not properly managed. This study aimed to analyze in greater depth the relationship between obesity, physical activity, and sleep patterns with the incidence of hypertension in the working area of the Sudiang Health Center in Makassar City. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed to ensure a comprehensive overview of the risk factors. A total of 100 respondents were selected from a population of 22,572 people using the Slovin formula with a ten percent margin of error and purposive sampling based on predetermined inclusion criteria. Data collection was conducted using structured questionnaires combined with medical records to increase the accuracy of the information obtained. The collected data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level set at 0.05. The results showed a significant relationship between obesity (p = 0.000), physical activity (p = 0.023), and sleep patterns (p = 0.019) with the incidence of hypertension. Respondents who were obese, performed low levels of physical activity, and had poor sleep patterns were more likely to develop hypertension. This study highlights the importance of maintaining an ideal body weight, increasing regular physical activity, and improving sleep patterns. Health professionals are expected to strengthen education, counseling, and regular monitoring to control modifiable lifestyle risk factors within the community effectively.
Ketidakseimbangan Kehidupan-Kerja Dan Kesejahteraan Psikologis Terhadap Keterikatan Kerja Dokter Umum Makassar Alif Nur Ramadhan; Rahmawati Azis; Muhammad Syafar
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55619

Abstract

Abstrak Ketidakseimbangan kehidupan-kerja (work-life imbalance/WLI) semakin sering dialami dokter umum Generasi Z yang menghadapi beban kerja tinggi, jadwal tidak teratur, dan fase transisi karier awal, sehingga berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis (psychological well-being/PWB) dan keterikatan kerja (work engagement/WE). Penelitian ini menganalisis pengaruh WLI terhadap PWB serta peran mediasi PWB pada hubungan WLI dan WE pada dokter umum di Kota Makassar. Desain penelitian kuantitatif potong lintang (cross-sectional) digunakan pada 60 responden berusia 24–28 tahun yang dipilih dengan purposive sampling. WLI diukur menggunakan adaptasi Work Family Conflict Scale (9 item; Likert 1–5), PWB menggunakan Ryff’s PWB Scale versi pendek (12 item; 4 dimensi; Likert 1–6), dan WE menggunakan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9; Likert 0–6). Analisis mencakup korelasi Pearson, regresi linier, serta uji mediasi (path analysis) dengan bootstrapping. Hasil menunjukkan WLI berhubungan negatif signifikan dengan PWB (r = -0,38; p < 0,01) dan WE (r = -0,295; p < 0,05). PWB berpengaruh positif signifikan terhadap WE (β = 0,51; p < 0,001). Uji mediasi menunjukkan efek tidak langsung WLI terhadap WE melalui PWB signifikan (β = -0,193; p = 0,008), sedangkan efek langsung tetap signifikan (β = -0,295; p = 0,021), menandakan mediasi parsial dengan kontribusi 46,3%. Hanya 25% responden memiliki keterikatan kerja tinggi. Kata Kunci: Ketidakseimbangan Kehidupan-Kerja, Kesejahteraan Psikologis, Keterikatan Kerja, Dokter Umum, Generasi Z, Makassar.
Analisis Strategi Promosi Kesehatan Dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer Di Puskesmas Tiakur Kabupaten Maluku Barat Daya Heronika Anthonia Marcus; Rahmawati Azis; Jalil Genisa
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1455

Abstract

Layanan kesehatan primer merupakan fondasi utama sistem kesehatan yang mampu memenuhi hingga 90 persen kebutuhan kesehatan masyarakat sepanjang siklus hidup, namun implementasinya di daerah kepulauan terpencil seperti Kabupaten Maluku Barat Daya masih menghadapi tantangan struktural pada 2023. Program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan sejak Agustus 2023 menuntut strategi promosi kesehatan berupa advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat, namun kesiapan pelaksanaannya di Puskesmas Tiakur belum terkaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi promosi kesehatan dalam implementasi ILP di Puskesmas Tiakur, Kabupaten Maluku Barat Daya, tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sepuluh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Program ILP, petugas promosi kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan masyarakat penerima layanan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan advokasi berjalan lancar melalui pertemuan rutin tiga hingga enam bulan sekali dengan pemangku kepentingan lintas sektor, bina suasana memanfaatkan jalur keagamaan dan tiga platform media sosial, sedangkan pemberdayaan masyarakat masih terbatas pada pembelajaran sambil bekerja tanpa pelatihan formal bagi kader. Hambatan utama meliputi rangkap tugas satu-satunya petugas promosi kesehatan, sistem informasi puskesmas yang belum terintegrasi, keterbatasan transportasi antarpulau, serta rendahnya kesadaran sebagian kelompok dewasa untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Strategi promosi kesehatan di Puskesmas Tiakur telah berjalan namun masih bertumpu pada modal sosial dan komitmen personal, belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis, sehingga diperlukan penguatan sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, dan dukungan sarana transportasi laut untuk keberlanjutan implementasi ILP di wilayah kepulauan terpencil.
Analisis Indeks Eritrosit Dan Kadar Serum Feritin Sebagai Indikator Risiko Anemia Dalam Mendukung Pengembangan Program Promosi Kesehatan Di Rs Dr.Tadjuddin Chalid Makassar Rezqiqah Aulia Rahmat; Rahmawati Azis; Muh. Ilyas Nur
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1511

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih memiliki prevalensi tinggi dan berdampak terhadap kualitas hidup serta produktivitas. Indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC) serta kadar serum feritin merupakan parameter laboratorium yang berperan dalam deteksi dini anemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran indeks eritrosit dan kadar serum feritin, hubungannya dengan kejadian anemia, serta pemanfaatannya dalam mendukung pengembangan Program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) di RS Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain crosssectional menggunakan data sekunder rekam medis 1.500 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki nilai indeks eritrosit dan kadar serum feritin normal. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa MCV, MCH, MCHC, dan kadar serum feritin berhubungan signifikan dengan kejadian anemia (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa MCV rendah merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian anemia (OR=5,31; 95% CI=3,95–7,21), diikuti MCH rendah (OR=3,31), kadar serum feritin rendah (OR=2,32), dan MCHC rendah (OR=1,84). Disimpulkan bahwa indeks eritrosit dan kadar serum feritin merupakan indikator yang berhubungan dengan kejadian anemia dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar deteksi dini serta pengembangan PKRS melalui skrining, edukasi kesehatan, konseling gizi, dan intervensi promotive bagi kelompok berisiko
Implementation of Clean and Healthy Living Behaviors among Households in the Service Area of Pattalassang Health Center, Gowa District Muhammad Ilyas; Muhammad Syafar; Rahmawati Azis
HealthCare Nursing Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HealthCare Nursing Journal
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/healthcare.v8i1.6685

Abstract

This research aims to analyze the implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in households in the work area of the Patalassang Community Health Center, Gowa Regency. This research aimed to examine the encouraging and inhibiting factors for household PHBS implementation. The research was carried out using in-depth interviews and observations of informants who manage PHBS at the community health center level, as well as housewives and community leaders and assisted with data analysis software called MAXQDA which was used to explore the factors driving and inhibiting the implementation of PHBS through in-depth interviews, focus group discussions, and observation. The research results showed that adequate knowledge about PHBS, social support, both from family, community health centers and the government, as well as educational programs run by community health centers are the main driving factors. On the other hand, lack of knowledge, low personal awareness, and limited facilities such as sanitation, clean water and proper toilets are significant obstacles in implementing PHBS. The conclusions of this research emphasize the importance of increasing health education, strengthening social support, providing adequate sanitation facilities, and increasing individual awareness and motivation to achieve optimal PHBS implementation. With an integrated and collaborative approach, it is hoped that the implementation of PHBS in households in the Patalassang Community Health Center working area can continue to be improved, thus contributing to improving the overall quality of community health.
Pengaruh Kualitas Makanan Terhadap Plate Waste Pasien Rawat Inap Di RSUD Weda Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara Mardina Sulistiawati; Rahmawati Azis; Jalil Genisa
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1415

Abstract

Sisa makanan (plate waste) di rumah sakit merupakan indikator mutu pelayanan gizi yang berdampak pada status gizi pasien, efisiensi biaya operasional, dan keberlanjutan sumber daya rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penampilan makanan, peralatan makan, kebersihan penyajian, konsistensi rasa makanan, dan ketepatan waktu penyajian terhadap sisa makanan pasien rawat inap. Desain penelitian bersifat kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 98 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling dari populasi 4.488 pasien Ruang Interna dan Kebidanan, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan 46,9 persen responden memiliki sisa makanan kategori banyak (>20%), dan kelima variabel terbukti berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap plate waste. Konsistensi rasa makanan merupakan faktor paling dominan (OR=5,739), diikuti kebersihan penyajian (OR=4,163), penampilan makanan (OR=3,452), peralatan makan (OR=2,916), dan ketepatan waktu penyajian (OR=2,879). Kelima variabel secara bersama-sama mampu menjelaskan variasi plate waste sebesar 59,3 persen, dengan ketepatan klasifikasi model sebesar 77,6 persen. Perbaikan mutu makanan, khususnya aspek konsistensi rasa dan kebersihan penyajian, perlu diprioritaskan instalasi gizi guna menekan angka plate waste sesuai standar pelayanan minimal rumah sakit.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Capaian Penemuan Kasus (Case Detection Rate) Tuberculosis Di Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan Grace Wieke Hitijahubessy Hitijahubessy; Muh. Ilyas Nur; Siti Nurfaizah; Rahmawati Azis
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1559

Abstract

Tuberkulosis tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama dengan beban kasus tinggi di Indonesia. Capaian Case Detection Rate (CDR) TB di Kabupaten Pegunungan Bintang menunjukkan tren fluktuatif dan konsisten di bawah target nasional 70 persen, yakni 36,6 persen (2021), 24,4 persen (2022), 49,2 persen (2023), 34,3 persen (2024), dan 33,7 persen (2025), akibat kondisi geografis ekstrem dan keterbatasan sumber daya kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh strategi penemuan kasus, ketersediaan SDM kesehatan, sistem pencatatan dan pelaporan, ketersediaan alat diagnostik, dan akses diagnosis ke rumah sakit terhadap capaian CDR TB, serta mengidentifikasi faktor paling dominan. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei eksplanatori dan desain cross-sectional ini melibatkan seluruh 35 puskesmas sebagai sampel melalui total sampling, dengan 70 responden terdiri atas kepala puskesmas dan pemegang program TB; data dikumpulkan secara hybrid (daring-luring) dan dianalisis univariat, bivariat (Chi-Square/Fisher's Exact Test), serta multivariat (regresi logistik berganda). Hasil bivariat menunjukkan kelima variabel berhubungan signifikan dengan CDR TB (p=0,001; 0,002; 0,004; 0,001; 0,000), namun analisis multivariat mengalami kegagalan konvergensi sehingga faktor dominan belum dapat ditentukan secara valid. Kelima faktor tersebut konsisten berkontribusi terhadap rendahnya penemuan kasus TB di wilayah dengan tantangan geografis ekstrem. Penguatan strategi penemuan aktif, SDM, sistem pencatatan, sarana diagnostik, dan akses rujukan diperlukan secara simultan untuk meningkatkan CDR TB, disertai kajian lanjutan dengan model analisis yang lebih stabil.