Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Differences in Chest X-Ray Imaging in Pulmonary Tuberculosis across Various Comorbidities Subkhan, Mohammad; Rezacharawa, Meltritania Arief; Putra, Muslim Andala; Laitupa, Afrita Amalia; Permana, Putu Bagus Dharma; Irfana, Laily
MAGNA MEDIKA Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/magnamed.11.2.2024.169-180

Abstract

Background:  Tuberculosis (TB) remains a significant public health concern in Indonesia, with a high prevalence of cases, particularly in patients with comorbidities such as HIV infection, chronic obstructive pulmonary disease (COPD), diabetes mellitus (DM), and chronic kidney disease (CKD). Evidence suggested radiological variations in chest X-ray findings among these complex condition, which may pose significant challenges in accurately diagnosing pulmonary TB in clinical practice.Objective:  This study aimed to provide a comprehensive understanding of the variations in chest X-ray imaging in pulmonary TB patients with specific comorbidities, focusing on DM, CKD, and COPD.Methods: A cross-sectional study was conducted at Siti Khodijah Muhammadiyah Sepanjang Hospital by utilizing standardized medical records and chest X-ray results of 50 pulmonary patients with comorbidities.Results: The most prevalent comorbidity was DM, with radiological findings including fibroinfiltrates, consolidations, and cavities. CKD patients exhibited radiological features such as infiltrates, cavitations, and pleural effusion, while COPD patients presented with infiltrates and consolidations. Conclusion: The study provides valuable insights into the radiological manifestations of pulmonary TB and its comorbidities, offering a basis for improved management and treatment strategies for patients with pulmonary TB and comorbidities. Further research employing longitudinal designs and balanced representation of comorbid conditions is recommended to enhance the understanding of the interplay between TB and associated health conditions.
Literature Review: Pengaruh Pegagan terhadap Penyembuhan Luka Bakar Kusumaningrum, Aliffia Ayu; Primadina, Nova; Laitupa, Afrita Amalia; Triastuti, Nenny
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.059 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i7.10728

Abstract

ABSTRACT Burns are injuries caused by the passage of energy from a heat source to the body's tissue under the skin. Each year, 265,000 people die from burns globally, according to WHO (2014). Both traditional and conventional medicine have been used to treat burns, but the price of conventional drugs is relatively high, resulting in inefficient use and side effects such as scar tissue formation, whereas traditional medicine is feared for infection and decreased drug effectiveness due to improper processing. The purpose of this Literature Review is to assess the effect of Centella asiatica on burn healing in general, as well as to investigate the healing quality of burns and the content of Centella asiatica compounds that can cure burns in particular.The search engines Garuda, Google Scholar, ProQuest, Science Direct, and PubMed are used to access and collect data for the study. The search strategy is full-text articles in English and Indonesian from 2012 to 2022. According to comparative research, gotu kola has an anti-inflammatory impact that inhibits inhibition of the proliferative process, and saponin content can speed the creation of connective tissue from collagen type I to type III and avoid scar formation. If there is too much type I collagen, it will burn, asiaticoside will act as an antioxidant, and madecoside will act as an antibacterial.  Asiatica has the capacity to cure second degree A (superficial) burns, especially when the leaves are applied. The extract required is sorted by speed, percentage of healing, and medicinal gel administration (HPMC) 96% ethanol gel extract, 70% ethanol extract, 2% Gotu Kola herb, and 2% ethanol extract 96% ethanolic extract gel of Pegagan herb 6% with 8% HPMC concentration, and 96% herb ethanol extract Gotu Kola 6% in the form of Carbopol 934 gel. Keywords: Centella Asiatica Extract, Burn Healing, Gotu Kola Effect  ABSTRAK Luka bakar adalah kerusakan jaringan bawah kulit tubuh yang diakibatkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. WHO (2014) memperkirakan 265.000 orang meninggal disebabkan luka bakar setiap tahun di dunia. Pengobatan luka bakar sudah banyak beredar  baik secara tradisional maupun obat konvensional namun harganya relatif mahal untuk obat konvensional menyebabkan penggunaan tidak maksimal serta memiliki efek samping seperti pembentukan jaringan parut sementara obat tradisional ditakutkan terjadinya infeksi dan penurunan efektivitas obat akibat pengolahan tidak tepat. Literature Review ini bertujuan secara umum untuk mengetahui pengaruh pegagan terhadap penyembuhan luka bakar dan secara khusus, untuk menganalisa kualitas penyembuhan luka bakar dan melihat kandungan senyawa pegagan yang bisa menyembuhkan luka bakar. Studi menggunakan metode pengambilan dan pengumpulan informasi melalui mesin pencarian Garuda, Google Scholar, Science Direct, dan PubMed. Algoritme pencarian yang digunakan berupa artikel teks lengkap, berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia dari tahun 2012-2022. Berdasarkan artikel-artikel perbandingan diketahui bahwa penelitian pegagan pada luka bakar memiliki efek sebagai penyembuh luka bakar dengan kandungan flavonoid sebagai anti-inflamasi yang mencegah terhambatnya proses proliferasi, kandungan saponin bisa mempercepat pembentukan jaringan ikat dari kolagen tipe I ke tipe III dan mencegah pembentukan bekas luka bakar jika jumlah kolagen tipe I terlalu banyak, asiatikosida sebagai antioksidan, dan madekosida sebagai antibakteri . Tanaman obat Pegagan memiliki efek penyembuhan luka bakar derajat II A (dangkal) terutama penggunaan bagian daunnya, Ekstrak yang dibutuhkan jika diurut dari kecepatan, persentase kesembuhan, pengaplikasiannya jatuh kepada dasar obat gel (HPMC) ekstrak Etanol 70% Herba Pegagan 2%, Gel ekstrak etanol 96% herba Pegagan 5% dengan konsentrasi Carbopol 940 1%, Ekstrak etanol 70% herba Pegagan 3% dengan konsentrasi Gel Carbopol 940 1%, Gel ekstrak etanol 96% herba Pegagan 6% dengan konsentrasi HPMC 8%, Ekstrak Etanol 96% Herba Pegagan 6% dalam bentuk gel Carbopol 934, dan senyawa dalam tanaman obat Pegagan dapat menyembuhkan luka bakar adalah flavonoid, saponin, dan asiatikosida dengan fungsi masing-masingnya Kata Kunci: Ekstrak Pegagan, Penyembuhan Luka Bakar, Efek Pegagan
Hubungan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Berulang Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jabungsisir Kabupaten Probolinggo Septian, Mir'atul Faroha; Djalillah, Gina Noor; Mochtar , Nur Mujadiddah; Laitupa , Afrita Amalia
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 1 (2025): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i1.25640

Abstract

Latar Belakang: ISPA adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pernapasan. ISPA yang terjadi secara berulang pada balita dapat menyebabkan defisit nutrisi dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan terjadinya stunting. Tujuan: Menganalisis hubungan ISPA berulang terhadap kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Jabungsisir. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan teknik pengambilan simple random sampling pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Jabungsisir. Hasil: Dari hasil uji chi square terdapat indikator yang signifikan berhubungan yaitu stunting dengan karakteristik usia balita (p=0,000). Tidak signifikan berhubungan pada indikator karakteristik jenis kelamin balita (p=0,426), pendidikan ibu (p=0,628), usia ibu (p=0,840), pendapatan keluarga (p=0,139) dengan stunting. Frekuensi ISPA berulang (84,61%) dan balita stunted (44,23%). Ditemukan adanya hubungan ISPA berulang terhadap kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Jabungsisir dengan nilai p=0,000. Kesimpulan: ISPA berulang memiliki hubungan dan merupakan faktor risiko terjadinya stunting sehingga pemerintah dan fasilitas kesehatan harus mengatasi masalah infeksi terlebih dahulu agar asupan nutrisi pada balita bisa adekuat. Kata Kunci : ISPA Berulang, Stunting, Balita
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP NILAI VO₂MAX PADA ATLET KONI JAWA TIMUR Muhammad Daffa Akbar Alamsyah; Kartika Prahasanti; Afrita Amalia Laitupa
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 3 No 1 (2026): JurnalMU : Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v3i1.32615

Abstract

Latar Belakang: Hemoglobin berperan penting dalam mengangkut oksigen ke jaringan tubuh, yang berpengaruh terhadap kapasitas aerobik seseorang. VO₂Max merupakan indikator utama kebugaran kardiorespirasi dan sering digunakan dalam menilai performa atlet. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dan nilai VO₂Max pada atlet KONI Jawa Timur. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang ini melibatkan 53 atlet. Kadar hemoglobin diukur melalui pemeriksaan laboratorium darah rutin, sedangkan VO₂Max diestimasi dengan Multistage Fitness Test. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Rerata hemoglobin keseluruhan adalah 14,99 ± 1,42 g/dL, sedangkan rata-rata VO₂Max sebesar 34,4 ± 9,58 mL/kg/menit. Uji korelasi menunjukkan nilai r = 0,085 dengan p = 0,545, yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dan VO₂Max. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan bermakna antara kadar hemoglobin dan VO₂Max pada atlet KONI Jawa Timur. Faktor lain di luar hemoglobin kemungkinan lebih berpengaruh terhadap kapasitas aerobic.
HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI RUMAH SAKIT SITI KHODIJAH SEPANJANG SIDOARJO TAHUN 2019 Gina Noor Djajilah; Ummu Khonsa; Afrita Amalia Laitupa; Sholihul Absor
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 3 (2023): Proceeding Series Fakultas Kedokteran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ps.v2i1.19417

Abstract

Pneumonia is still the leading cause of death in children under five with four million deaths in developing countries. In Indonesia, the incidence in infants and toddlers ranges from 10 - 20% per year (Maryunani, 2010). In Indonesia alone, the incidence of pneumonia in children under five in 2016 reached 568,146 cases (4.0%) out of a total number of 13,960,310 children under five in Indonesia, which ranked first on the list of deadly diseases in toddlers (Kemenkes RI, 2017; Ellita, 2013). To analyze the relationship between Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) on the incidence of pneumonia in children under five at Siti Khodijah Hospital Sepanjang Sidoarjo. This study used a retrospective design with a total sampling technique of pneumonia in children under five years old at Siti Khodijah Muhammadiyah Hospital Sepanjang Branch in March 2020 – May 2021. Data sampling using patient medical records and questionnaires. The analysis using univariate test, bivariate with chi square and multivariate with logistic regression. From the 48 respondents after being tested on univariate analysis, it was found that the univariate indicators of doing physical activity every day category achieved the highest as many as 43 people (89.6%) and the least in the category of eradicating larvae at home as many as 21 people (43%). Bivariate using the chi square test stated that there were significant indicators of a relationship, including exclusive breastfeeding (p = 0.000), not smoking in the house (p = 0.000), using clean water (p = 0.004), eradicating larvae at home (p = 0.000) and consumption of fruits and vegetables every day (p=0.000), washing hands with clean water and soap (p=0.001) and there was no significant relationship between pneumonia in children under five at Siti Khodijah Hospital Sepanjang Sidoarjo because the symp value was not valid. Sig (2-sided) and shows p>0.05, namely CHLB delivery assisted by health workers (p=0.746), weighing infants and toddlers (p=0.266), using healthy latrines (p=0.241) and doing physical activity every day. days (p=0.111). The CHLB indicator has a p value (sig) of 0.000 <0.05, which means that the CHL variable is related to the incidence of pneumonia in children under five at Siti Khodijah Hospital Sepanjang Sidoarjo. The highest OR value is on the indicator of not smoking in the house, which means that smoking in the house is at risk of 5,849 times higher. In the multivariate test using logistic regression, there was no effect on each indicator the value of p value (sig) > 0.05 because the logistic regression test did not meet the requirements sample. The indicator of doing physical activity every day category achieved the highest as many as 43 people (89.6%). There are significant indicators through the chi square test, namely providing exclusive breastfeeding (p = 0.000), not smoking in the house (p = 0.000), using clean water (p = 0.004), eradicating larvae at home (p = 0.000) and consuming fruit and vegetables every day (p=0.000), washing hands with clean water and soap (p=0.001). Indicators of Clean and Healthy Living Behavior have a p value (sig) of 0.000 < 0.05, which means that the variable of Clean and Healthy Living Behavior is related to the incidence of pneumonia in children under five at Siti Khodijah Hospital Sepanjang Sidoarjo. The logistic regression test did not meet the sample requirements.Keywords: Pneumonia, Clean and Healthy Living Behavior, Pneumonia in Toddlers