Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISIS INFECTION CONTROL SELF ASSESSMENT TOOL (ICAT) MODUL 1-4 DI KLINIK PRATAMA PMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (DIY) Siti Maria Ulfah; Maria Ulfa; Kusbaryanto Kusbaryanto
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Infeksi nosokomial atau Healthcare Acquired Infections (HAIs) semakin meningkat. Di Indonesia untuk fasilitas layanan primer belum terdapat alat untuk mengukur risiko pengendalian infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah metode Infection Control Self Assessment Tool (ICAT) for Primary Health Care Facilities dapat digunakan sebagai penilaian risiko infeksi di Klinik pratama PMI DIY, serta mengetahui pengendalian infeksi di Klinik pratama PMI DIY. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan cara telusur dokumen, observasi dan wawancara berdasarkan ICAT modul 1-4 yaitu modul Informasi Fasilitas Kesehatan, modul kesehatan karyawan, modul membersihkan fasilitas kesehatan serta modul Kebersihan Tangan. Proses pengambilan sampling dengan Purposive Sampling dengan subyek pihak manajemen serta karyawan Klinik Pratama PMI Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada 23 hingga 26 januari 2017. Hasil: ICAT Modul Fasilitas Kesehatan, Membersihkan Fasilitas Kesehatan serta modul Kebersihan Tangan dapat di aplikasikan dengan persentasi 100%, namun pada modul Kesehatan Karyawan hanya didapatkan persentasi 95%. Pengendalian infeksi bedasarkan ICAT pada klinik pratama PMI DIY total keseluruhan dengan persentasi 84.90%. Kesimpulan: Semua modul instrumen ICAT dapat digunakan sebagai penilaian resiko infeksi pada Klinik pratama PMI DIY dengan memerlukan sedikit modifikasi pada modul kesehatan karyawan. Pengendalian infeksi bedasarkan ICAT modul 1-4 pada klinik pratama PMI DIY dalam kategori sangat baik.Kata kunci: Infection Control Risk Assesment, Infection Control Self Assesment Tool,USAID,Pengendalian Infeksi, Primary Health CareABSTRACTBackground: Nosocomial infections or Healthcare Acquired Infections (HAIs) are increasing. in Indonesia, for primary care facilities there is no tool to measure infection control risk. This study aims to find out whether the method of Infection Control Self Assessment Tool (ICAT) for Primary Health Care Facilities can be used as the risk assessment of infection in the PMI DIY Pratama Clinic as well as to know infection control in Primary Clinic PMI DIY. Method: Quantitative research with a descriptive approach using document search, observation, and interview based on ICAT module 1-4 consisting Health Facility Information, Employee Health, Cleaning Health Facility and Hand Hygiene module. Sampling process with Purposive Sampling with subject of management side and employees of Primary Clinic PMI Daerah Istimewa Yogyakarta. The study was conducted on 23 to 26 januari 2017.Result: ICAT Health Facility, Cleaning Health Facility, and Hand Hygiene module can be applied to the percentage of 100%, but in Employee Health module only get percentage rate of 95%. Infection control based on ICAT at primary clinic PMI DIY overall with an average achievement of value with the percentage of 84.90%.Conclusions: All ICAT instrument modules can be used as an infection risk assessment at PMI DIY Primary Clinic with slight modifications on the employee health module. Infection control based on ICAT module 1-4 at PMI DIY pratama clinic in very good category.Keywords : Infection Control Risk Assesment, Infection Control Self Assesment Tool, Infection Control,Primary Health Care,USAID
Gambaran pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa Try Yogi Damar Pamungkas; Rose Indriyati; Siti Maria Ulfah
Hik Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2013

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a permanent and progressive decline in kidney function, causing the kidneys to lose their ability to regulate fluid balance, electrolytes, and body metabolism. In the final stages, CKD patients require renal replacement therapy such as hemodialysis to maintain quality of life and prevent complications. Hemodialysis works through the processes of diffusion, osmosis, and ultrafiltration to cleanse the blood of metabolic waste. Purpose: To get an overview of chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. Method: This retrospective descriptive study involved 65 respondents selected using total sampling technique from secondary medical record data at Arjawinangun Regional Hospital, Cirebon Regency in 2024, with research instruments including demographic variables, clinical conditions (body weight, comorbidities, duration of hemodialysis), and laboratory parameters in the form of urea levels, creatinine, and eGFR values. Results: The majority of female patients who are at risk of kidney disease diagnosed with chronic failure, patients who will undergo hemodialysis treatment are late adult women with low education, most of whom have hypertension as a comorbidity, the highest serum urea levels in the category (100 - 200 mg / dL) and the highest serum creatinine levels in the category (5.00 - 10.00) and the average eLFG shows a decrease in kidney function in the category (< 6 mL / min). Conclusion: Most chronic kidney failure patients are in the end-stage condition (stage 5) with a very significant decline in kidney function eGFR < 6 mL/min, whose profile is dominated by the productive age group and elderly women with low educational background and a history of hypertension as the main comorbidity. Suggestion: Further researchers should examine the relationship between urea, creatinine, and eGFR levels with patient demographic and clinical factors and conduct long-term studies of hemodialysis therapy based on patient characteristics, weight gain, and quality of life.   Keywords: Chronic Kidney Failure; Creatinine; Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR); Hemodialysis; Urea Levels.   Pendahuluan: Penurunan fungsi ginjal yang mengakibatkan progesif disebut dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK), dan akan terjadi permanen, maka dalam penggunaan ginjal kehilangan kemampuan mengatur keseimbangan, antara lain merupakan cairan, juga elektrolit, serta metabolisme yang ada dalam tubuh. Akan ada terapi pergantian ginjal di masa tahap terakhir yang disebut sebagai hemodialisa. Itu merupakan cara   mempertahankan kualitas di hidup juga mencegah komplikasi. Hemodialisa bekerja dengan proses pemindahan partikel suatu zat yaitu difusi serta osmosis, dan ultrafiltrasi yang berperan untuk membersihkan darah dari sisa metabolisme. Tujuan: Untuk mendapatkan gambaran pasien gagal ginjal kronis dalam menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini melibatkan 65 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling dari data sekunder rekam medis di RSUD Arjawinangun, Kabupaten Cirebon tahun 2024, dengan instrumen penelitian mencakup variabel demografi, kondisi klinis (berat badan, komorbid, lama hemodialisa), serta parameter laboratorium berupa kadar ureum, kreatinin, dan nilai eLFG. Hasil: Mayoritas penderita berjenis kelamin perempuan yang menjadi pasien beresiko ginjal yang didiagnosis gagal kronik, penderita akan menempuh pengobatan hemodialisa yakni perempuan usia dewasa akhir dengan pendidikan rendah, sebagian besar memiliki hipertensi sebagai komorbid, kadar ureum serum terbanyak pada kategori (100 – 200 mg/dL) dan kadar kreatinin serum terbanyak pada kategori (5.00 – 10.00) serta rata-rata eLFG menunjukkan penurunan fungsi ginjal pada kategori (< 6 mL/min). Simpulan: Sebagian besar pasien gagal ginjal kronis berada pada kondisi stadium akhir (stadium 5) dengan penurunan fungsi ginjal yang sangat signifikan eLFG < 6 mL/min, yang profilnya didominasi oleh kelompok usia produktif dan lansia perempuan dengan latar belakang pendidikan rendah serta memiliki riwayat hipertensi sebagai penyakit penyerta utama. Saran: Peneliti selanjutnya agar meneliti mengenai hubungan antara kadar ureum, kreatinin, dan eLFG dengan faktor demografis dan klinis pasien serta melakukan penelitian jangka panjang terapi hemodialisa berdasarkan karakteristik pasien, peningkatan berat badan dan kualitas hidup.   Kata Kunci: Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eLFG); Gagal Ginjal Kronis; Hemodialisa; Kadar Ureum; Kreatinin.
Gambaran Womac Index dan Range of Motion Aktif Pada Pasien Osteoarthritis Genu di RSUD Waled Kabupaten Cirebon Tina Astuti; Moh. Irwan Dharmansyah; Taufan Herwindo Dewangga; Siti Maria Ulfah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.22456

Abstract

ABSTRACT Osteoarthritis is a degenerative condition of the joints that causes damage to the joint cartilage, thickening of the bone underneath the cartilage, bone formation around the joint edges, and mild inflammation of the synovial lining. Risk factors for this disease include age, female gender, obesity, physical activity level, genetic factors, race, joint trauma, physical inactivity, obesity, and metabolic diseases such as diabetes can worsen the condition of OA. To measure activities of daily living and body function the Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) is an appropriate measurement tool to assess activities of daily living and body function and Range Of Motion to assess joint movement. Knowing the description of the WOMAC index and active range of motion in patients with genu osteoarthritis at Waled Hospital, Cirebon Regency. This study uses a quantitative descriptive method, which aims to get an overview or description of a situation objectively. Data were collected using total sampling technique and 32 samples were obtained. Patients diagnosed with genu Osteoarthritis were 32 (100.0%), the majority were aged 45-59 years 18 (56.3%), mostly female 27 (84.4%), with the most womac index score obtained as heavy as 16 (50.0%) and the majority of active range of motion was limited to the right leg with flexion 29 (90.6%) and extension 19 (59.4%). Osteoarthritis genu patients totaling 32 patients, the majority aged 45-59 years, mostly female with the results of the womac index obtained heavy and the results of active range of motion are mostly limited. Keywords: Osteoarthritis, Womac Index, Active Range of Motion.  ABSTRAK Osteoartritis adalah kondisi degeneratif pada sendi yang menyebabkan kerusakan pada kartilago sendi, penebalan tulang di bawah kartilago, pembentukan tulang di sekitar tepi sendi, serta peradangan ringan pada lapisan sinovial. Faktor risiko penyakit ini meliputi usia, jenis kelamin perempuan, obesitas, tingkat aktivitas fisik, faktor genetik, ras, trauma sendi, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, serta penyakit metabolik seperti diabetes dapat memperburuk kondisi OA. Untuk mengukur aktivitas kehidupan sehari-hari dan fungsi tubuh Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) adalah alat ukur yang tepat untuk menilai aktivitas kehidupan sehari-hari dan fungsi tubuh dan Range Of Motion untuk menilai gerakan sendi. Mengetahui gambaran womac index dan range of motion aktif pada pasien osteoarthritis genu di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Pengambilan data dilakukan dengan teknik total sampling dan didapatkan 32 sampel. Pasien yang terdiagnosis Osteoarthritis genu seluruhnya sebanyak 32(100,0%), mayoritas berusia 45-59 tahun 18 (56,3%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan 27 (84,4%), dengan skor womac index terbanyak didapatkan berat sebanyak 16 (50,0%) dan range of motion aktif mayoritas terbatas pada kaki kanan dengan fleksi 29 (90,6%) dan ekstensi 19 (59,4%). Pasien Osteoarthritis genu seluruhnya sebanyak 32 pasien, mayoritas berusia 45-59 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan dengan hasil womac index didapatkan berat dan hasil range of motion aktif sebagian besar terbatas. Kata Kunci: Osteoarthritis, Womac Index, Range of Motion Aktif.
Karakteristik Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon Periode 2024 Syamsul Muarif; Siti Maria Ulfah; Nihayatul Amaliyah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i5.64309

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah suatu gangguan pada ginjal ditandai dengan abnormalitas struktur ataupun fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Gagal ginjal kronis biasanya juga ditandai dengan adanya penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia jumlah kasus di Indonesia sebanyak 1.602.059 orang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon Periode Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian observasional deskriptif untuk menilai karakteristik pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di RSD Gunung Jati Cirebon periode tahun 2024. Dari 128 sampel pasien gagal ginjal kronis prevalensi tertinggi berdasarkan usia terbanyak pada kelompok lansia awal 46-55 tahun 49 orang (38,3%), jenis kelamin terbanyak laki-laki 67 orang (52,3%), lama hemodialisa terbanyak 1-12 bulan 51 orang (39,8%), pekerjaan terbanyak kelompok yang tidak bekerja 111 orang (86,7%), penyakit penyebab terbanyak hipertensi 96 orang (75%), kreatinin serum tinggi sebanyak 99 orang (77,3%), anemia sedang sebanyak 74 orang (57,8%). Prevalensi tertinggi pasien Gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon Periode 2024 adalah usia lansia awal 46-55 tahun, jenis kelamin laki-laki, lama hemodialisa 1-12 bulan, kelompok tidak bekerja, kreatinin serum tinggi, dan anemia sedang.
Nutritional Knowledge and Dietary Behavior Among Hemodialysis Patients With Chronic Kidney Disease: A Cross-Sectional Study at Gunung Jati Hospital Mohamad Bintang Rizki; Siti Maria Ulfah; Thysa Thysmelia Affandi
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 4 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i4.765

Abstract

This study aimed to assess the level of nutritional knowledge, eating behavior, and the association between nutritional knowledge and eating behavior among patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis at Gunung Jati Hospital, Cirebon City. This quantitative study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach and was conducted at the Hemodialysis Unit of Gunung Jati Hospital. A total of 58 respondents were selected using simple random sampling. Primary data were collected through structured questionnaires and interviews to assess nutritional knowledge and eating behavior. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. The results showed a statistically significant association between nutritional knowledge and eating behavior (r = 0.390; p = 0.002), indicating a moderate positive correlation. These findings suggest that higher levels of nutritional knowledge are associated with better eating behavior among patients with CKD undergoing hemodialysis. Strengthening nutrition education programs may help improve patients' understanding and support healthier dietary practices as part of comprehensive CKD management
Hubungan Pekerjaan dan Usia Dengan Angka Kejadian Hernia Inguinalis di RSUD Waled Cirebon Periode Januari 2022-Desember 2023 Vivi Silviana Ramadani; Evan Wahyudy Ladala; Siti Maria Ulfah
EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies Vol. 5 No. 3 (2025): EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/edu.v5i3.9867

Abstract

Inguinal Hernia is the emergence of protrusion in the groin. The incidence of Inguinal Hernia in Indonesia is 75% compared to other hernias. Inguinal Hernia in West Java 4,567 cases. Inguinal Hernia occurs due to several factors, namely modifiable (obesity), and non-modifiable (age), and other factors such as work. to determine the correlation between occupation and age with the incidence of inguinal hernia at Waled Cirebon Regional Hospital. analytical observational study with a cross-sectional approach. Data collection was carried out secondary by collecting medical record data. The sampling method used the Lemeshow method many as 96 samples. Data analysis will be tested using a data processing application. The highest frequency of inguinal hernia patients at RSUD Waled Cirebon is 91.7% of patients with lateral inguinal hernia. The highest frequency of work was 83.3% of patients with physical work, and the highest age frequency was 71.9% in adults. The results of the contingency coefficient show that there is no correlation between occupation and the incidence of inguinal hernias (p=0.741), and there is no correlation between ages and the incidence of inguinal hernias (p= 0.927). there is no significant correlation between work and age with the incidence of inguinal hernia.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Jenis Kelamin Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa terhadap Kenaikan Berat Badan Interdialitik di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon Mahesa Tansyia Fachrezi; Siti Maria Ulfah; Sedayu Sedayu
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 9 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i9.6995

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kelainan struktur atau fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR <60 mL/menit/1,73m2). Prevalensi GGK di Indonesia sebanyak 638.178 orang dan di Jawa Barat sebanyak 114.619. Kenaikan berat badan interdialitik atau merupakan peningkatan berat badan diantara waktu hemodialisa yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya instrinsik (jenis kelamin) dan ekstrinsik (tingkat pengetahuan). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan jenis kelamin pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa terhadap kenaikan berat badan interdialitik di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel diambil dari kuisioner dan data rekam medis menggunakan teknik Consecutive sampling sebanyak 60 pasien. Penelitian dilakukan di RSD Gunung Jati pada bulan Oktober 2024-Maret 2025. Uji statistik menunjukkan hasil (p=0.000) dengan nilai koefisien korelasi -0.557 yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan kuat antara tingkat pengetahuan dengan kenaikan berat badan interdialitik dan hubungan antara jenis kelamin dengan kenaikan berat badan interdialitik menunjukkan hasil (p=0.116) yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kenaikan berat badan interdialitik. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kenaikan berat badan interdialitik pada pasien gagal ginjal kronik dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kenaikan berat badan interdialitik pada pasien gagal ginjal kronik.
Parenting Styles and Eating Behaviors Among Stunted Toddlers Hervinda Rahma Setia; Shofa Nur Fauzah; Eni Suhaeni; Siti Maria Ulfah
Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional Volume 11 Number 1 Year 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jkkt.v11i1.651

Abstract

ABSTRACT Background: Stunting remains a significant public health challenge in Indonesia, affecting 21.6% of children under five. While nutritional interventions are commonly implemented, the role of parenting styles in shaping eating behaviors among stunted children requires further investigation. This study explored how different parenting approaches relate to eating behaviors in stunted toddlers. Methods: A cross-sectional study was conducted using a consecutive sampling technique, involving 132 mothers with stunted toddlers aged 24–59 months at Kalijaga Permai Community Health Center, Cirebon City, between February and May 2025. Parenting styles were measured using the Parenting Styles Four Factor Questionnaire (PS-FFQ), while eating behaviors were assessed through a validated 6-item questionnaire. Spearman’s rank correlation was applied to analyze the relationships between parenting styles and eating behaviors. Results: Findings revealed that authoritarian parenting was most common (38.7%), followed by democratic (26.5%), permissive (25.0%), and uninvolved (9.8%) parenting styles. Nearly seven out of ten children (68.2%) exhibited problematic eating behaviors. Democratic parenting demonstrated the strongest positive relationship with healthy eating patterns (r=0.681, p<0.001). In contrast, authoritarian parenting showed a moderate negative association (r=-0.428, p<0.001), while permissive parenting displayed a weak negative correlation (r=-0.215, p=0.013). Uninvolved parenting showed no significant relationship with eating behaviors (r=-0.013, p=0.885).  Conclusion: Parenting styles are meaningfully associated with eating behaviors among stunted toddlers, with democratic parenting showing the strongest connection to healthier eating patterns. These findings suggest that stunting prevention programs should integrate parenting education focused on responsive feeding practices alongside traditional nutritional interventions.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Orangtua Tentang Merokok dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Gunungsari Cirebon Iyant Yudi Gymnasti Mahardika; Eni Suhaeni; Siti Maria Ulfah
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 10 No. 2 (2026): Oktober: Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v10i2.1121

Abstract

Acute respiratory infections (ARIs) are a major cause of morbidity and mortality from communicable diseases globally. According to the WHO in 2022, ARIs contributed to nearly 14% of under-five deaths worldwide. Smoking, the leading preventable cause of death, was linked to 1.3 million deaths in 2023 due to secondhand smoke exposure, with nearly 1.2 million (about 90%) occurring in low- and middle-income countries. Knowledge significantly influences behavior, as individuals with better understanding are more likely to take appropriate preventive actions This study aims to identify the relationship between parental knowledge of smoking and the incidence of acute respiratory infections (ARIs) in toddlers in the Gunungsari Cirebon Health Center area. A quantitative cross-sectional observational study was conducted. A non-probability sampling technique, specifically quota sampling, was used to obtain a sample of 57 participants. Spearman’s rank correlation test was applied for statistical analysis. The results showed that the majority of parents had a moderate level of knowledge about smoking (61.4%). The p-value (2-tailed) was 0.091, indicating that there was no significant relationship between parental knowledge of smoking and the incidence of ARIs in toddlers. In conclusion, parental knowledge of smoking was not significantly associated with ARI occurrence in toddlers in the Gunungsari Cirebon Health Center area.
Karakteristik Kasus Adenokarsinoma Kolorektal Usia Muda dan Dewasa Muda Pada Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Periode 2018 – 2024 Hanum Viani Wihaesti; Dimas Aryo Kusumo; Siti Maria Ulfah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 10 (2026): Volume 6 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i10.24782

Abstract

ABSTRACT Colorectal adenocarcinoma is a malignancy of the colon and or rectal epithelium, with a significantly increased incidence in young and young adult individuals, characterized by a more aggressive disease and poor prognosis. Several factors, such as age, gender, location, and the therapy administered for colorectal adenocarcinoma, play an important role in determining the characteristics and progression of the disease. Aim: To determine the distributive characteristics of the frequency of young and young adult colorectal adenocarcinoma cases at Gunung Jati Regional Hospital during the period 2018 – 2025. This study employed a descriptive, retrospective, cross-sectional design using secondary data derived from medical records. A total‐sampling method was applied to include all eligible cases. Data collection was carried out at Gunung Jati Regional Hospital between April and June 2025. Result: This study was conducted using qualitative research with a descriptive retrospective type of research and a cross-sectional design, utilizing secondary data, namely medical records. In the sampling process, the Total Sampling technique was used. The research was conducted at RSD Gunung Jati from April to June 2024. We found Cases of colorectal adenocarcinoma in young and young adults are primarily in the young adult age group of 20 – 45 years, with a predominance of males. The most common location is the rectum, and the therapies administered for colorectal adenocarcinoma include surgical therapy such as colostomy and chemotherapy such as FOLFOX.  Keywords: Colorectal Adenocarcinoma, Colorectal Cancer, Young Age, Young Adult Age.  ABSTRAK Adenokarsinoma kolorektal merupakan keganasan dari epitel kolon dan atau rektum, dengan insiden yang meningkat cukup signifikan pada usia muda dan dewasa muda dengan karakteristik penyakit yang lebih agresif dan prognosis buruk. Beberapa faktor sepeti usia, jenis kelamin, lokasi, dan terapi yang dilakukan pada adenokarsinoma kolorektal berperan penting dalam menentukan karakteristik dan perjalanan penyakitnya. Tujuan: Mengetahui karakteristik distributif frekuensi kasus adenokarsinoma kolorektal usia muda dan dewasa muda pada Rumah Sakit Daerah Gunung Jati periode 2018 – 2024. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif retrospektif dengan desain Cross Sectional yang menggunakan data sekunder yaitu data rekam medis. Pada pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling. Penelitian dilakukan di RSD Gunung Jati dari bulan April – Juni 2025. Hasil yang didapatkan pada 68 kasus adenokarsinoma kolorektal usia muda dan dewasa muda paling banyak pada usia dewasa muda 20 – 45 tahun (97,1%), jenis kelamin didominasi oleh laki-laki (55,9%), lokasi tersering adenokarsinoma kolorektal yaitu di rektum (47,1%) serta terapi yang dilakukan pada adenokarsinoma kolorektal untuk terapi bedah yaitu kolostomi dan pada kemoterapi yaitu FOLFOX. Simpulan: Kasus adenokarsinoma kolorektal usia muda dan dewasa muda adalah pada usia dewasa muda 20 – 45 tahun dengan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Lokasi tersering adalah rektum, dan terapi yang dilakukan pada adenokarsinoma kolorektal untuk terapi bedah yaitu kolostomi dan pada kemoterapi yaitu FOLFOX. Kata Kunci: Akolorektal, Kanker Kolorektal, Usia Muda, Usia Dewasa Muda.