Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Representasi Gangguan Mental Depresi dalam Drama Korea Daily Dose of Sunshine Wulansari, Ratna; Urfan, Noveri Faikar
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v6i1.478

Abstract

This research aims to determine the representation of depressive mental disorders, which is based on the increasing number of cases of depression in society, especially teenagers. This research uses the Korean drama Daily Dose of Sunshine as a research object to determine the representation of depressive mental disorders in the drama. The mental health issue that is raised as a drama aims to provide information and education to the public so that they care more about mental health, and can increase public awareness about the importance of mental health without thinking that it can give a bad stigma. This research method uses qualitative research with semantic analysis according to John Fiske's theory. The data collection technique in this research is by watching, observing and recording each scene in the episode which is analyzed based on the research objectives, then the data will be identified by formulating the problem. The data that has been grouped and identified will be examined using John Fiske's theory by grouping data at the Reality Level, Representation Level and Ideology Level. The results of this study show that depressive mental disorders are depicted in various scenes showing dissatisfaction, feelings of hopelessness, excessive sadness, feelings of satisfaction and even rejection or bad actions from society. Mental disorders are sensitive conditions that are still underestimated and underestimated by society, especially in Indonesia. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi gangguan mental depresi, didasarkan pada peningkatan jumlah kasus depresi di masyarakat terutama remaja. Penelitian ini menggunakan drama korea Daily Dose of Sunshine sebagai objek penelitian untuk mengetahui representasi gangguan mental depresi dalam drama tersebut. Isu kesehatan mental yang diangkat menjadi drama bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mental, serta dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental tanpa berfikir akan mendapat stigma buruk di masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan analisis semotika menurut teori John Fiske. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menonton, mengamati, dan mencatat setiap adegan dalam episode yang dianalisis berdasarkan tujuan penelitian, kemudian data di identifikasi dengan rumusan masalah. Data yang telah dikelompokan, diteliti menggunakan teori John Fiske dengan mengelompokkan data pada Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa gangguan mental depresi digambarkan dalam berbagai adegan yang menunjukan penolakan, rasa keputusasaan, kesedihan yang berlebihan, merasa bersalah hingga penolakan atau perlakukan buruk dari masyarakat. Gangguan mental merupakan kondisi yang sensitif yang masih disepelekan dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat terlebih di Indonesia.
Representasi Pelecehan Seksual dan Kekerasan Seksual KBGO dalam Film “Sleep Call” Kusuma, Anggun Dila; Urfan, Noveri Faikar
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v6i2.491

Abstract

Sexual harassment and sexual violence of KBGO in Indonesia is increasing, especially since the Covid-19 case. In addition, cases of sexual harassment or sexual violence are also very common in social reality and various sectors, whether in the realm of education or even the work environment. Through film, which is one of the containers used to describe the situation on social reality in society, it is able to convey the message contained in the film as a communication medium for the audience. The film Sleep Call is one of the films that raises the issue of sexual harassment and sexual violence against women by KBGO. In the film, it is depicted that sexual harassment and sexual violence in KBGO occur due to the existence of power relations with people who are labeled vulnerable, namely women. The researcher uses a qualitative-descriptive methodology as a research approach and uses a semiotic analysis method by taking symbols and texts used as the object of study, so that they must interpret and understand the codes in the signs and texts in the film. Data collection was carried out by observation and documentation techniques. The results of this study show that the representation of sexual harassment and sexual violence in KBGO experienced by women in films shows various categories of sexual harassment and sexual violence in KBGO which occurs due to power relations. Abstrak Pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO di Indonesia semakin meningkat apalagi semenjak kasus Covid-19. Selain itu, kasus pelecehan seksual atau kekerasan seksual juga masih sangat sering terjadi di realitas sosial dan berbagai sektor entah itu di ranah pendidikan bahkan lingkungan pekerjaan. Melalui film yang menjadi salah satu wadah digunakan untuk menggambarkan situasi pada realitas sosial dimasyarakat mampu menyampaikan pesan yang terkandung dalam film sebagai media komunikasi untuk penonton. Film Sleep Call menjadi salah satu film yang mengangkat isu pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO terhadap perempuan. Dalam film tersebut tergambar bahwa pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO terjadi akibat adanya relasi kuasa terhadap kaum yang dicap rentan yaitu perempuan. Peneliti menggunakan metodologi kualitatif-deskriptif sebagai pendekatan penelitian serta menggunakan metode analisis semiotika dengan mengambil simbol dan teks yang digunakan sebagai objek kajian, sehingga harus menafsirkan dan memahami kode-kode yang ada pada tanda dan teks dalam film. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa representasi pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO yang dialami perempuan dalam film menunjukan berbagai kategori pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO yang terjadi akibat relasi kuasa.
Analisis Semiotika Subordinasi Perempuan Dalam Web Series “TILIK THE SERIES” Welerubun, Sifas Regalia Lintas Pulau; Urfan, Noveri Faikar
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol 8, No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v8i1.9692

Abstract

Subordinasi gender adalah suatu anggapan atau pemikiran bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin dianggap lebih rendah dari yang lain. Perempuan seringkali dipandang sebagai manusia nomor dua dibanding laki laki di banyak kebudayaan maupun di lingkungan sosial. Hingga saat ini masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan adalah manusia yang hanya berkutat di dapur, sumur, dan kasur serta anggapan bahwa perempuan kurang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. “Tilik the Series” adalah salah satu web series yang didalamnya terdapat isu ketidaksetaraan gender yaitu subordinasi pada perempuan, tokoh utama dalam series tersebut sering direndahkan dan dianggap tidak mampu oleh lawannya saat kampanye pemilihan kepala desa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya subordinasi pada perempuan dalam Tilik the Series melalui analisis semiotika Ferdinand De Saussure. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif karena hasil penelitian ini berupa penjabaran makna dari adegan dan dialog beberapa scene yang memuat isu subordinasi pada perempuan dalam Tilik the Series. Hasil dari penelitian ini mendapatkan adanya empat bentuk subordinasi perempuan yang ada dalam delapan scene pada Tilik the Series sebagai berikut: 1) Perempuan Harus Tunduk Kepada Laki-Laki, 2) Identitas Laki-Laki Melekat Pada Perempuan, 3) Perempuan Dianggap Lemah, 4) Janda Menjadi Aib.