Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Representasi Pelecehan Seksual dan Kekerasan Seksual KBGO dalam Film “Sleep Call” Kusuma, Anggun Dila; Urfan, Noveri Faikar
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v6i2.491

Abstract

Sexual harassment and sexual violence of KBGO in Indonesia is increasing, especially since the Covid-19 case. In addition, cases of sexual harassment or sexual violence are also very common in social reality and various sectors, whether in the realm of education or even the work environment. Through film, which is one of the containers used to describe the situation on social reality in society, it is able to convey the message contained in the film as a communication medium for the audience. The film Sleep Call is one of the films that raises the issue of sexual harassment and sexual violence against women by KBGO. In the film, it is depicted that sexual harassment and sexual violence in KBGO occur due to the existence of power relations with people who are labeled vulnerable, namely women. The researcher uses a qualitative-descriptive methodology as a research approach and uses a semiotic analysis method by taking symbols and texts used as the object of study, so that they must interpret and understand the codes in the signs and texts in the film. Data collection was carried out by observation and documentation techniques. The results of this study show that the representation of sexual harassment and sexual violence in KBGO experienced by women in films shows various categories of sexual harassment and sexual violence in KBGO which occurs due to power relations. Abstrak Pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO di Indonesia semakin meningkat apalagi semenjak kasus Covid-19. Selain itu, kasus pelecehan seksual atau kekerasan seksual juga masih sangat sering terjadi di realitas sosial dan berbagai sektor entah itu di ranah pendidikan bahkan lingkungan pekerjaan. Melalui film yang menjadi salah satu wadah digunakan untuk menggambarkan situasi pada realitas sosial dimasyarakat mampu menyampaikan pesan yang terkandung dalam film sebagai media komunikasi untuk penonton. Film Sleep Call menjadi salah satu film yang mengangkat isu pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO terhadap perempuan. Dalam film tersebut tergambar bahwa pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO terjadi akibat adanya relasi kuasa terhadap kaum yang dicap rentan yaitu perempuan. Peneliti menggunakan metodologi kualitatif-deskriptif sebagai pendekatan penelitian serta menggunakan metode analisis semiotika dengan mengambil simbol dan teks yang digunakan sebagai objek kajian, sehingga harus menafsirkan dan memahami kode-kode yang ada pada tanda dan teks dalam film. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa representasi pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO yang dialami perempuan dalam film menunjukan berbagai kategori pelecehan seksual dan kekerasan seksual KBGO yang terjadi akibat relasi kuasa.
Analisis Semiotika Subordinasi Perempuan Dalam Web Series “TILIK THE SERIES” Sifas Regalia Lintas Pulau Welerubun; Noveri Faikar Urfan
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol 8, No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v8i1.9692

Abstract

Subordinasi gender adalah suatu anggapan atau pemikiran bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin dianggap lebih rendah dari yang lain. Perempuan seringkali dipandang sebagai manusia nomor dua dibanding laki laki di banyak kebudayaan maupun di lingkungan sosial. Hingga saat ini masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan adalah manusia yang hanya berkutat di dapur, sumur, dan kasur serta anggapan bahwa perempuan kurang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. “Tilik the Series” adalah salah satu web series yang didalamnya terdapat isu ketidaksetaraan gender yaitu subordinasi pada perempuan, tokoh utama dalam series tersebut sering direndahkan dan dianggap tidak mampu oleh lawannya saat kampanye pemilihan kepala desa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya subordinasi pada perempuan dalam Tilik the Series melalui analisis semiotika Ferdinand De Saussure. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif karena hasil penelitian ini berupa penjabaran makna dari adegan dan dialog beberapa scene yang memuat isu subordinasi pada perempuan dalam Tilik the Series. Hasil dari penelitian ini mendapatkan adanya empat bentuk subordinasi perempuan yang ada dalam delapan scene pada Tilik the Series sebagai berikut: 1) Perempuan Harus Tunduk Kepada Laki-Laki, 2) Identitas Laki-Laki Melekat Pada Perempuan, 3) Perempuan Dianggap Lemah, 4) Janda Menjadi Aib.
“MENGKRITIK INTOLERANSI” SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA LIRIK LAGU “ORANG-ORANG DI KERUMUNAN”, KARYA FSTVLST Noveri Faikar Urfan; Imam Nur Laksono
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 4 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i4.2026.%p

Abstract

Problem intoleransi yang berakar dari pandangan fundamentalis dan fanatisme dalam berkeyakinan, menjadi problem yang harus dihadapi. Salah satu cara untuk menghadapi problem ini, adalah dengan mengangkatnya menjadi topik sebuah lagu. Band indie asal Yogyakarta, FSTVLST, berusaha mengangkat problem intoleransi dengan lagu berjudul “Orang-Orang di Kerumunan”. Penelitian ini berusaha menggali bagaimana makna intoleransi direpresentasikan oleh lirik lagu tersebut. Dengan memakai analisis semiotika Ferdinand de Saussure, penelitian ini berusaha mencari penanda (aspek material), petanda (aspek mental), dan signifikasi (realitas eksternal) dari lirik lagu “Orang-Orang di Kerumuman”. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa, pertama, penulis lirik menggambarkan kondisi orang-orang yang terjebak dalam fanatisme dan kehilangan jiwa. Kedua, orang-orang yang kehilangan jiwa tadi, terjebak dalam keterbelahan (friksi) dan justru saling menyalahkan satu sama lain. Ketiga, penulis lirik menyampaikan solusi etis di mana manusia harus kembali dalam nilai-niali keutamaan, seperti cinta, persaudaraan, dan kekeluargaan. Keempat, penulis lirik menyampaikan kekecewaannya atas praktik intoleransi yang terjadi, di mana keindahan sudah tidak berarti lagi, berganti dengan umpatan, cacian, makian, dan saling melukai.
ANALISIS FRAMING ROBERT N ENTMAN: KEBERPIHAKAN PRESIDEN DALAM KEIKUTSERTAAN PEMILU 2024 DI KOMPAS.COM DAN CNNINDONESIA.COM Rida Amalia Firdausya; Noveri Faikar Urfan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 5 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i5.2024.1814-1821

Abstract

Berbagai pemberitaan dari semua pasangan calon dan berbagai pihak telah mendampingi dalam pesta demokrasi saat ini. Salah satunya terdapat berita tentang Presiden Boleh Kampanye dan Berpihak di Pemilu 2024 menjadi sorotan publik. Pernyataan tersebut diucapkan oleh Presiden pada Rabu, 24 Januari 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran portal berita online kompas.com dan cnnindonesia.com sebagai media berita yang terpercaya di masyarakat dalam membingkai berita tersebut untuk disampaikan kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis framing Robert N Entman. Dari kedua media tersebut, melihat peristiwa dari pernyataan Presiden Joko Widodo yang memperbolehkan memihak dan berkampanye di Pemilu 2024. Selanjutnya, Kompas lebih mengkritik presiden terkait kenetralan dalam seluru proses pemilu dan tidak mencampuradukkan wewenang dan menggunakan fasilitas negara. Pada CNN Indonesia dalam penulisan berita berimbang karena menyoroti tentang dua pihak yang pro dan kontra dalam masalah ini. Kedua media tersebut, memiliki pembingkaian yang sama terkait penyebab masalah yang terjadi.