Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Nilai-Nilai Luhur bagi Orang Bajo di Desa Tapi-Tapi Kecamatan Marobo Kabupaten Muna Feni Feni; Rahmat Sewa Suraya; Almarsaban Almarsaban
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 8 No 1 (2024): Volume 8, Nomor 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v8i1.2838

Abstract

This study aims to determine and describe the Bajo people's views on noble values, and how the implementation of noble values for Bajo people in Tapi-Tapi Village, Marobo District, Muna Regency. The method used in the research is ethnographic method, researchers try to describe, describe and explain how the Bajo people view noble values-using in-depth observation and interview techniques. The data collected was then analyzed using Koentjaraningrat's theory of cultural values (1984). The Bajo people who live in Tapi-Tapi Village, Marobo District, Muna Regency are a fishing community that upholds noble values that have been passed down from generation to generation in the value of responsibility, namely: (a) Sipakkulong (supporting each other), (b) Mapulus jamaah itu dolo modi bunang (completing the work given), in the value of social care, namely: (a) Nggai kole sikalasa kadadarua (there should be no misunderstanding of others), (b) Sitabangang (helping each other in work), (c) Nggai kole mangasora'dialo (should not damage the sea), in the value of honesty, namely: (a) Nggai kole malaponggang aha sadiri (do not like to lie), in the value of independence, namely: (a) Ngajama diriang (work independently). The implementation of noble values for Bajo people is realized in several values, namely: (a) Si tuluh (helping), (b) Dianggo (mutual respect), (c) Sitabangang (cooperation) d Bapongka (group fishing activities).
Etnomedisin dalam Praktik Pengobatan Tradisional Suku Muna di Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia Kota Kendari Hasdairta Laniampe; La Niampe; Taufiq Said; Almarsaban Almarsaban; Bainudin Bainudin; Irawati Tapasi; Mursin Mursin
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, October 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i3.3049

Abstract

Indonesia is recognized as the second most biodiverse country in the world, possessing approximately 28,000 species of flowering plants, around 6,000 of which are classified as traditional medicinal plants. Amid the tide of globalization, traditional medicine continues to play a vital role in Indonesian society, even as modern medicine advances. The use of plants as medicine is deeply intertwined with local traditions, as exemplified by the Muna people, who possess indigenous knowledge in utilizing various medicinal plants. This study aims to identify the types of traditional medicinal plants, methods of preparation, and their use as alternative treatments for broader communities, employing a qualitative descriptive approach. The findings reveal eight types of medicinal plants employed by the Muna people in Anggoeya Village, one of which is guava leaves boiled to treat diarrhea. This research serves as a bridge between the Muna people's local wisdom in traditional healing practices and modern scientific knowledge, supporting the conservation of ethnobotanical knowledge while opening opportunities for the development of natural-based medicines.  
Pelatihan Pengusulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bagi Masyarakat Konawe Kepulauan La Ode Aris; Laxmi Laxmi; Ahmad Keke; Almarsaban Almarsaban; Bainuddin Bainuddin
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): September-Desember
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/rt37v381

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk melatih pengusulan warisan budaya tak benda (WBTB) bagi masyarakat Konawe Kepulauan. Hasil PKM diketahui bahwa pentingnya pengusulan WBTB untuk melestarikan tradisi khatam Al-Quran atau hatamua sebagai suatu kegiatan penghargaan bagi seorang anak yang telah selesai atau tamat mengaji. Kegiatan khatam Al-Quran telah dijalankan oleh masyarakat pada Kabupaten Konawe Kepulauan secara turun termurun. Khatam Al-Quran merupakan suatau kegiatan adat kebiasaan yang bersifat religius. Dikatakan bersifat religius sebab dilakukan ketika ada anak-anak yang tamat mengaji Alquran, segala rangkaian upacara ini tersebut diwarnai dengan ajaran Agama Islam, seperti pelantunan syair-syair indah Marhaba yang diperuntukan bagi anak yang tamat yang mengandung makna nasehat-nasehat keagamaan mengarahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar. Pakaian yang dikenakan oleh anak-anak juga menggambarkan keadaan religius sebab pakaian yang dikenakan bagaiakan seorang jamaah haji yang memakai jubah dan penutup kepala yang berwarna warni bagi anak perempuan serta menggunakan surban bagi anak laki-laki. Pada proses khatam Qur’an tersebut biasanya imam desa dan imam masjid di ikut sertakan.