Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Correction to: Investigation of Liquefaction in Balaroa, Petobo, and Jonooge (Central Sulawesi, Indonesia) Caused by the 2018 Palu Earthquake Sequence Triyono, Rahmat; Widiyantoro, Sri; Zulfakriza, Zulfakriza; Supendi, Pepen; Rahman, Aditya Setyo; Gunawan, Mohamad Taufik; Oktavia, Nur Hidayati; Rahmatullah, Fajri Syukur; Fadhilah, Fildzah Zaniati; Habibah, Nur Fani; Sativa, Oriza; Permana, Dadang; Wallansha, Robby; Octantyo, Ardian Yudhi; Persada, Yoga Dharma; Pranata, Bayu; Sujabar, Sujabar
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 57 No. 2 (2025): Vol. 57 No. 2 (2025): April
Publisher : Directorate for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2025.57.2.10

Abstract

Correction to:  Journal of Engineering and Technological Sciences https://doi.org/10.5614/j.eng.technol.sci.2024.56.3.1   The article titled "Investigation of Liquefaction in Balaroa, Petobo, and Jonooge (Central Sulawesi, Indonesia) Caused by the 2018 Palu Earthquake Sequence" , written by Rahmat Triyono, Sri Widiyantoro, Zulfakriza, Pepen Supendi, Aditya Setyo Rahman, Mohamad Taufik Gunawan, Nur Hidayati Oktavia, Fajri Syukur Rahmatullah,Fildzah Zaniati Fadhilah, Nur Fani Habibah, Oriza Sativa, Dadang Permana, Robby Wallansha, Ardian Yudhi Octantyo, Yoga Dharma Persada, Bayu Pranata, and Sujabar, was originally published electronically on thepublisher’s internet portal on 19 June 2024 . The corresponding author's affiliation at the time of publication was as follows: (1) Indonesian Agency of Meteorology, Climatology, and Geophysics, Jalan Angkasa 1 No. 2, Jakarta 10610, Indonesia; and (2) Global Geophysics Research Group, Faculty of Mining and Petroleum Engineering, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa No. 10, Bandung 40132, Indonesia.   Subsequently, the authors decided to update the corresponding author's affiliation to: (1) Geophysical Engineering Graduate Program, Faculty of Mining and Petroleum Engineering, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa No. 10, Bandung 40132, Indonesia; and (2) Indonesian Agency of Meteorology, Climatology, and Geophysics, Jalan Angkasa 1 No. 2, Jakarta 10610, Indonesia.   The original article can be found online at https://doi.org/10.5614/j.eng.technol.sci.2024.56.3.1
Investigation of Liquefaction in Balaroa, Petobo, and Jonooge (Central Sulawesi, Indonesia) Caused by the 2018 Palu Earthquake Sequence Triyono, Rahmat; Widiyantoro, Sri; Zulfakriza, Zulfakriza; Supendi, Pepen; Rahman, Aditya Setyo; Gunawan, Mohamad Taufik; Oktavia, Nur Hidayati; Rahmatullah, Fajri Syukur; Fadhilah, Fildzah Zaniati; Habibah, Nur Fani; Sativa, Oriza; Permana, Dadang; Wallansha, Robby; Octantyo, Ardian Yudhi; Persada, Yoga Dharma; Pranata, Bayu; Sujabar, Sujabar
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 56 No. 3 (2024)
Publisher : Directorate for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2024.56.3.1

Abstract

The liquefaction that occurred in the city of Palu on September 28, 2018, was caused by a series of significant earthquakes that took place in a relatively short time around 25 minutes after the main earthquake of magnitude 7.5. This event was followed by aftershocks of magnitudes 6.4, 6.2, and 6.1. The magnitude 6.2 aftershock occurred at 10.16 UTC, while the magnitude 6.1 aftershock occurred at 10.25 UTC. These were both located very close to the liquefaction locations in Balaroa, Petobo, and Jono Oge. We investigated the mainshock and the three aftershocks using the NCEER method based on Vs30 measurements and data from the drill liquefaction locations at Balaroa, Petobo, and Jono Oge. We found that the liquefaction was not only caused by the main earthquake but also by the subsequent aftershocks that occurred within 25 minutes after the mainshock.
Studi Komparatif Kondisi Geoteknik dan Respon Seismik Lokal untuk Perencanaan Pondasi Radar Cuaca S-Band di Wilayah Kepulauan Riau Habibi, Muhamad; Pramono, Sigit; Nugraha, Hanif Andi; Octantyo, Ardian Yudhi; Sativa, Oriza; Gultom, Tumpal; Putra, Maulana
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3444

Abstract

Kondisi geoteknik dan karakteristik seismik lokal menjadi faktor penting dalam menentukan desain pondasi bangunan radar cuaca. Kajian ini membandingkan dua lokasi pembangunan radar cuaca S-Band di Kepulauan Riau—Natuna dan Tanjung Pinang—yang memiliki perbedaan geotektonik dan komposisi tanah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara parameter geoteknik (CPT dan SPT) dan parameter seismik (MASW dan SPAC) untuk menentukan kelas situs, kapasitas tanah, serta rekomendasi pondasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua lokasi tergolong kelas tanah sedang (SD) berdasarkan SNI 1726:2019, tetapi Natuna memiliki lapisan tanah lebih kaku dan kedalaman lapisan keras yang lebih dangkal dibanding Tanjung Pinang. Temuan utama menunjukkan bahwa amplifikasi percepatan tanah di Tanjung Pinang (≈1,6 kali) lebih tinggi dibanding Natuna (≈1,16 kali), menandakan kerentanan seismik yang lebih besar, ), sehingga risiko penguatan gelombang gempa lebih dominan pada lokasi tersebut. Implikasi teknis penelitian ini menunjukkan bahwa kedua lokasi direkomendasikan menggunakan pondasi tiang, namun Tanjung Pinang memerlukan kedalaman dan kapasitas tiang yang lebih besar agar beban struktur dapat dialirkan ke lapisan keras serta meminimalkan dampak amplifikasi seismik. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya memberikan rekomendasi desain pondasi, tetapi juga mendukung penyusunan standar teknis pembangunan radar cuaca di wilayah rawan gempa. Secara keseluruhan, kajian ini memberikan landasan teknis bagi BMKG dalam pengembangan jaringan radar cuaca yang lebih aman, efisien, dan sesuai karakteristik geologi wilayah kepulauan.