Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

A Model of Empowering Children in Orphanages Through Zero-Waste Textile Craft: A Study in an Gunungan Surakarta Orphanage Nadia Sigi Prameswari; Dwi Candra Purnamasari; Ratih Ayu Pratiwinindya; Maria Krisnawati; Moh. Yudik Al-Faruq
AMK : Abdi Masyarakat UIKA Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/amk.v5i2.3432

Abstract

This community service offers a strategic solution in the form of strengthening the creative capacity of zero-waste textile craft based on upcycling industrial waste fabric scraps through collaboration with the Gunungan Surakarta Orphanage located in the industrial center area of Kampung Blangkon Potrojayan which is famous for its blangkon crafts. Kampung Blangkon Surakarta is known as a blangkon craft center that accommodates 40 active craftsmen with unique designs as a local cultural identity. However, the production process produces 25 kg of scrap fabric waste per week that has not been systematically managed and the waste is always thrown away without added value. On the other hand, craftsmen still focus on the main product blangkon without developing derivative designs based on waste, so the potential for product diversification and strengthening the creative economy based on sustainability has not been optimal. Textile waste is identified and processed into valuable craft products such as souvenirs and unique accessories through the sustainable Participatory Action Research (PAR) method, including training in knowledge of patchwork materials, craft design techniques with upcycling methods, product management and marketing strategies, as well as attractive and valuable packaging techniques. This program aims to strengthen the creativity of orphanage children by optimizing production waste management and developing a sustainable social enterprise model. The urgency of collaboration lies in creating synergy between the creative industry and social institutions in building a community-based circular economy ecosystem. With this integrated approach, this innovation is expected to increase the added value of textiles while simultaneously promoting the sustainable economic independence of orphanage groups.
PERAN INSTAGRAM DALAM PENYAMPAIAN INFORMASI MAKEUP DI KALANGAN MAHASISWA TATA KECANTIKAN Faradicka Husnul Khuluq; Maria Krisnawati
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v6i2.11102

Abstract

ABSTRACT The development of social media, especially Instagram, has influenced the delivery of information in various fields, including beauty education. Instagram is widely used by students as a source of references for makeup techniques, beauty trends, and product usage because it is visually oriented and easily accessible. The platform provides various types of content such as makeup tutorials, product reviews, and beauty trend information that attract users. However, studies specifically examining the role of Instagram in delivering makeup information among beauty education students are still limited. In addition, not all information shared on Instagram can be fully understood because the platform often emphasizes visual aspects rather than detailed explanations. Therefore, this study aims to examine the role of Instagram in delivering makeup information among beauty education students. This study employed a quantitative descriptive approach involving 62 beauty education students from the 2022 cohort as respondents. Data were collected using a 4-point Likert scale questionnaire that had been tested for validity and reliability. The data were analyzed using mean scores and percentages. The findings showed that Instagram plays a positive role in delivering makeup information among beauty education students. The attractiveness of the content, usefulness of information, clarity of information, and ease of understanding were categorized as good to very good. Based on these findings, it can be concluded that Instagram functions not only as an entertainment platform but also as an effective medium for information and learning in the field of beauty. Nevertheless, improvements in the quality of information presentation are still needed to make the content clearer, more educational, and easier for users to understand. ABSTRAK Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah memengaruhi penyampaian informasi di berbagai bidang, termasuk tata kecantikan. Instagram banyak digunakan mahasiswa sebagai sumber referensi makeup, tren kecantikan, dan penggunaan produk karena bersifat visual dan mudah diakses. Platform ini menyediakan konten seperti tutorial, ulasan produk, dan informasi tren yang menarik. Namun, kajian tentang peran Instagram dalam penyampaian informasi makeup di kalangan mahasiswa tata kecantikan masih terbatas. Selain itu, tidak semua informasi di Instagram mudah dipahami secara mendalam karena lebih menekankan aspek visual daripada penjelasan rinci. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Instagram dalam penyampaian informasi makeup di kalangan mahasiswa tata kecantikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian 62 responden mahaiswa tata kecantikan angkatan 2022. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert 4 poin yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan nilai rata-rata (mean) dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram memiliki peran yang baik dalam penyampaian informasi makeup di kalangan mahasiswa tata kecantikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa daya tarik konten, manfaat informasi, kejelasan informasi, dan kemudahan pemahaman berada pada kategori baik hingga sangat baik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Instagram tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media informasi dan pembelajaran yang cukup efektif dalam bidang tata kecantikan. Namun demikian, masih diperlukan peningkatan dalam kualitas penyajian informasi agar lebih jelas, edukatif, dan mudah dipahami oleh pengguna.
Strategi Kreativitas dan Profesionalitas Makeup Artist dalam Meningkatkan Kualitas Layanan Kecantikan Maria Krisnawati; Taofan Ali Achmadi; Zahra Hafizshah; Maulida Firda Ayuningsih; Kusuma Wardhani; Afifah fahri Rofina; Eva Liantira Dinasa; Amila Putri Hunafa; Fitriya Nur Rahma
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD) Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurdikbud.v6i2.11628

Abstract

The beauty industry is growing rapidly as public interest in appearance and self-confidence increases, leading to a rising demand for makeup artist (MUA) services. In this context, creativity and professionalism are crucial factors for MUAs to produce high-quality makeup and provide satisfactory service to clients. This study aims to understand the strategies of creativity and professionalism employed by makeup artists to enhance the quality of beauty services. The method used is descriptive qualitative research, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The results indicate that service strategies such as understanding client needs, effective communication, personal branding, and the use of social media can enhance customer trust and loyalty. Additionally, mastery of makeup techniques such as complexion, contouring, highlighting, color palette selection, and adapting makeup looks to face shapes and occasions significantly influences the quality of the final makeup result. By combining creativity, technical skills, and a professional attitude, makeup artists can improve the quality of beauty services and strengthen their competitiveness in an increasingly competitive beauty industry.
Inovasi Diversifikasi Produk Sebagai Penguatan Ketahanan Pangan Pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah Meddiati Fajri Putri; Moh Muttaqin; Maria Krisnawati; Moch Faizal Rachmadi; Arina Haque; Thamrin Thamrin; Zaimatun Nabilah; Sultan Ahmad El Hakim
PADMA Vol 5 No 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PADMA)
Publisher : LPPM Politeknik Piksi Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56689/padma.v5i2.2563

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi dan ketahanan pangan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Namun, implementasi program ini di Provinsi Jawa Tengah masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan diversifikasi menu, rendahnya inovasi produk pangan, serta belum optimalnya pemanfaatan potensi pangan lokal. Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberlanjutan dan efektivitas Program MBG dalam jangka panjang termasuk pada mitra kegiatan yaitu PT Gembul Berkah Lautan Makmur, Kab. Rembang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi diversifikasi produk pangan berbasis sumber daya lokal sebagai upaya penguatan ketahanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG di Jawa Tengah. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersusunnya model diversifikasi produk pangan inovatif yang aplikatif dan berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengolahan pangan bergizi, serta meningkatnya kualitas dan variasi menu pada Program MBG. Secara keseluruhan, kegiatan ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan daerah, peningkatan kualitas gizi masyarakat, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan pangan lokal yang inovatif dan bernilai tambah.
Strategi Kreativitas dan Profesionalitas Makeup Artist dalam Meningkatkan Kualitas Layanan Kecantikan Maria Krisnawati; Taofan Ali Achmadi; Zahra Hafizshah; Maulida Firda Ayuningsih; Kusuma Wardhani; Afifah fahri Rofina; Eva Liantira Dinasa; Amila Putri Hunafa; Fitriya Nur Rahma
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD) Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurdikbud.v6i2.11628

Abstract

The beauty industry is growing rapidly as public interest in appearance and self-confidence increases, leading to a rising demand for makeup artist (MUA) services. In this context, creativity and professionalism are crucial factors for MUAs to produce high-quality makeup and provide satisfactory service to clients. This study aims to understand the strategies of creativity and professionalism employed by makeup artists to enhance the quality of beauty services. The method used is descriptive qualitative research, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The results indicate that service strategies such as understanding client needs, effective communication, personal branding, and the use of social media can enhance customer trust and loyalty. Additionally, mastery of makeup techniques such as complexion, contouring, highlighting, color palette selection, and adapting makeup looks to face shapes and occasions significantly influences the quality of the final makeup result. By combining creativity, technical skills, and a professional attitude, makeup artists can improve the quality of beauty services and strengthen their competitiveness in an increasingly competitive beauty industry.
Dari Bedak ke Branding: Evolusi Industri Kosmetik Dunia dan Indonesia Khayrunnisa Hidayah Desti; Anik Maghfiroh; Maria Krisnawati; Yasmin Radiyya Prasojo; Najwa Noviana Zuhairoh; Martha Jayatri Milandari; Difa’ Nabilsia Dewi
JEBMAFA: Journal of Economics, Business, Management, Accounting, Finance, and Administration Vol. 1 No. 1 (2025): JEBMAFA: Journal of Economics, Business, Management, Accounting, Finance, and A
Publisher : CV. Megantara Abdi Nusa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis evolusi transformatif industri kosmetik global dan Indonesia selama periode 2020-2025, khususnya dalam konteks pergeseran dari produk tradisional menuju paradigma yang didorong oleh branding dan teknologi digital. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka PRISMA, studi ini mengidentifikasi bahwa pertumbuhan signifikan industri di Indonesia (ditandai peningkatan pelaku usaha menjadi 1.010 unit) diakselerasi oleh inovasi formulasi menuju produk cosmeceuticals berbasis bahan aktif ilmiah. Akselerasi pasar ini didukung oleh penetrasi digitalisasi, di mana teknologi Augmented Reality (AR) dan Live Shopping berfungsi mengurangi ketidakpastian konsumen dalam belanja daring. Secara fundamental, strategi branding digital terbukti menjadi determinan utama persaingan, mengkonversi citra merek yang kredibel dan storytelling menjadi loyalitas di tengah tingginya perilaku kritis konsumen dan isu kosmetik ilegal. Meskipun demikian, industri masih dihadapkan pada tantangan strategis berupa ketergantungan tinggi pada bahan baku impor , menyoroti kebutuhan mendesak untuk investasi Riset dan Pengembangan (R&D) guna mencapai kemandirian bahan baku lokal.
Keluarga, Babad Wayang Banyumasan dan Layar Digital: Strategi Augmented Reality untuk Revitalisasi Budaya Banyumas Godham Eko Saputro; Muhammad Wildan Khunaefi; Muh Fakhrihun Naam; Maria Krisnawati; Anik Maghfiroh
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 26 No. 1 (2026): JANUARY 2026
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/nirmana.26.1.22-36

Abstract

Revitalisasi budaya lokal dalam lanskap digital menuntut strategi visual yang kontekstual dan lintas generasi. Artikel ini mengkaji produksi augmented reality Babad Wayang Banyumasan sebagai medium edukatif dan interaktif untuk keluarga digital native. Fokus utama terletak pada tiga peran keluarga: sebagai agen transmisi budaya, sebagai target audiens lintas generasi, dan sebagai sumber nilai dalam narasi pewayangan. Kisah babad wayang Banyumasan yang sarat nilai kesetiaan, tanggung jawab, serta konflik anak dan orang tua menjadi landasan naratif yang relevan dengan dinamika keluarga modern. Penelitian menggunakan pendekatan desain tiga tahap: inspirasi (eksplorasi nilai lokal dan audiens), konsepsi (perumusan konsep narasi visual), dan implementasi (produksi augmented reality berbasis karakter lokal dan prinsip sinematik adaptif). Alih-alih memakai pola dramatik Barat, narasi dikembangkan berbasis nilai dan ritme budaya Banyumas. Hasilnya menunjukkan bahwa augmented reality ini berfungsi ganda: sebagai alat revitalisasi budaya dan jembatan komunikasi antar generasi dalam keluarga. Dengan menyematkan nilai-nilai lokal ke dalam medium visual kontemporer, Babad Wayang Banyumasan menawarkan model desain komunikasi yang relevan, etis, dan edukatif bagi keluarga Indonesia masa kini.
Persepsi dalam Health Belief Model pada Kesadaran Risiko Kontaminasi Bakteri di Kosmetik pada Mahasiswi Tata Kecantikan UNNES Fadiah Khairina Firamadania; Maria Krisnawati
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.879

Abstract

Bacterial contamination in cosmetic products is frequently overlooked, despite posing considerable health risks  particularly among users who habitually share cosmetic tools. This study aims to examine both the simultaneous and partial effects of Health Belief Model (HBM)-based perceptions on awareness of bacterial contamination risk in cosmetics. Employing a descriptive-analytic cross-sectional design, the study involved 208 active female students of the Cosmetology Education Study Program at Universitas Negeri Semarang (UNNES) from the 2022–2025 cohorts, selected through simple random sampling. A Likert scale (1–5) was used to measure six HBM constructs perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy  alongside risk awareness indicators. Data were analyzed using descriptive statistics, Spearman correlation, and multiple linear regression. Results indicate that all variables fall within the high category. Bivariately, all six HBM constructs demonstrated positive and significant correlations with risk awareness (r = 0.533–0.833; p < 0.001), with cues to action showing the strongest association. Multivariately, the model accounted for 93.2% of variance in risk awareness (R2 = 0.932; F = 461.241; p < 0.001). Perceived benefits emerged as the most dominant predictor (B = 0.854; p < 0.001), while perceived barriers showed no significant partial effect (p = 0.132). These findings confirm that the HBM framework is a highly reliable predictor for mapping cosmetic bacterial contamination risk awareness.