Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Akselerasi Sektor Pariwisata Berkelanjutan Daerah Pesisir Desa Tunggulsari dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif Lili Marliyah; Tjaturahono Budi Sanjoto; Marhaeni Dwi Satyarini; Merli Apriyantika; Rini Kusumawardani; Danang Dwi Saputro; Moch Faizal Rachmadi; Jati Wahyu Arisetiawan; Alifta Lutfiaazahra
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi devisa negara dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan sektor pariwisata di daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan batas laut memerlukan perhatian dan perlakuan secara khusus, terintegrasi dan sistematis dalam jangka panjang. Permasalahan kebencanaan, banjir, tingginya gelombang pasang air laut dan kondisi iklim yang fluktuatif menjadi permasalahan tersendiri bagi sektor pariwisata di daerah pesisir termasuk di Desa Tunggulsari, Kabupaten Pati. Tujuan pengabdian ini untuk melakukan akselerasi sektor pariwisata dengan strategi memadukan keberadaan hutan mangrove dan potensi ekonomi masyarakat, secara tepat guna, tepat sasaran dan sistematis di daerah pesisir Desa Tunggulsari. Akselerasi sektor pariwisata ini dimaksudkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi masyarakat sekitar berbasis potensi desa. Pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan melalui metode sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi. Hasil pengabdian adalah dengan merevitalisasi kawasan mangrove sebagai destinasi wisata, rancang bangun pemecah gelombang (breakwater) berbasis hybrid engineering, edukasi konservasi mangrove melalui pendampingan promosi digital kepariwisataan yang terintegrasi dengan pelaku UMKM dan peningkatan kompetensi SDM berkerjasama dengan berbagai stakeholder terkait.
Pemberdayaan masyarakat Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal berbasis optimalisasi IPTEK dan pengolahan pasca panen gula aren Rizki Setiadi; Widiyanto Widiyanto; Pudji Astuti; Moch Faizal Rachmadi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35566

Abstract

AbstrakGula aren merupakan suatu bentuk produk olahan sari nira yang tercipta dari hasil tanaman aren. Gula aren mengandung banyak nutrisi diantaranya seperti kalium, zat besi, serat, magnesium, antioksidan, fosfor dan sebagainya. Gula aren juga sangat aman dikonsumsi untuk penderita diabetes, karena kadar inulin memiliki indeks glikemik yang rendah sebesar 35. Salah satu kelompok masyarakat pengolahan gula aren di Provinsi Jawa Tengah adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) UMKM Sukses Bersama “Sukma” yang beralamatkan di Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Kendala yang masih dihadapi sekarang ini adalah terbatasnya alat-alat produksi pengolahan pasca panen, sehingga jual beli gula aren belum sampai pada produk olahan pangan. Tidak hanya keterbatasan secara sarana alat produksi fisik, melainkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan mitra sasaran juga masih terbatas untuk meningkatkan nilai tambah dan nilai ekonomis produk gula aren. Metode pelaksanaan adalah sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Beberapa Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diserahkan pada mitra sasaran diantaranya meliputi mesin pengaduk, kompor, tungku penggorengan, oven dan sebagainya. Sementara olahan pasca panen gula aren adalah mengolahnya menjadi brownies alpukat, brownies crispy alpukat, sus ula alpukat dan wedang kaduga. Sementara itu, pendampingan pemasaran digital usaha dilakukan dengan turut serta melibatkan peran aktif para mahasiswa. Kata kunci: diversifikasi produk; gula aren; pasca panen; pemberdayaan masyarakat; teknologi tepat guna. AbstractPalm sugar is a processed product made from the sap of the sugar palm plant. Palm sugar contains many nutrients, including potassium, iron, fiber, magnesium, antioxidants, phosphorus, and so on. Palm sugar is also very safe for consumption by diabetics, because the inulin content has a low glycemic index of 35. One of the palm sugar processing community groups in Central Java Province is the Joint Business Group (KUB) of the UMKM Sukses Bersama "Sukma" located in Peron Village, Limbangan District, Kendal Regency. The current obstacle is the limited production tools for post-harvest processing, so that the sale of palm sugar has not yet reached processed food products. Not only are there limitations in physical production facilities, but the knowledge and skills of target partners are also still limited to increase the added value and economic value of palm sugar products. The implementation method is socialization, training, technology application, mentoring and evaluation as well as program sustainability. Some Appropriate Technologies (TTG) handed over to target partners include stirring machines, stoves, frying pans, ovens and so on. Meanwhile, post-harvest palm sugar processing includes avocado brownies, crispy avocado brownies, avocado milk and kaduga drink. Digital marketing assistance for the business is provided with the active involvement of students. Keywords: product diversification; palm sugar; post-harvest; community empowerment; appropriate technology.
Optimalisasi teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen ikan nila salin sebagai produk unggulan daerah Kabupaten Pati Ari Dwi Nur Indriawan Musyono; Muhammad Ansori; Moch Faizal Rachmadi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35674

Abstract

AbstrakIkan nila salin (Oreochromis niloticus) merupakan sektor unggulan perikanan Indonesia. Produksi ikan nila salin pada tahun 2024 mengalami peningkatan mencapai angka 1,38 ton. Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai potensi komoditas unggulan ikan nila salin adalah Kabupaten Pati. Desa Tunggulsari, Kec. Tayu, Kab. Pati dikenal sebagai sentra budidaya ikan nila salin nasional. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2023 tentang Kampung Perikanan Budidaya. Oleh karena itu, mayoritas masyarakat Tunggulsari adalah petani tambak. Tidak hanya ikan nila salin, tetapi di Tunggulsari juga banyak dibudidayakan jenis udang. Berdasarkan potensi dan keunggulan tersebutlah, Desa Tunggulsari menjadi lokasi pengabdian masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Meskipun demikian, masih ditemukan berbagai kendala yang ada di Desa Tunggulsari terkait budidaya perikanan. Permasalahan utama adalah masih terbatasnya alat-alat produksi sehingga seringkali budidaya yang dilakukan belum optimal. Tidak hanya itu, permasalahan aspek pemasaran juga menjadi problematika sampai sekarang ini. Metode kegiatan pengabdian adalah sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program.Teknologi dan inovasi yang diterapkan adalah bantuan sarana produksi seperti kincir air, freezer dan tong pengasapan untuk menunjang olahan pasca panen perikanan. Tidak hanya itu, pelatihan diversifikasi produk yang dipandu langsung oleh Muhammad Ansori, S.T.P., M.P, dengan mengolah bahan baku ikan nila salin menjadi bakso dan stik ikan. Sementara, anggota PKM Moch Faizal Rachmadi, S.Pd., M.Pd juga mendampingi terkait pemasaran dan desain kemasan. Pemasaran yang dilakukan adalah berbasis digital (digital marketing) sehingga mampu dijangkau konsumen secara luas. Kata kunci: ikan nila salin; olahan produk; pemasaran digital; produk unggulan daerah; teknologi budidaya. AbstractSaline tilapia (Oreochromis niloticus) is a leading fishery sector in Indonesia. Saline tilapia production in 2024 increased to 1.38 tons. One of the regions in Indonesia with the potential for superior saline tilapia commodities is Pati Regency. Tunggulsari Village, Tayu District, Pati Regency is known as a national saline tilapia cultivation center. This is based on the Decree of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia Number 111 of 2023 concerning Aquaculture Villages. Therefore, the majority of Tunggulsari residents are pond farmers. Not only saline tilapia, but Tunggulsari also cultivates many types of shrimp. Based on this potential and excellence, Tunggulsari Village became the location for community service under the Community Partnership Empowerment (PKM) scheme. However, various obstacles remain in Tunggulsari Village related to fisheries cultivation. The main problem is the limited production equipment, which often results in suboptimal cultivation. Furthermore, marketing issues are also a problem to this day. The community service activity method is socialization, training, technology application, mentoring and evaluation as well as program sustainability. The technology and innovation applied are assistance with production facilities such as water wheels, freezers and smoking barrels to support post-harvest fisheries processing. Not only that, product diversification training guided directly by Muhammad Ansori, S.T.P., M.P, by processing saline tilapia raw materials into meatballs and fish sticks. Meanwhile, PKM member Moch Faizal Rachmadi, S.Pd., M.Pd also assisted with marketing and packaging design. The marketing carried out is digital-based (digital marketing) so that it can be reached by consumers widely. Keywords: tilapia salt; processed products; digital marketing; regional superior products; cultivation technology.
Pemberdayaan masyarakat guna mewujudkan sustainable village development di Desa Cekel, Kabupaten Grobogan berbasis sektor pertanian Rahmat Doni Widodo; Saptariana Saptariana; Dwi Budi Santoso; Moch Faizal Rachmadi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35565

Abstract

AbstrakTujuan kegiatan pengabdian adalah untuk meningkatkan kompetensi, keterampilan dan wawasan masyarakat Desa Cekel beserta mitra sasaran dalam optimalisasi sektor pertanian, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi inovasi yang tepat. Pertanian mempunyai peran vital dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan Indonesia. Hampir 30% penduduk Indonesia menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah mewujudkan swasembada pangan berbasis kearifan lokal khususnya pada sektor pertanian. Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-6 yang menjadi prioritas program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029. Termasuk halnya di Desa Cekel, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, mayoritas penduduknya bermatapencaharian di sektor pertanian seperti jagung dan pisang. Selama ini, masyarakat Cekel melakukan transaksi jual beli jagung dan pisang dalam bentuk buah segar yang sudah matang. Disamping itu, masih minimnya pengetahuan, wawasan dan keterampilan pasca panen menjadi kendala yang masih dihadapi termasuk halnya terbatasnya alat produksi pasca panen. Metode pelaksanaan adalah sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Teknologi dan inovasi yang diimplementasikan pada mitra sasaran Kelompok Wanita Tani Srikandi ini diantaranya adalah seperti mesin penepung, mesin perajang, oven, tungku penggorengan, spinner dan sebagainya. Disamping itu, bantuan Teknologi Tepat Guna seperti mesin pencacah bonggol juga diserahkan, sebagai solusi untuk memanfaatkan limbah bonggol yang tidak bermanfaat menjadi suatu produk bahan briket maupun lainnya. Pelatihan diversifikasi olahan produk juga dilakukan dengan mengolah pisang dan jagung menjadi keripik pisang, sale pisang, egg rolls, bolen pisang dan pudding jagung. Sementara pendampingan pemasaran digital dan web bisnis. Kata kunci: diversifikasi produk; pelatihan; pemasaran digital; pertanian; teknologi tepat guna. AbstractThe aim of the community service activities is to improve the competence, skills and insight of the Cekel Village community and target partners in optimizing the agricultural sector, as a form of community empowerment based on appropriate innovative technology. Agriculture plays a vital role in Indonesia's economic development and food security. Nearly 30% of Indonesia's population relies on the agricultural sector for its livelihood. The government's efforts are to achieve food self-sufficiency based on local wisdom, particularly in the agricultural sector. This step aligns with Asta Cita 2, 3, 4, and 6, which are priority programs in the 2025-2029 National Medium-Term Development Plan (RPJMN). In Cekel Village, Karangrayung District, Grobogan Regency, the majority of the population earns a living in the agricultural sector, particularly in corn and bananas. The Cekel community has traditionally traded corn and bananas in the form of fresh, ripe fruit. Furthermore, a lack of post-harvest knowledge, insight, and skills remains a persistent obstacle, including limited post-harvest production equipment. Implementation methods include outreach, training, technology application, mentoring, evaluation, and program sustainability. The technologies and innovations implemented for the target partners of the Srikandi Women's Farmers Group (KWT) include flouring machines, shredding machines, ovens, frying pans, spinners, and so on. In addition, Appropriate Technology assistance, such as a corn cob shredding machine, was also provided as a solution to utilize useless corn cob waste into briquettes and other products. Training on product diversification was also conducted by processing bananas and corn into banana chips, banana sale, egg rolls, banana bolen, and corn pudding. Meanwhile, digital marketing and business web assistance were provided. Keywords: product diversification; training; digital marketing; agriculture; appropriate technology.