Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN DAN PENGUJIAN SPRAYER GULMA TIPE DORONG Rion Djafar; Yunita Djamalu; Evi Sunarti Antu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 2 No 2 (2017): Jurnal JTPG
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya, sehinggakehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada didekat atau disekitar tanaman pokok tersebut.Karena hal itulah gulma perlu dihilangkan agar tanaman budidaya dapat tumbuh dengan baik. Sprayergulma merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menghilangkan tanaman gulma. Sprayergulma yang sudah ada saat ini adalah sprayer yang cara kerjanya yakni dengan cara menggendongsprayer berisi cairan dengan berat 20-25 kg dan menyemprotkan cairannya kegulma. Hal ini tidakefektif bagi pengguna sprayer karena harus memikul beban yang berat. Pada penelitian ini dirancangsprayer gulma tipe dorong memberikan solusi kepada masyarakat agar lebih ringan penggunaanyadengan kapasitas 25 liter. Sprayer tipe dorong dimodifikasi menggabungkan beberapa komponenyakni ban arco, pompa, selang, kran udara, tanki, laras penyemprot, dan nozzle. Hasil uji coba lahanseluas 466,56 m2didapatkan rata-rata debit sprayer 0,30 liter/menit, rata-rata lebar area penyemprotan1,70 m, kapasitas penyemprotan 81,6 x 10-3m3/m2, kapasitas lapang teoritis 0,22 ha/jam, waktu kerja0,22 jam dari luas lahan 466,56 m2, kapasitas lapang efektif 0,21 ha/jam dan efisiensi lapang 95%.
DESAIN KOMBINASI MESIN PENGUPAS DAN PEMIPIL JAGUNG Moch. Sabri Entengo; Yunita Djamalu; Evi Sunarti Antu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal JTPG (April)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v3i1.166

Abstract

Di Provinsi Gorontalo, komoditas tanaman pangan merupakan komoditas yang dominan dan dikembangkan secara intensif terutama jagung. Setelah jagung dipanen perlu dilakukan beberapa langkah penanganan salah satunya dengan cara pengupasan kulit dan pemipilan jagung, sekarang sudah ada mesin pengupas kulit sekaligus pemipil jagung tetapi mesin ini masih memiliki kekurangan yaitu, hasil kerja mesin masih belum efektif karena kulit, tongkol dan hasil pipilan jagung tercampur, serta beberapa biji jagung terpipil tidak beraturan. Dari masalah yang ada penulis mendesain dan membuat kombinasi mesin pengupas dan pemipil jagung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode empirik, yaitu pengamatan dilapangan (observasi) kemudian dari sumber studi pustaka lalu diaplikasikan dalam satu model dimensi dengan perencanaaan yang diwujudkan dalam satu bentuk nyata berupa perancangan mesin pemipil dan pengupas kulit jagung. Desain mesin pengupas dan pemipil jagung menggunakan motor penggerak bahan bakar bensin dengan kapasitas 5,5 Hp. Mesin pengupas dan pemipil jagung ini memiliki tinggi keseluruhan alat 1150 mm dengan lebar alat 500 mm. Dari hasil pengujian mesin pengupas dan pemipil jagung uji coba dillakukan sebanyak tiga kali pengujian dengan masa 1 kg jagung yang masih utuh dengan kulit. Setelah jagung selesai ditimbang selanjutnya jagung dimasukan ke dalam mesin pengupas dan pemipil jagung dengan perlakuan yang berbeda, yaitu memasukan jagung kedalam mesin sekaligus, memasukan jagung secara satu persatu, dan uji coba ketiga yaitu memasukan jagung secara satu per satu tanpa jeda, sehingga rata-rata waktu yang dihasilkan 41 detik dari proses pengupasan dan pemipilan.
DESAIN MESIN PENCACAH SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK PEMBUATAN PUPUK KOMPOS Evi Sunarti Antu; Yunita Djamalu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 3 No 2 (2018): Jurnal JTPG (Oktober)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v3i2.247

Abstract

Permasalahan sampah di Indonesia masih belum tertangani dengan baik. Padahal sampah merupakan sumber penyakit, pencemaran lingkungan dan sumber masalah lainnya. Pada penelitian ini akan dirancang sebuah alat pengomposan dala skala rumah tangga sehingga sampah organik untuk setiap rumah tangga dapat langsung diolah dan digunakan. Desain mesin pengomposan dirancang dengan menyesuaikan tinggi badan masayarakat pada umumnya dengan memperhatikan keamanan dan kenayaman pengguna. Bahan yang digunakan pada silinder pencacahan dengan laci penyimpanan kompos berupa stainless still agar tidak terjadai korosi atau berkarat akibat penggunaan bahan sampah yang basah. Penggerak mesin menggunakan dinamo untuk mempemudah pemakaian. Mesin pengomposan terdapat 4 buah rak/laci. Setiap rak/laci mempunyai volume 0,032 m3. Rata-rata waktu pencacahan sampah organik dengan berat 1200 gram yakni 48 detik. Sehingga mesin ini mampu mencacah sampah organik dengan kapasitas 25 gr/detik
MODIFIKASI MESIN PENGUPAS KULIT KACANG TANAH Riklan Tahapali; Romi Djafar; Yunita Djamalu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 4 No 2 (2019): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v4i2.466

Abstract

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman legum yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena kandungan gizinya terutama protein dan lemak yang tinggi, namun produksi kacang tanah di Indonesia terus mengalami penurunan sehingga kebutuhan akan kacang tanah tidak terpenuhi.(Djatiharti et al., 2016). Di Provinsi Gorontalo khususnya di Kabupaten Gorontalo ini, produksi kacang tanah setiap tahun diperkirakan sekitar 521,30 ton per tahun, 43.441 ton per bulan, 1.448 kg per hari (Badan Pusat Statistik 2017). Disisi lain, untuk mengolah kacang tanah ini para petani masih menggunakan cara tradisional yang dianggap praktis meskipun tidak efektif dan efisien. Kondisi ini tentu sudah menjadi kebiasaan bagi para petani kacang tanah, karena belum ada konsep teknologi tepat guna didaerah ini sebagai solusi alternatif yang dianggap praktis. Para petani kacang tanah dalam proses pengupasan masih menggunakan cara tradisional yakni mengupas kacang tanah dengan cara dikupas dengan tangan secara manual, sehingga pengupasan kulit kacang tanah membutuhkan waktu yang lama. Disampig itu pengupasan kulit kacang tanah secara manual juga menimbulkan kebosanan pada tingkat kerja yang tinggi, Untuk mengatasi persoalan kulit kacang tanah tersebut maka diperlukan suatu mesin pengolahannya yaitu “Modifikasi Mesin Pengupas Kulit Kacang Tanah” dengan kapasitas 10,28 kg/jam. Dimaksud untuk membantu para petani khususnya petani kacang tanah untuk mempermudah dalam proses pengupasan kacang tanah. Setelah dilakukan perancangan mesin pengupas kacang tanah diperoleh dimensi dan ukuran mesin yang sesuai dengan standar yang ada seperti daya motor listrik yang digunakan, diameter poros yang digunakan, bagian-bagian alat seperti mata pisau satu dan mata pisau dua, saringan satu dan dua, dan pulley. Sehingga akan dihasilkan mesin pengupas kulit kacang tanah
MODIFIKASI MATA PISAU PADA MESIN PENGUPAS SABUT KELAPA Mahmud Bahsoan; Yunita Djamalu; Iqrima Staddal
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 5 No 1 (2020): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v5i1.538

Abstract

Mesin pengupas sabut kelapa menggunakan mata pisau yang berbentuk seperti busur dengan sudut 70º ini dapat memisahkan sabut kelapa dari batok kelapa. Mesin ini akan mempercepat secara efisien dalam pengupasan sabut kelapa dibandingkan dengan menggunakan mata pisau berbentuk lancip ke atas yang sebelumnya. Karena pada mata pisau tersebut masih belum maksimal pada saat proses pengupasan, dimana mata pisau ini masih menggaruk batok kelapa hingga sampai pecah saat proses pemisahaan sabut dari batok. Untuk itu, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diciptakan inovasi untuk meningkatkan nilai ekonomis dan pemanfaatannya sebagai produksi kopra.“Modisfikasi Mata Pisau Pada Mesin Pengupas Sabut Kelapa” dengan kapasitas 18.96 detik/buah.Dimaksudkan untuk pendapatan petani lebih meningkat dan terhindar dari resiko kecelakaan. Setelah dilakukan perancangan mesin pengupas sabut kelapa, diperoleh dimensi dan ukuran mesin sesuai dengan standar yang ada, seperti daya motor penggerak yang digunakan, serta komponen-komponen mesin lainnya. Sehingga akan dihasilakn mesin pengupas sabut kelapa dengan biaya yang lebih efisien, terjangkau dan hasil produksinya juga sesuai dengan yang diharapkan
KLASIFIKASI CACAHAN ECENG GONDOK UNTUK BAHAN KOMPOS YANG EFEKTIF TERHADAP TANAMAN HOLTIKULTURA Mohamad Rizki Buheli; Yunita Djamalu; Siradjuddin Haluti
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 5 No 2 (2020): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v5i2.679

Abstract

Eceng gondok adalah tanaman yang tumbuh disekitar danau, tanaman ini disebut sebagai tanaman pengganggu oleh masyarakat sekitar danau karena merusak lingkungan perairan. Dari sisi ekonomi penggunaan pupuk kompos cair lebih murah dan efektif dibandingkan dengan pupuk organik cair hasil pabrikan. Disamping bahan baku yang cukup meluas juga dapat diprduksi dengan skala yang lebih besar sehingga dapat meminimalisir biaya pemupukan yang berdampak efesiensi untuk anggaran petani.Tujuan penelitian ini adalah menentukan klasifikasi cacahan eceng gondok untuk pupuk kompos cair, menentukan campuran pengomposan untuk pupuk kompos cair, dan mengetahui dampak pemberian pupuk kompos cair terhadap tanaman holtikultura.Dari hasil studi kasus klasifikasi cacahan eceng gondokuntuk bahan kompos yang efektif terhadap tanaman holtikultura dapat diambil kesimpulan bahwa pupuk kompos cair dari eceng gondok berdampak positif bagi tanaman holtikultura , walaupun ada tanaman yang tidak mengalami pertumbuhan jumlah daun karena kurangnya kandungan N pada pupuk kompos itu sendiri.
Menentukan Kerugian Energi pada Komponen Utama PLTU Menggunakan Simulasi Cylcle Tempo Romi Djafar; Burhan Liputo; Yunita Djamalu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 7 No 1 (2022): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v7i1.911

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tersusun atas komponen utama boiler, turbin, pompa, dan kondensor. Dalam pengoperasian komponen PLTU tersebut akan beroperasi secara terus menerus selama 24 jam apabila tidak terjadi shutdown akibat gangguan maupun kegiatan maintenance dan lain sebagainya. Kondisi ini akan mempengaruhi performa subsistem PLTU akibat umur pemakaian yang makin lama. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan identifikasi tiap komponen yang sudah tidak standar sehingga terjadi kerugian energi yang mengakibatkan penurunan efesiensi. Tujuan penelitian ini adalah menaksir kerugian-kerugian energi pada subsistem PLTU untuk kondisi desain yang nantinyajadi referensi kondisi eksisting kedepannya. Penelitian ini dilakukan melalui pemodelan simulasi cycle tempo menggunakan data desain (heat balance and mass diagram) PLTU Molotabu Gorontalo kapasistas 2x12.5 MW. Berdasarkan hasil simulasi diperoleh efisiensi termal boiler yaitu 85,03%, efisiensi gross electricity sebesar 23,803% serta efesiensi net sebesar 23.3%. Sedangkan kerugian energi terbesar terjadi pada kondensor sebesar 46,68% dari total energi yang hilang ke lingkungan.
Studi Eksperimen Biodigester Menggunakan Kombinasi Eceng Gondok dan Kotoran Sapi Muhammad Zahri Abdul Rahim; Romi Djafar; Yunita Djamalu; Burhan Liputo
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v8i1.1166

Abstract

Danau limboto menjadi sebuah ikon penting yang ada di Propinsi Gorontalo yang harus dilestarikan dari berbagai bentuk pencemarannya. Salah satu masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini adalah penanganan pertumbuhan enceng gondok yang telah menutupi sebagaian besar permukaan air danau tersebut. Mengingat banyaknya enceng gondok yang tumbuh liar di dalam danau limboto dapat dimanfaatkan sebagai menjadi bahan bakar energi alternatif seperti Biogas. Biogas itu sendiri sebagai Salah satu energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan sehari-hari mulai memasak hingga kebutuhan listrik dengan menggunakan alat berupa biodigester. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi permasalahan energi saat ini. Tujuan penelitian adalah merancang biodigester skala mikro dan mengetahui perbandingan yang optimal untuk mendapatkan hasil biogas yang terbaik. Untuk mendapatkan hasil penelitian maka dilakukan variasi perbandingan 1:1., 1:2., dan 1:3 dari bahan baku enceng gondok dan kotoran Sapi. Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh perbandingan enceng gondok dan feses sapi 1:1, 1:2 dan 1: 3 dengan lama fermentasi mulai terbentuknya gas metan masing-masing 7, 9 dan 12 hari. Hasil uji nyala api dari digester perbandingan enceng gondok tetap sebanyak 5 kg dengan perubahan jumlah feses sapi sebesar 5 kg, 2.5 kg dan 1.25 di peroleh masing-masing 8.5 menit, 5, 4 meni dan 3.5 menit.
Uji Kinerja Mesin Panen Padi Menggunakan Mesin Brush Cutter Yunita Djamalu; Romi Djafar; Sunandar Udjaili
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v8i2.1192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi alat pemotong rumput menjadi mesin pemanen padi tipe brush cutter dengan modifikasi yang lebih aman dan mudah digunakan serta mengevaluasi unjuk kerja mesin tersebut. Material teknik yang digunakan meliputi pelat aluminium, bilah bundar yang dilapisi karbida, sabuk operator, pipa aluminium, kain, dan mesin. Mesin pemanen padi tipe brush cutter terdiri dari mesin YSI-328, handle, batang penghubung, sayap pemandu, mata gergaji, tali selempang, dan pelat pengaman kaki. Tipe mata pisau berbentuk lingkaran terbuat dari karbida dengan jumlah mata pisau pemotong sebanyak 42 buah di sisi lingkaran. Ujung mata pisau memiliki ukuran 4x3x2 mm dengan kecepatan putaran antara 3500-4500 rpm. Mesin ini memanfaatkan kecepatan dorongan, yakni nilai untuk memotong empat rumpun padi dengan jarak tanam 25 cm atau setara dengan lebar kerja 100 cm, dimana gerakan mendorong dimulai dari kanan ke kiri dengan waktu berkisar antara 0,7 hingga 1 detik. Mesin ini dilengkapi tali selempang yang terbuat dari kain dengan panjang 2 m. Selain itu, mesin ini juga memiliki pelat pengaman kaki yang terbuat dari aluminium dengan dimensi 50 x 10 cm dan tebal 2 mm. Hasil pengujian pada luasan 50 m2 diperoleh kapasitas aktual memadai sebesar 3,33 m²/menit. Pada luasan tersebut, mesin panen padi hasil modifikasi memerlukan konsumsi bahan bakar sebanya 0,5 liter dengan efisiensi kerja mesin sekitar 82-85%.
Agricultural Technology in Climate-Smart Maize Systems: Integrating Digital, Agronomic, Biological, and Inclusive Innovations Yunita Djamalu; Jumiati Ilham; Fuad Pontoiyo; Lanto Mohamad Kamil Amali
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 11 No 1 (2026): JTPG (May)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v11i1.1637

Abstract

Agricultural technology is reshaping maize systems, yet its contribution to sustainable intensification depends less on the novelty of individual tools than on their integration across genetics, sensing, agronomy, ecology, institutions, and value chains. This structured critical review synthesizes 70 Scopus-indexed studies published from 2021 to 2025 to assess how recent technologies influence productivity, resource-use efficiency, climate resilience, environmental performance, and farmer welfare. The evidence shows rapid progress in unmanned aerial vehicle imaging, hyperspectral sensing, machine learning, crop modeling, variable-rate management, precision irrigation, and digital extension. These tools improve diagnosis and prediction, but their agronomic value is realized only when linked to actionable management rules. Conservation agriculture, subsurface drip fertigation, optimized nitrogen placement, controlled-release fertilizers, biochar-based amendments, microbial inoculants, and stress-targeted nanomaterials can raise yield or reduce environmental burdens, although performance is strongly conditioned by soil, climate, formulation, and management. Genomic prediction, high-density genotyping, gene editing, and high-throughput phenotyping are also converging toward environment-specific breeding. Across smallholder contexts, adoption is shaped by profitability, credit, market access, organizational membership, risk, and the compatibility of technologies as a package; information alone is rarely sufficient. Important trade-offs include microplastic accumulation from film mulching, nitrate displacement after ammonia-control interventions, uncertain nanoparticle safety, and digital model transferability. The review proposes an integrated framework in which sensing, prediction, intervention, verification, and institutional delivery operate as a closed decision loop. Future research should prioritize interoperable data, multi-location validation, whole-system environmental accounting, affordability, and co-designed technology bundles that deliver measurable gains under real farm constraints across diverse production regions.