Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PENERAPAN EARLY WARNING SYSTEM (EWS) OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP : THE RELATIONSHIP OF THE LEVEL OF KNOWLEDGE WITH THE IMPLEMENTATION OF THE EARLY WARNING SYSTEM (EWS) BY NURSES IN THE INPATIENT ROOM Fany Lairin Djala; Nining Nirmalasari; Yulius
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i1.370

Abstract

Kematian adalah salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan yang sangat penting. Tingginya angka kematian di rumah sakit merupakan pertanda kemungkinan adanya masalah mutu pelayanan yang membutuhkan tindakan perbaikan, salah satunya adalah penerapan Early Warning Sytem (EWS). Keberhasilan penerapan EWS oleh perawat salah satunya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan penerapan EWS oleh perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Poso. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini yaitu perawat di ruang rawat inap RSUD Poso. Sampel penelitian ini berjumlah 56 perawat. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik menggunakan fisher-exact. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (96,4%). Penerapan EWS oleh perawat dalam kategori baik (85,7%). Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dengan penerapan EWS (p=0,000). Upaya peningkatan pengetahuan tentang penerapan EWS perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan penyegaran informasi.   Mortality is one of the most important indicators of the quality of healthcare services. High mortality rates in hospitals may indicate potential quality issues that require corrective actions, such as implementing an Early Warning System (EWS). Their level of knowledge influences the successful implementation of EWS by nurses. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and the implementation of EWS by nurses in the inpatient wards of Poso Regional General Hospital. This research design uses a descriptive correlational approach with a cross-sectional method. The study population consisted of nurses in the inpatient wards of Poso Regional General Hospital, with a sample size of 56 nurses. Data were analyzed using the Fisher exact test. The results showed that the majority of respondents had good knowledge (96.4%), and the implementation of EWS by nurses was in a good category (85.7%). There is a significant relationship between nurses' knowledge and the implementation of EWS (p=0.000). Efforts to improve knowledge about the implementation of EWS need to be enhanced through training and information refreshment.
Efektivitas redesain alat tenun terhadap keluhan muskuloskeletal disorders penenun Sarung Tope Le’leng di Desa Tanah Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba: The effect of loom redesain on musculoskeletal disorders complaints of Le'leng Tope Salrong Weavers in Tanah Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency Ahmad Kurniawan; Fatmawaty Mallapiang; Azriful; Fany Lairin Djala
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.484

Abstract

Penenun Sarung Tope Le’leng di Desa Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, masih banyak menggunakan alat tenun tradisional yang belum memenuhi prinsip ergonomi. Kondisi kerja tersebut menuntut postur tubuh yang tidak ergonomis, gerakan berulang, dan durasi kerja yang panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal disorders (MSDs). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas redesain alat tenun ergonomis terhadap penurunan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain quasiexperimental yang melibatkan 30 penenun, terdiri atas kelompok kontrol (n = 15) yang menggunakan alat tenun konvensional dan kelompok intervensi (n = 15) yang menggunakan alat tenun hasil redesain ergonomis. Intervensi dilaksanakan selama 16 hari. Data keluhan MSDs dikumpulkan menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor keluhan MSDs pada kelompok intervensi menurun dari 2,9 ± 0,5 pada awal pengukuran menjadi 1,8 ± 0,4 pada hari ke-16, sedangkan pada kelompok kontrol skor keluhan meningkat dari 1,8 ± 0,6 menjadi 3,2 ± 0,8. Perbedaan keluhan MSDs antara kelompok intervensi dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan sejak hari ke-3 hingga hari ke-16 (Z = −5,012; p < 0,001). Selain itu, pada kelompok intervensi terjadi penurunan keluhan MSDs yang signifikan sebelum dan sesudah penggunaan alat tenun hasil redesain (Z = −4,645; p < 0,001). Redesain alat tenun ergonomis efektif dalam menurunkan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Le’leng Tope sarong weavers in Tanah Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency, still predominantly use traditional looms that do not meet ergonomic principles. These working conditions require non-ergonomic postures, repetitive movements, and prolonged working durations, thereby increasing the risk of musculoskeletal disorders (MSDs). This study aimed to analyze the effectiveness of ergonomic loom redesign in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers. This study employed a quantitative quasi-experimental design involving 30 weavers, consisting of a control group (n = 15) using conventional looms and an intervention group (n = 15) using ergonomically redesigned looms. The intervention was conducted over a 16-day. MSD complaints were assessed using the validated and reliable Nordic Body Map questionnaire. The results showed that the mean MSD complaint score in the intervention group decreased from 2.9 ± 0.5 at baseline to 1.8 ± 0.4 on day 16, whereas the control group showed an increase from 1.8 ± 0.6 to 3.2 ± 0.8. Differences in MSD complaints between the intervention and control groups were significant from day 3 through day 16 (Z = −5.012; p < 0.001). In addition, a significant reduction in MSD complaints was observed in the intervention group before and after the use of the redesigned loom (Z = −4.645; p < 0.001). Ergonomic redesign of the loom is effective in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers.
Hubungan Pengetahuan Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Upaya Penerapan K3 Pada Karyawan Di PT. Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Poso Fany Lairin Djala; Fauziah H. Tambuala; Wisnu Pramudya
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.781

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Pengetahuan karyawan tentang K3 menjadi faktor penting dalam mendukung upaya penerapan prosedur keselamatan kerja yang efektif. Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan  tentang K3 dengan upaya penerapan K3. Metode Penelitian : penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 48 responden. instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. tingkat signifikan dalam penelitian ini adalah nilai sig (2-tailed <0,05). Hasil Penelitian : berdasarkan hasil uji chi-square antara hubungan pengetahuan tentang K3 dan upaya penerapan K3 didapatkan hasil nilai p=0,028 (<0,05). Kesimpulan : terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang K3 dan upaya penerapan K3 pada karyawan. semakin tinggi tingkat pengetahuan karyawan mengenai K3,  semakin baik pula penerapan K3 yang dilakukan. Saran : diharapkan dapat terus meningkatkan program pelatihan dan sosialisasi terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi seluruh karyawan secara berkala agar pengetahuan dan penerapan K3 semakin merata dan optimal di lingkungan kerja.
Penyuluhan Manajemen Stres Dan Trauma Pasca Bencana Di Desa Masani Kabupaten Poso Fauziah H. Tambuala; Fany Lairin Djala; Dwi Debi Tampa’i
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v5i2.2109

Abstract

Bencana alam yang terjadi di Desa Masani, Kabupaten Poso, tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis masyarakat, seperti stres dan trauma pascabencana. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai manajemen stres serta penanganan trauma berpotensi memperburuk kesehatan mental dan menghambat proses pemulihan pascabencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yang dilaksanakan pada bulan Desember 2025 bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat Desa Masani dalam mengenali, mengelola, dan mengatasi stres serta trauma pascabencana secara mandiri dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan edukatif, diskusi interaktif, serta latihan sederhana manajemen stres dan relaksasi yang disesuaikan dengan kondisi dan budaya setempat. Sasaran kegiatan adalah masyarakat terdampak bencana, khususnya orang dewasa dan tokoh masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai konsep stres dan trauma, gejala yang muncul, serta strategi sederhana untuk mengelolanya. Peserta juga menunjukkan respon positif dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan masyarakat Desa Masani mampu meningkatkan ketahanan psikologis dan mendukung proses pemulihan kesehatan mental pascabencana.