Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Identifikasi Risiko Terjadinya Ulkus Diabetik Berbasis Diabetic Foot Screening pada Pasien DM Tipe 2 Nistiandani, Ana; Hakam, Mulia; Sutawardana, Jon Haffan; Widayati, Nur; Siswoyo, Siswoyo; Kurniawan, Fandi Ahmad
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 6 No. 2 (2023): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v6i2.521

Abstract

Abstrak Ulkus diabetik adalah komplikasi DM yang paling sering terjadi. Angka mortalitas diabetisi dengan ulkus diabetik juga semakin meningkat, sehingga dibutuhkan strategi pencegahan untuk mengidentifikasi risiko. Tujuan penelitian adalah teridentifikasi diabetisi yang berisiko mengalami ulkus diabetikum berbasis Diabetic Foot Screening di wilayah Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebesar 100 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah multistage random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian Michigan Diabetic Neuropathy Score (MDNS), Michigan Neuropathy Screening Instrument (MNSI), Ipswich Touch Test (IpTT) dan Monofilament Test. Alat pengumpulan data berupa ceklist yang telah disesuaikan dengan diabetic foot screening, tensimeter aneroid, dan stetoskop. Penelitian ini dianalisis secara univariat, ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian memberikan gambaran identifikasi risiko ulkus diabetik berdasarkan nilai neuropathy perifer diabetik, nilai ankle brachial index (ABI), deformitas pada kaki, gangguan mobilisasi, kuku patologis, riwayat ulkus dan amputasi. Diabetisi memiliki risiko ulkus diabetik dengan kategori rendah sebanyak 41 diabetisi (41%), risiko sedang sebanyak 56 diabetisi (56%) dan kategori risiko tinggi sebanyak 2 diabetisi (2%). Diabetisi di Kabupaten Jember memiliki risiko ulkus diabetik. Identifikasi risiko terjadinya ulkus diabetik dibutuhkan oleh diabetisi sebagai rujukan untuk melakukan tindakan preventif agar tidak terjadi perburukan komplikasi dari DM. Kata kunci: diabetic foot screening, DM tipe 2, ulkus diabetik   Abstract The most common complication of diabetes is diabetic ulcers. The mortality rate of people with diabetes who have diabetic ulcers is also increasing, prevention strategies to identify risks are required. The study sought to identify diabetics in Jember that were at risk of developing diabetic ulcers. With a sample size of 100 respondents, this study takes a quantitative approach. The sampling technique used is multistage random sampling. The instruments used were Michigan Diabetic Neuropathy Score, Michigan Neuropathy Screening Instrument, Ipswich Touch Test, and Monofilament Test. Data collection are a checklist form that has been adjusted to the diabetic foot screening, aneroid sphygmomanometer, and stethoscope. This was analyzed univariately and displayed as a frequency distribution table. The results provide an overview of ulcer risk identification based on diabetic peripheral neuropathy values, ankle-brachial index values, foot deformities, impaired mobilization, pathological nails, history of ulcers, and amputations. Diabetes patients have a low risk of diabetic ulcers 41 people (41%), a moderate risk 56 people (56%), and a high risk 2 people (2%). Diabetics in Jember are at risk of developing diabetic ulcers. Identifying the risk of diabetic ulcers is necessary for people with diabetes to take prevention. Keywords: diabetic foot screening, DM type 2, diabetic ulcer
Faktor Psikososial yang Mempengaruhi Perilaku Perawatan Kaki pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rondhianto, Rondhianto; Nistiandani, Ana; Mahdi , Nabilla Novia
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 7 No. 1 (2023): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v7i1.610

Abstract

Abstrak Perawatan kaki sangat penting untuk menurunkan risiko ulkus kaki diabetik. Perilaku perawatan kaki sebagai bagian dari pengelolaan mandiri sangat ditentukan oleh faktor psikososial. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor psikososial yang mempengaruhi perilaku perawatan kaki penderita diabetes mellitus tipe 2.  Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Besar sampel adalah 138 responden dengan teknik multistage random sampling. Variabel penelitian adalah faktor psikososial (pengetahuan, koping, distres, dukungan keluarga, dan dukungan perawat) sebagai variabel independen dan perilaku perawatan kaki sebagai variabel dependen. Instrumen penelitian berupa kuesioner, yaitu SKILLDS, Coping Scale, DDS, HDFSS, persepsi peran perawat. dan NAFF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 56-65 tahun (48,5%), perempuan (64,4%), pendidikan dasar (39,1%) dan penghasilan rendah (60,1%). Sebagian besar mempunyai pengetahuan, koping, persepsi dukungan keluarga, dan dukungan perawat dalam kategori sedang (45,6%; 67,3%, 53,6%, dan 63,7%), sedangkan distres dalam kategori tinggi (37,6%). Perilaku perawatan kaki dalam kategori sedang (63,0%). Hasil analisis data dengan regresi linier berganda didapatkan bahwa model fit (F=2,419; p=0,039; R2=0,049). Hasil uji partial menunjukkan bahwa hanya pengetahuan yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku perawatan kaki (p=0,035). Upaya peningkatan perilaku perawatan kaki dalam pengelolaan mandiri dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pengetahuan pasien dalam melakukan perilaku perawatan kaki secara mandiri. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, faktor psikososial, perilaku perawatan kaki Abstract Foot care is very important to reduce the risk of diabetic foot ulcers. Psychosocial factors largely determine foot care behavior as part of self-management. The study aimed to analyze the influence of psychosocial factors on the foot care behavior of people with T2DM.  The study was a quantitative study with a cross-sectional design. The sample size was 138 respondents with a multistage random sampling technique. The psychosocial factors (knowledge, coping, distress, family support, and nurse support) were independent variables, and foot care behavior was the dependent variable. The research instruments were questionnaires (SKILLDS, coping scale, DDS, HDFSS, nurse's role perception, and NAFF). Most respondents have the knowledge, coping, family support perceived, and nurse support perceived in the moderate category (45.6%; 67.3%, 53.6%, and 63.7%), and distress was in the high category (37.6%). In contrast, foot care behavior was in the moderate category (63.0%). The results of data analysis with multiple linear regression found that the model fit (F=2.419; p=0.039; R2= 0.049) and only knowledge significantly affected foot care behavior (p=0.035). Efforts to improve foot care behavior in self-management can be increased by increasing patient knowledge in performing foot care behavior independently. Keywords: foot care behavior, psychosocial factors, type 2 diabetes mellitus
Upaya Promotif Mencegah Komplikasi Kaki Pada Pasien Diabetes Melalui Edukasi dan Latihan Kaki di Wilayah Pesisir Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Andani, Kadek Novi; Sutawardana , Jon Hafan; Nistiandani, Ana
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v4i3.613

Abstract

Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan kronis yang berdampak besar pada masyarakat pesisir dengan literasi kesehatan rendah dan akses layanan terbatas, termasuk wilayah Puger, Kabupaten Jember. Minimnya edukasi mengenai komplikasi kaki diabetik menyebabkan rendahnya kemampuan masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kaki mandiri dan pencegahan ulkus. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai diabetes melitus, komplikasi kaki diabetik, pemeriksaan kaki mandiri, serta latihan fisik sederhana berupa heel raise exercise. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan edukatif, diskusi interaktif, demonstrasi praktik, serta evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti 30 peserta dengan latar belakang pekerjaan sebagai pedagang ikan dan ibu rumah tangga. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan pada seluruh aspek yang diukur. Peserta dengan kategori pengetahuan tinggi meningkat dari 26,7% menjadi 86,7% pada aspek definisi diabetes, dari 20% menjadi 83,3% pada aspek komplikasi kaki diabetik, dari 13,3% menjadi 80% pada pemeriksaan kaki mandiri, dan dari 10% menjadi 90% pada latihan kaki. Tidak ada peserta yang tersisa pada kategori rendah setelah edukasi. Peserta juga mampu mempraktikkan gerakan heel raise dengan benar dan menyatakan latihan tersebut mudah diterapkan di rumah. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi terstruktur berbasis visual dan demonstrasi mampu meningkatkan literasi kesehatan serta keterampilan pencegahan komplikasi kaki diabetik secara signifikan pada masyarakat pesisir. Program seperti ini direkomendasikan untuk dilanjutkan sebagai upaya promotif-preventif berkelanjutan berbasis komunitas.
Upaya Promotif Mencegah Komplikasi Kaki Pada Pasien Diabetes Melalui Edukasi dan Latihan Kaki di Wilayah Pesisir Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Andani, Kadek Novi; Sutawardana , Jon Hafan; Nistiandani, Ana
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v4i3.613

Abstract

Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan kronis yang berdampak besar pada masyarakat pesisir dengan literasi kesehatan rendah dan akses layanan terbatas, termasuk wilayah Puger, Kabupaten Jember. Minimnya edukasi mengenai komplikasi kaki diabetik menyebabkan rendahnya kemampuan masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kaki mandiri dan pencegahan ulkus. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai diabetes melitus, komplikasi kaki diabetik, pemeriksaan kaki mandiri, serta latihan fisik sederhana berupa heel raise exercise. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan edukatif, diskusi interaktif, demonstrasi praktik, serta evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti 30 peserta dengan latar belakang pekerjaan sebagai pedagang ikan dan ibu rumah tangga. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan pada seluruh aspek yang diukur. Peserta dengan kategori pengetahuan tinggi meningkat dari 26,7% menjadi 86,7% pada aspek definisi diabetes, dari 20% menjadi 83,3% pada aspek komplikasi kaki diabetik, dari 13,3% menjadi 80% pada pemeriksaan kaki mandiri, dan dari 10% menjadi 90% pada latihan kaki. Tidak ada peserta yang tersisa pada kategori rendah setelah edukasi. Peserta juga mampu mempraktikkan gerakan heel raise dengan benar dan menyatakan latihan tersebut mudah diterapkan di rumah. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi terstruktur berbasis visual dan demonstrasi mampu meningkatkan literasi kesehatan serta keterampilan pencegahan komplikasi kaki diabetik secara signifikan pada masyarakat pesisir. Program seperti ini direkomendasikan untuk dilanjutkan sebagai upaya promotif-preventif berkelanjutan berbasis komunitas.
Effect of Sociodemographic Factors on Self-Monitoring of Blood Glucose Behavior of People with Type 2 Diabetes Mellitus Rondhianto Rondhianto; Ana Nistiandani; Latifah Nur Jannah
Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Kesehatan dr. Soebandi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas dr. Soebandi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36858/jkds.v11i1.452

Abstract

Self-monitoring of blood glucose (SMBG) is important in diabetes self-management to achieve better HbA1c control and decrease complications, morbidity, and mortality in people with type 2 diabetes mellitus (T2DM). SMBG behavior can be influenced by various factors, one of which is sociodemographic factors. This study aimed to analyze the sociodemographic factors that influence the behavior of self-monitoring blood glucose in patients with T2DM. The cross-sectional study was conducted in ten health centers in Jember Regency with a sample size of 130 respondents using multistage random sampling. The independent variable is sociodemographic factors (age, gender, marital status, education level, income level, family type, and ethnicity), while the dependent variable is SMBG behavior. The instrument used was the Self-Monitoring Blood Glucose Questionnaire (SMBG-Q). Data were analyzed by multiple logistic regression. Most respondents had SMBG behavior in the good category (64.6%). Sociodemographic factors simultaneously had an influence on SMBG behavior (p = 0.001 < α = 0.05; R2 = 0.324). The sociodemographic factor that significantly affects SMBG behavior partially is ethnicity (p = 0.001 < α = 0.05). Meanwhile, age, gender, marital status, education level, income level, and family type did not have a significant partial effect (p = 0.095; p = 0.149; p = 0.083; p = 0.359; p = 0.507; p = 0.152 > α = 0.05). The sociodemographic factor that influences SMBG behavior is ethnicity. Therefore, efforts to improve SMBG behavior must pay attention to values and culture to improve the self-monitoring blood glucose behavior of people with T2DM. Keywords: Type 2 diabetes mellitus; self-monitoring blood glucose behavior; sociodemographic
Pengaruh Terapi Relaksasi Benson Terhadap Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Studi Kasus Masruri, Mohammad Adib; Murtaqib, Murtaqib; Nistiandani, Ana; Sujarwanto, Sujarwanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.115849

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder that results from a decrease in insulin sensitivity, which results in persistent high blood sugar levels. Benson relaxation therapy is a complementary treatment that can be used in addition to medication. The use of this in nursing care is not well documented in case study. Ojective: This research aims to examine how Benson relaxation therapy affects the reduction of blood sugar levels in individuals diagnosed with type 2 diabetes. Case report: A 51-year-old female with a type 2 diabetes diagnosis was hospitalized at the RSD Dr. Soebandi, primarily reporting feelings of weakness and nausea. The lab report showed that a blood glucose measurement of 389 mg/dl, an HbA1c level of 11, 6%, and glucosuria (+3) at 300 mg/dl were all within the range. Benson relaxation therapy was administered daily for 10 to 15 minutes to manage her hyperglycemia over the course of three days. The effectiveness of this method was assessed by analyzing the patient's blood glucose levels before and after treatment sessions throughout the treatment period. Results: During the time of the intervention, the glucose levels in the blood dropped from 389 mg/dl to 380 mg/dl on day one, from 215 mg/dl to 205 mg/dl on day two, and from 185 mg/dl to 180 mg/dl on day three. Conclusion: Benson relaxation therapy is a nursing technique that is proven to be safe and effective in managing blood sugar levels.INTISARILatar belakang: Diabetes melitus tipe 2 (T2DM) merupakan sebuah kondisi metabolik yang bersifat kronis, di mana kadar gula darah tetap meningkat disebabkan oleh berkurangnya respons tubuh terhadap insulin. Selain cara pengobatan, terapi relaksasi Benson bisa dijadikan sebagai metode tambahan. Namun, masih sangat jarang temuan kasus yang menjelaskan penggunaan terapi ini dalam konteks studi kasus keperawatan. Tujuan: Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk meneliti dampak terapi relaksasi Benson terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2. Laporan kasus: Seorang wanita berusia 51 tahun yang didiagnosis menderita diabetes mellitus tipe 2 dirawat di RSD Dr. Soebandi dengan keluhan utama kelemahan dan mual. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah acak sebesar 389 mg/dl, kadar HbA1c sebesar 11,6%, dan glukosuria (+3) pada tingkat 300 mg/dl. Selama tiga hari, dia mendapatkan penanganan hiperglikemia dengan terapi relaksasi Benson, yang dilakukan sekali sehari selama 10–15 menit. Keefektifan intervensi dinilai dengan melakukan perbandingan terhadap perubahan kadar glukosa darah pasien sebelum dan sesudah terapi selama periode perawatan. Hasil: Selama periode intervensi, kadar glukosa darah turun dari 389 mg/dl menjadi 380 mg/dl pada hari pertama, dari 215 mg/dl menjadi 205 mg/dl pada hari kedua, dan dari 185 mg/dl menjadi 180 mg/dl pada hari ketiga. Simpulan: Terapi relaksasi Benson merupakan intervensi keperawatan yang efektif dan berbasis bukti, yang dengan aman membantu pengendalian kadar glukosa darah.  
OPTIMAL CARE: Pemberdayaan Keluarga dan Kader Dukung Kepatuhan Terapi TBC di Jember Siswoyo Siswoyo; Nur Widayati; Ana Nistiandani; Zahratul Umniyyah; Esti Utarti; Rondhianto Rondhianto; Mulia Hakam; Jon Hafan Sutawardana; Kadek Novi Andani; Sinta Wijayanti; Dhimas Rizky Handoko
ABDIMASKU : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 9, No 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62411/ja.v9i1.3209

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan tantangan kesehatan serius di Kabupaten Jember, yang menempati peringkat ketiga tertinggi di Jawa Timur. Keberhasilan pengobatan TBC sering terhambat oleh rendahnya kepatuhan terapi yang berakar dari minimnya pengetahuan, dukungan keluarga, dan tingginya stigma sosial. Kegiatan pengabdian melalui program "OPTIMAL CARE" ini bertujuan memberdayakan keluarga dan kader kesehatan untuk mendukung keberhasilan terapi pasien TBC. Metode yang digunakan adalah pemberdayaan komunitas melalui empat tahapan: identifikasi kebutuhan, perancangan program, implementasi, dan evaluasi. Hasil dari tahap identifikasi dan perancangan menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan yang signifikan, di mana 90% keluarga pasien belum memahami praktik perawatan pendukung di rumah. Selain itu, teridentifikasi pula keterbatasan peran kader yang belum optimal sebagai edukator dan motivator. Berdasarkan temuan tersebut, program ini secara spesifik dirancang untuk meningkatkan kapasitas keluarga dan kader melalui edukasi terstruktur dan pendampingan intensif. Kesimpulan dari tahap awal ini menegaskan bahwa intervensi pada keluarga dan kader merupakan langkah strategis untuk membangun ekosistem pendukung yang kuat guna meningkatkan keberhasilan pengobatan TBC.
Application of Combined Ankle Pump Exercise and 30° Leg Elevation in Nursing Care to Reduce Leg Edema in a Patient with Chronic Kidney Disease : Case Report Puja Sheylla Riskita Cahyani; Muhamad Zulfatul A'la; Ana Nistiandani; Yudho Tri Handoko
Jurnal Ilmiah Ners Indonesia Vol 7 No 1 (2026): May 2026
Publisher : Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jini.v7i1.53137

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a global health problem with multifactorial etiologies that may clinically manifest as leg edema, affecting patient comfort and mobility. Although pharmacological and non-pharmacological therapies can be administered simultaneously, evidence regarding the application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation in nursing care for edema reduction in CKD patients remains limited. To analyze nursing care through the application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation therapy to reduce leg edema in a patient with CKD. This study employed a case report design involving a CKD patient with bilateral leg edema. Nursing interventions consisted of a combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation administered twice daily for 8 minutes per session, accompanied by furosemide therapy. Edema was assessed through daily observation of edema grading. A reduction in edema level was observed, with the left leg showing improvement on the third day and the right leg on the fourth day, decreasing from grade II to grade I edema. The application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation, accompanied by furosemide administration, demonstrated a reduction in the degree of leg edema in a patient with CKD. However, further studies using larger samples and controlled study designs are needed to confirm the effectiveness and generalizability of this intervention in clinical nursing practice. Chronic kidney disease (CKD) is a global health problem with multifactorial etiologies that may clinically manifest as leg edema, affecting patient comfort and mobility. Although pharmacological and non-pharmacological therapies can be administered simultaneously, evidence regarding the application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation in nursing care for edema reduction in CKD patients remains limited. To analyze nursing care through the application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation therapy to reduce leg edema in a patient with CKD. This study employed a case report design involving a CKD patient with bilateral leg edema. Nursing interventions consisted of a combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation administered twice daily for 8 minutes per session, accompanied by furosemide therapy. Edema was assessed through daily observation of edema grading. A reduction in edema level was observed, with the left leg showing improvement on the third day and the right leg on the fourth day, decreasing from grade II to grade I edema. The application of combined ankle pump exercise and 30° leg elevation, accompanied by furosemide administration, demonstrated a reduction in the degree of leg edema in a patient with CKD. However, further studies using larger samples and controlled study designs are needed to confirm the effectiveness and generalizability of this intervention in clinical nursing practice.