Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : PESHUM

Assipangngéwanna Rilaonna Passompe'é: Studi Hukum Amanna Gappa Bagi Pelaut Paotere Abad 21 Rifal
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i4.9620

Abstract

Artikel ini membahas pertengkaran dalam pelayaran (assipangngéwanna riaonna passompe'é)yang dibahas dalam Hukum Amanna Gappa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana prinsip-prinsip Hukum Amanna Gappa diterapkan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di atas kapal oleh pelaut Poetere pada abad ke-21 Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sejarah yang meliputi empat tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui studi literatur terhadap dokumen hukum adat, arsip pelayaran, serta wawancara dengan pelaut dan nakhoda. Kritik sumber dilakukan untuk menilai keaslian dan kredibilitas informasi, diikuti dengan interpretasi untuk memahami konteks sosial dan budaya dari konflik yang terjadi. Akhirnya, historiografi digunakan untuk menyusun narasi sejarah yang menggambarkan dinamika penyelesaian konflik di atas kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik di atas kapal sering kali dipicu oleh ketidakseimbangan dalam pembagian hasil tangkapan, yang menimbulkan rasa tersinggung atau masiri ati di kalangan sawi kapal. Dalam situasi ini, nakhoda memainkan peran penting sebagai mediator yang menyelesaikan konflik melalui prinsip-prinsip Hukum Amanna Gappa, seperti musyawarah dan keadilan. Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam meredakan ketegangan, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kerja sama di antara sawu kapal. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menekankan pentingnya nilai-nilai tradisional dalam hukum maritim Indonesia Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa meskipun Hukum Amanna Gappa tidak lagi digunakan secara formal, nilai-nilai yang terkandung
Masjid As’Said dan Jaringan Komunitas Arab di Kawasan Pecinaan Kota Makassar (1907-2023) Nur Faizah Syamsabila Hamka; Najamuddin; Rifal
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.12483

Abstract

Kawasan Pecinaan Kota Makassar merupakan ruang sosial yang multietnis, tempat berlangsungnya interaksi antara komunitas Arab dan Tionghoa. Masjid As’Said hadir tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan simbol identitas komunitas Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) sejarah berdirinya Masjid As’Said dan kaitannya dengan komunitas Arab; (2) kedudukan Masjid As’Said sebagai pusat pembentukan jaringan komunitas Arab; (3) dampak Masjid As’Said terhadap penguatan jaringan komunitas Arab di kawasan pecinaan Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif, melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Masjid As’Said mulai dibangun pada 1905 dan resmi berdiri pada 1907, atas inisiatif Sayyid Hasan bin Muhammad Asshafi bersama tokoh-tokoh keturunan Arab lainnya, sebagai respons atas kebutuhan tempat ibadah dan ruang interaksi komunitas Arab; (2) kedudukan Masjid As’Said sebagai pusat jaringan komunitas Arab melalui berbagai fungsi yaitu sebagai tempat ibadah, dakwah, pendidikan, musyawarah, bakti sosial, dan perayaan hari besar Islam; (3) Masjid As’Said berdampak terhadap pelestarian budaya Arab melalui kegiatan yang dilaksanakan di masjid dan keberadaan Yayasan Masjid As’Said secara konsisten dikelola oleh keturunan Arab mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat jaringan komunitas.
Transformasi Sosial Ekonomi Pelaut Kajuara Rifal; Patahuddin; Ahmad Subair; Bustan
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.12711

Abstract

Penelitian ini menelaah transformasi pelaut Kajuara dari pelaku subsistensi menjadi local entrepreneurs maritim yang menghubungkan ekonomi pesisir Bone dengan pasar regional. Melalui pendekatan history from below dan metode sejarah—heuristik, kritik sumber, interpretasi tematik, dan historiografi—data dikumpulkan lewat wawancara mendalam, observasi partisipatif di pelabuhan, penelusuran daftar kapal (GT, pemilik, rute), arsip lokal, dan statistik. Hasil analisis menunjukkan model kepemilikan bervariasi—individual, keluarga, dan komunal—yang mencerminkan perpaduan logika kapital dan modal sosial berbasis kekerabatan serta nilai budaya Bugis (siri’ na pesse). Faktor internal (keterampilan navigasi, etos kerja, modal sosial, kepemilikan kapal) dan eksternal (ketersediaan sumber daya Teluk Bone, kebijakan publik, perubahan iklim, persaingan pasar) secara bersama membentuk pola adaptasi dan inovasi usaha, termasuk diversifikasi kegiatan, modifikasi perahu, pembentukan koperasi. Transformasi ini mendorong mobilitas sosial vertikal dan horizontal—dari buruh nelayan menjadi pemilik kapal, agen dagang, atau pelaku usaha non-maritim—serta perubahan identitas ekonomi-komunal. Penelitian mengisi kekosongan historiografi maritim dengan menempatkan simpul pelabuhan kecil sebagai aktor kunci dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara dan menawarkan implikasi kebijakan untuk penguatan ekonomi pesisir berbasis tradisi maritim, pengelolaan logistik pangan, pembiayaan rantai pasok, dan mitigasi risiko iklim
Patorani di Desa Galesong Baru (1996-2023): Kajian Sejarah Sosial Ekonomi Rafly; La Malihu; Rifal; Ahmadin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i2.8031

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Latar belakang Patorani di Desa Galesong Baru, Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, 2) Sistem bagi hasil Patorani di Desa Galesong Baru, Kecamatan Galesong, 3) Dampak sosial ekonomi Patorani. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah dengan mengambil lokasi di Desa Galesong Baru, Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Teknik pengambilan informan yang digunakan berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data kualitatif yang digunakan adalah suatu bentuk sejarah dengan menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial, khususnya ekonomi, sosiologi melalui analisa apa yang terjadi.Hasil yang ditemukan dari penulisan ini menunjukkan bahwa Tradisi Patorani tetap bertahan hingga sekarang, namun sistem pembagian hasil pada nelayan yang tidak setara membuat sosial ekonomi Patorani berada pada golongan kemiskinan terstruktur yang berpengaruh pada pendidikan anak dan lingkungan.
Dari Kajuara Ke Kupang: Akar Local Entrepreneurs Pelaut Bugis Rifal
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.12712

Abstract

Penelitian ini mengkaji akar local entrepreneurs pelaut Kajuara di tiga desa pesisir—Tuju-tuju, Pude, dan Angkue—sebagai simpul strategis dalam jejaring ekonomi maritim regional. Berangkat dari kritik terhadap narasi besar sejarah maritim yang sering mengabaikan level komunitas, studi ini menempatkan praktik keseharian pelaut sebagai lensa analitis. Metode sejarah yang digunakan mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Temuan menunjukkan transformasi masyarakat pesisir dari ekonomi subsisten menuju ekonomi pasar melalui perdagangan beras dari Bone (surplus) ke NTT (defisit), disertai pola backhaul komoditas seperti sapi, kambing, dan jagung. Aktivitas ini memunculkan diversifikasi pendapatan rumah tangga, pembagian kerja berbasis gender yang fungsional, serta penguatan usaha pendukung lokal. Modal sosial Bugis—nilai siri’, pacce, resopa temmangingngi, dan jejaring kekerabatan—berperan sebagai instrumen sosial yang menurunkan biaya transaksi dan memperluas pasar lintas pulau. Secara akademik, penelitian ini mengisi kekosongan historiografi mikro tentang pelaut lokal, sedangkan secara praktis memberi dasar bagi strategi penguatan ekonomi pesisir berbasis tradisi maritim.