Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Effect of Sea Surface Temperature and Chlorophyll-a On the Catch of Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) in The Waters of North Maluku, Indonesia Muksin, Darmiyati; Rumagia, Faizal; Syukur, Kartina; Abubakar, Salim; Kadir, Irwan Abdul; Taeran, Imran; Darmawaty, Darmawaty; Kaidati, Bahar
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.29397

Abstract

The waters of North Maluku, abundant in nutrients and ocean currents, provide an ideal habitat for yellowfin tuna (Thunnus albacares), indicating a healthy marine ecosystem. Tuna, an oceanic pelagic species that migrates with ocean currents, is affected by sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a plays an important role in determining yellowfin tuna fishing grounds. This study aims to analyze the spatial and temporal distribution of SST and chlorophyll-a concentration in North Maluku waters and analyze the relationship between SST, chlorophyll-a, and tuna catches. The present study employed both descriptive and quantitative analysis methods to examine the relationship between sea surface temperature, chlorophyll-a, and yellowfin tuna catch. The result shows that the temporal fluctuations in the highest recorded SST were seen in the 2021 transitional season, and the lowest in the 2019 East season. Chlorophyll-a concentrations also showed fluctuations, with the highest value recorded in the 2019 East season and the lowest in the 2020 second transitional season. There is an inverse correlation between SST and chlorophyll-a, with low SST tending to be accompanied by high chlorophyll-a concentrations. The decline in chlorophyll-a concentration can be attributed to various factors, including nutrient availability, sunlight intensity, and water temperature. About 17.48% of the catch of yellowfin tuna (Thunnus albacares) in North Maluku waters is influenced by SST and chlorophyll-a while the rest is influenced by other factors. This indicates that other factors play an important role in determining the catch of yellowfin tuna in North Maluku waters.
EDUKASI LINGKUNGAN UNTUK KONSERVASI PENYU: KOLABORASI AKADEMISI DAN MASYARAKAT PESISIR TOBOLOLO, KOTA TERNATE Mutmainnah Mutmainnah; Bahar Kaidati; Yuliana Yuliana; Saptariani Putri; A. Muhammad Ilyas; Darmiyati Muksin; Martini Djamhur; Darmawaty Darmawaty
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT KAUNIAH Vol. 3 No. 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT KAUNIAH
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jamka.v3i2.621

Abstract

Kelurahan Tobololo di Kota Ternate merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi penting sebagai habitat peneluran penyu. Namun, aktivitas masyarakat pesisir dan rendahnya kesadaran lingkungan berpotensi mengancam kelestarian spesies tersebut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat setempat terhadap pentingnya konservasi penyu sebagai bagian dari ekosistem laut yang berkelanjutan, yang dilaksanakan pada bulan Maret 2024. Metode yang digunakan adalah sosialisasi interaktif melalui penyuluhan, diskusi kelompok, serta pemutaran media edukatif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk nelayan, pelajar, mahasiswa dan tokoh lokal. Pada kegiatan ini juga dilengkapi diberikan materi dengan cara pembagian materi edukasi cetak kepada peserta dan penguatan pesan konservasi melalui media sosial lokal. Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai siklus hidup penyu, ancaman terhadap kelestariannya, serta tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mendukung upaya konservasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan jejaring konservasi berbasis komunitas dan berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin 14 mengenai ekosistem laut. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat lokal menjadi strategi penting dalam mendorong konservasi berbasis partisipatif yang berkelanjutan.