Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Dampak Lingkungan Keluarga dalam Menghadapi Kenakalan Remaja di Kampung Marisen Distrik Biak Barat Kabupaten Biak Numfor Bernard Ruben Obinaru; Busyairi Ahmad
Copi Susu: Jurnal Komunikasi, Politik & Sosiologi Vol 4 No 2 (2022): Copi Susu: Jurnal Komunikasi, Politik & Sosiologi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran fundamental dalam pembentukan karakter dan perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak lingkungan keluarga terhadap kenakalan remaja serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Kampung Marisen, Distrik Biak Barat, Kabupaten Biak Numfor. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam terhadap 15 informan (orang tua, remaja, tokoh masyarakat, dan aparat kampung), serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori kontrol sosial dari Travis Hirschi (1969) yang menekankan empat elemen ikatan sosial: keterikatan, komitmen, keterlibatan, dan kepercayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga memiliki dampak signifikan terhadap kenakalan remaja. Bentuk kenakalan yang ditemukan meliputi perkelahian, konsumsi minuman keras, merokok, dan bolos sekolah. Faktor penyebab utama meliputi kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, konflik dalam keluarga, pola asuh yang tidak konsisten, kondisi ekonomi yang sulit, serta rendahnya tingkat pendidikan orang tua. Kurangnya fasilitas dan kegiatan positif di kampung turut memperburuk situasi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penguatan peran keluarga melalui peningkatan perhatian, pengawasan, dan komunikasi yang efektif sangat diperlukan untuk mencegah kenakalan remaja.
Perubahan Nilai Budaya terhadap Adat Perkawinan Masyarakat di Kampung Wansra Distrik Orkeri Kabupaten Biak Numfor Oskar Manggaprouw; Busyairi Ahmad
Copi Susu: Jurnal Komunikasi, Politik & Sosiologi Vol 6 No 2 (2024): Copi Susu: Jurnal Komunikasi, Politik & Sosiologi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adat perkawinan masyarakat Biak di Kampung Wansra, Distrik Orkeri, Kabupaten Biak Numfor, mengalami perubahan nilai budaya seiring dengan pengaruh modernisasi, globalisasi, dan kemajuan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan nilai budaya dalam adat perkawinan, faktor-faktor penyebab perubahan, serta sikap masyarakat dalam menyikapi perubahan tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam terhadap delapan informan (tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, generasi muda, dan perempuan), serta studi kepustakaan. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Penelitian ini menggunakan teori perubahan budaya dari Franz Boas (1911) serta teori gender dan perubahan sosial dari Judith Butler dan Anthony Giddens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan makna simbol budaya, di mana maskawin yang dulunya bermakna spiritual kini bergeser menjadi simbol status sosial dan ekonomi. Terjadi negosiasi makna antar generasi antara generasi tua yang mempertahankan tradisi dan generasi muda yang mendorong penyederhanaan. Pembentukan identitas baru dalam adat perkawinan tercermin dari penyederhanaan prosesi, peran perempuan yang semakin setara, serta integrasi dengan nilai-nilai agama dan modernitas. Faktor penyebab perubahan meliputi globalisasi, modernisasi, perubahan sosial ekonomi, pengaruh masyarakat luar, perubahan nilai dan norma, serta perkembangan teknologi informasi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa adat perkawinan di Kampung Wansra mengalami transformasi kompleks tanpa kehilangan akar budayanya. Disarankan edukasi budaya berkelanjutan, dialog lintas generasi, serta peran aktif tokoh adat dan pemerintah desa dalam pelestarian nilai-nilai adat.
BLUE ECONOMY POLICY INCLUSION AND SOCIAL CAPITAL TRANSFORMATION OF FISHING COMMUNITIES IN BIAK NUMFOR REGENCY Iriawan, Hermanu; Ahmad, Busyairi
Gema Kampus IISIP YAPIS Biak Vol 21 No 1 (2026): "Gema Kampus" IISIP YAPIS Biak
Publisher : IISIP YAPIS BIak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52049/gemakampus.v21i1.631

Abstract

This study aims to analyze blue economy policy inclusion and social capital transformation among fishing communities in Biak Numfor Regency. The issue is significant because Biak Numfor has substantial marine and fisheries potential, yet the implementation of blue economy policies at the local level often encounters challenges related to unequal access to information, limited institutional capacity, uneven participation, and insufficient strengthening of coastal community networks. Globally, the blue economy is understood as the sustainable use of ocean resources for economic growth, improved livelihoods, and marine ecosystem protection. In Indonesia, the Ministry of Marine Affairs and Fisheries promotes blue economy policies through measured fishing, sustainable aquaculture, coastal management, and marine plastic waste reduction. This study employs a descriptive qualitative approach using in-depth interviews, field observation, and documentation. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that blue economy policy inclusion has not been fully equitable at the level of fishing communities, yet it has stimulated social capital transformation in the forms of strengthened trust, work solidarity, economic networks, and collective participation. However, these transformations remain constrained by limited market access, inadequate fisheries infrastructure, and the lack of integration between local institutions and sectoral policies. This study recommends a participatory, community-based, and socio-culturally sensitive blue economy governance model for fishing communities in Biak Numfor Regency.