Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

GENOTYPING GEN ICAM-1 PADA IBU PREEKLAMPSIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION RESTRICTION FRAGMENT LENGTH POLYMORPHISM (PCR-RFLP) Satriani Syarif; Dian sasmita; Sanatang
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 1 (2024): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.999i

Abstract

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan pada trimester 2 dan trimester 3 yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria yang terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan. Invasi trofoblas pada arteri spiralis uterus dengan gejala klinis hipertensi, proteinuria dan edema, yang berasal dari perubahan patologis dalam vaskularisasi endotelium ibu atau mengakibatkan disfungsi endotel pada plasenta. Preeklampsia meningkatkan ekspresi molekul adhesi ICAM-1 pada permukaan sel endotel yang berinteraksi dengan ligannya pada permukaan leukosit. Munculnya sitokin inflamasi mengakibatkan peningkatan aktifitas makrofag dan netrofil pada pembuluh darah arteri spiralis sehingga akan mengakibatkan disfungsi endotel. Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya genotip gen ICAM-1 pada ibu preeklampsia dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif laboratorium. Populasi dalam penelitian ini yaitu pada ibu preeklampsia yang berumur 26-40 tahun dengan usia kehamilan ≥ 20 minggu (Trimester 2 dan trimester 3) sebanyak 6 responden. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan menggunakan enzim retriksi BstU1 (Bsh1236I). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hasil visualisasi tersebut dari 6 sampel pasien preeklampsia diperoleh hasil 4 positif (66%) yang menjadi gen ICAM-1. Hasil PCR dengan menggunakan serum pasien ibu preeklampsia adalah genotipe KK (100 %) ditandai dengan adanya hasil positif gen ICAM-1 pada 4 sampel dengan terbentuk pita DNA berukuran 223 bp dan setelah dilakukan digesti DNA dengan enzim retriksi BstU1 (Bsh1236I) ditemukan hasil membawa genotipe KK terbentuk pita DNA berukuran 223 bp (50%) dan genotipe EK terbentuk pita DNA berukuran 223 bp, 136 bp dan 87 bp (50%) yang menandakan adanya mutasi gen ICAM-1, sedangkan pada genotipe EE (0%). Kesimpulannya Polimorfisme gen ICAM-1 exon 6 pada serum pasien ibu preeklampsia dengan menggunakan enzim retriksi BstU1 (Bsh1236I) diperoleh hasil pita DNA yang berukuran 223 bp (KK) dan 223 bp, 136 bp dan 87 bp (EK) yang menandakan adanya mutasi gen ICAM-1.
PERBANDINGAN LAMA PENYIMPANAN SAMPEL HASIL ISOLASI DNAMENGGUNAKAN METODE CTAB (Cetil Trimetil Ammonium Bromide) UNTUK MENDETEKSI MUTASI HETEROPLASMI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Satriani Syarif; Abdi Handayani; H. Laode Hamiru
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 2 (2024): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah kadar glukosa tinggi dari normal karena tubuh tidak mensekresi insulin dengan baik. Lama penyimpanan hasil isolasi DNA pada sampel DNA yang telah diisolasi dapat disimpan tanpa mengalami degradasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi mutasi heteroplasmi menggunakan metode CTAB pada sampel langsung dan sampel lama penyimpanan 6 bulan pada penderita diabetes melitus. Jenis penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah hasil isolasi DNA dengan jumlah 7 responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Amplification Refractory Mutation System (ARMS PCR). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara hasil elektroforesis isolasi DNA menggunakan metode CTAB langsung didapatkan sampel hasil mutasi heteroplasmi 5 responden dari 7 reponden. Sedangkan hasil elektroforesis isolasi DNA menggunakan metode ARMS PCR dengan lama penyimpanan sampel 6 bulan didapatkan sampel normal 7 responden. Kesimpulan ada perbedaan antara hasil elektroforesis isolasi DNA menggunakan metode CTAB langsung didapatkan sampel didapatkan mutasi heteroplasmi 5 responden dari 7 responden. Sedangkan hasil elektroforesis isolasi DNA menggunakan metode ARMS PCR dengan lama penyimpanan sampel 6 bulan didapatkan hasil normal 7 responden. Saran adapun saran dalam penelitian ini diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk mendeteksi dengan metode ini dengan sampel penyakit lain.
DETEKSI Mycobacterium tuberculosis PADA PASIEN SUSPEK TB DI PUSKESMAS POASIA BERDASARKAN EVALUASI PEWARNAAN DAN KEMUNCULANGEN IS6110 Satriani Syarif; Nur Ramdani; Muzuni
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 9 No. 1 (2025): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/medilab.v9i1.1229

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penggunaan suspek TB sebagai responden karena kasus suspek TB memiliki jumlah yang cukup banyak di Puskesmas Poasia dengan data kasus 3 bulan terakhir yaitu, September sebanyak 242 orang, Oktober sebanyak 232 orang, dan November sebanyak 182 orang pada tahun 2022. Pemeriksaan mikroskopis dengan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen masih menjadi pilihan pertama untuk deteksi awal TB. Kemunculan gen IS6110 menjadi penanda adanya Mycobacterium tuberculosis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis pada pasien suspek TB negatif di Puskesmas Poasia berdasarkan evaluasi pewarnaan dan berdasarkan kemunculan gen IS6110 Jenis penelitian ini adalah kualitatif, dengan desain non-experimental. Populasi pada penelitian ini adalah pasien suspek TB negatif rawat jalan yang melakukan pemeriksaan sputum di Puskesmas Poasia Kota Kendari. Pada penelitian ini sampel diambil dari 5 responden suspek TB negatif. Jenis sampel yang digunakan adalah sputum dan urine. Sampel sputum digunakan untuk pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) dan sampel urine digunakan untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil pemeriksaan kelima sampel dengan kode 1A, 2A, 3A, 4A, dan 5A menunjukkan bahwa Mycobacterium tuberculosis tidak ditemukan pada sampel sputum suspek TB menggunakan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen dan Mycobacterium tuberculosis tidak terdeteksi pada sampel urine suspek TB menggunakan metode PCR dengan amplifikasi yang dilakukan menggunakan primer Pt8 dan Pt9. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdeteksi Mycobacterium tuberculosis pada pasien suspek TB di Puskesmas Poasia berdasarkan evaluasi pewarnaan dan pada metode PCR. Untuk penelitian selanjutnya agar dilakukan deteksi Mycobacterium tuberculosis menggunakan metode PCR pada pasien yang baru terdiagnosa positif TB dan belum melakukan pengobatan.