Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pemanfaatan Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) Sebagai Indikator Alami dalam Deteksi Boraks Pada Sampel Makanan Grace Dearni Batubara; Aprilla Rahel Yolanda Sinaga; Syahilla Az Zahra; Dea Alfioni Br. Tarigan; Muhammad Hafiz Siddiq; Larasati Arum Utami; Nurbaity Situmorang
EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi Vol. 9 No. 2 (2026): EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/edubio.v9i2.224

Abstract

Penyalahgunaan boraks sebagai bahan tambahan pangan ilegal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai indikator alami dalam mendeteksi kandungan boraks pada berbagai sampel makanan secara kualitatif. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan teknik ekstraksi pelumatan dan penyaringan untuk memperoleh pigmen antosianin. Sampel penelitian terdiri dari tujuh jenis pangan populer: bakso ayam, bakso ikan, tahu putih, bihun, mie kuning, pempek, dan makaroni. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari seluruh sampel, hanya mie kuning yang menunjukkan perubahan warna menjadi hijau secara signifikan (positif mengandung boraks). Enam sampel lainnya tetap berwarna merah keunguan (negatif). Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak bunga kembang sepatu efektif digunakan sebagai instrumen deteksi dini boraks melalui mekanisme perubahan warna akibat reaksi antara senyawa basa boraks dengan zat warna antosianin.
Pemanfaatan Ekstrak Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Sebagai Indikator Alami Dalam Uji Boraks Pada Makanan Boi David Nainggolan; Jemima Fevriera Bangun; Nabil Arkan Harahap; Salsabilla Salsabilla; Yulan Marcelia Banjarnahor; Larasati Arum Utami; Nurbaity Situmorang
EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi Vol. 9 No. 2 (2026): EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/edubio.v9i2.225

Abstract

Keamanan pangan menjadi isu penting di Indonesia akibat masih ditemukannya penyalahgunaan bahan tambahan pangan terlarang, salah satunya boraks, pada berbagai produk olahan untuk meningkatkan tekstur dan daya simpan. Berbagai indikator alami berbasis antosianin telah dikembangkan untuk mendeteksi senyawa bersifat basa, namun sebagian besar penelitian masih menggunakan satu jenis bahan indikator atau terbatas pada jenis pangan tertentu sehingga kajian mengenai konsistensi respons indikator pada berbagai matriks pangan masih perlu diperluas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi ekstrak ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) sebagai indikator alami dalam mendeteksi keberadaan boraks secara kualitatif pada berbagai sampel pangan di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pengamatan perubahan warna pigmen antosianin setelah bereaksi dengan sampel uji. Sebanyak tujuh jenis pangan olahan yang diperoleh melalui teknik purposive sampling dari wilayah Kota Medan diuji menggunakan ekstrak ubi jalar ungu sebagai indikator alami. Sampel tersebut meliputi bakso ayam, bakso ikan, tahu putih, mie kuning, mie bihun, pempek, dan kerupuk, dengan masing-masing sampel dilakukan pengujian sebanyak tiga kali pengulangan untuk memastikan konsistensi hasil pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sampel mie kuning yang memberikan respons positif dengan perubahan warna indikator dari ungu menjadi biru kehitaman, sedangkan enam sampel lainnya tidak menunjukkan perubahan warna yang mengindikasikan keberadaan boraks. Perubahan warna tersebut terjadi akibat transformasi struktur antosianin pada kondisi basa yang dipicu oleh keberadaan senyawa natrium tetraborat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak ubi jalar ungu memiliki potensi sebagai indikator alami berbasis antosianin yang sederhana, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk skrining awal keamanan pangan. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengujian konsistensi kemampuan indikator ubi jalar ungu terhadap beberapa jenis pangan olahan dengan karakteristik matriks yang berbeda sehingga memperluas pemanfaatan bioindikator alami dalam deteksi cemaran kimia pangan.
Pemanfaatan Ekstrak Buah Naga Sebagai Indikaotor Alami Dalam Uji Kandungan Boraks Pada Sampel Makanan Ezra Sijabat; Yohana Putri Girsang; Muhammad Rio Adinatha; Gloria Caroline Siahaan; Larasati Arum Utami; Nurbaity Situmorang
EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi Vol. 9 No. 2 (2026): EDU-BIO: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/edubio.v9i2.226

Abstract

Keamanan pangan di Indonesia masih menghadapi tantangan akibat penyalahgunaan bahan tambahan pangan yang dilarang, salah satunya boraks, yang sering digunakan secara ilegal untuk meningkatkan tekstur dan daya simpan produk pangan. Berbagai metode deteksi telah dikembangkan menggunakan indikator sintetis maupun indikator alami, namun sebagian besar penelitian masih terbatas pada penggunaan satu jenis sumber indikator atau pengujian pada matriks pangan tertentu. Pemanfaatan pigmen betalain dari kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai indikator alami untuk mendeteksi boraks pada berbagai karakteristik pangan masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan ekstrak kulit buah naga merah sebagai indikator alami dalam mendeteksi keberadaan boraks secara kualitatif pada berbagai sampel pangan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan perubahan warna indikator akibat perubahan kondisi pH setelah bereaksi dengan sampel uji. Sebanyak tujuh jenis sampel pangan yang diperoleh melalui teknik purposive sampling dari beberapa lokasi penjualan diuji menggunakan ekstrak kulit buah naga merah, meliputi bakso ayam, bakso ikan, tahu putih, mie kuning, mie bihun, pempek, dan kerupuk. Setiap sampel dilakukan pengujian sebanyak tiga kali pengulangan untuk memastikan konsistensi hasil pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah menghasilkan perubahan warna yang berbeda pada sampel yang terindikasi mengandung senyawa basa, ditandai dengan perubahan warna pigmen betalain dari merah keunguan menjadi warna yang lebih pucat setelah berinteraksi dengan boraks. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah berpotensi digunakan sebagai indikator alami berbasis pigmen betalain yang sederhana, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk skrining awal keamanan pangan. Kebaruan penelitian ini terletak pada evaluasi konsistensi respons pigmen betalain dari limbah kulit buah naga merah terhadap berbagai matriks pangan dengan karakteristik berbeda sebagai metode deteksi boraks berbasis bahan lokal.
Pemanfaatan Ekstrak Etanol Daun Bawang Batak (Allium chinense G. Don) Sebagai Antibakteri Vio Joana Sari; Adinda Rizky Pratiwi; Amelia Sasmita Br Sianturi; Fanny Hafifa; Najwa Sarip; Endang Sulistyarini Gultom; Nurbaity Situmorang
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 23 No. 3 (2025): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/qodiri.2025.23.3.587-597

Abstract

Abstract: This study aimed to evaluate the antibacterial activity of the ethanol extract of Batak onion leaves (Allium chinense G. Don) against soil bacteria using the disk diffusion method. The treatments included ethanol extract of Batak onion leaves, chloramphenicol as a positive control, and dimethyl sulfoxide (DMSO) as a negative control. The results showed that the ethanol extract exhibited antibacterial activity with an average inhibition zone of 3.16 mm, categorized as weak antibacterial activity. In contrast, the positive control (chloramphenicol) produced an inhibition zone of 28.07 mm, indicating very strong antibacterial activity, while the negative control (DMSO) showed no inhibition zone. These results confirm that the observed antibacterial effect originated from the active compounds in the extract or antibiotic rather than the solvent. The antibacterial potential of A. chinense G. Don is attributed to the presence of secondary metabolites such as flavonoids, saponins, and terpenoids, which can damage bacterial cell walls or inhibit protein synthesis. Therefore, although the inhibitory effect is relatively weak, Batak onion leaves have promising potential as a natural antibacterial source with further optimization of extract concentration and purification methods. Keywords: Allium chinense G. Don, Antibacterial Activity, Ethanol Extract, DMSO, Chloramphenicol, Disk Diffusion Method Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun bawang Batak (Allium chinense G. Don) terhadap bakteri tanah dengan menggunakan metode uji kertas cakram (disk diffusion). Perlakuan yang digunakan meliputi ekstrak etanol daun bawang Batak, antibiotik kloramfenikol sebagai kontrol positif, dan dimetil sulfoksida (DMSO) sebagai kontrol negatif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bawang Batak memiliki daya hambat terhadap bakteri tanah dengan rata-rata zona hambat sebesar 3,16 mm, tergolong dalam kategori aktivitas antibakteri lemah. Sebaliknya, kontrol positif (kloramfenikol) menghasilkan zona hambat sebesar 28,07 mm dengan aktivitas antibakteri sangat kuat, sedangkan kontrol negatif (DMSO) tidak menimbulkan zona hambat sama sekali. Hasil tersebut menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri yang dihasilkan murni berasal dari zat aktif ekstrak maupun antibiotik. Aktivitas antibakteri pada ekstrak daun bawang Batak diduga berasal dari kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, dan terpenoid yang bekerja dengan cara merusak dinding sel bakteri atau menghambat sintesis protein. Dengan demikian, meskipun daya hambatnya masih lemah, daun bawang Batak berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami melalui optimasi konsentrasi dan metode ekstraksi yang lebih efektif. Kata Kunci: Allium chinense G. Don, Aktivitas Antibakteri, Ekstrak Etanol, DMSO, kloramfenikol, Kertas Cakram