Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Budaya Laktasi dan Keamanannya Dari Sisi Medis di Indonesia: Tinjauan Literatur Terstruktur Martin, Novia; Masrafat, Hazen; Wijaya, Aqsha
JURNAL KESEHATAN POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG Vol. 14 No. 1 (2026): JKP JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32922/jkp.v14i1.1358

Abstract

Latar belakang: Budaya laktasi di Indonesia dipengaruhi oleh nilai tradisional, kepercayaan keluarga, dan norma sosial yang dapat mendukung maupun menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Praktik seperti pemberian makanan prelakteal, penolakan kolostrum, dan mitos tentang bentuk puting susu masih sering ditemukan dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan pada ibu dan bayi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif bagi pengambil kebijakan, tenaga kesehatan, dan komunitas dalam memperkuat budaya laktasi yang aman dan menyehatkan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur terstruktur dengan pendekatan PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect terhadap artikel. yang dipublikasikan pada tahun 2015 – 2025, menggunakan kata kunci terkait budaya laktasi dan ASI eksklusif. Dari 1.846 artikel yang teridentifikasi, diperoleh 6 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil: Hasil review menunjukkan bahwa budaya laktasi yang berpotensi mendukung keberhasilan menyusui meliputi dukungan keluarga, pijat oksitosin, perawatan payudara tradisional menggunakan minyak kelapa, serta konsumsi pangan lokal seperti jagung dan kacang goreng yang secara empiris dipercaya membantu kelancaran produksi ASI. Sebaliknya, praktik pemberian madu dan makanan prelakteal pada bayi baru lahir, penolakan kolostrum, serta pembatasan makanan ibu menyusui berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bayi dan menghambat keberhasilan ASI eksklusif. Namun, sebagian besar studi menggunakan desain kualitatif sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Kesimpulan: Budaya laktasi dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat keberhasilan menyusui. Meskipun demikian, jumlah studi yang tersedia masih terbatas dan belum mewakili seluruh wilayah Indonesia sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat bukti keamanan dan efektivitas berbagai praktik budaya laktasi.
Microwave-Assisted Self-Healing of AC-WC Modified with Iron Powder: Mechanical Performance and Healing Rate Amalia Firdaus Mawardi; Machsus Machsus; Dadang Supriyatno; Achmad Faiz Hadi Prajitno; Muhammad Fikri Nadhif; Hazen Masrafat
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 8 No. 4 (2026): August-October
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v8i4.3297

Abstract

Conventional asphalt mixtures have limited microwave absorption, reducing the effectiveness of microwave-assisted self-healing. This study evaluates the effect of iron powder (0–10% by mass of fine aggregate) as additional fine aggregate in AC-WC mixtures on mechanical performance and microwave-activated healing behavior. Cylindrical specimens (63 mm × 100 mm; three per mixture) were tested using Marshall Stability and Indirect Tensile Strength (ITS) at 25 °C. Healing efficiency was determined by the ratio of post-heating ITS to initial ITS. Results showed that 10% iron powder increased Marshall stability by 36% compared to the control and achieved the highest healing rate of 76% after the first microwave cycle. However, repeated heating reduced healing performance due to overheating and accelerated binder aging. Iron powder improves early-stage self-healing but requires controlled dosage and heating conditions for long-term durability.
EDUKASI DAN PRAKTIK PEMBERIAN AROMATERAPI LEMON PADA IBU HAMIL EMESIS GRAVIDARUM DI POSYANDU MAWAR Sutrisna Altahirah; Nurul Intan Ramadhan; Novia Martin; Wildan; Hazen Masrafat; Asriadi; Sapril
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i2.37163

Abstract

Emesis gravidarum is a common complaint experienced by pregnant women during the first trimester due to hormonal changes, which may interfere with daily activities and quality of life. Non-pharmacological management is considered a safe alternative to reduce these symptoms, one of which is lemon aromatherapy. This community service activity aimed to improve pregnant women's knowledge about emesis gravidarum and the use of lemon aromatherapy as a complementary therapy. The methods included health education sessions, demonstrations of lemon aromatherapy application, and evaluation through pre-test and post-test assessments. The activity was conducted at Posyandu Mawar, Waara Public Health Center, Muna Regency, involving first-trimester pregnant women. The results showed an increase in participants’ knowledge from 50% before education to 90% after education. Additionally, the incidence of emesis gravidarum decreased from 86,7% before the intervention to 76,7% after the implementation of lemon aromatherapy. The activity showed an increase in pregnant women’s knowledge regarding emesis gravidarum and the utilization of lemon aromatherapy after receiving education, as well as changes in nausea and vomiting complaints based on observations conducted during the activity. Lemon aromatherapy can be recommended as a safe, simple, and affordable complementary therapy in antenatal care services at primary healthcare settings. ABSTRAK Emesis gravidarum merupakan keluhan yang umum terjadi pada ibu hamil trimester pertama akibat perubahan hormonal yang dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup ibu. Penanganan nonfarmakologis menjadi alternatif yang aman untuk mengurangi keluhan tersebut, salah satunya melalui aromaterapi lemon. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang emesis gravidarum dan pemanfaatan aromaterapi lemon sebagai terapi komplementer. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi penggunaan aromaterapi lemon, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Mawar wilayah kerja Puskesmas Waara Kabupaten Muna dengan melibatkan ibu hamil trimester pertama. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dari 50% sebelum edukasi menjadi 90% setelah edukasi. Selain itu, terjadi penurunan kejadian emesis gravidarum dari 85% sebelum intervensi menjadi 75% setelah praktik penggunaan aromaterapi lemon. Kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil terkait emesis gravidarum dan pemanfaatan aromaterapi lemon setelah diberikan edukasi, serta terdapat perubahan keluhan mual dan muntah berdasarkan hasil observasi selama kegiatan berlangsung. Aromaterapi lemon dapat menjadi alternatif terapi komplementer yang aman, mudah, dan terjangkau untuk diterapkan dalam pelayanan antenatal di tingkat pelayanan kesehatan dasar.