Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Redoks

PEMANFAATAN ARANG SEKAM PADI DAN KULIT PISANG KEPOK SEBAGAI ADSORBEN UNTUK MENURUNKAN COD (Chemical Oxygen Demand) DAN BOD (Biological Oxygen Demand) PADA AIR SUNGAI ENIM Legiso Poniman
Jurnal Redoks Vol 6, No 2 (2021): REDOKS JULI - DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v6i2.5637

Abstract

Air sungai adalah sumber daya alam yang menjadi kebutuhan makhluk hidup namun hingga kini banyak terjadi pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan industri. Pencemaran air sungai terjadi karena pembuangan limbah industri yang dikelola tidak efektif. Tingginya konsentrasi COD dan BOD di sepanjang sungai Enim di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim diakibatkan dari pembuangan air limbah cucian batubara yang bersifat asam yang masuk ke sungai yakni sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Enim dan anak anak sungai. Maka diperlukan suatu cara yang dapat mengurangi pencemaran tersebut dengan menggunakan berbagai adsorben salah satunya dengan karbon aktif sekam padi dan kulit pisang kepok.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana kualitas karbon aktif dari sekam padi dan kulit pisang kepok dengan variasi berat yang berbeda, mengetahui pengaruh keefektivitasan karbon aktif dari sekam padi dan kulit pisang kepok, mengetahui penurunan kadar COD dan BOD, setelah dilakukan adsorpsi dengan karbon aktif dari sekam padi maupun adsorpsi dengan karbon aktif dari kulit pisang kepok. Penelitian ini dilakukan dengan persiapan bahan baku, karbonisasi, aktivasi, dan penyerapan kadar air sungai dengan karbonaktif. Hasil penelitian menunjukkan karbon aktif sekam padi dengan konsentrasi H3PO4 15% dapat menurunkan kadar COD dari nilai awal 30mg/L menjadi 5,9mg/L, dan kadar BOD mengalami penurunan dari nilai awal 3,31mg/L menjadi 1,56mg/L.  Kesimpulan yang didapat bahwa karbon aktif sekam padi lebih baik dari pada karbon aktif kulit pisang kepok untuk menurunkan konsentrasi COD dan BOD.
ANALISIS ADSORBEN PENGOLAHAN AIR SUNGAI MUARA LEBUNG MENGGUNAKAN KARBON AKTIF SEKAM PADI DAN KULIT PISANG KEPOK Legiso Poniman
Jurnal Redoks Vol. 7 No. 2 (2022): REDOKS JULI - DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v7i2.8989

Abstract

Kadar besi (Fe) dan total suspensi solid (TSS) dalam air dapat diturunkan dengan menggunakan karbon aktif sebagai media adsorben dan juga nilai pH larutan dapat dinetralkan. Karbon aktif dapat diperoleh dari arang, diantaranya adalah arang sekam padi dan arang kulit pisang kepok. Tujuan penelitian mengetahui bagaimana kualitas karbon aktif sekam padi dan kulit pisang kapok dengan variasi berat yang berbeda, mengetahui pengaruh keefektivitasan karbon aktif dari sekam padi dan kulit pisang kepok, mengetahui penurunan kadar besi (Fe), TSS, dan penetralan nilai pH setelah dilakukan penyerapan dengan karbon aktif sekam padi dan kulit pisang kepok. Tinggi nya konsentrasi logam besi (Fe), TSS dan pH larutan asam, di sepanjang aliran sungai Muara Lebung di Kecamatan Babat Supat kabupaten Musi Banyuasin diakibatkan dari pembuangan air limbah limbah rumah tangga dan industri yang ada di Musi banyuasin. Masyarakat yang berada di sekitar sungai Muara Lebung menggunakan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci. Maka diperlukan suatu cara untuk mengurangi pencemaran pada air sungai Muara Lebung  dengan menggunakan dua macam adsorben. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap persiapan sampel, karbonisasi, aktivasi, dan penyerapan kadar air sungai dengan karbon aktif. Berdasarkan hasil penelitian karbon aktif sekam padi dan kulit pisang kepok dengan aktivator H3PO4 pada konsentrasi 0,1N 20% di dapatkan karbon aktif pisang kapok dengan massa 60 gr adalah yang terbaik dari nilai awal TSS 1.370 mg/L mengalami penurunan menjadi 0.29 mg/L, kadar besi (Fe) 0,450 mg/L menjadi 0,00 mg/L, sedangkan nilai pH berubah netral dari 6,4 menjadi 7,6. Kesimpulan yang didapat bahwa karbon aktif kulit pisang kepok lebih baik dari pada karbon aktif sekam padi untuk mendegradasi kadar TSS, kadar besi (Fe) dan meningkatnya nilai pH.
Pengaruh Co-Solvent Aseton Terhadap Proses Pembuatan Biodiesel Dari Bahan Baku Minyak Kemiri Dengan Katalis KOH Kiagus. A. Roni; Legiso; Nico Syahputra Sebayang; Kemas Muhammad Wahyu; Prayogi, Didi
Jurnal Redoks Vol. 10 No. 1 (2025): REDOKS JANUARI - JUNI
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v10i1.16683

Abstract

Perkembangan zaman dan berjalannya waktu tiap tahun maka akan meningkatkan juga kebutuhan suatu energi yang akan digunakan dalam suatu negara dan untuk menanggulangi dari efek akibat pemakaian energi yang terus menerus maka dibutuhkan sumber energi alternatif terbarukan yang dapat diperoleh serta menggabungkan hingga mengurangi ketergantungan akan kebutuhan energi tidak terbarukan yang berasal dari mineral minyak bumi. Alternatif bahan baku dapat diperoleh dari berbahan nabati yakni minyak goreng, minyak buah jarak, minyak biji kemiri yang mana memiliki komponen struktur rantai karbon penyusun minyak tersebut hampir sama dengan minyak diesel atau disebut juga dengan solar konvensional, untuk mengubah minyak nabati menjadi biodiesel atau yang disebut juga dengan biosolar dibutuhkan pengelolahan yang tepat dan penambahan bahan kimia yang sesuai sehingga dapat memperoleh hasil metil ester yang di inginkan dan sesuai spesifikasi yang dicapai, untuk zat kimia yang digunakan adalah katalis basa Kalium Hidroksida (KOH), KOH digunakan karena lebih murah, lebih mudah didapatkan, serta memiliki nilai efektifitas dan energi aktivasi yang cukup baik dalam mengelolah asam lemak dalam minyak sehingga menghasilkan ester Hexadecanoid dan octadecanoid yang cukup banyak serta diolah melalui proses transesterifikasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil variasi terbaik yang diperoleh dari rasio minyak kemiri : metanol (1:3, 1:6 dan 1:9), waktu lamanya proses ( 10, 20 dan 30 menit), kecepatan pengaduk 300Rpm, temperature konstan pemanasan pada 50℃ dengan bantuan katalis KOH 1% . Berdasarkan dengan Sumber : SK Dirjen EBTKE No.189.K/10/DJE/2019. Dari hasil yang diperoleh dengan kondisi optimumnya terdapat kemurnian metil ester didalamnya sebesar 80,9% hasil dari pengujian GC-MS produk biodiesel.