Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peran Perempuan pada Masa Kesultanan Wanita Turki Ottoman Siti Ameliya; Bella Amelia; Aditya Firmansyah; Maftuh Sujana
Al-Tarbiyah : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 3 No. 3 (2025): Juli: Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam
Publisher : STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59059/al-tarbiyah.v3i3.2520

Abstract

During the era of the Sultanate of Women in the Ottoman Empire, women played a significant role in politics, governance, and various social and cultural fields. Figures such as Hafsa Sultan, Hürrem Sultan, Mihrimah Sultan, Kösem Sultan, and Turhan Sultan were not merely the mothers or wives of sultans, but leaders who held considerable influence in the political decision-making and administration of the empire. Through their positions as Valide Sultan or other royal family members, these women managed to influence both internal and external policies, as well as initiate numerous social and cultural projects. This paper aims to explore the roles of women during the Sultanate of Women, analyzing their impact on the political and social structure of the empire, and highlighting the legacy they left in Ottoman history. Using a historical and analytical approach, this study provides a deeper understanding of how women, despite living in a patriarchal system, were able to play powerful roles in politics and social development.
Islam Sebagai Sistem Nilai Tradisional Lokal Banten Ajharul Wirdi; Eni Nuraeni; Maftuh Sujana
Jurnal Cakrawala Akademika Vol. 2 No. 1 (2025): Edisi Juni 2025
Publisher : PT. Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70182/jca.v2i1.527

Abstract

Islam sebagai system nilai dalam tradisi lokal Banten mencerminkan perpaduan yang selaras antara ajaran islam dan kearifan local masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan adanya proses akulturasi yang harmonis, dan dimana nila-nilai islam yang berbaur dengan tradisi sbudaya Banten tanpa menimbulkan benturan. Sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam penyebaran Islam sejak era Kesultanan Banten, nilai-nilai Islam telah meresap dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik masyarakat setempat. Tradisi lokal seperti ritual keagamaan, adat istiadat, dan kesenian daerah memperlihatkan bagaimana masyarakat Banten memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai lokal yang diwarisi secara turun-temurun. Pengaruh Islam terlihat dalam tradisi seperti upacara Seba, perayaan Maulid Nabi,yalil” dan pencak silat yang tidak hanya menjadi simbol identitas kultural, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis bagaimana nilai-nilai Islam terinternalisasi dalam tradisi lokal Banten serta bagaimana proses tersebut membentuk harmoni sosial di tengah dinamika modernisasi dan globalisasi.   Kata Kunci : Islam, sistem nilai, tradisi , Banten, akulturasi   Abstract Islam as a value system within the local tradition of Banten reflects a harmonious integration between Islamic teachings and the local wisdom of the community. This indicates a process of harmonious acculturation, where Islamic values blend with Banten's cultural traditions without causing conflict. As a region with a long history of Islam's spread since the Sultanate of Banten, Islamic values have permeated various aspects of social, cultural, and political life in the community. Local traditions such as religious rituals, customs, and regional arts demonstrate how the people of Banten combine Islamic teachings with locally inherited values. The influence of Islam can be seen in traditions such as the Seba ceremony, the celebration of the Prophet's birthday (Maulid),yalil” and pencak silat, which not only serve as symbols of cultural identity but also strengthen spiritual and moral values in daily life. This study aims to explore and analyzehow Islamic values are internalized within Banten’s local traditions and how this process shapes social harmony amidst The dynamics of modernizationand globalization.   Keywords: Islam, value system, tradition, Banten, acculturation.  
Sejarah Pendidikan Islam: Kemiskinan dan Ketidaksetaraan di Masa Mughal: Akar Pemberontakan dan Ketidakstabilan Muhamad Kosim; M. Zainal Arifin; Reyinita Damayanti; Maftuh Sujana
TARBIYAH DARUSSALAM: JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN Vol. 9 No. 02 (2025): Tarbiyah Darussalam : Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan
Publisher : Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58791/tadrs.v9i02.393

Abstract

Kerajaan Mughal, yang juga dikenal sebagai Mughal Baadshah atau Mogul, merupakan sebuah kekuasaan yang pada masa kejayaannya menguasai wilayah Afghanistan, Balochistan, serta sebagian besar anak benua India antara tahun 1526 dan 1858 M. Kerajaan ini didirikan oleh Babur, seorang keturunan Mongol, pada tahun 1526 (Soebardi dan Harsojo, 1986; 100). Istilah "Mughal" sendiri adalah bentuk Indo-Aryan dari kata "Mongol". Dinasti Mughal bertahan selama kurang lebih tiga abad, dari tahun 1526 hingga 1858 M, dan selama periode tersebut, pengaruh Islam telah memberikan nuansa yang khas di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas menganut agama Hindu. Meskipun kini gema kebesaran Islam sebagai warisan dari Dinasti Mughal mulai terlupakan, terdapat beberapa tokoh pendidikan yang berperan penting dalam perkembangan pendidikan Islam, baik di tingkat global maupun pada masa Dinasti Mughal. Dua di antara tokoh tersebut adalah Jalaluddin Muhammad Akbar Syah dan Aurangzeb.
PRESERVING THE DEBUS AND MAWLID TRADITIONS IN THE BANTEN REGION Ramzy Ramadhan; Abu Fakhri Ropip; Ahmad Alan Ardiyansyah; Maftuh Sujana
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 4 (2025): Vol. 2 No. 4 Edisi Oktober 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i4.1234

Abstract

Historical records show that in the early 19th century, Banten became a center for scholars in the archipelago and even in Southeast Asia, particularly in the field of Islamic studies. The Bantenese culture, which appears simple on the surface, actually possesses a high level of complexity. This article presents a portrait of Bantenese culture by focusing on two main topics: the Debus tradition and the Panjang Mawlid tradition. The study finds that the diverse folk art performances in Banten, which have been passed down through generations, are inseparable from religious influences, especially Islam.