Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO GANGGUAN REFRAKSI PADA POPULASI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI ERA DIGITAL: STUDI CROSS-SECTIONAL Shinta Amelia Astuti; Suci Haryanti; Erline Harijanto; Ahmad Dasuki; Eriko Ruslan
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2: Juli 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan perangkat digital yang meluas telah meningkatkan kekhawatiran tentang kesehatan visual, terutama di lingkungan pendidikan. Computer Vision Syndrome (CVS) dan kelainan refraksi menjadi prevalensi tinggi di kalangan remaja dan dewasa yang menggunakan teknologi digital secara intensif. Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah untuk menentukan prevalensi kelainan refraksi dan faktor risiko terkait pada siswa, guru, dan staf di sekolah menengah kejuruan di Jakarta. Metode pengabdian ini adalah Studi cross-sectional dilakukan di SMK Jakarta Timur 1 dengan melibatkan 341 peserta pada 26 Februari 2025. Pemeriksaan mata komprehensif meliputi tes ketajaman penglihatan dan penilaian refraksi dilakukan. Analisis statistik mencakup statistik deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor risiko. Hasil pengabdian ini adalah prevalensi keseluruhan kelainan refraksi yang memerlukan koreksi adalah 34,3% (117/341). Guru dan staf menunjukkan prevalensi tertinggi sebesar 83,3% (35/42), sedangkan siswa pemasaran memiliki prevalensi terendah sebesar 25,0% (4/16). Miopia merupakan kelainan refraksi yang dominan (68,4%), diikuti hiperopia (18,8%) dan astigmatisme (12,8%). Kelompok usia (OR=3,45, 95%CI: 2,12-5,67, p<0,001) dan kategori pekerjaan (OR=2,78, 95%CI: 1,56-4,94, p<0,01) merupakan faktor risiko yang signifikan. Kesimpulan pengabdian ini adalah Prevalensi kelainan refraksi yang tinggi, terutama pada peserta yang lebih tua, menunjukkan perlunya program skrining mata rutin dan edukasi digital wellness di institusi pendidikan
PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO KELAINAN REFRAKSI PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS SDN PONDOK RANGGON 4 JAKARTA Atti Kartikawati; Fitri Yati; Sahel, Sahel; Suci Haryanti; Shinta Amelia Astuti
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada anak usia sekolah dasar di Indonesia. Prevalensi kelainan refraksi terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup digital. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan menganalisis faktor risiko kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar di SDN Pondok Ranggon 4 Jakarta. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 446 responden yang terdiri dari siswa kelas 3, 4, 5 serta guru dan staff. Pemeriksaan visus menggunakan Snellen Chart dan autorefraktometer. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung dan wawancara terstruktur. Hasil: Dari 446 responden, 164 (36,77%) memerlukan koreksi kacamata. Prevalensi tertinggi pada kelas 5 (52,12%), diikuti kelas 3 (36,92%), dan terendah kelas 4 (18,46%). Seluruh guru dan staff (100%) memerlukan koreksi. Faktor risiko yang teridentifikasi meliputi riwayat keluarga dengan kelainan refraksi, durasi penggunaan gadget lebih dari 3 jam per hari, dan jarak baca yang terlalu dekat (20-30 cm). Kesimpulan: Prevalensi kelainan refraksi pada siswa SDN Pondok Ranggon 4 cukup tinggi. Diperlukan program skrining mata berkala dan edukasi kesehatan mata bagi siswa, orang tua, dan guru
EDUKASI KESEHATAN MATA DI ERA DIGITAL: PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DI SDN PONDOK RANGGON 4 JAKARTA TIMUR Sahel, Sahel; Atti Kartikawati; Suci Haryanti; Shinta Amelia Astuti; Fitri Yati
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 8 (2025): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of refractive errors in children has increased significantly in the digital era, especially since the COVID-19 pandemic. Excessive use of gadgets without proper management can cause digital eye strain and increased risk of myopia. This community service activity aims to conduct refraction examinations, provide eye health education, and provide free glasses to students and teachers at SDN Pondok Ranggon 4 East Jakarta. The methods used include eye health screening, refraction examination, eye health education in the digital era, and distribution of glasses. The results showed that of 446 respondents examined, 164 people (36.77%) required glasses correction. The highest prevalence of refractive errors was found in teachers and staff (100%), followed by grade 5 (52.12%), grade 3 (36.92%), and grade 4 (18.46%). This activity made a positive contribution to increasing awareness and knowledge of the school community about the importance of eye health in the digital era and providing adequate access to vision correction.
Strategi Pembelajaran Adaptif untuk Siswa dengan Gangguan Refraksi pada Guru Kelas V SD N 04 Pondok Rangon Atti Kartikawati; Haryanti, Suci; Sahel; Shinta Amelia Astuti; Fitri Yati
Jurnal Pembelajaran Inovatif Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Pembelajaran Inovatif
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPI.082.08

Abstract

Abstrak ____________________________________________________________________ Latar Belakang: Gangguan refraksi merupakan salah satu masalah penglihatan yang sering dialami anak usia sekolah dasar dan dapat mempengaruhi prestasi akademik. Penelitian ini mengkaji strategi pembelajaran inklusif yang diterapkan guru kelas 5 SD dalam menangani siswa dengan gangguan refraksi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan teknik wawancara mendalam terhadap tiga guru kelas 5 SD yang memiliki pengalaman mengajar siswa dengan gangguan refraksi. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola strategi pembelajaran yang efektif. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa 22 dari total siswa (sekitar 8,9%) mengalami gangguan refraksi di tiga kelas yang diteliti. Guru mengembangkan strategi adaptasi meliputi: (1) pengaturan tempat duduk strategis di barisan depan, (2) penggunaan media pembelajaran visual yang diperbesar, (3) pendampingan individual, dan (4) modifikasi durasi pembelajaran. Tantangan utama yang dihadapi adalah gangguan konsentrasi siswa dan keterbatasan waktu pembelajaran. Kesimpulan: Implementasi strategi pembelajaran adaptif menunjukkan dampak positif terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa dengan gangguan refraksi. Diperlukan kerjasama multipihak antara sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan untuk optimalisasi pembelajaran inklusif.