Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Legal Certainty of Jurisdiction and Authority of the International Criminal Court (ICC) Regarding the Detention of Rodrigo Duterte in the “War on Drugs” Case Kaloko, Ilhamda Fattah; Harmelia; Putra, Rian Rusmana
JURNAL MERCATORIA Vol. 18 No. 1 (2025): JURNAL MERCATORIA JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/mercatoria.v18i1.15362

Abstract

This article aims to analyze the relationship between state withdrawal and the jurisdiction of the International Criminal Court (ICC), particularly in the context of the Philippines' decision to withdraw from the Rome Statute. The problem is focused on the legal implications of such a withdrawal, especially in terms of how it influences the ICC's authority to investigate and prosecute crimes committed prior to the effective withdrawal date. This issue is exemplified by the Philippines' controversial "war on drugs" campaign under President Rodrigo Duterte, which has led to the deaths of thousands of civilians and is alleged to constitute serious human rights violations and crimes against humanity. In order to approach this problem, a normative theoretical reference is used to examine international law and the principles of accountability that underpin the ICC’s mandate. Data is collected through a comprehensive analysis of legal texts, court rulings, and relevant case studies. This study concludes that despite a state’s formal withdrawal from the Rome Statute, its responsibility for international crimes committed before the withdrawal remains intact. The ICC continues to hold jurisdiction over such crimes, as demonstrated by its ongoing investigation into the deaths linked to Duterte’s policies. This case highlights significant challenges related to political sovereignty, while also raising critical questions about the tension between national autonomy and global justice.
ISRAELI–IRANIAN MISSILE TERRITORIAL VIOLATIONS IN THE AIRSPACE OF SYRIA: A REVIEW OF INTERNATIONAL LAW Kaloko, Ilhamda Fattah; Harmain, Irfan; Adri, Saidil; Putra, Rian Rusmana
PRANATA HUKUM Vol. 20 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Law Faculty of Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/pranatahukum.v20i2.415

Abstract

The armed conflict between Israel and Iran, involving cross-border missile launches through Syrian airspace, presents complex challenges under international law. This study analyzes the legal implications of such violations, focusing on state sovereignty, state responsibility, and the justification of force under Article 51 of the UN Charter. Using a normative juridical method, the research evaluates the effectiveness of international legal instruments such as the UN Charter, the 1944 Chicago Convention, and the Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Acts (ARSIWA) 2001 in addressing modern aerial threats involving third-party states. The findings reveal a legal vacuum regarding the regulation of long-range missiles and armed drones, often exploited by powerful states to avoid accountability. Syria, a neutral state in the Israel-Iran conflict, has suffered civilian casualties and sovereignty violations without effective international legal remedies. Furthermore, the self-defense justifications put forward by both Israel and Iran fail to meet the criteria of necessity and proportionality and infringe upon the principle of non-intervention. The weak response from the international community exacerbated by the UN Security Council’s inaction and ICAO’s limited mandate underscores the urgent need for legal reform. This study advocates for the enhancement of international institutional mandates, the development of additional protocols on aerial warfare, and the ratification of ARSIWA to strengthen legal accountability and protect third-state airspace in armed conflict.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMIDANAAN PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN PEMBERATAN DI PENGADILAN NEGERI KAB. MADIUN (Studi Putusan Nomor 43/Pid.B/2025/PN Mjy) Putra, Rian Rusmana; Maileni, Dwi Afni; Bhakti, Rizki Tri Anugrah; Sakti, Indra; Hutasoit, Ispandir
PETITA Vol 7, No 1 (2025): PETITA VOL 7, NO 1 JUNI 2025
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/pta.v7i1.7729

Abstract

Kejahatan pencurian itu merupakan delik yang dirumuskan secara formal dimana yang dilarang dan diancam dengan hukuman, dalam hal ini adalah perbuatan yang diartikan “mengambil". Tindak pidana pencurian sendiri diatur dalam pasal 362 KUHP dan Tindak pidana pencurian dengan pemberatan diatur dalam pasal 363 KUHP. Analisis Hukum penerapan Tindak Pidana Pencurian dengan kekerasan putusan perkara pidana Nomor : 43/Pid.B/2025/PN Mjy Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP Tentang pencurian dengan pemberatan. Dalam persidangan terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama satu tahun, sanksi dijatuhkan oleh Majelis Hakim kepada terdakwa terlalu ringan. Sanksi Pidana dalam rumusan Pasal 362 KUHP paling lama Lima Tahun. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan dengan melihat Pertimbangan yuridis: perbuatan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan memenuhi semua unsur dalam Pasal 363 KUHP. Pertimbangan Non-yuridis dalam persidangan majelis Hakim tidak menemukan halyang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar atau alasan pemaaf, maka terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
State Accountability for Corporate Climate Offenses : International and Developing Country Legal Perspectives Putra, Rian Rusmana; Kaloko, Ilhamda Fattah; Harmain, Irfan; Dahlan; Prakarsa, Taruna
Melayunesia Law Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30652/0t7vjp48

Abstract

This study examines state legal responsibility in addressing corporate- driven climate violations in developing countries, focusing on the gap between normative commitments and actual enforcement. The central question is how state liability should be constructed to effectively regulate corporations that contribute significantly to greenhouse gas emissions and environmental degradation. Using a juridical normative and comparative approach, the analysis covers Indonesia, Brazil, and South Africa to identify similarities, differences, and weaknesses in integrating international principles into domestic legal systems. The findings reveal that while national laws recognize the duty to protect the environment and uphold human rights, enforcement remains fragmented, symbolic, and subordinated to short-term economic interests. This creates a structural accountability gap that facilitates corporate impunity, compounded by power imbalances, inadequate institutional capacity, and the absence of robust extraterritorial enforcement mechanisms. The novelty of this research lies in an integrated framework combining state responsibility, corporate accountability, and climate justice, emphasizing extraterritorial obligations and independent national climate adjudication mechanisms. This model operationalizes climate justice as a binding legal standard, harmonizes domestic laws with international obligations, and improves access to justice for affected communities. The tangible output of this study is a normative–comparative regulatory model and policy recommendations for legislators, environmental law practitioners, and international organizations to reform legal frameworks for corporate climate accountability in developing countries. By bridging the gap between norms and practice, the framework offers both conceptual contributions and practical guidance for legal reform, ultimately promoting sustainable development grounded in ecological protection and intergenerational equity.
Pertanggungjawaban Negara Pengembang AI atas Intervensi Pemilu Lintas Batas Penerapan Prinsip Due Diligence dalam Hukum Internasional Putra, Rian Rusmana; Kaloko, Ilhamda Fattah; Syifa, Abella Aurelia; Meilani, Aldlyan; Pardamean, Nikolaus Eratus
PETITA Vol 7, No 2 (2025): PETITA VOL. 7, NO. 2 DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/pta.v7i2.8917

Abstract

Studi dalam pembahasan ini menganalisis tentang bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan oleh negara pengembang AI (Artificial Intelligence) terhadap intervensi pemilu lintas batas dengan menerapkan prinsip due diligence sesuai hukum Internasional, dimana pembahasan difokuskan pada teknologi AI dalam bentuk deepfake yang memanipulasi visual maupun audio secara canggih untuk mendapatkan hasil yang terlihat seperti nyata, dimana hal ini bisa menyebabkan kekeliruan pada pemilih, mengurangi bahkan merusak kepercayaan atas demokrasi, dan bisa menyebabkan terjadinya intimidasi jika terlalu berlebihan. Latar belakang pada pembahasan meliputi perkembangan deepfake yang terus berkembang setiap tahunnya dan AI yang digunakan dalam Pemilu 2024 di Indonesia membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya menciptakan efisiensi waktu, akan tetapi lebih besar dampak negatif yang ditimbulkan karena menggunakan AI pada Pemilu 2024 bisa mengganggu privasi data bagi pemilih maupun yang dipilih, manipulasi atau ketidakbenaran informasi, serangan terhadap siber, dan kelalaian pengembang AI maupun pemerintah yang bisa menyebabkan pertanggungjawaban secara pidana atau Internasional.
Insiden Penembakan WNI di Malaysia dan Implikasinya terhadap Tanggung Jawab Negara dalam Hukum Internasional Putra, Rian Rusmana; Kaloko, Ilhamda Fattah
PETITA Vol 7, No 2 (2025): PETITA VOL. 7, NO. 2 DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/pta.v7i2.8918

Abstract

Penelitian ini menganalisis efektivitas respons diplomatik Indonesia terhadap insiden penembakan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh aparat keamanan Malaysia di Selangor, yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam hukum internasional. Tujuan utama kajian adalah untuk menilai bentuk pertanggungjawaban yang dapat dikenakan kepada Malaysia serta menelaah fungsi diplomasi sebagai instrumen penyelesaian sengketa antarnegara. Dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, penelitian ini mengkaji sumber hukum internasional, dokumen resmi, dan data sekunder lainnya. Temuan menunjukkan bahwa Indonesia telah menempuh jalur diplomatik melalui penyampaian nota protes, pemberian pendampingan hukum oleh KBRI, serta intensifikasi komunikasi bilateral. Namun demikian, tanggapan Malaysia cenderung bersifat formalistik tanpa mencerminkan komitmen substantif terhadap prinsip akuntabilitas hukum. Kondisi ini menimbulkan implikasi negatif terhadap perlindungan HAM, kepercayaan publik, dan hubungan bilateral. Sebaliknya, respons yang lebih kooperatif dari Malaysia berpotensi memperkuat hubungan diplomatik dan menjamin perlindungan bagi pekerja migran. Studi ini menegaskan keterbatasan mekanisme diplomasi bilateral dalam menuntut akuntabilitas negara, serta pentingnya penguatan kerangka kerja sama internasional dalam penegakan HAM lintas batas negara.
PENINJAUAN ULANG KEPASTIAN HUKUM ATAS KELALAIAN MEDIS: ANALISIS KASUS DI INDONESIA Putra, Rian Rusmana; Pratama, David Indra; Pardamean, Nikolaus Eratus
PETITA Vol 7, No 2 (2025): PETITA VOL. 7, NO. 2 DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/pta.v7i2.8675

Abstract

Penelitian ini membahas kepastian hukum atas kelalaian medis di Indonesia dengan menelaah kerangka regulasi yang tersebar dalam berbagai undang-undang, seperti UU Praktik Kedokteran, UU Kesehatan, UU Rumah Sakit, dan UU Perlindungan Konsumen. Permasalahan utama terletak pada disharmonisasi norma, tumpang tindih kewenangan lembaga, serta ketidakkonsistenan aparat penegak hukum dalam menilai unsur kelalaian (culpa), sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi tenaga kesehatan maupun pasien. Penelitian ini juga menganalisis urgensi peninjauan ulang dan pembaruan hukum melalui harmonisasi regulasi, penguatan MKDKI, serta penegasan mekanisme penyelesaian sengketa medis, termasuk mediasi medis sebagaimana diperbarui dalam UU Kesehatan 2023. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif, penelitian ini menyimpulkan bahwa pembaruan struktural, prosedural, dan substansial perlu dilakukan untuk menciptakan sistem penyelesaian sengketa medis yang lebih prediktif, proporsional, dan berkeadilan bagi seluruh pihak.
Tinjauan Yuridis Aspek Hukum Pidana Dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah untuk Menjamin Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Negara Putra, Rian Rusmana; Kaloko, Ilhamda Fattah; Pratama, David Indra; Niyobuhungiro, Joel; Pardamean, Nikolaus Eratus
PETITA Vol 7, No 2 (2025): PETITA VOL. 7, NO. 2 DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/pta.v7i2.8909

Abstract

Pengadaan barang dan jasa pemerintah di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembangunan nasional. Namun, sektor ini sering kali menjadi rentan terhadap penyalahgunaan wewenang dan praktik korupsi yang merugikan keuangan negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan hukum pidana dan administrasi negara dalam mengatasi penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif, dengan pendekatan yuridis normatif yang mengkaji peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Penelitian ini juga menggunakan studi kasus untuk menganalisis penerapan sistem e-procurement sebagai solusi untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pengadaan barang dan jasa. Selain itu, penelitian ini mengkaji peran lembaga pengawasan, seperti KPK dan KPPU, dalam memastikan integritas pengadaan barang dan jasa pemerintah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun sistem e-procurement dapat meningkatkan transparansi, tantangan terkait infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia masih menjadi hambatan utama dalam implementasinya. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa kolaborasi yang kuat antara lembaga-lembaga pengawasan dan penguatan kapasitas hukum sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pengadaan yang bersih dan akuntabel. Diperlukan upaya untuk memperkuat sistem hukum yang ada, meningkatkan integritas pejabat pengadaan, serta melibatkan masyarakat dalam proses pengawasan. Dengan langkah-langkah ini, pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat berjalan lebih efisien, bebas dari korupsi, dan memberikan manfaat yang maksimal bagi pembangunan nasional.