Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Regenerasi dan Adaptasi sebagai Strategi Pelestarian Wayang Topeng Kelompok Kadaryono di Situbondo, Jawa Timur Rahmayani, Wahdania Nur; Gustyawan, Tofan; Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satrio
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.16160

Abstract

AbstrakWayang topeng adalah salah satu jenis teater rakyat tradisional yang berasal dari Situbondo, Jawa Timur, yang kini mengalami penurunan intensitas pertunjukan dibandingkan dengan kesenian ludruk dan ketoprak. Kelompok Wayang Topeng Kadaryono menjadi salah satu representasi penting dalam pelestarian bentuk seni ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan dan dinamika kelompok Kadaryono dalam mempertahankan eksistensi seni pertunjukan wayang topeng. Dengan menggunakan pendekatan sejarah dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan tokoh seniman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian wayang topeng didorong oleh inisiatif pelaku seni itu sendiri, terutama Ki Dalang Kadaryono, yang secara aktif menjaga kesinambungan tradisi melalui regenerasi internal dan adaptasi format pementasan. Keberlangsungan kesenian ini membutuhkan kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan pemerintah sebagai ekosistem pendukung yang berkelanjutan.Kata kunci: Situbondo, wayang topeng, keberadaan, KadaryonoAbstractRegeneration and Adaptation as Preservation Strategies for the Kadaryono Group's Wayang Topeng in Situbondo, East Java. Wayang topeng is a traditional folk theater in Situbondo, East Java, which has experienced a decline in performance frequency compared to other regional arts such as ludruk and ketoprak. The Kadaryono mask puppet group plays a vital role in preserving this art form. This study aims to describe the presence and cultural significance of the Kadaryono group in maintaining the existence of wayang topeng. Employing a historical approach and qualitative descriptive method, data were collected through literature review, field observation, and in-depth interviews with local art figures. The results indicate that preservation efforts are initiated by the artists themselves, particularly Ki Dalang Kadaryono, who continues to sustain the tradition through internal regeneration and performance adaptation. The sustainability of this cultural heritage relies on the collaborative support of artists, the community, and local authorities. Keywords: Situbondo, puppet mask, existence, Kadaryono
Transkulturasi Naskah Pinangan Anton Chekhov: Eksplorasi Dramaturgi Visual dan Kritik Sosial dalam Teater Indonesia Handayani, Lusi; Pramasheilla, Dinda Assalia Avero; Utami, Yhovy Hendricasri; Rahmayani, Wahdania Nur
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.15849

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas proses penafsiran visual dan dramaturgi dalam pertunjukan teater yang merekontekstualisasi naskah The Proposal Karya Anton Chekhov ke dalam konteks budaya Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah mengeksplorasi bagaimana teks drama klasik asal Rusia tersebut dapat diterjemahkan secara artistik ke dalam ruang lokal melalui pendekatan penyutradaraan, pemilihan gaya permainan aktor, desain artistik, serta penggunaan simbol-simbol visual. Topik ini dipilih karena Pinangan mengandung ironi sosial yang relevan dengan dinamika kelas menengah Indonesia kontemporer, namun membutuhkan pembacaan ulang agar dapat diterima oleh penonton lokal Penelitian ini menggunakan pendekatan penciptaan seni (artistic reserch) dengan metode practice- as-research, yaitu metode penciptaan karya yang berangkat dari eksplorasi terhadap teks sastra (naskah Pinangan karya Anton Chekhov), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan teater melalui tahapan-tahapan kreatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertunjukan teater Pinangan versi Indonesia tidak hanya mengubah aspek bahasa dan latar, tetapi juga menambahkan nuansa kritik sosial baru, memperkuat komedi situasional, serta menciptakan dialog antar budaya antara teks asli dan penonton masa kini. Penafsiran dramaturgis yang dilakukan berhasil menampilkan kembali substansi naskah secara segar tanpa kehilangan esensi Chekhovian, sekaligus memperkuat pesan lokal dalam praktik teater Indonesia.Kata kunci: Rekontekstualisasi, Penafsiran Teater, Dramaturgi, Naskah Chekhov, Kritik Sosial AbstractThe Transculturation of Anton Chekhov's The Proposal: Visual Dramaturgy and Social Criticism in Indonesian Theatre. This article discusses the process of visual and dramaturgical interpretation in a theatrical performance that recontextualizes Anton Chekhov's The Proposal script into an Indonesian cultural context. The purpose of this study is to explore how the classic Russian drama text can be artistically translated into a local space through a directorial approach, the selection of actor playing styles, artistic design, and the use of visual symbols. This topic was chosen because Pinangan contains social irony that is relevant to the dynamics of the contemporary Indonesian middle class, but requires rereading in order to be accepted by local audiences. This study uses an artistic research approach with the practice-as-research method, namely a method of creating works that starts from an exploration of literary texts (the Pinangan script by Anton Chekhov), which is then translated into a theatrical performance through creative stages. The results of the study show that the Indonesian version of the Pinangan theatrical performance not only changes the language and setting aspects, but also adds new nuances of social criticism, strengthens situational comedy, and creates an intercultural dialogue between the original text and today's audience. The dramaturgical interpretation carried out successfully re-presents the substance of the script in a fresh way without losing the Chekhovian essence, while strengthening the local message in Indonesian theatrical practice.Keywords: Recontextualization, Theater Interpretation, Dramaturgy, Chekhov's Script, Social Criticism
JE’ NERUWE AJEM : KAJIAN SEMIOTIK TOKOH BIANG DALAM LAKON SUMBADRA TUNDHUNG WAYANG TOPENG SRI KRESNA SITUBONDO Rahmayani, Wahdania Nur; Wardani, Diah Octavia Kusuma; Bambang, Siti Enik Mukhoiyaroh; Rahmawati, Sophia
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82153

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap makna tanda dan fungsi humor dalam tokoh Biang pada lakon Sumbadra Tundhung dalam pertunjukan Wayang Topeng Sri Kresna Situbondo. Tokoh Biang merupakan figur lawakan yang tidak hanya sekadar menghadirkan kelucuan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai moral dan religius yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure untuk menganalisis hubungan antara penanda dan petanda pada unsur visual, verbal, dan gerak tubuh dalam pementasan. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan dalang dan penonton, serta dokumentasi dan studi pustaka yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk tanda, menginterpretasikan maknanya dalam sosial budaya Situbondo, dan menafsirkan nilai-nilai yang disampaikan melalui humor Biang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Biang menampilkan karakter yang jenaka dan spontan melalui gerak tubuh, dialog, serta ekspresi topeng yang khas. Di balik kelucuannya, Biang menyampaikan pesan kehidupan tentang keikhlasan, kesederhanaan, serta ajakan menjauhi sifat sombong, riya, dan iri hati. Humor yang dibawakan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan refleksi sosial. Dengan demikian, kehadiran Biang dalam Wayang Topeng Sri Kresna menjadi wujud ekspresi budaya yang menggabungkan estetika tawa dengan kebijaksanaan hidup masyarakat Situbondo.