Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMAN 11 Muaro Jambi Melalui Pelatihan Akting Teater Modern Gunawan, Indra; Riswani, Riswani; Irianto, Ikhsan Satria; Handayani, Lusi; Gustyawan, Tofan
Batoboh Vol 9, No 1 (2024): BATOBOH: JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v9i1.4042

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMAN 11 Muaro Jambi melalui pelatihan akting teater modern. Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui dua tahapan, yaitu pelatihan akting dan presentasi akting. Akting teater modern yang dipilih dalam kegiatan pelatihan ini adalah akting teater realis yang berlandaskan kepada metode akting Stanislavski. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah metode praktik dan kolaborasi. Peserta kegiatan adalah anggota dari ekstrakulikuler teater di SMAN 11 Muaro Jambi. Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebanyak dua kali seminggu dalam tiga bulan. Hasil dari pengabdian ini adalah siswa SMAN 11 Muaro Jambi menjadi lebih percaya diri ketika berhadapan dengan publik.
Pelatihan Teater Abdul Muluk Sebagai Upaya Revitalisasi Teater Tradisi di Desa Mudung Darat Kabupaten Muaro Jambi Bahar, Mahdi; Irianto, Ikhsan Satria; M, Hartati; Gunawan, Indra; Gustyawan, Tofan
Batoboh Vol 9, No 1 (2024): BATOBOH: JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v9i1.4043

Abstract

Teater Abdul Muluk adalah seni tradisi yang sempat populer di Desa Mudung Darat. Namun, regenerasi yang kurang baik dan menurunnya minat masyarakat membuat teater Abdul Muluk di Desa Mudung Darat menjadi vakum dan jarang dipertunjukkan. Tanpa penanggulangan yang baik, kekayaan budaya Desa Mudung Darat ini akan terancam punah. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merevitalisasi teater Abdul Muluk yang ada di Desa Mudung Darat. Kegiatan ini dilakukan dalam empat tahapan kerja, yaitu: riset, pelatihan, produksi dan pertunjukan. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah metode presentasi dan diskusi serta metode latihan dengan bimbingan. Peserta pelatihan merupakan generasi muda yang memiliki minat dan bakat di bidang seni pertunjukan. Hasil dari program pengabdian ini adalah pertunjukan teater Abdul Muluk yang berangkat dari ingatan kolektif masyarakat Desa Mudung Darat.
Dramaturgical Design Based on The Legend of Dideng Puti Dayang Ayu from Rantau Pandan Irianto, Ikhsan Satria; M., Hartati; Riswani; Gustyawan, Tofan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i2.2631

Abstract

Dideng is an oral art from Rantau Pandan Village whose existence is of concern due to the lack of regeneration. In fact, Dideng art has theatrical, musical and gestural power. The content of Dideng is the legend of Puti Dayang Ayu which has great dramatic potential. Designing a performance concept (dramaturgical design) based on the legend of Puti Dayang Ayu is an effort to revitalize and develop Jambi's dramatic arts. This research aims to find dramatic material to then reassemble into a dramaturgical plan based on the legend of Dideng Puti Dayang Ayu. This research uses a qualitative method with a case study approach. The data collection techniques used were interviews and observation. Data analysis was carried out using three analytical tools, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results achieved from this research are 1). Dideng is a means of entertainment for the people of Rantau Pandan village which does not yet have a good regeneration of speakers. Therefore, creativity is needed to create Dideng in more attractive packaging. 2). The Dideng text was passed down orally so it does not have a standard story. Each speaker has their own version of the story. Therefore, the preparation of the story is adjusted to the dramatic needs of the story. 3). The writing of this play was motivated by the dramatic vision of "rationalization of legend". The main theme is broken promises and is structured in an aristolelian episodic plot.
Abdul Muluk Improvisation Techniques in the Warung Kajang Lako Program on TVRI Jambi Irianto, Ikhsan Satria; Gunawan, Indra; Handayani, Lusi; Gustyawan, Tofan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i2.2632

Abstract

One of the characteristics of traditional Indonesian theater, including Abdul Muluk Jambi, is that the performances rely on the improvisational abilities of the actors. Therefore, improvisation techniques are an essential element in traditional Indonesian theater acting, especially the Abdul Muluk Jambi theater. One of the theater groups that is intense in developing improvisation techniques based on Abdul Muluk's improvisations is Sanggar Pancarona Jambi. This research was conducted to find patterns of improvisational acting techniques in the Abdul Muluk performance by Sanggar Pancarona Jambi. The material object of this research is the performance of Abdul Muluk by Sanggar Pancarona which was broadcast on TVRI Jambi in the Warung Kajang Lako program. This event featured Abdul Muluk's appearance with a shortened duration. The selection of this object was based on the characteristics of the Abdul Muluk performance by Sanggar Pancarona which prioritizes the power of actor improvisation. To find patterns in Abdul Muluk's improvisation techniques, the research method used was a qualitative method with stages, observation, interviews and data analysis. The results achieved from this research are that Sanggar Pancarona Jambi uses improvisation techniques adopted from the Abdul Muluk Jambi theater. Abdul Muluk's improvisation technique which was applied at the Warung Kajang Lako TVRI Jambi event consisted of: Improvisation Rules, Building Agreement, Creating and Saying Topics, Creating Collective Imagination, Division of Tasks, Setting Timings, Starting from Introductions and Interacting with the Audience. The supporting element for Abdul Muluk's improvisation is music that is improvised in response to the actor's improvisation.
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN BERBICARA BAGI PEMELAJAR BIPA TINGKAT B1 (CEFR) DI UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA MELALUI METODE BERMAIN PERAN Wiratsih, Woro; Gustyawan, Tofan; Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satria
PRASI Vol. 18 No. 02 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v18i02.62397

Abstract

This study aims to describe the development of speaking skills for BIPA (Indonesian Language for Foreign Speakers) level B1 (CEFR) students through the role-play method. The method used in this research is descriptive-qualitative. The subjects in this study were BIPA teachers and students, especially B1 level (CEFR), at Atma Jaya University, Yogyakarta. The data analysis technique used in this study is descriptive analytic, which describes the data collected in the form of words and pictures from the results of interviews, observations, and documentation. The results of the study show that the process of implementing BIPA level B1 (CEFR) learning by applying the role-playing method focused on speaking skills can provide real experience for BIPA students to practice directly pronouncing difficult vocabulary and long sentences in learning to speak. Creative teachers are needed to be able to process oral culture into texts to present cultural understanding in the aspect of speaking. BIPA teachers must be able to apply their artistic skills to applying cultural values ​​as a strategy in the language acquisition process. Keywords: role-playing, BIPA, folklore   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan pengembangan keterampilan berbicara bagi pemelajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) tingkat B1 (CEFR) melalui metode bermain peran (role play). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah pengajar dan pemelajar BIPA, khususnya tingkat B1 (CEFR), di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik, yaitu mendeskripsikan data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran BIPA tingkat B1 (CEFR) dengan penerapan metode bermain peran yang difokuskan pada keterampilan berbicara dapat memberikan pengalaman nyata bagi pemelajar BIPA untuk mempraktekkan secara langsung pelafalan kosakata sulit dan kalimat panjang dalam pembelajaran berbicara. Dibutuhkan pengajar yang kreatif agar dapat mengolah budaya lisan menjadi naskah untuk menghadirkan pemahaman budaya dalam aspek berbicara. Pengajar BIPA harus mampu mengaplikasikan kemampuan berkeseniannya dalam mengaplikasikan nilai budaya sebagai strategi dalam proses pemerolehan bahasa.
Irama Tragika dalam Naskah Raja Lear karya William Shakespeare Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satria; Gustyawan, Tofan
Creativity And Research Theatre Journal Vol 5, No 1 (2023): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v5i1.3736

Abstract

This tragic rhythm research aims to explore the strategic tragedy and the characteristic Shakespearean Tragedy in William Shakespeare's King Lear. The material object in this study is the King Lear by William Shakespeare translated by Trisno Sumardjo, while the formal object used is Fergusson's Tragic Rhythm theory. The research method used is a qualitative method with data collection techniques, text studies and literature studies. The results achieved in this study are the characteristics of Shakespearean Tragedy in King Lear's consisting of the fall of the king, the omnipotence of destiny and characters who have tragic defects. Meanwhile, the tragic rhythm is found in three stages, the stage of King Lear's obsession, the stage where King Lear encounters obstacles and the stage when King Lear realizes his mistake.AbstrakPenelitian irama tragika ini bertujuan untuk menelusuri strategi tragedi dan karakteristik shakespearean tragedy dalam naskah Raja Lear karya William Shakespeare. Objek material dalam penelitian ini adalah naskah Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo, sedangkan objek formal yang digunakan adalah teori Irama Tragika Fergusson. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu studi teks dan studi pustaka. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah karakteristik Shakespearean Tragedy dalam naskah Raja Lear terdiri dari kejatuhan raja, kemahakuasaan takdir dan tokoh yang memiliki cacat tragis. Sedangkan irama tragika ditemukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap obsesi Raja Lear, tahap Raja Lear mendapatkan hambatan dan tahap Raja Lear menyadari kesalahannya.
Arsitektur Drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan Irianto, Ikhsan Satria; Rifandi, Ilham; Handayani, Lusi; Gustyawan, Tofan
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 3 (2023): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The architectural analysis of Soekarno's drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan aims to trace the design of Soekarno's dramatic work, as a preliminary study of Soekarno's dramatic vision. The material object in this research is the drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan while the analytical tool used is the theory of drama architecture from Ledwin, Joe and Stockadale. The research method used is a qualitative method with a text analysis approach. The result of this research is that the drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan has the theme of revenge, uses multi-plots (linear and episodic), designs characterizations in black and white characters and has a tragedy genre and a romantic style. The writing of the drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan was influenced by the spirit of the times "to destroy colonialism". Abstrak Analisis arsitektur drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan karya Soekarno bertujuan untuk menelusuri desain perancangan karya dramatik yang dilakukan oleh Soekarno, sebagai studi pendahuluan atas penelusuran visi dramatik Soekarno. Objek material dalam penelitian ini adalah drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan sedangkan piranti analisis yang digunakan adalah teori arsitektur drama dari Ledwin, Joe dan Stockadale. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Hasil dari penelitian ini adalah drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan memiliki tema pembalasan dendam yang disusun dalam alur multiplot (linier dan episodik), penokohan dirancang dalam karakter hitam-putih dengan genre tragedy dan gaya romantik. Penulisan drama Rainbow: Poetri Kjencana Boelan dipengaruhi oleh semangat zaman "mengganyang kolonialisme".
Pelatihan Rias Seni Pertunjukan sebagai Upaya Pemberdayaan Perempuan Di Desa Mendalo Darat Kabupaten Muaro Jambi Irianto, Ikhsan Satria; Riswani, Riswani; Handayani, Lusi; Gustyawan, Tofan
Batoboh Vol 9, No 2 (2024): BATOBOH: JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v9i2.4810

Abstract

Mayoritas perempuan di Desa Mendalo Darat dapat dikategorikan sebagai masyarakat nonproduktif secara ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kesibukan domestik dan minimnya pengembangan potensi diri, sehingga tidak memiliki waktu dan pengetahuan untuk berkontribusi secara ekonomi. Solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan potensi perempuan dalam bidang tata rias seni pertunjukan. Solusi ini dilakukan sebagai upaya pemberdayaan perempuan di Desa Mendalo Darat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menyelenggarakan pelatihan tata rias secara teoritik dan praktik. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk membekali para perempuan agar dapat menciptakan peluang kerja di bidang tata rias, khususnya tata rias seni pertunjukan. Pelaksanaan pengabdian menggunakan dua metode, yaitu metode diskusi dan metode praktik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap diskusi, presentasi dan evaluasi.
Semiotic Community Perspectives on Offerings in Traditional Jathilan Performances in Yogyakarta: A Semiotic Study Piri, Tirza Benedicta; Avero Pramasheilla, Dinda Assalia; Gustyawan, Tofan; Irianto, Ikhsan Satria
Creativity And Research Theatre Journal Vol 6, No 2 (2024): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v6i2.4941

Abstract

In Javanese terms, Jathilan stands for "Jarane jan thil-thilan" which means "The horse moves irregularly". People in the city of Yogyakarta know jathilan as part of a certain ritual procession that uses the properties of an artificial horse or commonly called jaran kepang. Jathilan traditional art itself cannot be separated from rituals and sesaji used as a form of expression of prayer and hope. The formulation of the problem in this journal is: How do people view the belief that sesaji are a "culture" that will continue to live side by side with humans?. Using qualitative data analysis, this study examined the symbolic meaning of offerings in Yogyakarta's traditional art ceremony of jathilan. Offerings are a manifestation of moral values, reverence for ancestors, and the existence of a healthy interaction between humans and nature, according to the study's findings from the community perspective.
Regenerasi dan Adaptasi sebagai Strategi Pelestarian Wayang Topeng Kelompok Kadaryono di Situbondo, Jawa Timur Rahmayani, Wahdania Nur; Gustyawan, Tofan; Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satrio
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.16160

Abstract

AbstrakWayang topeng adalah salah satu jenis teater rakyat tradisional yang berasal dari Situbondo, Jawa Timur, yang kini mengalami penurunan intensitas pertunjukan dibandingkan dengan kesenian ludruk dan ketoprak. Kelompok Wayang Topeng Kadaryono menjadi salah satu representasi penting dalam pelestarian bentuk seni ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan dan dinamika kelompok Kadaryono dalam mempertahankan eksistensi seni pertunjukan wayang topeng. Dengan menggunakan pendekatan sejarah dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan tokoh seniman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian wayang topeng didorong oleh inisiatif pelaku seni itu sendiri, terutama Ki Dalang Kadaryono, yang secara aktif menjaga kesinambungan tradisi melalui regenerasi internal dan adaptasi format pementasan. Keberlangsungan kesenian ini membutuhkan kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan pemerintah sebagai ekosistem pendukung yang berkelanjutan.Kata kunci: Situbondo, wayang topeng, keberadaan, KadaryonoAbstractRegeneration and Adaptation as Preservation Strategies for the Kadaryono Group's Wayang Topeng in Situbondo, East Java. Wayang topeng is a traditional folk theater in Situbondo, East Java, which has experienced a decline in performance frequency compared to other regional arts such as ludruk and ketoprak. The Kadaryono mask puppet group plays a vital role in preserving this art form. This study aims to describe the presence and cultural significance of the Kadaryono group in maintaining the existence of wayang topeng. Employing a historical approach and qualitative descriptive method, data were collected through literature review, field observation, and in-depth interviews with local art figures. The results indicate that preservation efforts are initiated by the artists themselves, particularly Ki Dalang Kadaryono, who continues to sustain the tradition through internal regeneration and performance adaptation. The sustainability of this cultural heritage relies on the collaborative support of artists, the community, and local authorities. Keywords: Situbondo, puppet mask, existence, Kadaryono