Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ayah Garda Depan: Program Pemberdayaan Keluarga Berbasis Edukasi dan Mentoring Kolaboratif dalam Pencegahan Stunting di Desa Sungai Alang: Ayah Garda Depan: A Family Empowerment Program Based on Collaborative Education and Mentoring for Stunting Prevention in Sungai Alang Village Laily, Nur; Putri, Andini Octaviana; Zwagery, Rika Vira; Rahman, Fauzie; Wulandari, Anggun; Anggraini, Lia; Navijay, Ahmad; Jannah, Alya Miftahul; Agusetiawan, Muhammad Andrian; Filsahani, Nuraida Keisya; Ridhani, Gusti Al Azmi Akhmad
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v4i2.778

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia dengan prevalensi nasional 21,5% pada tahun 2023. Angka lebih tinggi tercatat di Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar, bahkan mencapai 32,43% di Desa Sungai Alang pada Desember 2024. Faktor risiko utama meliputi rendahnya pengetahuan gizi, pemberian ASI yang tidak optimal, minimnya partisipasi di posyandu dan Bina Keluarga Balita, serta tingginya paparan asap rokok. Masalah mendasar terletak pada pola asuh yang kurang optimal akibat minimnya keterlibatan ayah, yang umumnya masih dipandang sebatas pencari nafkah. Sebagai upaya solutif, Program Ayah Garda Depan dilaksanakan di Desa Sungai Alang dengan tujuan mentransformasi peran ayah menjadi mitra aktif dalam pengasuhan anak. Program ini mencakup sosialisasi, konseling, KIE, pembentukan Komunitas Ayah Berkelas, pemilihan role model ayah, mentoring, serta monitoring dan evaluasi. Intervensi difokuskan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan komitmen ayah dalam mendukung ibu dan pengasuhan anak. Hasil kegiatan menunjukkan mayoritas peserta telah memiliki pengetahuan baik sejak awal, sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antara pretest dan posttest pengetahuan (p=0,625). Hal ini mengindikasikan bahwa tantangan utama bukan terletak pada aspek pengetahuan, melainkan pada transformasi sikap dan perilaku nyata dalam praktik pengasuhan. Oleh karena itu, intervensi yang lebih intensif, berulang, dan berbasis komunitas masih sangat diperlukan agar tercapai perubahan perilaku yang berkelanjutan. Rekomendasi diarahkan pada pendampingan berkelanjutan, integrasi dengan posyandu dan BKB, penyediaan media edukasi praktis, serta kolaborasi lintas sektor, agar program ini berkelanjutan dan berkontribusi pada penurunan stunting.
Sekolah Perempuan RAKAT as an Effort to Enhance Women’s Communication Capacity Rahma, Amelia; Hafizah, Sarah Noor; Azizah, Isma; Fitriani, Fitriani; Ramadhiani, Nurhalisa; Azizah, Dhiya Alfi; Agusetiawan, Muhammad Andrian
Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 7, No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/btjpm.v7i4.16690

Abstract

This study aimed to evaluate the effectiveness of communication skills training through the Sekolah Perempuan RAKAT program in Banjar Regency, South Kalimantan. Many women in rural areas face challenges in public speaking, including limited mastery of effective communication techniques and low self-confidence. To address this issue, the program implemented a series of activities comprising registration, a pre-test, delivery of materials on effective communication, focus group discussions (FGDs), ice-breaking activities, experience-sharing sessions, a post-test, and closing activities. A total of 15 participants took part in the program. Data were collected through pre-test and post-test questionnaires and analyzed using the Shapiro–Wilk test for normality and the Wilcoxon signed-rank test to examine paired differences. The results showed that the data were not normally distributed (p < 0.05); therefore, the Wilcoxon test was applied. Statistical analysis indicated a significant increase in participants’ communication skills after the intervention (p<0.05). Qualitative findings also revealed improvements in participants’ understanding of communication strategies, active listening, empathetic responses, gender perspectives in communication, and the management of miscommunication. Furthermore, the experience-sharing sessions fostered mutual support and enhanced self-efficacy, contributing to increased confidence in public speaking. In conclusion, the Sekolah Perempuan RAKAT program effectively improved participants’ communication capacity and self-confidence. These findings highlight the importance of participatory and context-based approaches, such as FGDs, in empowering women to communicate more effectively in public spheres.