Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Bali yang Digembalakan di Lahan Pasca-tambang Batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur Shevira Ayu Puspita; Mansyur Mansyur; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber utama penghasil daging dengan nilai ekonomi tinggi. Namun, tingginya permintaan daging sapi di Indonesia masih tidak sebanding dengan ketersediaan daging di masyarakat. Kondisi ini berakibat pada ketergantungan pada impor daging dari negara lain. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi adalah melalui ekstensifikasi peternakan sapi potong. Tantangan utama dalam pelaksanaan ekstensifikasi peternakan sapi potong adalah ketersediaan lahan yang sesuai. Lahan pasca tambang batubara memiliki potensi untuk dimanfatkan sebagai alternatif, meskipun memiliki karakteristik yang kurang mendukung seperti kondisi tanah yang kurang nutrisi hingga sulit ditumbuhi vegetasi dan mudahnya terbentuk genangan air akibat berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan cacing parasit seperti trematoda yang banyak ditemukan pada genangan air. Infeksi cacing atau helminthiasis ini merupakan masalah pada ternak karena dapat menurunkan produktivitas sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi sapi bali yang digembalakan di lahan pasca tambang batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 47 sampel feses sapi bali dengan body condition score (BCS) di bawah tiga (≤3) dikoleksi pada bulan Agustus 2023 dan diperiksa menggunakan metode apung dan metode sedimentasi. Hasil pemeriksaan menunjukan prevalensi infeksi trematoda sebesar 19,14%, sedangkan infeksi nematoda sebesar 17,02%, dan infeksi dengan kombinasi keduanya sebesar 10,63%. Temuan ini mengindikasikan bahwa prevalensi infeksi trematoda cukup dominan pada sapi bali di area gembala tersebut. Kondisi ini diduga terkait dengan adanya genangan air pada lahan pasca tambang batubara yang digunakan sebagai lahan penggembalaan. Struktur lahan yang berubah karena proses penambangan batubara memerlukan pendekatan terkait peningkatan kemampuan penyerapan air tanah untuk menekan adanya genangan air dan secara tidak langsung juga meningkatkan kualitas lahan untuk ditanami vegetasi bahan pakan ternak. Manajemen pemberian obat cacing juga perlu menjadi perhatian dalam mencegah dan menangani kondisi kecacingan pada hewan ternak sapi bali.
Uji In vitro Aktivitas Antiparasit Minyak Esensial Chamomile (Anthemis nobilis L.) terhadap Tungau Otodectes cynotis Putri Ruchiyat, Shafira Permata; Waskita, Pranyata Tangguh; Krissanti, Ita; Khairani, Shafia; Hiroyuki, Andi; Rosdianto, Aziiz Mardanarian
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.86846

Abstract

Parasitic otitis adalah penyakit pada telinga yang biasa ditemukan pada hewan kecil, salah satunya adalah kucing. Penyakit ini disebabkan oleh tungau otodectes cynotis. Terdapat pengobatan alami yang bisa dijadikan peluang sebagai alternatif lain dalam membantu mengatasi penyakit otitis pada kucing yang salah satunya adalah minyak esensial chamomile (Anthemis nobilis l.)(MEC) karena memiliki efektifitas sebagai antiparasit, antibakteri, dan antijamur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi MEC sebagai antiparasit khususnya terhadap tungau otodectes cynotis serta mengetahui konsentrasi MEC yang berpotensi untuk menangani kasus parasitic otitis pada kucing. Penelitian ini dilakukan uji in vitro berupa uji aktivitas antiparasit untuk menentukan konsentrasi terbaik yang berpotensi membunuh tungau otodectes cynotis. Pada uji aktivitas antiparasit didapatkan konsentrasi MEC terbaik yaitu 5% dengan hasil daya hambat tetas telur (62,5%), persentase mortalitas tungau otodectes cynotis pada siklus larva (90%), nimfa (90%), dan dewasa (82,50%). Hal ini menunjukkan bahwa MEC 5% memiliki potensi sebagai antiparasit.