Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Identifikasi Atraksi Wisata Budaya Keraton Cirebon Beserta Turunannya Dinda Erina Utami; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.064 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3607

Abstract

Abstract. Cirebon City is famous for the existence of the Kasepuhan Palace, Kanoman Palace, and Kacirebonan Palace as the potential to become the main cultural and historical tourism destinations in this city. The palace also has its own cultural charm, such as dance, food, architecture, and traditional ceremonies. The three palaces are part of the culture of the community's capital that can be developed into a tourism attraction. The purpose of writing this article is to identify the cultural tourism attractions of the Cirebon palace and their derivatives. The method used is an exploratory method to explore and study more deeply about the cultural tourism attractions of the palace in Cirebon and its derivatives. The results of field observations and documentation show that there are very diverse historical and cultural relics of the Cirebon palaces including dances (Mask Dance, Sintren Dance), traditional ceremonies (Panjang Jimat, Grebeg Syawal), culinary (Nasi Bogana), and building architecture. The conclusion of this study found various kinds of cultural tourism attractions of the palace that hold meaning and history for Cirebon’s people Abstrak. Kota Cirebon terkenal dengan adanya Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan sebagai potensi untuk menjadi destinasi utama wisata budaya dan sejarah di kota ini. Keraton juga memiliki pesona budayanya tersendiri, seperti seni tari, makanan, arsitektur, upacara adat. Ketiga keraton menjadi salah satu bagian kebudayaan dari modal masyarakat yang bisa dikembangkan menjadi atraksi pariwisata. Tujuan penulisan artikel ini mencoba untuk mengidentifikasi atraksi wisata budaya keraton Cirebon beserta turunannya. Metode yang digunakan adalah metode metode eksploratif untuk menggali dan mengkaji lebih dalam mengenai atraksi wisata budaya keraton di Cirebon beserta turunannya. Hasil observasi dan dokumentasi lapangan menunjukkan adanya peninggalan sejarah dan budaya keraton-keraton Cirebon yang sangat beragam diantaranya tarian (Tari Topeng, Tari Sintren), upacara adat (Panjang Jimat, Grebeg Syawal), kuliner (Nasi Bogana), dan arsitektur bangunan. Kesimpulan dari penelitian ini ditemukan berbagai macam atraksi wisata budaya keraton hingga saat ini yang menyimpan makna serta sejarah bagi masyarakat Kota Cirebon.
Kajian Manfaat Langsung Pengembangan Kawasan Pertanian Menjadi Destinasi Wisata Sawah Lope: Studi Kasus : Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan Tri Apriyanti Rahayu; Astri Mutia Ekasari
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v2i2.1234

Abstract

Abstract. Sawah Lope is a popular tourist destination in Kuningan Regency. The development of agricultural areas into tourism destinations has a significant in economic. With the development of tourism, Sawah Lope’s area has a tendency to reduce the area of ​​agricultural land. That’s makes agricultural yields or farmers' incomes decrease. The purpose of this study was to identify the direct benefit value of developing agricultural areas into tourist destination’s Sawah Lope in Cikaso Village. The study method is a descriptive-quantitative method. The value of direct benefits from Sawah Lope is seen from agricultural products with a production approach, tourist destinations with a travel cost approach and willingness to pay and restaurant income in 1 year. The results showed that the direct benefit value of Sawah Lope was Rp. 2.61 T/year; agricultural products of 2.01 T/year;tourist destinations of 542.3 M/year and restaurant income of 58.2 M/year. The direct benefit value of Sawah Lope before its development was Rp. 2.1 T/year, a lost value of 166.75 M/year. This shows that tourism activities provide added value so the development of agricultural areas into tourist destinations can be continued with monitor so sustainable tourism development is created. Abstrak. Sawah Lope merupakan destinasi wisata yang sedang populer di Kabupaten Kuningan. Pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata berperan signifikan terhadap ekonomi sekitar. Dengan berkembangnya wisata, kawasan Sawah Lope memiliki kecenderungan terjadinya pengurangan luas lahan pertanian. Pengurangan luas lahan pertanian membuat hasil pertanian atau pendapatan petani semakin berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasi nilai manfaat langsung pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata Sawah Lope di Desa Cikaso. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kuantitatif. Nilai manfaat langsung dari Sawah Lope dilihat dari hasil pertanian dengan pendekatan hasil produksi, destinasi wisata dengan pendekatan biaya perjalanan dan kesediaan untuk membayar serta pendapatan restoran dengan perhitungan penghasilan dalam 1 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai manfaat langsung Sawah Lope setelah adanya pengembangan sebesar Rp 2,61 T/tahun,- yang terdiri dari hasil pertanian sebesar 2,01 T/tahun, destinasi wisata sebesar 542,3 juta/tahun dan pendapatan restoran sebesar 58,2 juta/tahun. Nilai manfaat langsung Sawah Lope sebelum adanya pengembangan sebesar Rp 2,1 T/tahun, atau nilai yang hilang sebesar 166,75 juta/tahun. Hal ini menunjukkan kegiatan wisata memberikan nilai tambah untuk kawasan Sawah Lope itu sendiri sehingga pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata dapat dilanjutkan dengan dilakukan pengawasan sehingga tetap tercipta pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan.
Factors that Influence the Existence of Palace Cultural Tourism in the Era of Globalization Astri Mutia Ekasari
MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 39, No. 1, (Juni 2023) [Accredited Sinta 2] No 10/E/KPT/2019]
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v39i1.2116

Abstract

Cirebon City has a lot of cultural heritage in the form of the Palace and other historical relics. The Department of Tourism and Culture of West Java Province tries to preserve the existence of this cultural heritage through the establishment of the History of the Palace as a primary tourist attraction. This study aims to determine the factors that influence the existence of historical palace tourism among the people in the current era of globalization. The research approach method is quantitative statistics, analyzing data with factor analysis. Data collection techniques were carried out through the distribution of online questionnaires. Respondents who were netted were 131 respondents from Cirebon City, Cirebon Regency, and Bandung City in the age range < 20 years to > 60 years. The results of the study concluded that the existence of the historical tourist attraction of the palace was known by most of the respondents. The government and managers of historical tourism and palaces can increase their existence and increase tourist visits by considering these four factors : Applications & Tourist Attractions, Historic Buildings & Traditional Ceremonies, Traditional Culinary, Superior Value.
Prediksi Volume Genangan Berdasarkan Rencana Penggunaan Lahan RTRW Kota Sukabumi Tahun 2022-2042 Muhammad Alif Haidar; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8639

Abstract

Abstract. Changes in land use in an area will cause pressure on space and environment because there are many land conversions from non-built-up land to built-up land so as to make the water catchment area smaller which will lead to greater water runoff the surface of the surface which then causes problems such as puddle and also flooding. This research was conducted to know amount of water runoff and inundation plans in Sukabumi City. The methodology used is descriptive quantitative while the analytical method is Hydrological Analysis precisely through the Pearson III Log Method and the Soil Conservation Service (SCS) method. Based on the analysis that has been carried out, the value of the planned rainfall with a 5 year return period is 113,710 mm, the surface runoff is 66,73 mm and the inundation volume with a 5 year return period is 3.221,288,88 m³. Abstrak. Perubahan penggunaan lahan di suatu wilayah akan menyebabkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan karena banyak terjadi alih fungsi lahan. dari lahan non-terbangun ke lahan terbangun sehingga membuat semakin kecilnya daerah resapan air yang akan menyebabkan semakin besarnya limpasan air di permukaan yang kemudian menimbulkan permasalahan seperti genangan air dan juga banjir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah limpasan air dan genangan rencana di Kota Sukabumi. Metodologi yang digunakan yakni kuantitatif deskriptif sedangkan metode analisis yaitu Analisis Hidrologi tepatnya melalui Metode Log Pearson III dan metode Soil Conservation Service (SCS). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, didapat nilai curah hujan rencana dengan periode ulang 5 tahun sebesar 113,710 mm, limpasan permukaan sebesar 66,73 mm dan volume genangan rencana periode ulang 5 tahun sebesar 3.221.228,88 m³.
Evaluasi Penyediaan Fasilitas Wisata Museum Geologi Menuju Museum Ramah Disabilitas Nuzul Putri Deliani; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8640

Abstract

Abstract. Persons with disabilities must have easy access, treatment and adequate accommodation to meet their needs as tourists as well as equality and opportunity to carry out tourism activities. The Geology Museum is the first museum in the city of Bandung to declare it friendly for visitors with disabilities in 2019. In creating a friendly museum for visitors with disabilities, the provision of tourist facilities at the Geology Museum needs to be a concern. The purpose of this research is to identify the achievements of the Geology Museum in providing tourism facilities to disability-friendly museums. This type of research was carried out qualitatively, with a formal evaluation approach method through collecting data from literature studies and observations which were processed by comparative analysis. The evaluation instrument refers to Permen PU No. 30 of 2006, Bandung City Regional Regulation No. 15 of 2019, and City of Toronto Accessibility Design Guidelines (2004). The results of this study note that only 58% of the facilities available at the Geology Museum are said to be sufficient to go to a disability-friendly museum. Abstrak. Penyandang disabilitas harus memiliki akses yang memudahkan, mendapatkan perlakuan, dan akomodasi yang layak untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai wisatawan serta kesetaraan dan kesempatan untuk melakukan kegiatan wisata. Museum Geologi menjadi museum pertama di Kota Bandung yang mencanangkan ramah bagi pengunjung disabilitas pada tahun 2019. Dalam mewujudkan museum ramah bagi pengunjung disabilitas, penyediaan fasilitas wisata di Museum Geologi perlu menjadi perhatian. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi capaian Museum Geologi dalam penyediaan fasilitas wisata menuju museum ramah disabilitas. Jenis penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan metode pendekatan evaluasi formal melalui pengumpulan data studi literatur dan observasi yang diolah dengan analisis komparatif. Intrumen evaluasi mengacu pada Permen PU No.30 Tahun 2006, Perda Kota Bandung No.15 Tahun 2019, dan City of Toronto Accessibility Design Guidelines (2004). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa hanya 58% fasilitas yang tersedia di Museum Geologi dikatakan cukup untuk menuju museum ramah disabilitas.
EVALUASI RUTE DAN HALTE BUS DI KOTA BANDUNG Astri Mutia Ekasari
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v15i1.283

Abstract

Transportasi atau pengangkutan merupakan bidang kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya transportasi darat. Transportasi darat merupakan moda yang paling dominan digunakan dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Berdasarkan Kebijakan pemerintah mengenai Bus sekolah gratis ini ternyata tidak memenuhi demand transportasi yang tinggi dari segi pendidikan. Jumlah pelajar yang menggunakan angkutan bus sekolah sebanyak 114.000 pelajar dari Januari 2014 hingga Maret 2014, jumlah pelajar ini tergolong sedikit tidak sesuai dengan jumlah demand yang ada. (Dishub Kota Bandung, 2014). Analisis evaluasi rute yang digunakan adalah analisis untuk penilain kinerja pelayanan rute angkutan yang diperoleh berdasarkan literature dan standart yang ada dalam penilai rute angkutan Bis Sekolah. Hasil Evaluasi menyimpulkan bahwa terdapat kinerja – kinerja rute yang tidak sesuai dengan satandart yang ada. Terdapat kesimpulan-kesimpulan penting dari penelitian ini. Untuk lebih jelasnya lihat dibawah ini : Jaringan Trayek yang ada tidak melayani kantung kantung perumahan, lokasi sekolah secara menyeluruh, Tidak adanya Halte khusus bus sekolah menyebabkan kebingungan calon penumpang untuk menaiki Bus Sekolah Tersebut, Jauhnya Akses Halte Menurut Penumpang dan 68% Pelajar jarang menggunakan layanan bus sekolah
Kajian Manfaat Langsung Pengembangan Kawasan Pertanian Menjadi Destinasi Wisata Sawah Lope: Studi Kasus : Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan Tri Apriyanti Rahayu; Astri Mutia Ekasari
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v2i2.1234

Abstract

Abstract. Sawah Lope is a popular tourist destination in Kuningan Regency. The development of agricultural areas into tourism destinations has a significant in economic. With the development of tourism, Sawah Lope’s area has a tendency to reduce the area of ​​agricultural land. That’s makes agricultural yields or farmers' incomes decrease. The purpose of this study was to identify the direct benefit value of developing agricultural areas into tourist destination’s Sawah Lope in Cikaso Village. The study method is a descriptive-quantitative method. The value of direct benefits from Sawah Lope is seen from agricultural products with a production approach, tourist destinations with a travel cost approach and willingness to pay and restaurant income in 1 year. The results showed that the direct benefit value of Sawah Lope was Rp. 2.61 T/year; agricultural products of 2.01 T/year;tourist destinations of 542.3 M/year and restaurant income of 58.2 M/year. The direct benefit value of Sawah Lope before its development was Rp. 2.1 T/year, a lost value of 166.75 M/year. This shows that tourism activities provide added value so the development of agricultural areas into tourist destinations can be continued with monitor so sustainable tourism development is created. Abstrak. Sawah Lope merupakan destinasi wisata yang sedang populer di Kabupaten Kuningan. Pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata berperan signifikan terhadap ekonomi sekitar. Dengan berkembangnya wisata, kawasan Sawah Lope memiliki kecenderungan terjadinya pengurangan luas lahan pertanian. Pengurangan luas lahan pertanian membuat hasil pertanian atau pendapatan petani semakin berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasi nilai manfaat langsung pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata Sawah Lope di Desa Cikaso. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kuantitatif. Nilai manfaat langsung dari Sawah Lope dilihat dari hasil pertanian dengan pendekatan hasil produksi, destinasi wisata dengan pendekatan biaya perjalanan dan kesediaan untuk membayar serta pendapatan restoran dengan perhitungan penghasilan dalam 1 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai manfaat langsung Sawah Lope setelah adanya pengembangan sebesar Rp 2,61 T/tahun,- yang terdiri dari hasil pertanian sebesar 2,01 T/tahun, destinasi wisata sebesar 542,3 juta/tahun dan pendapatan restoran sebesar 58,2 juta/tahun. Nilai manfaat langsung Sawah Lope sebelum adanya pengembangan sebesar Rp 2,1 T/tahun, atau nilai yang hilang sebesar 166,75 juta/tahun. Hal ini menunjukkan kegiatan wisata memberikan nilai tambah untuk kawasan Sawah Lope itu sendiri sehingga pengembangan kawasan pertanian menjadi destinasi wisata dapat dilanjutkan dengan dilakukan pengawasan sehingga tetap tercipta pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan.
Faktor-Faktor Pembentuk Minat Masyarakat Terhadap Wisata Budaya Keraton Alamsyah Al Ghani; Dinda Erina Utami; Astri Mutia Ekasari
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ripparda Kota Cirebon tahun 2019-2025 menetapkan Kawasan Pusaka Keraton-Keraton Cirebonmenjadi kawasan pusaka kota dan menjadi salah satu Kawasan Strategis Pengembangan Pariwisatasejarah dan keraton di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktorfaktoryangmempengaruhiminatmasyarakatdalammengunjungiwisatabudayakeratondiCirebon.Dalampenelitianini,pendekatanpenelitianmenggunakanstatistikkuantitatifdengananalisisfaktordanpengolahan data memakai principle component analysis (PCA). Hasil analisis menunjukkanterdapat 3 faktor yang memengaruhi minat masyarakat terhadap wisata budaya keraton, yaitu faktorpertama berupa nilai budaya, faktor kedua berupa kesenian, dan faktor ketiga berupa kuliner. Ketigafaktor tersebut dapat digunakan pemerintah daerah dan pengelola keraton sebagai acuan untukmeningkatkan minat masyarakat terhadap Keraton di Cirebon. Kata Kunci : Wisata Budaya, Minat, Keraton Cirebon.
Factors that Influence the Existence of Palace Cultural Tourism in the Era of Globalization Mutia Ekasari, Astri; Rochman, Gina Puspita; Agustina, Ina Helena; Damayanti, Verry
MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 39, No. 1, (June 2023) [Accredited Sinta 2, No 10/E/KPT/2019]
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v39i1.2116

Abstract

Cirebon City has a lot of cultural heritage in the form of the Palace and other historical relics. The Department of Tourism and Culture of West Java Province tries to preserve the existence of this cultural heritage through the establishment of the History of the Palace as a primary tourist attraction. This study aims to determine the factors that influence the existence of historical palace tourism among the people in the current era of globalization. The research approach method is quantitative statistics, analyzing data with factor analysis. Data collection techniques were carried out through the distribution of online questionnaires. Respondents who were netted were 131 respondents from Cirebon City, Cirebon Regency, and Bandung City in the age range < 20 years to > 60 years. The results of the study concluded that the existence of the historical tourist attraction of the palace was known by most of the respondents. The government and managers of historical tourism and palaces can increase their existence and increase tourist visits by considering these four factors : Applications & Tourist Attractions, Historic Buildings & Traditional Ceremonies, Traditional Culinary, Superior Value.
Perancangan Site Plan Kampung Adat Kuta Thoriq Ananda Saputra; Astri Mutia Ekasari; Imam Indratno
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v4i1.3615

Abstract

Abstract. The existence of Kuta Traditional Village in Ciamis Regency is crucial because of the traditional values that must be expressed in the spatial concept, as well as local values and natural conditions. This research aims to develop an architectural design concept that is responsive to local culture and disaster response for the Kuta Traditional Village site plan. The research method involved field surveys, analysis of local cultural conditions, and mapping of disaster risks in the area. A participatory approach with local communities and stakeholders was also applied to understand the needs and aspirations of the community. The research results are expected to produce a site plan design guide framework that combines local cultural values with disaster response infrastructure. The design includes multifunctional public open spaces, integration of vernacular architecture with modern environmentally friendly technology, and land use planning that takes into account disaster risk mitigation such as earthquakes and fires. This research is expected to make a significant contribution to the practice of designing cultural architecture that is responsive to the challenges of natural disasters, as well as a reference for the development of a sustainable Kampung Adat Kuta area that strengthens local cultural identity while being able to mitigate disaster risks. Abstrak. KKeberadaan Kampung Adat Kuta di Kabupaten Ciamis krusial karena nilai adat yang harus dituangkan dalam konsep tata ruang, serta nilai lokal dan kondisi alamnya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan konsep perancangan arsitektur yang responsif terhadap budaya lokal dan tanggap bencana untuk site plan Kampung Adat Kuta. Metode penelitian melibatkan survei lapangan, analisis kondisi budaya lokal, serta pemetaan risiko bencana di kawasan tersebut. Pendekatan partisipatif dengan komunitas setempat dan pemangku kepentingan juga diterapkan untuk memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan kerangka panduan perancangan site plan yang menggabungkan nilai-nilai budaya lokal dengan infrastruktur tanggap bencana. Desain mencakup ruang terbuka publik multifungsi, integrasi arsitektur vernakular dengan teknologi modern yang ramah lingkungan, serta perencanaan tata guna lahan yang memperhatikan mitigasi risiko bencana seperti gempa bumi dan kebakaran. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam praktek perancangan arsitektur budaya yang responsif terhadap tantangan bencana alam, serta menjadi acuan bagi pengembangan kawasan Kampung Adat Kuta yang berkelanjutan dan memperkuat identitas budaya lokal sambil mampu menanggulangi risiko bencana.