Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Studi Beton Dari Limbah Batu Alam Untuk Percepatan Rekonstruksi Hunian Pasca Bencana Dimas Langga Chandra Galuh; Lilik Hendro Widaryanto; M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The country of Indonesia is in a disaster-prone area so that it has a high potential for natural disasters, which can cause damage to buildings. Innovations are needed in handling disasters from both structural and material aspects so that they can accelerate the reconstruction phase.This study will conduct a study of the use of local materials in the form of temple natural stone waste as coarse aggregates on concrete. Addition of additive material to the mixture is used to achieve high early strength.The required concrete strength (f'c) = 19.3 MPa with the composition for one concrete cylinder consists of water: cement: sand: temple natural stone waste: additive material with a mixture of 1.2 liters: 1.9 kg: 3 , 6 kg: 5.2 kg: 20 ml. The results of testing the concretestrength with the addition of additive materials at the age of 3 and 7 days were 16.04 MPa and 23.02 MPa. The percentage of compressive strength of concrete at the age of 3 days is 83.1%, whereas at the age of 7 days it has exceeded the required concrete compressive strength (119.3%). Based on this study, the use of local materials in the form of temple natural stone waste with the addition of 7-day-old concrete additives can replace broken stone material in the disaster reconstruction process.
Studi Beton Dari Limbah Batu Alam Untuk Percepatan Rekonstruksi Hunian Pasca Bencana Dimas Langga Chandra Galuh; Lilik Hendro Widaryanto; M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The country of Indonesia is in a disaster-prone area so that it has a high potential for natural disasters, which can cause damage to buildings. Innovations are needed in handling disasters from both structural and material aspects so that they can accelerate the reconstruction phase.This study will conduct a study of the use of local materials in the form of temple natural stone waste as coarse aggregates on concrete. Addition of additive material to the mixture is used to achieve high early strength.The required concrete strength (f'c) = 19.3 MPa with the composition for one concrete cylinder consists of water: cement: sand: temple natural stone waste: additive material with a mixture of 1.2 liters: 1.9 kg: 3 , 6 kg: 5.2 kg: 20 ml. The results of testing the concretestrength with the addition of additive materials at the age of 3 and 7 days were 16.04 MPa and 23.02 MPa. The percentage of compressive strength of concrete at the age of 3 days is 83.1%, whereas at the age of 7 days it has exceeded the required concrete compressive strength (119.3%). Based on this study, the use of local materials in the form of temple natural stone waste with the addition of 7-day-old concrete additives can replace broken stone material in the disaster reconstruction process.
Pengaruh Pemasangan Profil C Baja Canai Dingin Secara Sentris Pada Rangka Balok Baja Canai Dingin Lalu Arya Permas Juniarta, Dewi Sulistyorini, M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profil C baja canai dingin digunakan secara umum pada pembuatan rangka atap rumah sebagai material kuda-kuda. Walaupun pada perkembanganya baja canai dingin banyak mengalami perlakuan inovasi yang baik, dan menjadikan efisien pada beberapa pekerjaan konstruksi seperti pembuatan kusen, partisi dinding, bahkan digunakan juga sebagai kerangka atau kolom dalam sebuah bangunan.Metode yang aplikasikan adalah metode eksperimen dan analisis SAP 2000, pada eksperimen ini menggunakan canai dingin profil C sebanyak 3 benda uji degan dimensi 75 x 35 x 0,75 mm, ukuran benda uji 180 x 25 cm. Sedangkan software SAP 2000 canai dingin tersebut menggunakan dimensi 75 x 35 x 0,75 mm. Modulus elastisitas (E) 200 kN/mm2 utuk fy 0,55 KN/ mm2 dan fu 0,55 KN/ mm2. dari metode diatas dapat menyelidiki hubungan sebab akibat antara satu sama lain kemudian membandingkan hasilnya dari eksperimen yang dilakukan.Dari hasil uji lentur balok rangka baja canai dingin profil C sentris B-3 ini memiliki nilai paling tinggi di antara B-1 dan B-2  dengan nilai pembebanan yaitu 9,01 KN, sedangkan untuk nlai lendutannya adalah 26 mm. Melihat pola kegagalan yang terjadi, sobeknya baja pada posisi bagian sayap batang yang terbuka. Sedangkan menggunakan SAP 2000 memiliki hasil yang berbeda dengan pengujian menggunakan UTM. Dari hasil pengujian kuat lentur di peroleh kuat lentur rata-rata sebesar 7,97KN.
Perbandingan Biaya Konstruksi Pada Perencanaan Balok Menggunakan Metode Tulangan Tunggal Dan Tulangan Ganda Pada Gedung 3 Lantai (Studi Kasus SD Wirobrajan) Fransistusteles, Dimas Langga Chandra Galuh, M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balok merupakan elemen lentur yang tingkat keruntuhannya cukup tinggi. Ada 3 keruntuhan yang terjadi, keruntuhan bersifat liat/ daktail, keruntuhan berimbang, dan keruntuhan getas. Keruntuhan getas ini harus dihindari dikarenakan biasanya jumlah tulangannya lebih banyak dari pada keruntuhan liat. Ini pasti selain tidak aman juga tidak ekonomis. Pada proses pendesainan maupun pelaksanaan dilapangan seringkali sifat keruntuhan yang terjadi adalah getas dikarenakan desain tersebut hanya berfokus pada rencana saja namun tidak dianalisis ulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan RAB pada analisis balok menggunakan metode tulangan tunggal dan tulangan ganda. Ada 3 tipe balok yang dianalisis pada penelitian ini, tipe 1 berukuran 30 x 60 cm dengan bentang 6,95 m, tipe 2 berukuran 25 x 45 cm dengan bentang 5,45 m, dan tipe 3 berukuran 20 x 30 cm dengan bentang 6,95 m. Hasil analisis struktur menggukan software sap 2000 v14.2.2 dan microsoft excel maka didapat berat tulangan metode tulangan tunggal adalah 1,703,23 kg/m3 sedangkan pada metode tulangan ganda adalah 1,452,67 kg/m3  dan penulangan sudah bersifat liat. Biaya yang dibutuhkan pada metode tulangan tunggal sebesar Rp. 210.227.000,00 dan metode tulangan ganda sebesar Rp. 190.572.000,00 sehingga selisih sekitar Rp. 19.705.000,00. Selisih antara berat dan biayanya lebih menguntungkan jika menggunakan metode tulangan ganda.
Pengaruh Variasi Jumlah Semen Terhadap Kuat Tekan Mortar Dengan Pasir Progo 90% Dan Limbah Terak 10% Shendi Andhika Affaro, Lilik Hendro Widaryanto, M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 5 No 1, (2020)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Rejosari Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang terdapat banyak industri pengerajin besi tempa sehingga banyak warga sekitar yang berprofesi sebagai pande besi yang menghasilkan limbah sisa peleburan besi berupa Limbah Terak Besi.Limbah yang dihasilkan oleh banyaknya pengrajin tempa sehari bisa menghasilkan limbah sebanyak 5 ton yang terbengkalai dan dibuang sembarangan pada sungai dan selokan yang dapat mencemari lingkungan serta merubah fungsi sungai dan selokan sebagai saluran irigasi yang dapat menyebabkan banjir dan kerusakan ekosistem air akibat karat dan limbah bahan kimia yang terkandung pada limbah tersebut yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat sekitar dan generasi kehidupan selanjutnya.Kurangnya kesadaran dan perhatian dari masyarakat berkaitan dengan limbah besi tempa tersebut membuat peneliti melakukan penelitian lebih lanjut mengenai limbah tersebut.Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik dan  kelayakan material limbah besi tempa sebagai bahan pengganti agregat halus, serta mengetahui perencanaan campuran mortar (mix design) yang sesuai untuk agregat halus limbah besi tempa sebagai bahan campuran beton. Adapun pemeriksaan agregat halus limbah besi tempa meliputi analisa saringan, berat jenis dan berat volume.Pengujian desak mortar  agregat halus limbah besi tempa mendapatkan hasil rata-rata masing-masing sebagai berikut untuk komposisi 1 : 3  sebesar 5,614 N/mm², 1:4  sebesar 1,038 N/mm², 1:5  sebesar 2,955 N/mm², 1:6  sebesar 0,721 N/mm²,1:7  sebesar 0,191 N/mm².
Pengaruh Variasi Sudut Takikan Serat Desak Pada Kuat Lentur Balok Kayu Durian Asriati, M. Afif Shulhan, Zainul Faizien Haza
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 5 No 1, (2020)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu merupakan material yang diperoleh dari tumbuhan alami. Kayu mempunyai sifat spesifik yang tidak bisa ditiru oleh bahan lain buatan manusia, Dengan kemajuan teknologi kayu sebagai bahan mentah dapat dengan mudah diproses menjadi barang-barang seperti kertas, tekstil, dan sebagainya. Kayu mempunyai keunggulan dan kelemahan, keunggulan dari kayu ialah sebagai bahan struktur bangunan yang tahan terhadap gempa karena memiliki bahan material yang ringan, dan memiliki segi  arsitektur  kayu yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Sedangkan kelemahan kayu relatif lemah dan lunak. Sebagai sumber bangunan jika tidak dikelola dengan baik maka kerusakan lingkungan hidup tidak bisa dihindarkan. Kayu duriam berasal dari pohon durian yang tumbuh dan banyak ditemukan didaerah yang beriklim tropis. Pohon durian dibudidayakan dengan sangat intensif yakni dikelola secara serius dalam bentuk perkebunan.Penelitian ini berupa uji lentur balok memakai balok kayu durian 15 buah berukuran 75 x 40 x 60 cm dengan 4 variasi sudut takikan pada serat desak yaitu 90˚, 60˚, 45˚, 30˚ dan 1 kayu utuh. Masing-masing variasi menggunakan 3 benda uji.Kekuatan lentur pada serat desak  rata-rata balok kayu durian utuh  diperoleh hasil lebih tinggi yaitu  9,90 KN,  pada variasi takikan  sudut 90° sebesar 5,93 KN , untuk  takikan dengan sudut 60° sebesar 6,60 KN, sementara untuk takikan sudut 45° sebesar 2,76 KN, sedangkan takikan sudut 30° diperoleh hasil sebesar 6,19 KN. Namun untuk hasil takikan yang lebih tinggi diperoleh dengan sudut 60˚ dan hasil terendah dengan sudut takikan 45˚.
Analisis Pengaruh Variasi Kedalaman Takikan Pada Kuat Lentur Balok Kayu Durian Anisa Septiana Savitri, Zainul Faizien Haza, M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Takikan merupakan cara untuk membuat sambungan pada kayu sebagai bahan konstruksi, karena kayu memiliki panjang terbatas. Didalam SNI 7973-2013 dijelaskan struktur lentur tidak boleh ditakik melebihi ketentuan yang sudah ada.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui beban maksimum yang dapat diterima balok kayu durian yang ditakik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pengaruh tinggi takikan pada kuat lentur balok kayu durian.Berdasarkan analisis pengaruh tinggi takikan pada kuat lentur balok kayu durian mendapatkan hasil untuk balok kayu dengan ukuran utuh tanpa takikan beban maksimum sebesar 5943 N dengan tegangan sebesar 54,578 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 10 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 4366 N dengan tegangan sebesar 54,575 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 20 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 3032 N dengan tegangan sebesar 54,576 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 30 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 1940 N dengan tegangan sebesar 54,562 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 40 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 1091 N dengan tegangan sebesar 54,55 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 50 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 485 N dengan tegangan sebesar 54,562 N/mm². Pada balok kayu dengan ukuran tinggi takikan 60 mm dan lebar 300 mm beban maksimum sebesar 121 N dengan tegangan sebesar 54,45 N/mm².
Evaluasi Tegangan Tarik Acuan Kayu Lokal Berdasarkan SNI 7973:2013 Selvi Engga Putri, M.Afif Shulhan, Agus Priyanto
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu merupakan bahan atau material yang tersedia di alam, serta memiliki banyak jenis. Setiap jenis kayu memiliki ukuran, kuat, dan mutu kayu yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tegangan tarik acuan kayu lokal dari hasil pengujian kuat tarik berdasarkan SNI 7973:2013.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen di laboratorium untuk memperoleh data dari hasil pengujian yang akan diolah. Pengujian meliputi pengujian kadar air dan pengujian kuat tarik sejajar serat sesuai dengan SNI, dimensi benda uji 460 mm x 25 mm x 25 mm. Kayu lokal yang dipakai ada 5 jenis kayu, yaitu kayu Durian, kayu Glugu, kayu Nangka, kayu Mahoni, dan kayu Sengon yang berasal dari Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Benda uji masing-masing berjumlah 5 buah untuk setiap jenis kayu.Hasil pengujian kadar air dari 5 jenis kayu lokal yaitu, kayu Durian = 14,49 %, kayu Glugu = 15,86%, kayu Nangka = 13,29%, kayu Mahoni = 14,60%, dan kayu Sengon = 13,40%. Nilai tegangan tarik maksimum kayu Durian sebesar 84,965 N/mm2, kayu Glugu sebesar 55,039 N/mm2, kayu Mahoni sebesar 62,978 N/mm2, kayu Nangka sebesar 72,798 N/mm2,dan kayu Sengon sebesar 48,749 N/mm2. Mutu kayu untuk kayu Durian = E25, kayu Glugu = E22, kayu Mahoni = E25, kayu Nangka = E25, dan kayu Sengon = E20.
Perbandingan Respons Spektrum Gempa Antara SNI 1726-2012 Dan SNI 1726-2019 Di Indonesia Yucha Al Kautsar Afnan, M. Afif Shulhan, Iskandar Yasin
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara yang rawan terhadap gempa. Oleh sebab itu, perencanaan  bangunan tahan gempa menjadi persyaratan yang harus diterapkan untuk mengurangi resiko korban jiwa. Di Indonesia sudah ada peraturan perencanaan struktur bangunan tahan gempa yang tahun belakangan ini digunakan yaitu SNI 1726-2012. Akan tetapi, dengan mengingat banyak gempa besar setelah tahun 2012, maka SNI 1726-2012 dirasa kurang sesuai diaplikasikan sebagai pedoman perencanaan struktur tahan gempa. Oleh karena itu, dilakukan pembaharuan dengan disusunnya SNI 1726-2019 sebagai peraturan perencanaan struktur bangunan tahan gempa yang baru, maka dilakukan analisis perbandingan desain respons spektrum SNI 1726-2012 terhadap SNI 1726-2019.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar perubahan beban gempa pada kota-kota yang sedang berkembang di Indonesia. Untuk menentukan parameter SNI 1726-2012 dan SNI 1726-2019 digunakan website dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman Kementrian Pekerjaan Umum (PUSKIM). Kemudian parameter pada masing-masing peraturan ditentukan untuk membuat desain respons spektrum  SNI 1726-2012 dan SNI 1726-2019 terhadap masing-masing kota dan klasifikasi tanah. Sehinngga ddilakukan analisis dan diketahui lokasi-lokasi yang mengalami kenaikan dan penurunan respons spektrum.Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil provinsi yang mengalami kenaikan respons spektrum sebanyak 11 provinsi yaitu, Medan, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Surabaya, Tanjung Pinang, Pontianak, dan Banjarmasin. Provinsi yang mengalami penurunan respons spektrum sebanyak 23 provinsi yaitu, Semarang, Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Pangkal Pinang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Kupang, Palang karaya, Tanjung Selor, Samarinda, Gorontalo, Mamuju, Makasar, Palu, Kendari, Manado, Ambon, Sofifi, Manokwari, dan Jayapura. Rata-rata 11 provinsi yang mengalami kenaikan 11%, dan rata-rata 23 provinsi yang mengalami penurunan 33%.
Pengaruh Perubahan SNI 1726:2012 Menjadi SNI 1726:2019 Untuk Nilai Gaya Geser Dasar Statik Ekivalen (Studi Kasus Gedung Kampus Di Provinsi Jawa Tengah) Bagus Aditya, Dimas Langga Chandra Galuh, M. Afif Shulhan
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara geografis Pulau Jawa berada di lokasi rawan gempa yang memiliki resiko terjadinya gempa  cukup tinggi sehingga dapat mengakibatkan kerusakan dan keruntuhan bangunan. Sehingga bangunan-bangunan yang ada di wilayah Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah harus direncanakan dan dibuat sebagai bangunan yang tahan gempa.Penelitian untuk perubahan SNI 1726:2012 menjadi SNI 1726:2019 bertujuan, mengetahui perubahan dari nilai gaya dasar statik ekivalen untuk sepuluh Kabupaten di provinsi Jawa Tengah, karena adanya berubahan SNI 1726:2012 menjadi SNI 1726:2019. Karena adanya perubahan  SNI 1726 atau biasa disebut SNI Gempa, maka untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan nilai dilakukanlah perhitungan yang sama tetapi dengan SNI yang berbeda kemudian akan menghasilkan nilai yang kemudian dibandingkan untuk mengetahui perubahan nilainya pada studi kasus yang telah ditentukan yaitu pulau jawa meliputi kota Kebumen, Purworejo, Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Semarang, dan Demak.Hasil analisis sebagian besar kota-kota mengalami peningkatan nilai gaya geser statik ekivalen, dengan adanya perubahan SNI 1726:2012 ke 1726:2019, akan tetapi juga ada yang mengalami penurunan nilai  gaya geser statik ekivalen, yang meliputi kota Kebumen mengalami kenaikan 9,28%, kota Purworejo mengalami kenaikan 20,34%, kota Cilacap 2,67%, dan kota Banyumas mengalami peningkatan 11,48%. Sedangkan yang mengalami penurunan nilai di kota Banjarnegara yaitu 7,95%. Lalu untuk kota Magelang mengalami kenaikan 24,46%, kota Temanggung mengalami kenaikan 17,29%, kota Wonosobo mengalami kenaikan 6,30%. Lalu kota yang juga mengalami penurunan nilai pada kota Semarang 21,288%, dan Demak 18,12%.