Sudirman M
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Wawasan Al-Qur’An tentang Hak Asasi Manusia Hamka Ilyas; Hasyim Haddade; Sudirman M
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2025): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v6i2.552

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam wawasan AlQur’an tentang hak asasi manusia, termasuk konsepsi, prinsip, dan implikasinya dalam kehidupan sosial kontemporer. Kajian dilakukan melalui penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, yakni dengan menelaah ayatayat AlQur’an yang berhubungan dengan martabat serta hak dan kewajiban manusia, serta mengkaji tafsir klasik dan kontemporer yang relevan untuk memahami makna dan konteksnya. Selain itu, literatur ilmiah tentang hak asasi manusia dalam perspektif Islam digunakan untuk memperkaya analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AlQur’an menegaskan nilai kemanusiaan yang universal sebagai ciptaan Allah, memberikan dasar normatif tentang hak hidup, kebebasan, keadilan, dan martabat manusia yang tidak dapat dikurangi, serta menempatkan tanggung jawab sosial dan etika sebagai bagian integral dari pengakuan hak tersebut. Konsep ini tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga memiliki relevansi aplikatif dalam dinamika kehidupan masyarakat modern. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wawasan AlQur’an tentang hak asasi manusia memberikan landasan filosofis dan praktis yang kuat untuk mempromosikan martabat dan keadilan dalam tatanan sosial.
Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M; Abdul Rahman Sakka; St. Aisyah Kara
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2025): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v6i2.567

Abstract

Kritik terhadap penguasa merupakan bagian penting dalam tradisi Islam yang berakar pada prinsip amar ma‘ruf nahi munkar. Hadis-hadis Nabi SAW secara eksplisit menekankan kewajiban umat untuk menegur penguasa yang zalim, bahkan menyebutnya sebagai bentuk jihad terbaik. Artikel ini membahas kritik terhadap penguasa melalui metode kajian tematik hadis (mawḍū‘ī), dengan menghimpun dan menganalisis hadis-hadis yang relevan, serta mengaitkannya dengan konsep demokrasi dan keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam tidak melarang rakyat untuk mengkritik penguasa, tetapi justru mendorongnya sebagai wujud tanggung jawab moral. Kritik dipandang sebagai instrumen menjaga keadilan, mencegah penyalahgunaan kekuasaan, serta memastikan terwujudnya kemaslahatan umat. Namun demikian, hadis-hadis Nabi juga menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik, yaitu dilakukan dengan hikmah, menghindari fitnah, serta menjaga stabilitas sosial. Dalam bingkai modern, nilai-nilai hadis tentang kritik terhadap penguasa sangat relevan dengan prinsip demokrasi yang menekankan partisipasi rakyat dan mekanisme kontrol kekuasaan, serta dengan gagasan keadilan sosial yang menjadi tujuan utama syariat Islam. Dengan demikian, kritik terhadap penguasa dalam Islam dapat dipahami sebagai bagian dari jihad moral yang selaras dengan prinsip demokrasi partisipatoris dan cita-cita keadilan sosial.
Rahasia Poligami dalam Islam: antara Idealitas Syariat dan Realitas Sosial-Modern Sudirman M; Rahmatiah HL; Lomba Sultan
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2025): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v6i2.571

Abstract

Poligami merupakan salah satu persoalan paling kontroversial dalam hukum keluarga Islam. Al-Qur’an (QS. An-Nisā’: 3) memperbolehkan laki-laki menikahi hingga empat istri dengan syarat berlaku adil. Secara historis, ayat ini dipahami sebagai keringanan (rukhsah) dan solusi sosial pada masa awal Islam untuk melindungi janda dan anak yatim pasca peperangan. Namun, idealitas syariat yang menekankan keadilan dan kemaslahatan sering sulit diwujudkan dalam realitas modern. Di satu sisi, poligami dianggap sebagai ketentuan ilahi dengan hikmah menjaga keturunan, mencegah zina, dan memberi perlindungan bagi perempuan. Di sisi lain, praktik poligami kontemporer kerap menimbulkan persoalan psikologis, ekonomi, hukum, serta isu kesetaraan gender dan HAM. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif-teologis dan sosiologis. Data diperoleh dari literatur tafsir, hadis, fikih klasik, dan kajian kontemporer tentang hukum keluarga Islam serta gender. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menitikberatkan pada maqāṣid al-sharī‘ah, khususnya prinsip keadilan (‘adl) dan kemaslahatan (maṣlaḥah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa poligami mengandung nilai luhur, tetapi implementasinya sangat bergantung pada kemampuan memenuhi syarat keadilan. Dalam konteks sekarang, poligami sering berbenturan dengan norma sosial, hukum nasional, dan wacana kesetaraan gender. Karena itu, poligami sebaiknya dipandang bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai pilihan terbatas dengan pertimbangan moral, spiritual, dan sosial yang matang.